THE SWEETNESS OF LOVE AND FRIENDSHIP

THE SWEETNESS OF LOVE AND FRIENDSHIP
BAB 74



Abiyasa membelai kepala sang istri, dan memegang wajah istrinya dengan kedua tangannya mendongakkan kewajah nya.


" Kamu cantik sayang,bikin mas bergetar setiap memandang wajahmu,dan membuat mas candu akan bibir mungilmu ini" ucapnya seraya mengusap bibir sang istri dengan ibu jari nya.


" Iih, mas gombal banget deh ah, nggak boleh mesum lho" ucap Ayesha tersipu malu seraya mendorong tubuh suaminya pelan.


Abiyasa terkekeh dan memasuk kan tangan kirinya kesaku celana dan mengusap rambutnya dengan tangan kanannya nya,dia menatap sang istri yang berjalan kearah lemari pakaian mereka.


" Nggak boleh ya, mesum sama istri sendiri " kekeh Abiyasa.


" Cepatan gih mas,mandi,bau tau..." Ucap Ayesha .


" Iya sayang...tapi ngomong ngomong biar bau tapi kamu suka kan" kekehnya seraya berjalan menuju kearah kamar mandi.


Ayesha hanya tersenyum saja mendengar suaminya berkata seperti itu.


Di dalam kamar mandi,Abiyasa tersenyum senyum,dan dia langsung mengguyur tubuhnya dengan air terasa seger di rasakannya.


Ayesha menyiapkan baju suaminya dan dia duduk di tepi ranjangnya nya dan memandang kearah jendela,dia teringat akan kedua orang tuanya yang berada jauh dari nya,sampai dia pun tidak menyadari kalau sang suami sudah berada di sampingnya.


" Mikirin apa sayang ku?"


Ayesha terkejut,dia langsung menoleh kearah suaminya.


"Mas, bikin kaget aja, udah pakai baju sana sayang..." Ucapnya mendorong suaminya pelan karena Abiyasa ingin mencium nya.


Abiyasa terkekeh dan langsung mengambil baju nya yang sudah di siapkan oleh sang istri.


" Kamu mikirin apa sih sayang? Kok sedih banget sih wajahnya?" Tanya Abiyasa.


" Yesha kangen Abi dan Umi mas"


" Telpon aja gih sana,videocall biar bisa liat semuanya" ucap Abiyasa seraya mengenakan pakaiannya.


" Astaghfirullahaladzim, Yesha lupa," ucapnya seraya mengambil ponselnya yang tidak jauh darinya.


Dia pun langsung menghubungi uminya yang berada di luar negeri.puas sudah rasa kangen Ayesha karena sudah jelas menyaksikan kedua orang guanya yang berada di rumah sakit yang ada di sana, setelah selesai Ayesha tersenyum pada sang suami yang duduk di sampingnya.


" Udah kangen nya? Sekarang giliran mas yang kangen,sudah beberapa hari nih menahan" genit Abiyasa pada istrinya.


Ayesha tersenyum,melihat ulah suaminya tersebut.


" Apa an sih sayang...ntar kita kelamaan lagi ada di kamar,mereka kan pasti nungguin kita,makan malam,ayo kita keluar" ajak Ayesha seraya menarik tangan suaminya.


" Kita makan di luar aja yuk " ajaknya.


" Kita bilang mereka dulu lah mas,apakah mereka mau "


" Bibi udah masak?"


" Kaya nya belum mas,karena kata Dita nanti aja kalau sudah pada ngumpul baru masak,kalau masak ntar dingin lagi nungguin yang lain yang belum datang"


" Kan tinggal di hangatin aja,apa susahnya"


" Mas kan tahu Dita nggak suka makanan yang dingin lalu di angetin"


" Iya juga sih, Dita emang nggak suka yang dingin di angetin, ya udah ayo kita makan di luar aja kalau gitu " ucap Abiyasa seraya menggenggam tangan istrinya membawanya keluar


dari kamar.


Setelah mengajak keluarganya untuk makan di luar mareka pun berangkat dan menuju kearah resto favorite mereka.


Di rumah sakit,...


Setelah kepulangan Clarissa, Marco dan Charlo dari rumah sakit,mobil yang di tumpangi Arvin memasuki halaman parkir runah sakit,dia dan Alena keluar dari mobil berjalan menuju kearah dalam,Alena pamit keruangannya UGD karena dia piket di ruang tersebut sedangkan Arvin berjalan menuju kearah ruangan Nadine.


" Assalamu'alaikum" ucap Arvin seraya membuka pintu ruangan tersebut.


" Waalaikumsallam" jawab Nadine.


" Mas Arvin..." Sapa nya seraya tersenyum sumbringah karena melihat kedatangan Arvin.


" Kok kamu sendirian? Kemana dokter Roni? " Tanya Arvin seraya duduk di samping ranjang rawat Nadine.


" Kakak baru aja keluar tapi nanti datang lagi"


Arvin mengangguk kan kepalanya dia menatap kekasihnya itu, Nadine malu malu di tatap Arvin.


" Kenapa sih mas,pandanginya segitu amat " protes Nadine malu karena di tatap Arvin mesra.


" Rindu aja sama kamu" ucapnya lagi seraya tersenyum.


" jangan rindu mas, berat" kekehnya.


" Iya emang benar rindu itu berat, biarkan Dillan aja yang menanggungnya," kekeh Arvin.


Mereka berdua sama sama terkekeh.


" Tapi mas memang rindu banget sama kamu " ucap Arvin seraya tersenyum manis pada Nadine.


" Apakah kamu merindukan mas juga?" Tanya Arvin pada Nadine.


Nadine hanya tersenyum dan mengangguk malu malu.


" Jangan merindukan adiknya aja dong! abang nya juga harus di rindukan, karena kalau menuju pelaminan harus melewati abang nya dulu" ucap Dokter Roni terkekeh.


Arvin dan Nadine terkejut mereka sama sama menoleh kearah pintu yang sudah ada berdiri Dokter Roni.


" Sejak kapan dokter di situ?" Tanya Arvin terlihat menutupi rasa keterkejutannya karena ketangkep basah dokter Roni.


" Hahahaha,,, sejak tadi saat kamu mengatakan rindu dan kangen demgan Nadine" sembari tertawa.


" kenapa nggak bilang sih kak, bikin kaget aja " ucap Nadine dengan wajah bersemu merah karena ketahuan oleh kakaknya yang sedang di rayu Arvin dengan keromantisan.


" Kalian sih yang tidak heran sama sekali,padahal kakak dari tadi berdiri di situ sampai ngucap salam aja nggak di dengar" ucap nya lagi.


" Oh ya tadi ada korban penculikan dengan kekerasan yang di visum." Ujar Dokter Roni.


" Iya kak,itu tadi adiknya Clarissa yang di culik dan dianiaya oleh pelaku,tapi syukur pelaku sudah dalam sel tahanan"


" Kok bisa? Kenapa Adiknya di culik?"


" Salah sasaran, maunya Si Risa yang di culik tapi mereka malah menculik adiknya karena saat itu adiknya yang menggunakan mobil Risa."


" Wah! Tidak benar itu, harus mendapatkan hukuman yang setimpal itu"


" Iya kak, sesuai hukum yang berlaku"


" Ya udah kalau kamu mau istirahat silahkan istirahat aja"


" Iya kak" ucap Arvin seraya menuju sofa dan merebahkan tubuhnya di Sofa panjang yang ada di ruangan itu,begitu juga dengan Dokter Roni merebahkan tubuhnya di sofa panjang satunya saling berhadapan dengan Arvin dan mereka berdua bukannya tidur untuk beristirahat malah saling bertukar cerita sampai mata mereka sama sama ngantuk dan akhirnya pun tertidur sendirinya.