THE SWEETNESS OF LOVE AND FRIENDSHIP

THE SWEETNESS OF LOVE AND FRIENDSHIP
BAB 281



Papah Andre, papah Boby dan yang lainnya sudah bersiap-siap ingin mengunjungi makam Almarhum Rendy dan Almarhumah Sinta.


Setelah sarapan pagi mereka pun langsung berangkat ketempat tujuan, karena mereka ingin segera selesai dan mereka juga ingin secepatnya kembali ketanah Air, karena mengingat masih ada urusan ditanah Air yang belum selesai yaitu tentang pernikahan anak-anak mereka terutama pernikahan Arvin yang tinggal hitungan hari saja.


Mobil yang mereka pergunakan itu pun melaju dengan kecepatan sedang menuju arah pemakaman umum dimana papah Rendy dan Mamah Sinta terbaring untuk selama-lamanya, hanya membutuhkan beberapa menit untuk sampai kemakam tersebut karena sopir yang membawa kuda besi yang ditumpangi mereka itu tahu dengan jalan pintas menuju makam yang disebutkan Amelia itu, jadi memudahkan mereka sampai dengan cepat.


Mereka menggunakan mobil perusahaan Wibawa yang ada diluar Negeri itu, dengan menggunakan jasa sopir yang siap membawa mereka kemana saja, tidak ada pembicaraan didalam mobil, mereka semua hanya terdiam dan larut dalam lamunan mereka masing-masing sembari menikmati perjalannan mereka tersebut.


Beberapa saat kemudian mereka sampai dimakam teman mereka itu, Amelia dan Nika langsung keluar dari mobil dan melangkah menuju kearah makam kedua orang tuanya yang berdampingan, Amelia langsung bersimpuh, didepan makam orang tuanya, papah Andre, papah Boby dan Abiyasa melangkah mendekati mereka dan berjongkok sembari memanjatkan doa untuk mereka berdua papah Rendy dan mamah Sinta yang sudah mendahului mereka semua sedangkan Almira memilih tinggal didalam mobil menunggu mereka.


" Rendy, Sinta...maafkan kami yang baru sempat datang mengunjungi makam kalian, karena selama ini kami tidak tahu kalau kalian berdua sudah tiada dan maafkan kami karena kami tidak tahu kalau kalian mengalami kesulitan, Alhamdulillah.. Sinta, Rendy masalah yang anak-anak kalian hadapi sudah terselesaikan dan in sya Allah kami akan selalu menjaga mereka berdua dan maaf juga karena kami membawa anak-anak kalian berdua menetap ditanah air, damai dan bahagialah kalian disurganya Allah..." ucap papah Andre dalam batinnya seraya memegang batu nisan mamah Sinta dan papah Rendy.


" Mamah, papah, Amelia dan Nika datang mengunjungi kalian, Amelia bahagia sekali bisa melihat makam kalian ini walaupun nanti mungkin akan lama lagi kami kesini, oh ya mah, pah, Amelia sebentar lagi akan dipersunting seorang lelaki yang berasal dari tanah air, laki-laki yang sangat menyayangi Amelia dan in sya Allah menjadi pelindung Amelia dan Nika, doa Amelia untuk mamah dan papah behagilah disurganya Allah mah, pah.." ucap Amelia didalam batinnya sembari menitikkan airmatanya dan dia pun mencium batu nisan papah dan mamahnya tersebut, makam papah Rendy dan makam mamah Sinta terawat rapi disamping dirawat oleh penjaga makam tersebut dan hari-hari tertentu ada yang mengunjungi makam itu memberikan bunga dan memanjatkan doa untuk kedua mediang Rendy dan Sinta.


Setelah memanjatkan doa dan sedikit bercerita melalui batin mereka masing-masing, mereka pun akhirnya melangkah meninggalkan makam tersebut, setelah mereka pergi melangkah menuju kearah mobil, papah Andre masih berdiri disamping makam mereka berdua, setelah berpamitan dalam hati papah Andre melangkah meninggalkan makam tersebut dan saat dia menatap sekilas makam kedua kawannya itu, sebelum memasuki mobil antara sadar dan tidak papah Andre melihat kehadiran papah Rendy dan mamah Sinta sembari tersenyum dan menganggukkan kepalanya seraya melambaikan tangan mereka berdua dan kemudian mensendekapkan tangan mereka didada seperti memberikan tanda terimakasih yang sangat dalam pada mereka,terutama papah Andre, kemudian menghilang begitu saja, tapi sayangnya mereka tidak melihatnya hanya papah Andre saja yang melihat, papah Andre terdiam dan terus menatap makam tersebut, papah Boby menatap papah Andre dengan tatapan heran dan kemudian dia pun langsung menegurnya.


" Ndre..ayo masuk ngapain kamu berdiri disana?" ucapnya membuyarkan lamunan papah Andre.


" Astaghfirullahaladzim...ya allah .." ucapnya seraya mengusap wajahnya dengan kasar sembari memasuki mobil dan kemudian mobil kembali berjalan menuju ketujuan akhir yaitu rumah kediaman pribadi keluarga Amelia.


Karena rumah yang dituju cukup jauh, didalam mobil Amelia hanya terdiam sedangkan Nika dan Almira saling bercerita dan sesekali terdengar tawa pelannya, sedangkan Amelia hanya menatap jalanan yang sudah mulai penuh dengan banyaknya kendaraan hilir mudik tersebut.


Mobil papah Andre mengikuti mobil yang ditumpangi Amelia dan adiknya tersebut untuk petunjuk jalan.


Sedangkan didalam mobil yang ditumpangi papah Andre dengan yang lainnya Abiyasa dan papah Boby saling berbicara dan papah Boby pun menoleh sesaat kearah papah Andre yang duduk disampingnya itu.


" Ada apa Ndre? kenapa kamu terdiam ? " tanya papah Boby.


Papah Andre hanya menarik nafasnya dengan pelan dan menoleh kearah papah Boby dengan tersenyum dan dia pun menggelengkan kepalanya.


" Tidak ada apa-apa Bob..." ucapya singkat.


" Kamu tidak usah bohong, setelah dari makam tadi kamu terdiam dan aku lihat juga kamu terdiam cukup lama didepan makam mereka berdua, seolah-olah kamu melihat sesuatu? apakah kamu merasakan kehadiran mereka berdua ?" tanya papah Boby.


Papah Andre menatap kearah Papah Boby..


" Apakah kamu juga melihatnya?"


Papah Boby menggeleng...


" Aku tidak melihatnya, tapi aku merasakan kehadiran mereka berdua..." ucap papah Boby tersenyum.


" Antara sadar dan tidak aku benar-benar merasakan kehadiran mereka dan mataku melihat jelas mereka berdua dan mereka berdua mengisaratkan tanda terimakasih pada kita dan mereka juga tersenyum aku juga tanpa sadar mengangguk dan hanya sekelip mata memandang mereka langsung menghilang, itulah yang membuat aku terpana didepan makam, aku hampir tidak percaya kalau aku melihat mereka berdua sudah sekian lama aku tidak bertemu dengan mereka dan saat bertemu pun mereka sudah terbaring ditanah..." ucap papah Andre sembari menghela nafasnya dengan dalam dan terdengar nada sedih yang sangat jelas dalam ucapannya tersebut.


Papah Boby hanya menarik nafas dengan pelan dan menepuk pundak sahabatnya tersebut dengan pelan memberikan kesabaran yang mendalam, biar bagaimana pun mendiang Sinta pernah ada dihati sahabatnya itu, karena sahabatnya itu tidak pendendam ataupun mengingat masalalu yang kelam tentang perlakuan mendiang Sinta terhadap sahabatnya itu papah Boby selalu memberikn semangat pada papah Andre, mobil yang mereka tumpangi berhenti didepan rumah yang sangat terlihat mewah tapi minimalis dengan berbagai bunga yang tertanam di samping kiri kanan rumah tersebut menambah indah rumah itu, rumah Amelia itu memiliki halaman minimalis, berada pas dipinggir jalan dan tidak ada pembatas pagar disamping kiri dan kanan rumah tersebut dengan tetangganya.


" Mari masuk Om, inilah rumah Amelia dan papah serta mamah selama mereka masih hidup." ucap Amelia seraya memencet bell rumah tersebut, kemudian pintu rumah tersebut terbuka dan terlihat seorang wanita sebaya dengan mereka tidak berbeda jauh usianya dengan papah Andre dan papah Boby, wanita itu terkejut dan langsung mengenali Amelia dan Nika dia pun langsung memeluk kedua gadis tersebut sembari meneteskan airmatanya.


" Kalian pulang nak...syukurlah kalian tidak apa-apa tante sangat bahagia sekali karena kalian terlihat sehat dan tidak kurang satu apa pun, Nika gadis imut tante, makin cantik sekali, tante rindu dengan kalian...mari masuk nak, ini adalah rumah kalian, selamat datang lagi dirumah ini, tapi...." wanita itu menggantung kalimatnya dan dia pun menatap kearah tiga orang laki-laki dan satu gadis remaja yang datang bersama dengan Amelia dan Nika.


" Siapa mereka nak?" tanyanya berbisik.


Amelia tersenyum dan kemudian memperkenalkan mereka semua pada wanita tersebut.


" Tante, ini adalah Om Andre teman papah dan mamah ditanah air, dan itu adalah Om Boby, suami dari saudara sepupunya papah dan itu Abiyasa anak Om Andre dan itu Almira sahabat Nika ditanah air anak bungsunya Om Andre, ceritanya panjang Tante." terang Amelia sembari tersenyum.


" Om, Abiyasa kenalkan ini adalah tante Lucyana, dia adalah sahabat mama saat pertama kali berada disini, dan tante Lucy inilah yang selalu berkunjung dan merawat makam mamah dan papah, dia memang Amelia kasih amanah untuk menempati rumah kami ini dari pada dia tinggal dirumah kontrakan, dia bersama dengan suaminya dan dengan dua orang anak yang masih bersekolah, suaminya bekerja diperusahaan papah, Amelia memang sengaja tidak menceritakannya dengan kalian tentang mereka." ucapnya tersenyum dianggukkan papah Andre dan yang lainnya.


Wanita yang dipanggil Amelia dan Nika Tante itu pun tersenyum menyambut uluran tangan mereka yang sudah diperkenalkan Amelia padanya.


" Saat mereka mau memasuki rumah mata Amelia tertuju dengan sebuah palang kayu yang bertulisan 'RUMAH INI DISITA', hanya bertulisan DISITA tidak bertulisan siapa penyitanya, baik perusahaan lain ataupun pihak Bank, Amelia pun langsung melangkah kearah papan tersebut dan berusaha untuk mencabutnya, kemudian Abiyasa membantu Amelia dan mereka berdua berhasil mencabut papan bertulisan tersebut, Amelia pun langsung melemparnya kesampah yang tidak jauh dari rumahnya tersebut.


" Apa-apaan ini...!!siapa yang menyita rumah ini? papah tidak pernah berhutang pada siapa pun, hutang papah dengan pihak Bank sudah lunas sebelun Nika lahir." ucapnya sembari berjalan menuju kearah mereka kembali dan mengajak mereka masuk kedalam rumah tersebut dan mempersilahkan mereka duduk disofa rumahnya itu.


" Maafkan Tante Amelia, karena selama ini Tante tidak menghubungi kamu, ditambah lagi nomer gawai kamu tidak bisa dihubungi setelah kamu berangkat ketanah Air, Tante tidak bisa lagi mencari tahu keberadaan kamu nak." ucapnya.


Amelia tersenyum dan menatap kearah Tante Lucy tersebut.


" Tidak apa-apa Tante, Amelia sudah bersyukur karena kalian sudah mau merawat makam kedua orang tua Amelia dan rumah peninggalan mereka."


" Iya nak sama-sama mamah dan papah mu orang baik bahkan sangat baik sekali, papan yang baru saja kamu cabut itu adalah dari si Kris, katanya rumah ini harus segera dikosongkan dalam waktu yang ditentukan yaitu satu hari, tapi kami tidak mau dan tetap tinggal disini sebelum kalian datang dan ada perintahnya dari kalian untuk kami meninggalkan rumah ini karena kalian adalah ahli waris tunggal dari mendiang Rendy dan Sinta, sampai akhirnya kami mengundang kemarahan dari si Kris dan suami tante Om Edric mengalami memar karena dipukul oleh anak buah si Kris itu, tapi untung tetangga tahu siapa sebenarnya si Kris itu dan mereka juga tahu kalau mendiang Rendy dan Sinta orang baik dimata mereka makanya si Kris dan anak buahnya itu diusir secara paksa oleh tetangga disini, tapi Tante tidak berani mencabut tulisan itu, dan tetap Tante biarkan terpasang didepan rumah kamu ini, dan setelah kejadian itu sampai sekarang si Kris tidak pernah muncul lagi terakhir om Edric kamu mendengar kabar kalau si Kris berangkat ketanah Air menemui adiknya, dan sampai saat ini tidak pernah kembali lagi dan perusahaan yang dipimpinnya itu beroperasi sampai sekarang karena tidak ada yang menjalankannya." terang Tante Lucy


Tarikan nafas dari Amelia terdengar ringan dia tersenyum seraya memegang tangan Tante Lucy.


" Tante jangan khawatir lagi si Kris sudah masuk penjara ditanah Air, jadi tulisan itu tidak akan pernah berlaku lagi sampai kapan pun, dan Amelia berharap dengan Tante Lucy tetaplah tinggal disini menempati rumah ini, papah dan mamah pasti akan senang kalau rumahnya ini ada yang menjaganya, Amelia akan kembali lagi ketanah air dan Amelia akan tinggal bersama keluarga Om Boby dan Tante Lala, Amel berusaha mencari keluarga kandung papah, untuk menjadi saksi sah dalam pernikahan Amelia nanti." ucapnya sembari tersenyum.


" Apa? kamu akan menikah nak?" tanya Tante Lucy dengan penuh kebahagian terlihat jelas dibinar bola matanya.


" Syukurlah kalau kamu sudah mendapatkan jodoh yang terbaik buatmu, doa Tante dan keluarga disini hanya yang terbaik buat mu nak, dan syukur juga pada yang maha kusa kalau si Kris sudah mendapatkan ganjarannya." ucapnya tersenyum seraya memeluk Amelia.


Papah Andre dan Papah Boby saling pandang saat Amelia mengatakan mau mencari saudara kandung sang papahnya untuk jadi wali nikahnya bersama dengan dr Roni.


Kemudian Tante Lucy berdiri dan ingin membuatkan minuman untuk mereka, dan Amelia pun pamit sebentar dengan kedua Omnya tersebut dia melangkah menuju kearah lantai atas dan menuju kamar mendiang sang Mamah dan Papahnya tersebut.


Sedangkan Abiyasa duduk didepan rumah untuk menghubungi Clarissa dan para sahabatnya yang berada ditanah air.


Setelah mereka pergi semua hanyalah tinggal Papah Boby dan Papah Andre diruang tengah itu, Almira dan Nika naik kekamarnya yang berada dilantai dua.


" Kamu pasti tahu apa yang aku pikirkan Bob.." ucap Papah Andre pelan.


" Iya Ndre, aku juga memikirkan yang sama, kamu tahukan sejak mendiang Sinta menyelingkuhi kamu dimasa lalu dengan mendiang Rendy, dan tidak lagi terdengar beritanya saat dia datang lagi dengan sakit yang menderanya itu dia dikabarkan hamil kita tidak tahu apakah hamilnya dia itu...." Papah Boby menggantung kalimatnya dan mereka pun sama terdiam sesaat...


" Iya Bob, aku juga bingung dan harus bagaimana mengatakan pada Amelia kalau dia itu....atau dia itu....ahh!! sulit rasanya aku memikirnya." ucap papah Andre seraya mengusap wajahnya dengan kasar.


" Ya Allah berikanlah petunjukmu pada kami ya Allah....." ucap papah Boby seraya menghela napasnya dengan pelan dan merosotkan tubuhnya kelantai ubin keramik rumah Amelia dan menyandarkan kepalanya di sofa yang didudukinya tadi, papah Andre terkejut melihat papah Boby merosotkan tubuhnya.


" Eeiittt.... Bob, ada apa? kalau mau pingsan jangan disini dong, cari tempat aman biar sekalian aku tenggelamkan disalju biar aku timbun untuk mendinginkan otak mu hehehe..." ucap Papah Andre terkekeh.


" Sialan kamu Ndre.... " ucapnya seraya memukulkan bantalan sofa yang dipegangnya sedari tadi sembari terkekeh, dan diapun langsung berdiri dari duduknya itu dan kembali duduk dikursinya lagi.


Mereka berdua pun terdiam...kemudian datang Tante Lucy membawakan makanan ringan dan jus buah untuk dinikmati mereka...


Tante Lucy tersenyum...


" Silahkan di nikmati pak..." ucapnya lagi-lagi tersenyum...,


" Iya bu...terimakasih." jawab Papah Andre.


" Saya sudah mendengar pembicaraan kalian tadi pak,...dan saya mengetahui siapa sebenarnya Amelia dan ststusnya." ucapnya sembari duduk didepan mereka.


Papah Boby dan Papah Andre terkejut dan tidak jadi meminum jus buah yang dihidangkan tante Lucy itu pada mereka berdua, mereka berdua pun saling pandang.