THE SWEETNESS OF LOVE AND FRIENDSHIP

THE SWEETNESS OF LOVE AND FRIENDSHIP
BAB 138



BAB 138


" Kata mamah kamu kurang enak badan, kamu sakit? kita kerumah sakit sekarang ya." Ucapnya seraya meraba pipi sang istri.


Ayesha memegang tangan suaminya yang berada di pipinya tersebut, dia tersenyum dengan manis,Abiyasa pun membalas senyuman manis istrinya dan jarinya mengusap lembut bibir sang istri yang sangat dia rindukan sekali selama ini apalagi mereka berdua berjauhan beberapa hari.


" Yesha nggak apa-apa mas,Yesha hanya kecapean saja." Ucapnya.


Dia memang tidak ingin mengatakan pada suaminya kalau dia dalam keadaan hamil muda.


" Maafkan mas ya sayang, karena selama beberapa hari mas tidak ada disamping kamu, dan disaat sekarang kamu dalam keadan sakit mas baru datang dan baru saja mengetahuinya itupun tahunya setelah mas berada dirumah." Ucapnya panjang lebar.


" Enggak apa-apa mas,masih ada mamah dan yang lainnya,lagipula mas kan perginya membantu sahabat-sahabatnya mas yang dalam kesulitan,bukan untuk bersuka cita." Ucapnya dengan senyum yang mengembang,sangat manis sekali dilihat Abiyasa.


" Ya sudah sekarang kamu istirahat saja ya,mas mau bertemu dengan mereka dulu, karena ada Nadine dan kak Roni." Ucap Abiyasa.


" Ayesha ikut mas " Ucapnya seraya memegang tangan sang suami dengan ekpresi manjanya.


Abiyasa tersenyum manis dengan sang istri karena melihat ekpresi Ayesha yang manja dan merasa menggodanya tersebut.


Abiyasa mencubit hidung mancungnya sang istri dengan pelan.


Ayesha memonyongkan mulutnya dan menyipitkan matanya dengan manjanya kearah suaminmya.


" Kamu ini menggemaskan sekali sih sayangnya mas ini." Ucap Abiyasa seraya menarik pelan sang istri dalam pelukannya.Ayesha hanya pasrah dan tersenyum,dia merasa bahagia sekali karena sang suami sudah berada disampingnya tersebut,dan sudah sekian lama dia rindukan itu.


Merekapun langsung melangkah keluar saling berpegangan tangan menuju kearah ruang tengah dimana mereka semua sudah sedari tadi berada.


Abimanyu dan Ayesha duduk berdampingan disamping sang papah.


Selama Abiyasa dan Ayesha berada di dalam kamar tidak ada yang serius dibicarakan mereka,melainkan hanya seputar masalah Marco.


Abiyasa melihat kearah Arvin yang hanya terdiam begitu juga dengan Nadine yang hanya menundukkan kepalanya dia tidak berani mengangkat wajahnya karena dia takut kalau Arvin marah dengannya karena selama ini dia tidak menghubungi Arvin selama berjauhan.


" Oh ya nak Roni, tadi katanya mau bertemu dengan keluarganya Arvin,ada apa ya nak kalau boleh tahu?" Tanya Mamah Anisha.


Arvin terkejut mendengar mamah Anisha berbicara seperti itu.


" Memangnya ada apa kak?" Tanya Arvin.


Dokter Roni menghela nafasnya dengan panjang dia kemudian memperbaiki duduknya dan menatap kearah Nadine dan kemudian berganti menatap kearah mereka semuanya.


" Sebelumnya saya minta maaf dulu yang sebesar-besarnya karena datang kesini tanpa memberikan kabar terlebih dahulu, begini saya mau meluruskan tentang hubungan Nadine dan Arvin."


" Nadine dan Arvin?Memangnya mereka kenapa?" Tanya Bunda Adel seraya menatap Arvin dan Nadine secara bergantian.


" Ada apa nak?apa yang kamu lakukan dengan Nadine calon menantu Bunda " Ucap Bunda Adel seraya menatap kearah anaknya tersebut.


Nadine terkejut dan mengangkat kepalanya menatap kearah Bunda Adel karena mendengar Bunda Adel menyebut dirinya calon menantunya.


" Bun, Arvin tidak melakukan apa-apa dengan Nadine, justru disini Arvin ingin mengatakan sesuatu dengan Bunda dan Ayah serta yang lainnya terutama Nadine Bun." Ucap Arvin seraya menatap kewajah kekasihnya yang sangat dia rindukan.


" Apakah Nadine akan tetap mencintai dan sayang serta menerima aku apa adanya setelah aku mengatakan semuanya tersebut disini." Gumamnya.


Nadine hanya menatap sendu kearah Arvin, dia sebenarnya sangat merindukan Arvin.


"Apakah mas Arvin akan memutuskan aku?kalaupun itu benar aku akan pasrah dan lapang dada menerima semua keputusan mas Arvin terhadap hubungan ku ini,aku mampu bertahan dengan sepenuh hatiku,tapi kalau sudah ditakdirkan sampai disini aku hanya bisa apa" Ucap batinnya berbicara.


Semua mata langsung menatap kearah Arvin.


" Apa yang ingin kamu bicarakan Vin." Tanya papah Andre.


" Nanti akan Arvin ceritakan, tapi sebelumnya kita dengarkan apa yang akan di katakan oleh kak Roni." Ucapnya.


" Maafkan Naddine Vin." Ucap dokter Roni singkat.


Arvin tersentak dengan ucapan dokter Roni.


" Maaf soal apa kak?" Tanya Arvin heran.


Dan yang lainpun merasa heran kenapa dokter Roni mengatakan kata maaf dari Nadine.


" Karena selama ini Nadine tidak menghubungi kamu, mungkin kamu sudah berpikiran kalau Nadine sudah melupakan kamu atau bermain dibelakang kamu, tapi jujur itu tidak di lakukan Nadine, ditambah lagi kamu menghubungi ku tapi tidak tersambung karena aku mengadakan perjalanan dinas keluar kota jadi sinyal disana sangat susah." Ucap dokter Roni sembari menatap kearah Arvin.


" Maafkan Nadine Mas Arvin " Ucap Nadine menatap kearah Arvin.


Arvin menatap mesra kearah kekasihnya itu.


" Gawai Nadine Hilang mas."


" Apa?! hilang?" Tanya Arvin terkejut.


" Iya mas,tolong jangan dipotong dulu penjelasan dari Nadine,biarkan Nadine menjelaskan semuanya biar semuanya jelas." Ucap Nadine seraya menatap kearah Arvin dan mereka yang ada di ruang tengah itu hanya diam dan mendengarkan penjelasan Nadine.


Arvin mengangguk dan membiarkan Nadine menjelaskan semuanya.


" Walaupun gawai Nadine hilang tapi yang anehnya gawai itu masih aktif dihubungipun tidak ada yang jawab, kalau satu atau dua jam sih masih masuk akal, ini sudah berhari-hari sudah hilang tapi masih aktif." Terangnya kemudian terdiam sejenak.


" Sejak kapan gawaimu hilang Nad?" Tanya Abiyasa.


" Dua hari yang lalu kak Abi." Jawab Nadine.


" Pas banget saat kamu hubungi malam terakhir kita berada di rumah sakit saat itu Vin, waktu kita masing-masing menghubungi orang terkasih kita." Ucap Abiyasa.


" Iya Biy benar kata kamu itu,kamu tahu Nadine siapa yang menjawab panggilan ku kegawaimu, dia adalah Maya, dia yang menjawab panggilanku dia juga mengatakan kalau kamu lagi asyik dengan seorang laki-laki yang bernama Ariel." Terang Arvin.


Nadine pun terkejut mendengar Arvin mengatakan nama Ariel.


" Kenapa kamu terkejut,setelah aku bilang nama Ariel,apakah kamu mengenalinya." Tanya Arvin penuh selidik pada sang kekasih.


" Nadine tidak mengenalnya mas, bahkan Nadine tidak pernah melihatnya, tapi Maya pernah mengatakan pada Nadine kalau dia mempunyai teman bernama Ariel dan Yudi, dan dia juga pernah bicara sama Nadine mengisahkan kalau mereka bertiga sudah pernah memergoki teman sekuliah mereka dulu sebelum mereka pindah kampus,teman mereka itu dengan seorang wanita yang sudah melakukan hubungan yang terlarang, tapi Nadine tidak menanggapi kisah Maya saat itu." Ucap Nadine.


Abiyasa dan Arvin saling pandang, dan papah Boby, menatap mereka berdua.


" Kenapa kalian saling pandang seperti itu, ada apa sebenarnya setelah Nadine mengatakan kalau Maya membuat tipu muslihat kalian langsung saling tatap jangan-jangan kalian sudah mengetahui tentang si mayat hidup itu." Ucap papah Boby.


" Si Maya om." Sahut Abiyasa.


" Iya itu si Mayat,maksudnya si Maya."


" Apakah mas Arvin mengenal Maya?" Tanya Nadine.


Arvin terdiam dan diapun menundukkan kepalanya.


" Mas Arvin pasti mengenal Maya,karena saat Maya melihat banyak fhoto mas Arvin digawai Nadine semuanya di hapus tanpa sebab, dan Maya juga membawa kabur mobil Nadine, dia juga membuat Nadine diseret-seret kesebuah rumah yang ada dua orang laki-lakinya,Nadine tidak bisa berbuat apa-apa saat itu tapi karena kebaikan seseorang yang sudah menolong Nadine makanya Nadine bisa ada di hadapan mas sekarang." Ucapnya seraya menundukkan kepalanya.


Arvin terkejut dan diapun mengepalkan tangannya menahan amarahnya setelah mendengar Nadine menjelaskan semuanya.


" Maya sudah keterlaluan!!" Geram Arvin.


" Sebenarnya apa yang terjadi ini nak? ceritakanlah semuanya pada kami,Bunda dan Ayah ingin mendengar semuanya, siapa Maya tersebut.


" Baiklah Bun, Arvin akan cerita semuanya." Ucapnya seraya menatap mereka semua.