
Dikota B sehabis sholat magrib Amir menemui mereka yang sedang duduk di ruang tengah rumahnya tersebut, sambil menunggu makan malam dibuat oleh ibu Ema dan dibantu seorang asisten rumah tangga Amir.
Amir melangkah menuju ruang tamu dan langsung duduk di sampingnya kak Nico.
" Ini Om foto saat Mamah bersama saudara Amelia, saat itu saudara Amelia berusia 6 tahun." ucapnya sembari memberikan selembar foto pada papah Boby.
Papah Boby mengambil foto itu setelah melihatnyanya beberapa saat dia memberikannya pada papah Andre, setelah melihatnya juga dia memberikannya pada Amelia, Amelia tidak bisa menahan air matanya, dia menangis menatap saudara kandungnya itu walaupun melalui sebuah foto lawas.
" Kok kamu tahu itu berusia 6 tahun?" tanya Kak Nico pada Amir.
" Kerena dibalik foto itu bertuliskan usianya sudah 6 tahun, itu yang tertulis di balik foto itu ditulis tangan oleh Mama sendiri, sepertinya Mama Memang menyayangi saudara Amelia, terlihat sampai sekarang dia menunggunya."
" Mohon maaf Amir, Apakah kamu tidak merasa sakit hati karena selama ini mamaku menunggu kehadiran saudaranya Amelia ini?" Tanya kak Nico.
" Tidak! aku tidak merasa sakit hati, malah aku merasa bersyukur dengan kehadiran saudara Amelia walaupun beberapa saat bersama dengan mama waktu itu, tapi bisa membuat Mama bahagia, walaupun sebenarnya Papah sering menyakiti Mama." ucapnya tidak ada rasa terbebankan disaat Dia mengatakannya, sepertinya dia sudah menerima semua keadaan yang terjadi di keluarganya.
" Saya hanya bisa memberikan foto itu Om, siapa tahu di kota Om nanti Om bisa mencari tahu anak yang ada di dalam fhoto itu." Ucap Amir.
Mereka semua menganggukkan kepalanya.
" Terimakasih Amir, Maaf ya Mir Aku tidak cerita sesungguhnya padamu waktu itu." ucap kak Nico lagi.
" Iya Nic, nggak apa-apa, aku juga hanya bisa membantu seperti ini, karena keadaan mamah yang tidak bisa memungkinkan untuk mengatakan semuanya, Untung saja Mama bercerita kepada Ibu, sehingga Ibu bisa bercerita semuanya dan alhamdulillah ada titik terangnya."
" Terima kasih sekali lagi ya.." ucap kaka Nico.
" Iya sama-sama Nico.." ucapnya sembari menyentuh pundak sahabatnya itu, kemudian mereka dikejutkan dengan suara Ibu Ema memanggil mereka untuk makan malam bersama, setelah makan malam mereka berencana ingin menjenguk Ibu Nellyana yang sedang berada di rumah sakit.
Setelah mereka makan malam mereka segera berangkat kerumah sakit dengan menggunakan mobil Amir yang di bawanya dari kota J tersebut ditambah 1 buah taksi, mereka pun meninggalkan rumah kediaman Amir menuju ke arah rumah sakit.
*****
Di rumah kediaman keluarga Wibawa, tepatnya di kamar Morgan, gawai Morgan berbunyi, Morgan dengan malas langsung bangkit dari tidurnya dan duduk di bibir ranjangnya, Dia kemudian mengawasi layar gawai tersebut, dia langsung menjawab panggilan itu, karena panggilan itu selalu mengganggunya beberapa hari terakhir ini, dia ingin menegaskan kepada si penelepon agar dia tidak menghubunginya lagi.
" Halo selamat malam Pak Morgan.." ucap suara diseberang sana, karena Antis sudah dihubungi oleh Clarissa untuk mengganggu Morgan malam ini, rencana mereka sudah mereka lancarkan untuk mengganggu Morgan.
" Hey!! sebenarnya kamu ini siapa sih hah!! selalu aja mengganggu aku, kalau kamu tidak mau mengatakan siapa kamu sebenarnya, lebih baik kamu tidak usah lagi menghubungi aku!! kalau kamu ingin main-main seperti ini, kamu salah! kamu tidak tepat mengajak orang seperti aku yang ingin kamu ajak bermain-main, cari aja orang yang di luar sana yang bisa kamu ajak bermain petak umpet seperti ini!! aku sudah bilang dengan mu kalau aku ini adalah laki-laki yang sudah beristri, kutegaskan sekali lagi dengan mu!! kamu kalau jadi perempuan gak usah deh ganggu rumah tanggaku!! masih banyak laki-laki di luar sana yang bisa kamu ganggu!! Jangan aku!!" Ucap Morgan setengah emosi.
" Apakah kamu tidak tahu dengan aku Morgan? kita sudah berhubungan cukup lama lho, Kenapa kamu begitu saja melupakanku??" ucap suara di seberang sana, gawai Morgan sengaja dia loudspeaker karena dia malas untuk menempelkan gawainya ke telinganya, dia tidak ingin telinganya itu dikotori oleh suara si penelpon yang tidak jelas siapa diri dia sebenarnya.
" Siapa kamu!!"
" Aku adalah orang masa lalumu, Apakah kamu lupa denganku Morgan?"
Morgan terdiam kemudian dia menatap kearah pintu dia tidak menyadari sedari tadi Anindita mendengar pembicaraan mereka berdua melalui gawai.
Morgan terkejut melihat sang istri berada di depan pintu dengan tatapan penuh tanda tanya.
Morgan pun langsung mematikan gawainya tersebut dan melemparnya ke atas kasur.
" Sayang! kamu Jangan salah paham ya? Aku tidak kenal si penelpon itu." Ucapnya seraya mendekati istrinya.
" Siapa masa lalumu Morgan! Kenapa kamu tutupi dari aku? kita baru menikah Morgan, Kenapa kamu berbuat seperti itu padaku?! Kamu sangat jahat!! " Ucap Anindita menatap Morgan dengan Marah.
" Sayang... sebenarnya aku...." Ucapan Morgan disanggah Anindita.
" Kamu ingin kembali dengan masa lalumu? silahkan!kalau kamu ingin kembali dengan masa lalumu, tapi tidak begini caranya, jika kamu ingin kembali dengan masa lalu mu, Kenapa kamu mau menikahi aku hah?!" ucap Anindita.
" Sayang... dengarkan aku? Aku tidak tahu si penelpon itu? Beneran sayang... percaya denganku sayang...Aku benar-benar mencintai kamu, Aku menyayangi kamu, aku benar-benar... Aachh!! ini semua gara-gara si penelpon itu!!" Ucapnya seraya meremas rambutnya dan duduk disamping bibir ranjangnya.
" Kamu jangan menyalahkan si penelpon itu, tidak mungkin menelpon itu mengetahui nomor gawai kamu, kalau tidak kamu sendiri yang memberinya."
" Ya Allah Sayangggg... Aku beneran nggak tahu??? hanya kamu yang ada di hati aku, Aku kan sudah cerita semuanya sama kamu, tentang masa lalu aku, tentang aku pernah mempunyai kekasih bernama Stevi, sudah semuanya aku ceritakan pada kamu sayang... Masa kamu tidak percaya sih dengan suamimu ini." ucap Morgan seraya memegang tangan Anindita, Anindita langsung menepiskan tangan Morgan, Dia kemudian mengambil bantal, guling, dan selimut, dia pun langsung mendekati Morgan dan memberikan perlengkapan tidur itu pada Morgan.
" Nih terima! sekarang Kamu tidur di sofa! kamu tidak boleh tidur denganku di atas kasur! kalau kamu berani naik kasur! Dan mendekati aku tidur, kamu akan tahu akibatnya sendiri, ingat itu!" ucap Anindita kemudian dia langsung meninggalkan Morgan yang berdiri mematung sembari memegang perlengkapan tidurnya sambil menatap sang istri yang merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur sembari tersenyum tanpa sepengetahuan Morgan.
Morgan pun kemudian berjalan melangkah kearah sofa yang ada tidak jauh dari tempat tidurnya itu.
" Sayang... nggak bisa seperti ini juga dong?? kita kan baru menikah, Masa sih aku tidur meluk guling mulu, aku kan ingin memeluk kamu." Rengeknya duduk disofa seraya masih menatap kearah Anindita.
" Tidak ada peluk-pelukan! peluk aja guling itu dan mimpilah indah bersama si penelpon gelap mu itu!!" Ucap Anindita.
" Sayang.. Kenapa kamu tidak percaya dengan aku sih??" Rengeknya lagi.
" Kalau kamu ingin aku percaya dengan kamu, bawa si penelpon itu ke hadapanku!!kalau memang kalian tidak saling kenal dan tidak ada hubungan dibelakangku!! Sudah! aku mau tidur! besok mau masuk kerja!" ucap Anindita sembari mematikan lampu dekat tempat tidurnya tersebut dan menggantinya dengan lampu yang remang-remang di dalam kamar.
Morgan pun kemudian menata sofa tersebut untuk dia tidur dan Dia pun merebahkan tubuhnya di sofa.
" Sialan!! aku akan menemui kamu si penelpon gelap! ini semua gara-gara kamu!! Aachh!! akhirnya aku tidur di sofa hah... aku tahu istriku ini, kalau dia marah, tidak akan berakhir 1 hari, pasti akan lama... tapi tidak apa-apa, syukur aja aku tidur di sofa daripada aku disuruhnya tidur di ruang tamu, aku takut nanti ketahuan mertuaku, dikiranya aku emang benar ada main dengan orang lain di belakang anaknya, tunggu saja, aku akan membawa si penelpon itu menemui istriku,bahwa aku memang tidak kenal dengan dia!!" ucapnya sembari menutup wajahnya dengan selimut, beberapa menit kemudian tidak ada lagi suara-suara di dalam kamar mereka.
" Target sudah masuk perangkap hahaha..."
Terlihat emotikon tertawa lepas masuk ke gawai Anindita.
Di kamar Abiyasa...
Ayesha yang sudah merebahkan tubuhnya di kasur empuk yang ada di ruang kamarnya tersebut dia sedang memperhatikan sang suami yang duduk disampingnya sedang mengutak-atik gawainya.
" Mau menghubungi siapa Mas, malam-malam begini?"
" Mau menghubungi papa, Mas ingin tahu berita di sana, Apakah mereka sudah menemukan Ibu Nellyana itu dan Apakah ibu Nellyana yang di maksud itu adalah ibunya kak Amir itu."
" Mudah-mudahan saja mas...."
" Iya sayang, mudah-mudahan saja..." ucap Abiyasa sembari mengelus perut istrinya dimana Di dalam rahimnya istrinya tersebut tertanam benih cinta mereka berdua, sembari tangannya memegang gawai dan menempelkannya di telinganya, beberapa saat kemudian sambungan pun tersambung.
" Assalamualaikum pah.."
" Waalaikumsalam nak .."
" Bagaimana Pah? Apakah ada titik terangnya?"
" Alhamdulillah sudah ada nak, in sya Allah besok papah akan kembali ke kota kita."
" Apakah urusannya sudah selesai pah?"
" Kalau masalah Ibu Nellyana sudah selesai, Alhamdulillah ternyata mamahnya Amir orang yang kita maksud, tapi bukan Amir saudara kandungnya Amelia."
" Jadi siapa saudaranya kak Amelia?"
" Nanti Papa kirim foto masa kecilnya saudara Amelia, mereka sudah pindah dari kota B ini saat saudara kandungnya Amelia itu berusia 6 tahun, dia pindah ke kota kita." Terang papah Andre.
" Ke kota kita?"
" Iya nak, Nanti setelah Papa kirim fotonya kamu bisa kasih tahu dengan yang lain, siapa tahu mereka pernah berteman semasa sekolah atau mengenali masa kecil dari saudaranya Amelia."
" Iya pah, nanti akan Biyas kasih tahu semuanya, Biar mereka akan mencari tahu juga di kota ini, siapa tahu mereka bisa mengenalinya."
" Iya Nak .."
" Ya Udah Pah kalau kaya gitu, Papa istirahat aja.."
" Baiklah nak, Ini juga baru datang dari rumah sakit dan mau beristirahat di rumah Amir, karena papah sama yang lainnya disuruh Amir menginap di rumahnya."
" Alhamdulillah Pah, kalau seperti itu, ya udah ya Pah Bias tutup dulu pembicaraannya Assalamualaikum..."
" Waalaikumsalam..."
Kemudian gawainya diletakkan di atas meja kecil dekat tempat tidurnya.
" Bagaimana Sayang?"
" Alhamdulillah, Papa sudah menemukan titik terangnya tentang saudara kak Amelia, katanya mereka udah pindah ke kota kita ini, sebentar lagi papa akan mengirimkan foto masa kecilnya dari saudara kak Amelia, siapa tahu kita dan yang lainnya mengenali saudaranya itu." Terang Abiyasa pada sang istri.
" Ya udah, kalau seperti itu mas istirahat aja dulu."
" Bentar Sayang, Mas mau menunggu kiriman foto dari papah." Ucapnya sembari membelai pipi sang istri.
Beberapa saat kemudian gawai Abiyasa berbunyi dan sebuah chat pribadi masuk kedalam gawai tersebut, dia melihat sebuah gambar yang dikirim oleh sang papa.
" Apakah ini kakak kandungnya kak Amelia? "
" Apa kamu mengenal ini sayang?" Tanyanya pada sang istri.
" Enggak.."
" Sama mas juga nggak kenal... ya udah mas akan ngasih tahu dengan yang lainnya."
Kemudian Abiyasa pun mengirim foto tersebut ke gawai dr Roni, Nadine, Arvin, Marco, Clarissa, Anindita,dan Morgan
Namun tidak ada respon dari mereka semua.
" Apa mereka sudah tidur? " Ucap Abiyasa sembari melihat jam dinding yang ada dikamarnya tersebut, waktu sudah menunjukkan pukul 22 malam.
" Mungkin mereka sudah tidur semua." ucap Ayesha.
" Mungkin sayang..." Ucap Abiyasa seraya mengaktifkan nada diam digawainya, agar tidak mengganggu waktu tidur mereka, Abiyasa pun kemudian beranjak tidur di samping sang istri sembari memeluk istrinya tersebut dan merekapun kemudian menikmati waktu istirahatnya untuk menyongsong hari esok dengan berbagai macam pekerjaan dan berbagai macam peristiwa yang akan mereka hadapi.