
" Kok kalian yang jemput? ada apa dengan sopir rumah?" tanya papah Andre melihat keponakan dan mantunya yang menjemput mereka.
Morgan dan Niko tersenyum dan menyalami papah Andre dan papah Boby mencium punggung tangan mereka berdua dan memeluk Abiyasa sahabat mereka berdua
" Pak sopir tidak enak badan pah." jawab Morgan seraya membukakan pintu mobil dan mempersilahkan mereka masuk.
" Oh, gitu ya..." Ucap papah Andre sembari memasuki mobil menantunya tersebut dan kedua buah mobil tersebut pun meninggalkan bandara tersebut.
Didalam mobil mereka tidak ada yang bicara semua terdiam, beberapa saat kemudian kedua mobil tersebut memasuki halaman rumah papah Andre dan mereka turun berbarengan, karena terlalu cape mereka lalu langsung beristirahat dikamar mereka masing-masing.
Abiyasa membuka kamarnya dengan pelan,dan terlihat sang istri sudah tertidur dengan lelapnya dikasur empuknya tersebut, Abiyasa melangkah mendekati tempat tidur itu dan memperhatikan wajah sang istri yang sangat dirindukannya tersebut, dan dengan pelan dia mencium kening sang istri dan memebelai lembut kepala sang istri yang masih tertutup hijab karena Ayesha tidak melepas hijabnya saat tidur tanpa suaminya itu, Abiyasa tersenyum, setelah puas dengan memandangi wajah sang istri, Abiyasa kemudian memasuki kamar mandi yang ada dikamarnya tersebut dia pun membersihkan dirinya dengan mengguyur rubuhnya dengan air dingin yang ada di kamar mandinya itu.
" Ada untungnya juga kami keluar Negeri dan mengetahui semuanya, kasihan kak Amelia bagaimana nantinya kalau dia tahu, dia bukanlah anak kandung dari Almarhum Om Rendy dan Almarhumah Tante Sinta, aku tidak bisa membayangkannya, terkejut itu pasti, tapi apakah dia mampu menerima semua ini? mudah-mudahan saja nanti kak Amelia dapat menerima semuanya, karena aku yakin kak Amelia adalah wanita yang kuat, yang lebih aku tidak menyangka ternyata papah adalah mantan Tante Sinta,,," ucap batinnya seraya mengukir senyum diwajahnya dibawah guyuran air dingin yang membasahi seluruh tubuhnya dari kepala sampai ujung kakinya.
" Papah memang hebat, papah juga adalah lelaki yang kuat, masih bisa berteman dengan mantannya, sungguh luar biasa, aku sangat bangga mempunyai papah dan mamah yang memiliki hati selembut embun pagi dan selembut sutra dan juga memiliki perasaan yang tidak pernah goyah dari apapun, walaupun dikecewakan dan disakiti berulang kali, papah adalah inspirasiku dan mamah adalah motivasi ku..." ucap batinnya lagi sembari menyudahi ritual mandinya dan dia keluar dari dalam kamar mandi, dia melirik sang istri yang masih tetap tertidur terlelap itu, dia tersenyum dan mengambil pakaiannya yang berada didalam lemari pakaiannya, setelah dia berpakaian dia kemudian duduk dibibir ranjang disamping sang istri yang masih tetap tertidur dengan pulasnya itu, dia tidak puas-puasnya menatap wajah sang istri yang amat dirindukannya itu, dan dia pun pelan-pelan melepas hijab sang istri dan dia pun mencium bibir sang istri sesaat dan dia tersenyum manis,,,
" Kamu yang selalu membuat aku bersemangat menjalani hari-hari ini, dan kamu adalah wanita ku yang selalu aku rindukan, kamu juga adalah pengobat lelah yang aku rasakan selama ini, kamu segala-galanya bagiku, kamu lah bidadari surga yang terindah untuk ku." ucapnya kemudian mencium lama pucuk kepala sang istri, dan terlihat Ayesha menggeliatkan tubuhnya kesamping kiri dan Abiyasa tersenyum dan dia pun merebahkan tubuhnya disamping kanan istrinya dan memeluk istrinya dengan penuh kasih sayang penuh kerinduannya dan tidak lupa juga dia mengucapkan selamat malam dengan rasa kerinduannya dengan buah cinta mereka yang tertanam dirahim sang istri, Abiyasa kemudian memejamkan matanya dan menikmati alam mimpinya bersama dengan sang istri yang berada dalam pelukannya itu.
Tepat jam empat tiga puluh pagi Ayesha terbangun dan dia terkejut melihat sang suami yang berada disampingnya, dia tersenyum manis sembari menyentuh pipi suaminya itu dan langsung mengambil handuk untuk membersihkan dirinya karena sebentar lagi sholat subuh tiba, setelah beberapa saat selesai mandi dia pun langsung membangunkan sang suami dan menyuruhnya untuk membersihkan dirinya dan segera melaksanakan sholat subuh berjamaah.
Setelah sholat seperti biasanya mereka membaca ayat suci Al-Quran, beberapa saat mereka pun selesai membaca dan kembali bersama duduk bersantai diruang tengah rumahnya tersebut.
Mereka hanya berbicara biasa saja, karena papah Andre dan papah Boby tidak langsung berbicara dia ingin membicarakan semuanya tersebut saat kumpul dengan mereka semua para sahabatnya, para wanitanya pun melangkah seperti biasa kearah dapur dan memang kalau sarapan pagi mamah Anisha lah yang mengambil kendali semuanya, karena dia selalu membuat makanan semua kesukaan anak-anaknya dan suaminya itu, tidak pernah melewatkan nasi goreng buatan tangan mamah Anisha dari masa kemasa selalu diminati sang anak dan suaminya.
Mereka pun tidak pernah bosan sarapan nasi goreng buatan sang mamah, tapi terkadang mamah Anisha lah yang mengganti menu masakannya tersebut karena dia takut anak dan suaminya bosan dengan makanan nasi goreng tiap pagi terus menerus, kadang-kadang Anindita dan Abiyasa protes kalau tidak dihidangkan makanan pavoritenya itu, yaitu nasi goreng buatan dari tangan mamahnya dan sedikit polesan dari tangn sang istri.
Diruang tengah hanya tertinggal Abiyasa papah Bobi dan papah Andre.
Abiyasa tersenyum melihat sang papah, papah Andre pun tersenyum juga dan merasa heran pada sang anak yang sedari tersenyum padanya.
" Kenapa kamu tersenyum Biy, saat meliht papahmu." tegur papah Boby.
" Abiyasa tidak mengira Om Bob, kalau papah pernah menempatkan Almarhumah Tante Sinta sebagai pengisi hatinya sebelum Mamah." ucap Abiyasa lagi-lagi tersenyum.
Papah Andre dan Papah Boby terkejut, mendengar ucapan Abiyasa.
" Jangan keras-keras ntar Amel mendengarnya, nanti papah akan ceritakan semuanya pada dia setelah semua ada disini, seperti Om Candra dan Mertua kamu, biar kita bisa mencari jalan keluarnya untuk mencari ibu Nellyana itu, karena saksi kunci tersebut hanya dia lah yang mengetahuinya, karena kita harus menjalankan amanat Almarhumah Tante Sinta agar kak Amelia kamu menikah dengan sah dan bernasab ayah kandungnya dan berwali dengan saudara kandungnya laki-laki, mudah-mudahan kakaknya itu masih berumur panjang." terang papah Andre.
" Mudah-mudahan saja Ndre, saudaranya itu masih hidup dan kita bisa dengan cepat menemukannya." ucap Papah Boby.
" Iya benr pah, in sya Allah, kita akan menemukannya, Abiyasa juga akan segera mencari tahu tentang ini." Sambung Abiyasa
" Iya nak, Abiyasa..maaf kan papah ya nak, papah tidak cerita padamu tentang Almarhumah Tante Sinta yang pernah singgah dihati papah saat itu." ucap papah Andre.
" Nggak apa-apa pah, Abiyasa malah bangga dengan papah bisa menjadikan mantan sebagai kawan dan tidak menjadikan mantan sebagai musuh dan papah juga dengan senang hati membantu keluarga Almarhumah Tante Sinta untuk menyelesaikan semuanya." Ucap Abiyasa tersenyum bangga pada sang papah.
" Iya nak, saat itu mamah kamu mau melahirkan ditolong Tante Sinta kamu, dia membawanya kerumah sakit dan saat itu kak Amel kamu waktu itu berusia satu tahun lebih tua dari kamu." ucap papah Andre.
" Memangnya mamah kemana? saat itu pah, sampai ketemu dengan Tante Sinta."
" Saat itu mamah kamu hamil besar dan jalam-jalan ketoko yang ada diujung jalan sana seorang diri dan saat mengalami sakit ditolong oleh Tante Sinta, dia juga yang menghubungi papah saat itu, Alhamdulillah saat itu Tante Sinta kamu tidak dendam dan marah dengan mamah kamu tapi justru sebaliknya dia baik banget dengan mamah kamu. " ucap papah Andre dan dianggukkan Abiyasa.
" Oh ya Ndre, kapan kita akan ceritakan semuanya pada mereka terutama Amelia." Tanya papah Boby.
" Hari ini juga akan aku ceritan semuanya...." ucapnya seraya menarik nafasnya dengan pelan.
Tiba-tiba suara mamah Anisha mengejutkan mereka dengan ajakannya untuk sarapan pagi. Mereka pun langsung beranjak dari tempat duduknya dan menuju kearah meja makan, sedangkan mamah Anisha melangkah menuju kamar Almira dan kamar Amelia untuk membawanya keruang makan.
Mereka menikmati sarapan pagi mereka tanpa terkecuali tidak ada suara dimeja makan tersebut, mereka menikmati suapan demi suapan dari sendok makan mereka, setelah selesai sarapan pagi Abiyasa seperti biasa berganti pakaian dengan pakaian kerjanya, dia akan segera berangkat kekantornya, begitu juga Morgan dan Anindita serta Niko bersiap-siap menuju kantor mereka, Clarissa dan Marco berada dirumahnya dan bersiap-siap menuju kantornya juga.
Papah Boby juga pulang kerumahnya bersama keluarganya beserta Amelia dan Nika.
" Nanti kalau kamu ingin kita kumpul smua hubungi aja ya Ndre." ucap papah Boby.
" Iya bob, hati-hati ya ,,,"ucap papah Andre.
Di anggukkan papah Boby, mereka pun saling mengucap dan membalas salam, kemudian mobil papah Boby perlahan-lahan meninggalkan rumah papah Andre dan melaju menuju kearah rumah pribadinya.