THE SWEETNESS OF LOVE AND FRIENDSHIP

THE SWEETNESS OF LOVE AND FRIENDSHIP
BAB 236



Kemudian gawai Arvin berdering merekapun kemudian menatap ke arah Arvin, Arvin tersenyum dan langsung mengambil gawainya yang berada di dalam saku celananya itu.


" Hehehe...nggak usah gitu juga kali menatapnya, biasa dari kantor." Ucapnya sembari berdiri dan menjawab panggilan dari gawainya itu seraya melangkah menjauh dari mereka.


Mereka semua menatap langkah Arvin yang meninggalkan mereka untuk menjawab panggilan dari gawai pribadinya itu.


Hening! Tidak ada yang bicara diruangan tersebut mereka larut dalam pikiran mereka masing-masing.


Arvin yang sudah menjawab panggilan tersebut pun bergegas masuk kembali keruang tengah itu, dia pun langsung duduk ditempatnya semula.


" Ada apa Vin?" Tanya Abiyasa karena terdengar helaan nafas Arvin berbarengan disaat dia duduk.


" Aku harus pamit kekantor lagi,karena ada kabar yang terbaru dari kantor,tentang komplotan pengganggu Amelia dan Nika." Ucapnya seraya mengambil kunci mobilnya yang berada diatas meja yang ada didepannya itu.


" Kabar apa itu?" Tanya Clarissa.


" Aku juga belum tahu Ris, cuma anak buah ku tadi mengatakan rekaman cctv-nya sudah terlihat jelas,awalnya tadi mau dilihat diruangan rumah sakit,agar om Boby dan om Andre juga bisa melihat siapa sebenarnya laki-laki itu,tapi karena ada gangguan dirumah ini jadi dibatalkan dan aku bawa kekantor copy rekamannya untuk diperiksa disana." Terang Arvin.


Mereka semua menganggukkan kepalanya.


" Baiklah kalau gitu Arvin pamit dulu ya Om,Biy aku pamit dulu dan yang lainnya...nanti kalau ada kabar terbarunya aku akan kasih tahu kalian." Ucapnya.


" Baiklah Vin hati-hati ya dijalan."


" Iya ...Assalamualaikum..." Ucap Arvin sembari berdiri dan melangkah meninggalkan mereka semua diruang tengah tersebut.


" Waalaikumsallam..." Jawab mereka semua.


Beberapa saat kemudian terdengar bunyi mobil Arvin yang pelan-pelan mulai meninggalkan rumah kediaman keluarga wibawa dan menuju kearah kantornya.


*****


Dikediaman Morgan...


" Kenapa jam segini Anindita masih online? tapi saat aku hubungi dia tidak menjawab panggilanku? ada apa sebenarnya?" ucap Morgan merasa aneh karena gawai Anindita masih aktif.


Morgan kemudian menghubungi kembali calon istrinya itu, namun belum juga dijawabnya, terakhir dia dan Anindita memang saling chat setelah kejadian dirumahnya tersebut namun Anindita tidak ingin memberitahukan pada calon suaminya tersebut kejadian yang terjadi dirumahnya itu. Morgan kemudian kembali menghubungi Anindita tapi masih tidak dijawabnya,kemudian dia menghubungi Abiyasa.


" Morgan?" Ucap Abiyasa seraya menatap layar gawainya dan kemudian menatap kearah mereka semua silih berganti.


" Astaga kak! Dita lupa menggembalikan chat kami kemenu semula pasti dia menghubungi Dita, tadikan kami berdua saling mengucapkan selamat tidur." Ucap Anindita seraya berdiri dan melangkah kemeja kecil yang tidak jauh dari mereka duduk, karena dia tadi setelah membalas chat calon suaminya tersebut langsung begitu saja diletakkannya.


Gawai Abiyasa masih berbunyi untuk yang kedua kalinya.


" Hallo Assalammualaikum.." ucap Abiyasa.


" Waalaikumsallam Biy.."


" Ada apa Mor? malam-malam gini kamu nelpon, bukannya tidur, malah telpon-telponan, cepat tidur sana ntar besok acaramu,kamu ngantuk lagi..." Ucap Abiyasa terkekeh.


" Sialan kamu Biy hehehe, aku mau tanya aja apakah Anindita sudah tidur?" Tanyanya.


" Iya sudah tidur dari tadi, kenapa?udah nggak sabar ya pengen tidur bareng? Hahahahahaha..." Tawa Abiyasa lepas disambut Morgan tertawa lebar juga diseberang sana, setelah mereka berdua berbicara akhirnya mereka berdua pun saling mengucap salam untuk menyudahi pembicaraan tersebut.


Abiyasa lalu meletakkan gawainya dan menghela nafasnya tersebut.


" Dita memang nggak kasih tahu tentang kejadian ini, kakak kan tahu sifatnya Morgan kaya apa, selalu emosi dan ingin langsung menghempaskan pelakunya kalau sudah ketemu, makanya Dita tidak mau dia tahu tentang semua ini." Ucap Anindita, dianggukkan mereka semua, Yah! begitulah Morgan dia pasti akan marah kalau dia tahu kejadian ini apalagi kejadian ini menimpa keluarga calon istrinya, bukan keluarga calon istrinya saja tapi menimpa orang lain saja dia pasti akan marah kalau sudah dia tahu dan menanganinya.


" Mas, Ayesha tidur dulu ya, Ayesha ngantuk banget." Ucapnya pada sang suami dan dianggukkan Abiyasa.


" Iya sayang..." ucapnya seraya menatap langkah sang istri yang berjalan menuju kearah kamar mereka.


Kemudian terdengar gawai Abiyasa berbunyi kembali, dia menatap gawainya, dan bergumam sendiri.


" Arvin?" Ucapnya seraya menjawab dengan cepat panggilan dari Arvin, dan menyalakan lauspeaker dari gawainya tersebut.


" Assalammualaikum Vin..." ucapnya


" Waalaikumsalam Biy..ada satu berita yang kami dapatkan."


" Berita apa Vin?" Tanya Abiyasa seraya menatap kesemua orang yang ada diruang tengah tersebut.


" Salah satu dari berita itu, ada berita yang sangat penting."


" Sangat penting apa Vin?"


" Salah satu anak buahku sudah mengetahui di mana laki-laki yang mengikuti Amelia dan adiknya itu berada, ternyata mereka tidak sendirian, tetapi mereka ada beberapa orang dan tidak jauh tinggalnya dari tempat kontrakan Amelia." ucap Arvin.


Mereka terkejut mendengar keterangan Arvin.


" Jadi kamu mau langsung menangkap mereka begitu Vin?" Tanya Abiyasa.


" Tidak Biy, akan aku pelajari dulu situasi dan gerak-geriknya, lagi pula kan besok adalah pernikahan Morgan, Aku tidak ingin melewatkan pernikahan sahabat kita itu, jadi sementara waktu anak buah Morgan yang akan mengintai mereka, dan aku minta pada mereka untuk merahasiakannya terlebih dahulu pada Morgan sampai acara pernikahannya selesai." Ucap Arvin dari seberang sana, dan mereka hanya bisa mendengarkannya saja dengan seksama karena mereka juga sangat khawatir dengan keadaan Amelia dan adiknya itu.


" Kenapa Anak buah Morgan Vin? " tanya Abiyasa.


" Iya Biy, masa anak buahku hehehe, Anak buahku hanya khusus di jalanan aja ngukur jalan namanya juga anggota satlantas bukan anggota Reskrim " ujar Arvin menjelaskan kepada Abiyasa sembari terkekeh.


" Oh...Gitu ya." ucap Abiyasa yang hanya menganggukan kepalanya mengerti dan paham dengan penjelasan Arvin.


" Ya sudah kalau gitu, sampai ketemu besok Biy, Assalammualaikum." Ucap Arvin menyudahi panggilannya tersebut.


" Waalaikumsallam." Jawab Abiyasa sembari menghela nafasnya dengan berat dan menyenderkan kepalanya disandaran sofanya itu.


" Abiyasa, Papa yakin kalau kamu pasti akan menemukan dalang dari semua masalah ini dan Papa ingin tahu sekali siapa sebenarnya yang membuat om Rendy kamu itu masuk penjara dan sampai meninggal dunia, Papa sudah tidak sabar ingin mengetahui siapa mereka itu." ucap Papah Andre seraya menatap kearah sang anak, Abiyasa kemudian membenarkan duduknya dan mengusap wajahnya dengan kasar dan mengubah cara duduknya.


" Siap Pah!Abiyasa akan menyelesaikan semuanya ini, papa tenang aja, semuanya pasti akan ketahuan dan terungkap siapa sebenarnya mereka dan mengungkap kematian om Rendy, dan juga kenapa mereka harus berbuat seperti itu menyakiti perasaan tante Sinta dan membuat mereka berdua menghembuskan napas terakhirnya dengan cara yang tidak semestinya,dan tidak di dekat kedua anaknya dan istrinya,Abiyasa dan kawan-kawan akan mencari tahu setelah acara pernikahan Dita." ucapnya.


Papah Andre dan yang lainnya pun menganggukkan kepalanya,papah Andre pun terlihat menatap silih berganti dengan anak-anaknya tersebut yang sangat antusias dalam menghadapi masalah yang menimpa keluarga almarhum Rendy dan almarhumah Sinta, Papah Andre yang begitu peduli dengan keadaan yang telah menimpa keluarga Almarhum Rendy dan Almarhumah Sinta, bukan dikarenakan almarhumah Sinta yang pernah menempati ruang hatinya,tapi karena rasa peduli yang sangat tinggi membuat dia ingin mengetahui dan menyelesaikan masalah yang telah menimpa keluarga Amellia, dipikiran papah Andre ingin mengetahui semuanya.


" Papah yakin nak, dengan kalian..." Ucapnya lagi.


" In sya Allah Pah, kami akan menyelesaikan semuanya, papa dan yang lainnya duduk manis aja di rumah, serahkan pada kami semuanya." ucap Abiyasa sembari tersenyum menatap kearah Papah Andre.


Papa Andre pun membalas senyuman anak laki-lakinya itu.


" Ya sudah sekarang kalian istirahat saja besok kan hari pernikahan Anindita,papa tidak ingin kalian nantinya capek di saat pernikahan tersebut, karena ini adalah hari bahagia Anindita dan hari bahagianya kita semua, jangan ada wajah yang cemas, karena memikirkan masalah yang telah terjadi, biarlah masalah ini hanya kita yang tahu nantinya, anggap saja besok itu kita tidak menghadapi suatu masalah yang sangat rumit seperti ini, karena besok adalah kebahagiaan dalam hidupnya Anindita dan Morgan." ucapnya.


Mereka semua mengangguk dan kemudian mereka pun berdiri dari duduknya dan melangkah menuju kamar tidur mereka masing-masing.


mereka merebahkan tubuh mereka melepaskan lelah yang mereka rasakan selama seharian ini, dan beberapa saat kemudian merekapun larut dalam mimpi mereka masing-masing.