
Setelah mendapatkan anggukkan dari Morgan anak buahnya itu melangkah kembali keluar ruangan dan kembali memasuki ruangan Morgan dengan dua orang wanita bersamanya.
" Ibu? Kenapa ibu kesini? Siapa yang memberi tahukan ibu aku berada dikantor polisi." Ucap Batinnya seraya menatap kearah sang ibu yang sedang mendekatinya itu bersama sang istri.
Papah Andre pun langsung menatap kedua wanita tersebut, dia langsung berdiri dan meraih tangan wanita tua itu dan lalu mencium punggung tangan wanita tua tersebut.
" Assalamualaikum tante Shasa..." Ucap Papah Andre.
" Waalaikumsalam nak ...akhirnya sekian lama tidak bertemu kamu tetap tampan dan sehat nak." Ucapnya seraya tersenyum.
Papah Andre tersenyum.
" Tante bisa aja, Alhamdulillah tante sehat-sehat aja,maafkan Andre dan keluarga ya Tante saat meninggalnya om Handoyo kami tidak datang." Ucapnya.
Tante Shasa mengangguk seraya mengukir senyum diwajahnya.
Dan istrinya Hendy tersenyum seraya menangkupkan kedua tangannya pada papah Andre, papah Andre menganggukkan kepalanya sesaat sembari tersenyum.
Tante Shasa langsung mendekati Hendy dan diapun duduk di hadapan Hendy yang berada di lantai ubin keramik diruangan tersebut, dia menatap sang anak dengan berurai airmata, Hendy tidak mampu menatap mata sang Ibunya itu.
" Apa yang kamu lakukan Hendy, Ibu sudah bilang padamu kan dan ibu juga sudah menjelaskan kepadamu berkali-kali bahkan jutaan kali, apa yang dikatakan oleh almarhum Ayah kamu itu semuanya tidak benar! dialah yang sudah menyakiti keluarga Andre, bukan dia yang tersakiti nak, Ibu sudah melarang kamu berkali-kali agar tidak dendam, tapi kamu tidak mendengarkan Ibu, pantasan saja kamu bertanya tentang keluarga Andre tadi malam, seharusnya kamu sadar nak, kekayaan yang pernah kamu nikmati itu adalah kekayaan dari Andre, buah hasil dari kerja kedua orang tuanya sebelum kedua orang tuanya tiada,bukannya keluarga Andre yang memutuskan hubungan dengan kita Nak, tapi Ayahmu sendiri yang melupakan dan menganggap keluarga Andre tidak ada lagi, kamu seharusnya sadar nak, seharusnya kamu bekerja dengan giat agar perusahaan yang diwariskan oleh orang tua Andre itu berjalan dengan lancar jangan seperti Ayahmu yang hidupnya hanya berfoya-foya, kamu tahu sendiri kan semasa Ayahmu hidup, Ibu tidak merasakan layaknya sebagai seorang istri, Ayahmu semuanya yang menikmati kekayaan itu dengan wanita lain, sebagai pelampiasannya, kenapa kamu membenarkan omongan Ayahmu itu dan menanam dendam pada keluarga Andre, Andre tidak salah nak, ibu sudah mengatakan kepadamu, Kamu harus sadar dan kamu juga harus mengerti dengan posisi kamu sekarang bagaimana, ingat anak istrimu nak, sekarang apa bedanya istrimu dengan ibu? kalau kamu berada di dalam penjara nantinya." ucap Tante Sasa seraya menghapus air matanya, mereka yang ada di dalam ruangan tersebut pun hanya terdiam dan membiarkan Tante Shasa bicara dengan anaknya tersebut, sebelum Hendy di proses dan mendekam dipenjara.
Hendi terdiam! Dia pun mengangkat wajahnya seraya menatap kearah sang Ibu, dia menatap wajah ibunya yang sudah terlihat garis-garis tua dan melihat air mata ibunya tersebut menetes di kedua pipinya yang sudah tua itu, kemudian Tante Shasa merangkul sang anak penuh kasih sayang.
" Semoga saja dengan cara ini Allah memberikan jalan yang terbaiknya untukmu, semoga di dalam sel ini nanti kamu akan menyadari arti akan kesalahanmu selama ini, serta perbuatanmu terhadap orang lain, tobatlah sebelum kamu terlambat Nak, Ibu tidak ingin anak laki-laki Ibu memiliki jalan yang sesat di akhir hidupnya." ucap Tante Shasa setengah berbisik ditelinga Hendy.
Hendi tersentak dengan ucapan sang Ibu, Dia pun kemudian menatap kembali wajah Ibunya tersebut, dia seperti ditampar dengan sebongkah batu besar diwajahnya, Sakit! Sakit sekali yang dirasanya mendengar ucapan Ibunya itu, Dia seakan-akan baru bangun dari tidur panjangnya selama ini, dan dia pun baru menyadari arti kesalahannya yang sesungguhnya.
" Ibu?...maafkan Hendy, Hendy tidak mendengar perkataan Ibu selama ini, maafkan Hendy Ibu, maafkan Hendy" ucapnya dengan mata memerah dan perih karena menahan air matanya yang mau jatuh, dia sekuat tenaganya menahan agar air mata tersebut agar tidak keluar dari kedua matanya, tapi sayang! Usahanya sia-sia, air mata tersebut pun jatuh juga seiring ucapan kata maaf pada sang ibu.
Tante Shasa menganggukkan kepalanya sembari masih meneteskan air matanya, Hendy pun kemudian menatap kearah Papa Andre, Papa Andre yang berdiri dengan tangan yang bersedekap di dada pun menatap juga ke arah Hendy, tapi dengan tatapan biasa saja tidak memperlihatkan wajahnya yang marah atau kebencian pada Hendy.
" Andre... maafkan aku, mungkin kata maaf ini terlambat bagi ku, tapi setidaknya aku akan mempertanggungjawabkan semuanya ini, maafkan aku." ucapnya nyaris tidak terdengar dan kembali menundukkan kepalanya.
Papa Boby yang sedang duduk di sofa pun berdiri dia melangkah menuju kearah Papa Andre yang berada tidak jauh dari Hendy, Dia kemudian berdiri di samping Papa Andre dengan memasukkan kedua tangannya di saku celananya.
" Heh.. kadal sawah! memang kamu sudah sadar ya? Atau ucapan kata maaf kamu itu hanya bualan dari mulut mu hah?!!" tanya papa Boby dengan santai tapi penuh penekanan.
Hendy pun kemudian menatap kearah Papa Bobby.
" Bob, aku minta maaf, aku tadi memang merasa panas hatiku, pikiranku, karena aku ....Aku memang ingin benar-benar menguasai apa yang dimiliki oleh Andre, tapi sekarang setelah aku melihat wajah ibuku dan istriku, aku baru menyadari seharusnya aku menjaga ibu dan istriku dengan baik, Maafkan aku, maafkan aku Ndre,maafkan aku Bob, Ibu maafkan Hendy." ucapnya sembari menangkupkan kedua tangannya, karena posisi kedua tangannya itu hanya diborgol di arah depan tidak ke arah belakang.
Papa Andre hanya menganggukkan kepalanya, sedangkan Papa Bobby hanya tersenyum simpul, papah Boby menatap ke arah Hendy dan mencari penyesalan di tatapan matanya itu, Tapi papah Bobby tidak menemukannya, dia pun kemudian menyenggol pelan tangan Papah Andre.
" Ndre sepertinya dia memang menyesal, aku tidak menemukan ke pura-puraan diwajah dan manik bola matanya Hendy." ucap papa Bobby berbicara, Semua yang ada di dalam ruangan itupun mendengar apa yang dikatakan oleh papah Bobby, Papa Andre menganggukan kepalanya, dia pun kemudian melangkah sedikit mendekati Hendy dan berjongkok di samping Hendy dan tante Shasa.
" Hendy...aku sudah memaafkanmu sebelum Om Handoyo meninggal dunia pun aku sudah memaafkannya, karena almarhumah mamah ku mengatakan padaku, tidak ada permusuhan diantara kita, karena kita ini masih keluarga, kamu tenang aja, kamu jalani saja proses hukum yang berlaku, serta mempertanggung jawabkan semua perbuatan kamu selama ini, aku akan menjaga tante Shasa dan in sya Allah aku akan memberikan modal untuk istrimu buka usaha." ucap Papa Andre sembari tersenyum.
" Terima kasih Ndre, Terima kasih banyak, demi Tuhan aku sudah menyesal, menyesal, sangat menyesal! aku bodoh Ndre, bertahun-tahun aku menyimpan dendam pada keluargamu, bertahun-tahun pula aku memupuk dosaku sendiri, maafkan aku, maafkan aku!" ucapnya sembari menundukkan kepalanya dan tidak terasa air matanya pun keluar lagi, papa Andre menepuk pundak Hendy dengan pelan sembari mengangguk dan tersenyum bahagia karena sepupunya itupun sekarang menyadari kesalahannya selama ini.
" Jika seandainya Om Handoyo juga sadar akan sikapnya diakhir hidupnya mungkin aku orang yang sangat bahagia lagi karena bisa melihatnya bahagia." Ucap batin papah Andre sembari menghela nafasnya dengan pelan dan berdiri dari jongkoknya.
" Nak,kamu bisa melihat sendiri kan karena sifat Andre itu seperti apa? sudah dari dulu mama bicara padamu nak, mama katakan padamu kalau Andre itu tidak menyimpan dendam pada siapapun, kamu harus jujur kalau kamu ingin meminta maaf, kalau kamu ingin minta bantuan, ataupun kamu minta tolong pada Andre, datanglah baik-baik padanya, karena Andre dididik oleh kedua orang tuanya dengan kebaikan, sedangkan kamu dididik oleh Ayahmu untuk menyimpan dendam pada keluarga sendiri, Hendy maafkan ayahmu nak, maafkan Ibu yang tidak bisa mendidik mu seperti orang lain, ibu dan Ayahmu bersalah nak, seharusnya ibu terus memberikan pengertian padamu, maafkan Ibu nak, karena Ibu telah gagal menjadi seorang ibu yang mendidik kamu menjadi lebih baik." Ucap tante Shasa dengan kesedihan yang sangat dalam.
" Ibu tidak salah, Hendy yang salah, Hendy akan mempertanggungjawabkan semuanya Bu, maafkan Hendy, di masa tua Ibu ini, Hendy malah berada di dalam penjara, maafkan Hendy, maafkan Hendy!" ucapnya langsung bersujud di kaki tante Shasa sembari mencium kaki sang Ibu, mereka yang ada disitu pun hanya terdiam dia membiarkan ibu dan anak itu saling berbicara, kemudian terdengar gawai Papah Boby berbunyi, dia pun langsung mengambil gawainya tersebut dia melihat panggilan tersebut dari sang istri, kemudian dia keluar ruangan Morgan sambil menjawab panggilan itu.
" Assalamualaikum Mbeb..."
" Waalaikumsalam Mbeb, ada apa?" tanya papah Bobby.
" Iya mbeb, Ada apa?"
" Mas Yosep mengamankan 2 orang laki-laki yang sedari tadi mondar-mandir di depan gerbang rumah Mas Andre, sekarang mereka berdua ada di di halaman rumah Mas Andre bersama dengan mas Chandra yang sedang menanyai mereka, kalau bisa kalian cepat pulang."
" Apa? mereka berdua menangkap orang yang mencurigakan?"
" Iya Mbeb.."
" Iya udah, kami akan segera kesana, usahakan hati-hati jangan sampai ada orang lagi masuk ke situ." ucap Papa Boby menyudahi pembicaraannya dengan sang istri, setelah mereka berdua saling membalas dan mengucapkan salam, Papa Bobby pun kemudian langsung memasukkan gawai-nya kembali ke saku celananya dan bergegas mendekati papa Andre, dia pun kemudian berbisik dengan papa Andre yang sedang berbicara dengan sang Anak.
" Ndre,Chandra dan Yosep mengamankan 2 orang yang mencurigakan, sekarang ada di halaman rumah kamu."
Papa Andre terkejut dan menatap kearah Papah Boby.
Abiyasa, Niko dan Arvin pun menatap kearah kedua orang tuanya tersebut.
" Ada apa pah?" Tanya Abiyasa pelan.
" Om Chandra dan mertua kamu mengamankan 2 orang yang mencurigakan di rumah kita." Jawabnya setengah berbisik.
" Ya udah, sekarang kita segera pulang."
" Ada apa Biy?" Tanya Arvin.
" Ada yang mencurigakan di rumah,dan sudah diamankan oleh Om Candra dan mertua ku." Ucap Abiyasa.
" Morgan... papa dan Om Bobby mau pulang dulu ya, papah serahkan semuanya padamu, silakan kamu memprosesnya sesuai dengan hukum yang berlaku." Ucap papah Andre.
Morgan menganggukkan kepalanya...
Papa Bobby dan Papah Andre berlalu meninggalkan ruangan Morgan tersebut,setelah mengucapkan salam dan membalas salam, Tapi sebelumnya Papah Andre pun berbicara sesaat dengan tante Shasa dan istrinya Hendy, Setelah dia berpamitan mereka pun melangkah meninggalkan ruangan Morgan
" Morgan Apakah aku disini masih diperlukan? Apakah aku harus memberikan keterangan lebih lanjut lagi?" tanya Abiyasa.
" Sepertinya cukup Biy, aku ingin memproses mereka dulu, Nanti kalau ada yang penting aku akan memberitahukan kamu."
" Oke kalau seperti itu, aku pamit pulang dulu ya pak polisi." Ucap Abiyasa.
Morgan pun menganggukkan kepalanya sembari tersenyum, kemudian Abiyasa meninggalkan ruangan Morgan.
" Biy! aku ikut kamu." ucap Arvin setelah berpamitan dengan Morgan, mereka bertiga pun meninggalkan ruangan Morgan.
" Apakah Morgan sudah tahu kalau di rumah sudah ada dua orang yang diamankan oleh Om Yosep dan Om Candra ?" Tanya kak Niko.
" Sudah Arvin bilang tadi kedia kak, katanya dia akan segera menyusul ke rumah, Setelah dia memproses keempat orang tersebut."
Kemudian mereka pun memasuki mobil mereka masing-masing, 2 buah mobil itu pun meninggalkan halaman parkir kantor polisi dan menuju ke arah rumah kediaman keluarga Wibawa.
" Siapa yang menyuruh kalian?!! sehingga kalian bisa mondar-mandir di depan rumah ini hah!!" tanya Ayah Candra.
Mereka berdua hanya terdiam dan menundukkan kepalanya.
" Cepat katakan! Siapa yang menyuruh kalian hah!!" ucapnya lagi mengulangi perkataannya pada kedua orang tersebut.
Namun kedua orang itu hanya tetap terdiam! wajah mereka berdua terlihat pucat pasi ketakutan, karena sudah tertangkap basah Ayah Candra dan Abi Yosep.