
Setelah selesai menemani Arvin mereka berdua langsung kembali kerumah sakit,dan mobil yang mereka kendarai tersebut memasuki halaman rumah sakit dan menuju kearah parkiran. Morgan dan Arvin turun dan melangkah menuju kearah mereka.
" Gimana Yah keadaan Marco, sudah bisa di pindahkan keruangan?" Tanya Arvin.
" Belum ada kabar lagi dari dokter selanjutnya." Jawab Ayah Candra.
" Morgan, apakah kamu tidak memberi kabar dengan papah mamah mu tentang keadaan yang dialami Marco sekarang ini?" Tanya papah Andre.
" Belum pah, ntar Morgan akan kasih tahu mereka setelah Morgan dapat kabar kak Marco dari dokter." Ucapnya seraya duduk di samping Abiyasa, Abiyasa menepuk pundak sahabatnya itu.
" Ya udah kalau kayak gitu papah dan yang lainnya boleh pulang biar kami yang menunggu di sini." Ucap Abiyasa kepada papah Andre.
" Gimana? apa kita kembali ke hotel dulu nanti kita akan menunggu kabar dan hasilnya dari mereka."
" Ya udah kalau gitu, sebaiknya kita istirahat aja." Ucap Papah Boby.
Abi Yosep dan Ayah Candra mengangguk, kemudian papah Boby mengambil gawainya mengirim chat pribadi kepada putri sulungnya yang masih berada di dalam, kemudian mereka berempat meninggalkan Abiyasa, Morgan dan Arvin yang menunggu di depan pintu ruang UGD tersebut.
Mereka berempat melangkah menuju ke tempat parkir dimana mobil Arvin terparkir mereka melajukan mobil Arvin menuju ke tempat dimana mereka menginap.
Gawai Morgan berbunyi dia mengambil gawainya yang ada di dalam saku celana, dia menatap layar gawainya tersebut, melihat layar gawainya ternyata mamahnya menghubunginya Morgan menatap kearah Abiyasa.
" Mama " Ucapnya singkat.
" Ya udah angkat aja bilang yang selengkapnya kepada beliau daripada nanti beliau kepikiran."
" Tapi hati-hati lho mamamu punya penyakit jantung nggak.?" Tanya Arvin.
Morgan mengangguk pasti.
" Kalau memang mamamu punya penyakit jantung jangan dibilang, nanti itu akan berakibat fatal sambung Abiyasa.
Morgan menganggukkan kepalanya kemudian dia menjawab panggilan mamanya tersebut beberapa saat dia menjauh dari Abiyasa dan Arvin untuk berbicara dengan sang Mama, Arvin dan Abiyas hanya bisa melihat langkah kaki Morgan yang menjauhi mereka untuk berbicara dengan mamanya tersebut.
Beberapa saat kemudian Clarissa keluar dari ruangan UGD dia menemui Abiyasa dan Arvin yang sedang duduk didepan ruang UGD tersebut, melihat Clarissa keluar mereka berdua langsung berdiri dan mendekati Clarissa.
Mereka menyuruh Clarissa duduk.
" Gimana Clarissa keadaan Marco?" Tanya Abiyasa.
" Di tubuhnya penuh dengan luka, nutrisi tidak masuk ke dalam tubuhnya bahkan dia pun tidak makan beberapa hari itulah yang membuat dia lemah badannya." Ucap Clarissa dengan bernada sedih terlihat jelas di wajahnya.
" Kamu yang sabar ya Ris, in sya Allah Marco akan sembuh seperti biasanya lagi." Ucap Abiyasa di aminkan Arvin.
Clarissa hanya bisa menganggukan kepalanya, kemudian Morgan datang setelah menghubungi kedua orang tuanya.
" Gimana Morgan mama mu ?sudah kamu bilang?" Tanya Arvin
" Namanya juga seorang ibu, ya dia merasakan kontak batin yang keras dengan kak Marco, dia menanyakan keadaan kak Marco, bahkan dia mengatakan Kenapa nomor telepon kak Marco tidak aktif,ya aku bilang aja ponselnya lowbat dan kak Marco masih ada urusan yang tidak bisa diganggu. Tapi kayaknya Mama aku sedikit curiga dengan kata-kata aku tapi aku meyakinkan beliau agar beliau yakin bahwa Kak Marco itu tidak apa-apa."
" Mudah-mudahan orang tua mu tidak mengetahuinya " lanjut Abiyasa.
" Tapi kalau seandainya di bawa dan di rawat di rumah sakit Abiyasa itukan nanti pasti akan ketahuan juga,gimana tuh menjelaskannya pada mamahmu, apalagi beliau ada riwayat sakit jantung.?" Tanya Arvin.
" Itu nanti,aku yang akan menjelaskannya pada mamah." jawab Morgan.
" Oh ya aku tidak menemukan gawainya Marco sepertinya gawai itu sudah dimusnahkan." Ucap Arvin.
" Iya juga aku yakin itu sudah dimusnahkan." Ucap Morgan.
" Padahal aku mau lihat gawai itu,karena aku ingin sekali melihat siapa yang mengirim chat pribadi itu kepadaku." Ucap Clarissa lagi.
" Sudahlah Jangan dipikirkan masalah gawai tersebut mau gawai itu ada atau tidaknya yang penting kita fokus terhadap Marco biar kita cepat membawanya kembali dan dirawat di rumah ataupun di rumah sakit yang ada di kota kita." Sambung Abiyasa di anggukkan oleh mereka.
Kemudian dokter keluar dari ruangan tersebut dan menemui mereka, mereka berempat langsung berdiri.
" Gimana dok Apakah saudara kami bisa dibawa ke ruangan yang bisa dijenguk.?" Tanya Abiyasa.
" Oh iya bisa ternyata tubuhnya merespon cepat dan syukur sekarang dia dalam keadaannya sudah stabil tidak menunggu 24 jam untuk observasinya karena kondisi pasien sudah terlihat sangat membaik sekarang sudah dipindahkan ke ruang VVIP silakan kalau mau dijenguk."
" Tapi dok bisakah dia dipindahkan atau dirujuk ke rumah sakit lain.?" Tanya Abiyasa.
" Silakan di urus aja administrasinya dan mau dipindahkan ke kota mana atau ke rumah sakit mana." Ucap dokter yang menangani Marco seraya tersenyum.
Kemudian mereka sampai di ruangan VVIP yang merawat Marco satu persatu masuk ke dalam, dia melihat Marco yang masih tertidur dengan menempel 2 jarum inpus di kedua lengannya kiri dan kanan.
Abiyasa, Morgan dan Arvin menghentakkan tubuhnya di sofa yang ada di ruangan VVIP tersebut, mereka masing-masing mengambil gawainya dan dan masing-masing menghubungi pasangan mereka.
Abiyasa langsung menghubungi sang istri tercinta karena beberapa hari dia tidak bisa bertemu, Begitu juga dengan Arvin serta Morgan tapi sayang Arvin menghubungi Nadine Tapi masih belum juga di jawab Nadine.
Kemudian Arvin menghubungi Nadine kembali dan terdengar sambungan telepon di luar sana.
" Halo sayang.." sapa suara tersebut.
Arvin menatap kegawainya tersebut, karena yang menjawab panggilan Arvin bukan suara Nadine.
Arvin mengenali suara tersebut.
" Kenapa dia yang menjawab panggilanku." Gumam Arvin
" Ini kamu kan sayang?" Ucap suara di seberang sana.
" Maaf bisa saya bicara dengan Nadine?"
" Kamu lupa dengan aku Arvin?" Ucapnya.
" Kenapa gawai Nadine ada denganmu.?" Tanya Arvin.
Mendengar Arvin berbicara seperti itu,Abiyasa dan Morgan langsung menatap kearah Arvin,begitu juga Clarissa dia langsung menoleh kearah Arvin dari tempat tidur rawat Marco.
Arvin hanya bisa membalas tatapan para sahabatnya dengan tanda tanya besar di kepalanya
" Oh Nadine?tadi masih bicara sama Aril, sepertinya dia tidak mau di ganggu." Ucap suara yang ada di seberang sana.
" Aril? Siapa Aril?" Tanya Arvin
" Aril yang sekarang sangat dekat dengan Nadine, mereka terlihat sangat akrab dan mereka juga sepertinya saling menyukai."
" Tolong kasihkan gawainya dengan Nadine, karena aku ingin bicara sama Nadine." Perintah Arvin mulai sedikit kesal.
" Sudahlah Arvin jangan sering lah kamu menghubungi Nadine, lupakan lah Nadine, karena dia terlihat bahagia dengan Aril." Terdengar tawa di seberang sana.
" Apa kamu lupa denganku? Aku yang selalu menantikan kamu Arvin."
Arvin tidak menggubrisnya.
" Tolong! aku pinta sekali lagi berikan kepada Nadine gawainya." Ucap Arvin.
" Arvin! Seharusnya kamu ingat apa yang kamu lakukan dengan ku beberapa tahun lalu! Aku tidak akan pernah melupakan itu!" Ucap nya seraya memutus sambungan bicaranya tersebut.
Arvin meletakkan gawainya di atas meja, dan mengusap wajah tampannya dengan kasar,dan menghembuskan nafasnya dengan berat,Abiyasa dan Morgan menatap kearah Arvin.
" Ada apa Vin?" Tanya Abiyasa.
Arvin diam sejenak...
" Cerita Vin, ada apa.?" Tanya Abiyasa lagi.
Arvin hanya menggelengkan kepalanya.
" Siapa yang menjawab panggilanmu Vin?" Tanya Morgan.
" Apa kamu bertengkar dengan Nadine?" Tanya Clarissa.
Arvin hanya diam tanpa suara.
" Kenapa kamu sampai bertengkar dengan Nadine.?" Tanya Abiyasa.
Arvin menarik napasnya dengan berat dan melepaskannya dengan pelan.
" Yang menjawab panggilan ku bukan Nadine,tapi wanita itu." Ucapnya terlihat marah.
" Maksud kamu.?"
Arvin hanya terdiam sesat dia menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa seraya menatap langit-langit ruangan rawat inap Marco.