
Sesampainya diruangan Anindita mereka kembali duduk dan dr Roni langsung mengambil gawainya dan menghubungi dr Ilham.
Sembari dr Roni menghubungi dr Ilham Arvin kemudian menanyakan perihal yang terjadi.
" Sebenarnya ada apa sih, apa yang tidak aku ketahui?tolong jelaskan padaku adakah yang mau menjelaskannya untuk ku..." ucapnya sembari menatap ketiga orang yang ada diruangan tersebut.
Anindita kemudian menceritakan semuanya pada Arvin dan Arvin pun mendengarkan semuanya, setelah Anindita selesai menceritakan semuanya Arvin pun menganggukkan kepalanya dan menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa yang ada diruangan Anindita.
" Bagaimana kak, apakah dr Ilham masih menjalankan tugasnya?" tanya Abiyasa.
" Tidak, dia ada diruangannya dan sebentar lagi dia kesini." ucap dr Roni.
" Kenapa kita tidak keruangannya aja kak, biar enak kita ngomongnya, kita kan yang perlu dengannya bukan dia yang perlu dengan kita." ucap Arvin.
" Maunya seperti itu sih Vin, tapi karena ruangan dr Ilham sedikit agak kecil dan tidak bisa untuk kita bicara dengan orang banyak seperti kita, dan lagi diruangannya ada asistennya tidak mungkin kita menanyakan padanya dihadapan asistennya apalagi yang kita tayakan ini tentang keluarganya, dr Ilham itu tipe orang yang tertutup dan dingin terkecuali dia sendiri yang mengatakan semuanya pada orang yang mungkin dianggapnya bisa menyimpan dan bisa mendengarkan ceritanya, contohnya Anindita, nah kalau dengan kakak dia tidak mau bercerita mungkin dia melihat kakak yang sering ngobrol dengan semua orang, jadi dia takut kakak akan menceritakan lagi cerita dia keorang lain, walaupun kakak berteman tapi tidak mengetahui tentang dirinya itu, yang kami sering bicarakan hanyalah tentang seputar dunia perdokteran, dia hanya shering tentang menangani pasien atau cara baiknya baaimana merawat orang yang sedang sakit parah, hanya itu selebihnya tidak ada." terang dr Roni panjang lebar, mereka semua mengangguk dan kemudian pintu ruangan Anindita diketuk dari luar,
" Tok...tok...tok..."
" Itu pasti dia...masuk..." ucap Anindita, pintupun terbuka dan wajah tampan dr Ilham pun terlihat dan dia pun tersenyum.
" Masuk dok...silahkan duduk..." ucap dr Roni dianggukkan dr Ilham seraya dia menatap mereka satu persatu dan tidak lupa dia menyalami mereka semua, disambut mereka semua, dan dia pun mengambil duduk disamping dr Roni.
" Maaf ada apa ya sehingga dr Roni memanggil ku keruangan dr Dita, ada yang ditanyakan tentang pasien yang bernama Nico?" tanyanya pada dr Roni karena dia sudah mengenali mereka semua adalah keluarga dari kak Nico.
" Bukan itu dok..." ucap dr Roni.
" Jangan panggil dokterlah kalau kita sedang bicara tanpa ada pasien..." ucapnya tersenyum.
Mereka tersenyum dan menganggukkan kepalanya sembari menatap kearah dr Ilham.
Kemudian Abiyasa setengah berbisik.
" Mor, kamu liat nggak kalau dilihat saat senyum dia mirip banget dengan kak Amelia." ucap Abiyasa sembari menatap terus dr Ilham yang tidak diketahui oleh dr Ilham.
Dianggukkan Morgan...
" Apa yang ingin kamu tanyakan dengan ku...?" tanya dr Ilham pada dr Roni.
" Begini Ilham, aku ingin menanyakan tentang seseorang padamu." ucap dr Roni.
Dr ilham langsung menatap kearah dr Roni dengan tatapan ingin tahunya.
" Tentang siapa? " tanyanya.
Dr Roni kemudian mengambil gawainya dan memperihatkan sebuah fhoto yang ada digawainya pada dr Ilham.
" Apakah kamu yang ada difhoto ini?" tanya dr Roni sembari menatap dr Ilham., kemudian dr Ilham mengambil gawainya dr Roni, dia menatap fhoto tersebut dengan lama, hening diruangan tersebut tidak ada suara mereka semua terdiam menanti dr Ilham menjelaskan tentag fhoto itu.
" Dari mana kamu menemukan fhoto ini Ron?" tanyanya seraya menatap kearah dr Roni.
" Jawab dulu apakah itu adalah kamu diwaktu kecil?" tanya dr Roni, dianggukkan dr Ilham.
Mereka semua terkejut dan menatap kearah dr Ilham.
" Benarkah itu kamu?" tanya dr Roni, lagi-lagi dianggukkan dr Ilham.
" Bisakah kamu menceritakan dengan kami, siapa wanita yang ada difhoto itu bersama kamu, karena ini sangat penting Ilham, karena ini menyangkut hidup percintaanku." ucap dr Roni.
" Hidup percintaan kamu? maksud kamu? aku tidak mengerti." ucapnya merasa heran.
" Begini kak Ilham, maaf aku panggil dokter dengan sebutan kakak, karena kata dokter tadi jangan panggil dokter selagi berbicara tanpa pasien." ucap Abiyasa mengulang perkataan dr Ilham dan dianggukkan dr Ilham.
" Begini kak, bisakah kakak ceritakan semuanya pada kami tentang kakak semasa kecil, kami disini akan mendengarkannya dan kami harap kakak mau menceritakannya karena masa kecil kakak itu berkaitan dengan seseorang yang ada bersama kami." ucap Abiyasa.
" Siapa?" ucapnya menatap Abiyasa.
" kami akan kasih tahu siapa sebenarnya orang itu, tapi kami mohon agr kakak bisa menceritakan semuanya pada kami tanpa ada yang disembunyikan." ucap Abiyasa lagi.
Terdengar helaan nafas dari dr Ilham dan diapun membenarkan posisi duduknya dan diapun mulai bercerita.
" Aku tidak terlalu mengetahui tentang masa kecilku itu, tapi seingat ku saat aku berusia enam tahun aku diceritakan dengan umi ku yang sudah mengasuh, merawat dan menyekolohkanku sampai aku jadi dokter sekarang ini, saat itu Umi mengatakan aku bukanlah anak kandung mereka, awalnya aku tidak percaya karena mungkin aku saat itu masih anak-anak dan aku anggap angin lalu omongan mereka, dan sampai aku dewasa Umi masih saja mengatakan dengan kisah yang sama kalau aku bukan anak mereka, tapi walaupun dia mengatakan seperti itu, dia tetap memberikan kasih sayangnya padaku layaknya sebagai anak kandung mereka, dan sampai akirnya Umi memberikan sebuah fhoto dimana didalamnya fhoto itu saat aku berusia enam tahun dan bersama ibu Nellyana, Umi mengatakan kalau ingin mengetahui tentang keluargaku yang sebenarnya tanyalah dengannya dan ibu Nellyana berada terakhir di kota B, aku dipinta dengan Umi untuk berangkat kekota B, tapi karena aku tidak ingin meninggalkan Umi yang sedang sakit, Umi mengiginkan aku menjadi seorang dokter karena itu adalah keinginannya untuk yang terakhir kalinya sebelum dia meninggal dunia." ucap dr Ilham seraya menghentikan sesaat ceritanya dia tertunduk sedih dan dr Roni pun menepuk pelan pundak dr ilham dengan pelan memberikan rasa kesabaran untuk kawan seperjuangannya tersebut dalam menyelamatkan orang yang sangat membutuhkan tenaganya.
" Innalillahiwainnailaihirojiun..." ucap mereka berbarengan, karena mereka tidak mengetahui tentang orang tua dr Ilham yang meninggal dunia.
" Orang tua laki-laki mu kemana?" tanya dr Roni.
Dr ilham menoleh kearah Dr Roni dan tersnyum getir dan diapun langsung melanjutkan ceritanya.
" Abi meninggal dunia karena menderita sakit jantung, Abi meninggal saat dirumah sakit yang ada dikota S dan saat itu Abi terlambat ditangani karena tenaga medis di kota S sangat minim, dan Abi menghembuskan nafas terakhirnya di depan aku dan Umi, saat itu aku baru lulus sekolah menengah atas, awalnya kami berada dikota B dan saat itu Abi dipindah tugaskan di kota J dan tidak beberapa lama Abi dipindah tugaskan lagi kekota S, dikota kelahiran Abi, setelah meninggalnya Abi kami kembali lagi kekota J karena di kota S tidak ada fakultas kedokteran, terpaksa kami kembali lagi kekota ini, sampai sekarang, saat aku masih kuliah Umi berkeinginan menghabiskan masa tuanya di kota kelahirannya yaitu kota S, kota S adalah kota dimana mereka berdua bertemu, kota S juga tempat lahir mereka berdua dan sampai akhirnya mereka juga bersama-sam terbaring kaku dikota tersebut." ucapnya sembari mengusap wajah tampannya dengan pelan dan sesaat dia menghentikan lagi ceritanya.
Mereka masih terdiam menanti kelanjutan cerita dr Ilham.
Terdengar helaan nafas dr Ilham untuk kesekian kalinya, dan dia pun kemudian melanjutkan ceritanya kembali.
" Umi sempat bercerita padaku saat itu katanya kalau ibu yang ada didalam fhoto itu adalah ibu yang pertama kali merawat ku saat aku berusia dua tahun dan keluarga kami mengalami kecelakan, dan saat itu aku selamat kakak dan kedua orang tuaku meninggl, hanya itu yang sempat diceritakan Umi, saat pertama kali aku melihat wajah ibu itu ada rasa kangen yang aku rasakan, disamping itu aku juga ingin mengetahui siapa keluarga aku sebenarnya walaupun mereka sudah tiada, dan Umi juga pernah mengataka kalau adikku yang tidak tahu dengan siapa sekarang, makanya sampai sekarang aku tidak mempunyai istri karena..." dia menggantung kalimatnya,dia menghela nafasnya dengan pelan.
" Istri? kamu belum beristri? bukankah seorang suster mengatakan saat itu ada yang menghubungi kamu yang mengaku istri kamu?" tanya Anindita.
Dr Ilham tersenyum...
" Kenapa?" Tanya Abiyasa.
" Karena aku takut kalau wanita yang menaruh hati untukku itu adalah adikku, karena Umi pernah bilang kalau saudaraku yang selamat itu seorang perempuan, aku selalu dihantui pikiran saat aku menghendaki seorang wanita sebagai kekasih dan menginginkannya sebagai istri pasti saja terbayang kata-kata Umi, dan sekarang aku terpikir dan selalu membayangi pikiranku, seorang wanita yang sederhana dan kedewasaan terpancar diwajahnya dan sosok keibuannya yang sangat aku sukai, beberapa kali kami bertemu dan sering bersama akhir-akhir ini, tapi aku takut untuk mengatakan padanya kalau aku menyukainya dan ingin mempersuntingnya karena aku takut kalau dia adalah adik kandungku." ucapnya sembari menarik nafasnya dengan pelan dan melepaskannya dengan berat seberat beban yang dia pikul selama bertahun-tahun lamanya.
Mereka saling pandang...
" Karena waktulah aku belum mengetahui keberadaan adik kandungku dan ibu Nellyana tersebut, aku berharap ibu Nellyana masih hidup dan dia bisa menjelaskan pada ku tentang keberadaan adik kandungku selama ini, karena ibu Nellyanalah saksi terakhir ku untuk mengetahui siapa sebenarnya adikku itu." ucapnya.
" Apakah kak Ilham tidak bertanya dengan wanita yang sudah menggetarkan hati ka Ilham itu?" tanya Abiyasa.
" Sudah, aku sudah menanyakan semuanya pada dia, dia juga sudah mengatakan semuanya pada ku tentang keluarganya, tapi aku masih takut kalau dia anak adopsi, dan kedua orang tuanya tidak ingin mengatakan semuanya padanya." terang dr Ilham.
" Siapa nama wanita itu kak, siapa tahu kami mengenalnya?" tanya Arvin.
" Wanita yang skarang ku anggap sudah menempati hatiku adalah wanita yang sangat sederhana dan dia juga sudah menceritakan tentang kehidupannya dan dia juga sudah pernah mengalami kegagalan dalam berumah tangga dan dia mempunyai dua orang anak yang lucu-lucu hasil dari pernikahannya terdahulu, aku juga sudah mulai akrab dengan kedua anaknya, dan aku menganggapnya seperti anak aku sendiri, tapi aku belum mengetahui siapa kedua orang tuanya, nama gadis itu Nayra." ucap dr Ilham tersenyum.
" Apa???? Kak Nayra? " ucap mereka berbarengan dan membuat dr Ilham terkejut.
" Kalian mengenalnya? " tanya dr Ilham.
" Iya kami mengenalnya, dia adalah sepupu aku, dan yang dirawat dr Ilham itu adalah saudara kandungnya, dia juga hadir disini tadi..." ucap Anindita.
" Apa? dia hadir disini, kenapa aku tidak bertemu " ucapnya.
" Mungkin kamu sangat sibuk dan tidak sempat memperhatikannya." sambung dr Roni.
" Kak Ilham jangan kawatir dengan kak Nayra, karena dia bukan anak adopsi dan dia juga bukan adik kak Ilham karena dia anak kandung tante Melisa adik kandung papah." terang Abiyasa.
" Iya kak, adik pendiri rumah sakit ini." sambung Arvin dianggukkan Morgan.
" Adik dr Ilham masih hidup..." ucap Anindita.
" Apa? masih hidup? dimana dia sekarang, aku ingin bertemu denganya, ya Allah, adikku masih hidup Alhamdulillah ya Allah..."
" Iya kak dan sekarang sebentar lagi dia akan menikah dengan teman sepropesi dengan kakak juga yaitu seorang dokter dan dokter itu sama-sama bertugas disini." sambung Abiyasa seraya melirik sesaat kearah dr Roni.
" Siapa?" taya dr Ilham.
" Dr itu ada disebelah kaka sendiri." jawab Morgan tersenyum dan dokter Roni hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya saat dr Ilham menatapnya.
Dr ilham tersenyum dan meresa bahagia, karena teman seperjuangannya itu akan jadi adik iparnya dan dia juga tidak henti-hentinya bersyukur karena dia sudah mendapatkan dua kebahagiaan yang tiada taranya yaitu sudah menemukan sang adik dan menemukan calon jodoh yang sangat dinantinya selama ini, dia pun langsung merangkul dr Roni dan berucap terimakasih banyak pada dr Roni, dan dr Roni hanya tersenyum sembari menepuk pundak dr Ilham.
" Dr Ilham juga sebenarnya sudah bertemu dengan Adik dokter tersebut." ucap Anindita.
" Dimana?" tanyanya.
" Dr Ilham yang menangani dia tadi, karena dia ada dalam kejadian tabrakan siang tadi." lanjut Arvin dianggukkan Anindita.
" Apa? maksud kalian wanita yang bernama Amelia?" tanyanya.
Dianggukkan mereka semua.
" Ya Allah...indah betul rencana mu ya Allah...Alhamdulillah ya Allah, disamping aku menangani Adik sendiri aku juga bisa menangani calon adik ipar dan berteman dengan calon suami adik ku." ucapnya sembari mengusap wajahnya terlihat diwajahnya terpancar kebahagian yang sulit diukirkan olehnya.
" Bisakah kalian mengantarkan aku bertemu dengan Amelia Adikku itu.?" ucapnya.
" Bisa kak, tapi tidak hari ini, karena waktunya tidak memungkinkan, disamping dia pasti sudah istirahat dan juga hari sudah larut malam." ucap Abiyasa.
" Besok aja kita kerumah Om Boby." ucap Arvin.
" Iya, lebih baik besok saja..." ucap Anindita.
Dianggukkan dr Roni dan Morgan, begitu juga dengan dr Ilham.
" Kak Amelia sama seperti kamu kak, dia juga sudah kehilangan orang tua angkatnya dan sekarang dia berada ditempat keluarga papahnya yang ada dikota ini, dia dibesarkan di luar Negeri,karena jodohnya beraa dikota ini akhirnya dia bertemu dengan kak Roni,begitu juga dengan kak Ilham yang dituntun yang maha kuasa untuk bertemu dengan jodoh dan adik kakak dikota ini juga." ucap Abiyasa tersenyum.
Dianggukkan dr Ilham dan tak henti-hentinya dia bersyukur atas rahmat Allah yang maha kuasa mempertemukan dia dengan adik dan calon jodohnya tersebut.
" Kalau kedua orang tua dr Ilham sudah tiada kenapa dokter selalu ijin dan berangkat ke kota S ?" tanya Anindita.
" Aku sering ijin karena aku sudah berjanji dengan Umi dan Abi akan selalu mengunjungi mereka meskipun hanya makamnya saja, dan mampir kerumah kami yang ada di kota S rumah itu adalah hasil gajih pertamaku sebagai seorang dokter aku persembahkan untuk hadiah pada Umi saat itu, walaupun rumah itu tidak ada yang menempatinya tapi rumah itu selalu dirawat orang yang aku percaya untuk membersihkannya setiap hari, kadang-kadang rumah itu ditempati orang yang merawat tersebut." terangnya.
" Satu lagi yang mau aku tanyakan dengan kak Ilham, apakah kak Nayra menerima cinta kak Ilham?" tanya Abiyasa.
" Belum tahu, karena aku belum mengatakannya secara langsung, tapi melihat gelagat dan bahasa tubuhnya dia juga sangat menyukaiku." ucapnya tersenyum.
" Kalau sudah selesai semuanya ini, kakak bisa mengatakan semuanya pada kak Nayra, kami yakin dia akan menerima kakak..." ucap Abiyasa lagi.
Dianggukkan mereka semua, dan terlihat dr Ilham tersenyum bahagia, karena dia yakin kalau Nayra adalah jodohnya selama ini.
" Kalau boleh tahu kaka bertemu dengan kak Nayra dimana?" tanya Arvin.
" Dirumah sakit ini, saat dia membawa anaknya yang sedang sakit, saat itulah kami mulai dekat, dan saling menceritakan masa lalu kami satu sama lain, tidak ada yang disembunyikan sedikit pun dari kami berdua." ucapnya lagi-lagi dia tersenyum.
Mereka pun tersenyum dan melanjutkan kembali berbicaranya satu sama lain.
Beberapa saat kemudian mereka pun kemudian meninggalkan ruangan Anindita setelah bercerita sesaat dan menemukan kesepakatan kalau besok mereka akan menemui Amelia dikediaman papah Boby.