
"Sehabis dari luar negeri kita akan langsungkan pernikahan mereka" ucap Papah Andre.
" Jangan Ndre, kelamaan" ucap Abi Yosep.
" Lho besok lan kita keluar negeri berobat? Kamu sembuh kemudian kita laksanakan pernikahan" ucap Papah Andre.
" Lama Ndre, kita kan pernah muda nih, kaya gimana setan setan mengganggu kalau belum halal" ucap Abi Yosep.
" Ngomong setan sih biasa aja kali, nggak usah juga nengok keaku" ucap papah Boby.
Semua tertawa..
" Maaf bro, bukan maksud ku melirik kekamu, tapi mata ku ini selalu ingin melirik kalau ngomongin yang kasat mata" ucap abi Yosep terkekeh.
"Dasar ulat bulu" ucap Papah Boby tertawa.
" Maksud kamu gimana Yos," ucap Ayah Candra.
" Maksud aku, biar mereka halal dulu aja baru aku berangkat keluar negeri untuk berobat, aku tak enak meninggalkan mereka yang masih belum sah tanpa kita orang tuanya." Ucap Abi Yosep.
Semua menganggukkan kepalanya, memang benar apa yang di katakan oleh abi Yosep.
" Aku kan berobat pasti makan waktu lama disana, jangan mengorbankan kebahagian anak anak kita untuk kepentingan orang tuanya" ucap Abi Yosep.
" Setuju!" Ucap papah Boby.
"Gimana Abiyasa? Setuju nggak pernikahan di percepat?" Ucap ayah Candra.
" Biyas sih ngikut aja, secara biyaskan lelaki normal om" ucapnya.
" Nah itu tuh, yang di tunggu oleh setiap lelaki" ucap Arvin terkekeh
" Kamu kapan nyusul Vin?" Tanya papah Boby.
" Nanti om, tunggu tanggal mainnya" ucap Arvin.
" Iya pah, dia itu belum kenal sama jodohnya, siang tadi bertengkar sama cewek yang nebrak mobilnya dan dia nya nggak marah sama sekali,padahal jelas jelas cewek itu yang salah, kalian pada tahu kan kalau Arvin marah nya kaya apa kalau benda kesayangannya di rusak orang" terang Clarissa.
" Iih, apa an sih kamu rusa ompong" ucap Arvin.
Mendengar perdebatan Risa dan Arvin mereka tertawa saja.
" Jangan jangan percintaan kita di masa muda terulang lagi sama anak anak kita" ucap mamah Anisha tersenyum.
" Bisa jadi itu, kan aku ketemu sama istriku bertengkar juga kan sayang" ucap Ayah Candra seraya menatap Bunda Adel.
Bunda Adel tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
" Nah...! Terbongkar kan" ucap Clarissa tersenyum.
Arvin hanya terkekeh...
" Jangan jangan Clarissa sama juga nih kaya papahnya punya pacar tapi nggak mau kenal kan dengan kalian sahabat sahabatnya." Sambung papah Andre.
Mamah Lala tertawa mendengar papah Andre bersuara.
" Hehehe" Clarissa hanya terkekeh.
" Bisa jadi pah, karena kemaren kata security kantor, Clarissa di jemput dengan mobil sport warna merah buat makan siang, Biyas tanya siapa yang jemput, Risa Bilang, belum saatnya kalian tahu" ucap Biyas tersenyum.
" Biyas...! Apa apaan sih, buka buka an kartu segala sih" ucapnya seraya melempar bantalan kursi yang sedari tadi di pegangnya.
Almira, charlo, Alena dan Alfarizqi asyik berbicara di teras karena mereka tidak mau mengikuti alur pembicaraan orang tua dan saudara saudaranya di dalam.
" Nah gimana Anindita nih? Siapa calon nya?" Tanya abi Yosep.
Anindita terkejut di tanyain calonnya.
" Oh...itu om belum ada" ucap nya sekenanya saja.
" Belum ada gimana sih, Morgan itu siapa coba" goda Arvin.
Anindita terkejut Arvin mengucapkan nama Morgan.
Padahal nama morgan hanya kedua orang tuanya saja dan saudaranya yang tahu.
" Dari mana kamu tahu dan kenal dengan Morgan?. "Tanya Anindita menatap Arvin penuh selidik.
" Ya iya lah aku tahu dengan Morgan dan kenal baik lagi dengan nya, wong dia itu teman satu leting ku" ucap Arvin.
" Siapa morgan? Anak siapa?" Tanya papah Boby.
" Itu lho om, Morgan itu anaknya om Carlos polisi Kanada, tapi Morga ikut mamahnya di indonesia setelah berpisah." Ucap Arvin.
" Maksud kamu Carlos samuel?" Tanya ayah Candra.
" Iya pah, " ucap Arvin.
" Berarti Carlos teman kamu Ndra" ucap abi Yosep.
" Oh iya ya, tapi aku tidak tahu kalau dia sudah berpisah dengan istrinya." Ujar ayah candra.
" Wah, habis Biyas Anindita lagi nih nyusul" ucap papah Boby.
" Yah kelihatan nya" ucap Papah Andre.
" Bentar lagi kita punya cucu" ucap papah Boby senang.
Mereka semua tersenyum...
Anindita hanya tersenyum saja mendengar cerita mereka.
" Berarti kapan nih acaranya Biyas?" Tanya Ayah Candra.
" Besok kita mulai mengurusnya" ucap Papah Andre.
" Nggak usah om, kalian kan sudah pada tua nih, biar Arvin clariss dan Morga yang ngurus" ucap Arvin.
" Iya pah, kalian duduk manis aja di rumah, nikmati kebersamaan kalian, waktunya anak anak kalian yang akan meneruskan perjuangan dan persahabatan kalian ini" ucap Clarissa mantap.
" Kaya mau perang aja" ucap Arvin.
" Iya emang, mau perang memerangi KUA buat ngurus sahabat kita yang mau nikah" ucap Clarissa lagi.
"Oke lah kalau begitu" ucap semuanya mendengar para anak anak mereka yang akan mengurus semuanya.
" Jangan lama menyembunyikan calon kamu itu Ris" ucap papah Andre.
" Heheh...siap Om" ucapnya terkekeh.
" Kamu juga Vin, kalau sudah srek di hati tuh, kejar sampai langit biru" ucap papah Boby pada Arvin.
" Siap om laksanakan" ucapnya mantap.
" Kamu juga Dita cepat cepat Morgan suruh melamar" ucap abi Yosep tersenyum.
" Iya om, nanti dia akan ketemu sama papah dan mamah" ucap Dita tersenyum.
Papah Andre dan mamah Anisha hanya tersenyum saja.
Sekarang sudah jadi kenyataan abi Yosep dan papah Andre menjadi besanan.
Tak terasa mereka di rumah abi Yosep sudah pukul sembilan malam dan mereka pun pamit pulang ketempat kediamana mereka masing masing...
Abiyasa tersenyum pada Ayesha dan sempat berpamitan dengan Ayesha.
" Sayang, mas pulang dulu ya, jangan lupa mimpikan mas di tidur mu" ucapnya.
" Iya mas aku akan memimpikanmu" ucap Clarissa.
Abiyasa terkejut karena dia tidak sadar kalau masih ada Clarissa di samping Ayesha.
Ayesha tersenyum mendengar Clarissa tertawa.
" Lagian pamitnya suruh mimpiin dia" ucap Clarissa.
" Makanya bro kalau mau romantis pamitnya liat kondisi dong, nggak usah Bucin, bentar lagi halal segala galanya" ucap Clarissa tertawa lepas.
" Asem !" ucap Abiyasa terkekeh.
Setelah berpamitan semuanya langsung memasuki mobil mereka masing masing, dan satu persatu mobil mereka meninggalkan rumah keluarga Abi Yosep.
Kemudian keluarga Abi Yosep langsung masuk kedalam rumah dan menutup pintu rumah nya dengan rapat dan mereka pun beristirahat untuk melepaskan penat mereka.