
" Apa maksudmu Nadine.?" Tanya Maya pada Nadine seraya menatap Nadine dengan penuh tanda tanya besar dikepalanya.
Nadine hanya tersenyum sinis dengan Maya.
" Aku tidak ada maksud apa-apa aku cuma bertanya aja dengan kamukan tadi,apakah kamu yakin kalau aku yang masuk penjara? apa tidak kebalik kamu yang masuk penjara nantinya secara kamu sudah mengambil gawaiku dan juga tidak mengembalikan mobilku." Ucap Nadine dengan nada santainya seraya menatap kearah Maya dengan lekat.
Maya terdiam dia kemudian berdiri dari duduknya.
" Kalau keinginanku belum bisa tercapai jangan harap kamu bisa mendapatkan gawai dan mobilmu bahkan Arvin pun cintanya akan berpaling denganku camkan itu Nadine!!" Ucapnya ketus dengan nada mengancam.
Nadine pun kemudian berdiri menghadap ke arah Maya.
" Akan kutunggu apakah benar ucapanmu itu." Ucap Nadine memberi tantangan kepada Maya.
Maya kemudian beringsut pergi meninggalkan Nadine yang ada didepannya dia melangkah meninggalkan Nadine menuju kearah luar dan berlalu pergi dari rumah Nadine,dari arah yang berlawanan sebuah mobil berhenti didepan pagar rumah Nadine dan Maya langsung masuk kedalam mobil tersebut Nadine sempat sekilas melihat siapa yang menjemputnya itu tapi dia tidak mengenali lelaki yang sudah menjemput Maya menggunakan mobil yang tidak pernah dilihat oleh Nadine.
" Kemana mobilku? Kenapa dia tidak menggunakannya?" Ucap Nadine pelan kemudian Nadine duduk diruang tamunya tersebut.
Tante Raysha melangkah keluar dari kamarnya menuju kearah Nadine yang sedang duduk terdiam.
Begitu pula dengan Dokter Ronny dia keluar dari persembunyiannya dan menemui Nadine.
Nadine terkejut melihat Mamah dan Kakaknya menemuinya kembali.
" Kenapa mobil dan gawaimu nak ada dengan Maya?" Tanya Tante Raysha tiba-tiba bertanya pada Nadine.
Nadine terkejut mendapatkan pertanyaan dari sang Mamah seperti itu.
" Kenapa Mama bisa tahu.?"
"Mama sejak tadi sudah mendengar pembicaraan kalian berdua nak,waktu mama baru nyampai dirumah perempuan itu sudah menunggu di teras rumah kita, makanya mama suruh masuk aja karena Mama tahu itu adalah teman kamu. Dia kemudian bercerita semua tentang kejahatan kamu diluar sana."
" Terus Mama percaya begitu saja dengan ucapannya.?"
" Aku ini mama kamu Nadine, Mama tidak percaya dengan dia begitu saja,apalagi dia baru Mama kenal itu juga beberapa kali aja dia ke rumah kita karena sejak awal Mama melihat dia di waktu kita berbelanja di sebuah Mall itu Mama sudah tidak suka dengan dia Mamah ingin mengatakan kepadamu tapi Mama takut kamu tersinggung, tapi Mama tahu kepribadian kamu nak,kamu tidak mungkin berbuat yang tidak baik di luar sana karena Mama tahu kamu itu tidak mudah untuk mempermalukan diri kamu sendiri ataupun orang tua kamu." Ucap Tante Raisha seraya memegang pipi anak perempuannya tersebut.
" Kamu tenang aja Nadine Kakak juga sudah mendengar semua pembicaraan kalian."
Nadine kemudian menoleh kearah Dokter Ronny.
" Nadine juga ada buktinya Kak, Nadine sempat merekam pembicaraan dia,jadi ini akan Nadine kasih tahu dengan mas Arvin." Ucap Nadine.
" Itu lebih bagus lagi dek kamu sempat merekamnya."
" Saat kita datang tadi Nadine langsung mengaktifkan alat perekamnya di gawai Nadine yang baru sampai Nadine berbicara dengan dia."
" Pintar juga adik kakak ya." Kekeh Dokter Roni.
" Ya iyalah pintar Adik siapa dulu." Ucapnya tersenyum.
" Kalian tadi dari mana.?" Tanya Tante Raysha.
" Kami berdua dari tempatnya Dokter Anindita,rencananya kami mau menemui Arvin tapi karena Arvin bersama keluarganya berada di rumah Dokter Dita makanya kami langsung ke sana Mah." Terang Dokter Roni.
Tante Raysha hanya menganggukkan kepalanya.
" Kalian sudah makan siang?"
" Sudah Mah,ditempat mereka tadi."
" Oh Ya mah terimakasih ya mah sudah percaya dengan Nadine."
Tante Raysha menatap Nadine dengan memberikan senyum termanisnya.
" Mama selalu memberikan kepercayaan kepada kalian berdua semoga kepercayaan Mamah ini tidak kalian salah artikan dan disalahgunakan semoga saja penyelesaian kalian ini ada solusinya dan semoga Maya menyadari kesalahannya."
" Maya itu tidak akan pernah mengaku salah Mah,Maya itu tidak akan pernah sadar dengan kesalahan dia." Ucap Nadine.
" Nak semua manusia itu pasti ada khilapnya semua manusia itu pasti ada salahnya tapi kesalahan mereka itu berbeda-beda nak,pasti suatu saat dia akan menyesal dan menyadari kesalahannya."
" Bagi Maya penyesalan itu tidak pernah akan datang Mah."
" Itu kata dia nak,suatu saat dia pasti akan merasakan penyesalan itu, percaya aja omongan mama ini." Ucap Tante Raysha seraya tersenyum.
Nadine hanya menganggukkan kepalanya.
" Ya sudah sekarang kalian istirahat aja Mama juga mau istirahat sudah capek."
" Katanya Mama 3 hari disana."
" Karena acaranya dipercepat jadi tidak sampai tiga hari, lagi pula Mama juga kepikiran kamu berada di rumah sendirian makanya Mama cepat pulang, kamu juga sih diajak kesana nggak mau."
" Nadine bukannya nggak mau Mah tapi Nadine meninggalkan rumah dimana bi Anti dan bi Eni hanya berdua saja Kasihan mereka,apa lagi Kak Roni sering dinas keluar kota jadi kadang-kadang kita cuma tinggal bertiga di rumah ini, makanya Kak Roni cepat-cepat nikah dong biar rumah terlihat rame Kak Roni kan pasti tinggal bersama istrinya dengan Mama karena anak laki-laki itu masih tetap tinggal sama Mama, kalau Nadine anak perempuan seandainya Nadine sudah menikah Nadine pasti akan ikut dengan suami Nadine,Mamah kan bisa nginep ditempat Kak Roni atau ditempat Nadine, tapi banyakin ditempat Nadine ya Mah nantinya." Ucap Nadine.
" Enggak-enggak,Mamah banyakin ditempat kakak." Protes Dokter Roni.
Tante Raysha hanya tersenyum melihat keakuran kedua anaknya semenjak suaminya pergi meninggalkannya dan memilih wanita lain dan sekarang sudah meninggal dunia,hanya kedua anaknyalah yang selalu menghibur dirinya,sampai sekarang pun kedua Anaknya tidak mengetahui kalau Ayah mereka sudah meninggal dunia karena sesuatu hal,dan Tante Raisa tidak pernah sedikitpun bercerita pada kedua Anaknya tersebut.
" Bisa aja kali kamu tinggal di sini bersama kakak sama Mamah."
" Ya enggak enaklah sama suami Nadine nantinya diakan seorang suami pasti dia ingin mempunyai rumah sendiri."
" Apa salahnya kamu tinggal di sini? Ntar kakak bilang sama Arvin harus tinggal disini setelah menikah,kalau tidak mau kakak nggak mau menikahkan kalian." Ancamnya sembari terkekeh.
" Iih...kaka Apaan sih maksa banget sih." Delik Nadine.
Dokter Roni tertawa lepas dan Tante Raysa pun terkekeh.
" Mamah..." Panggil Nadine manja dengan sang Mamah.
Tante Raysha hanya tertawa.
" Udah jangan bertengkar cepetan kalian istirahat sana Mama juga mau istirahat."
" Kami ini masih muda Mama Mama aja yang istirahat, Mama kan udah tua nanti kalau capek-capek sedikit ntar sakit." Ucap Nadine.
" Kalau Mama sakit kan masih ada yang rawat kakakmu."
" Bukan kakak aja yang ngerawat Mama Nadine juga." Ucap Nadine protes.
" Iya sayang kamu memang akan merawat Mamah nantinya.Ya sudah kalau seperti itu Mamah mau istirahat dulu pesan Mama kamu tidak perlu lagi kenal dengan Maya walaupun mobil dan gawaimu tidak dikembalikan ikhlaskan saja mungkin dia tidak bisa membeli mobil anggaplah bersedekah dengan dia."
" Nadine sih mau aja bersedekah tapi Nadine tidak mau bersedekah sama orang jahat seperti dia." Ucapnya.
" Ya sudah mulai sekarang kamu hati-hati jangan terlalu gampang lagi dalam memilih suatu teman dan meminjamkan sesuatu kepada teman itu boleh-boleh saja, tapi dilihat dulu teman itu apakah memang benar-benar meminjam untuk dikembalikan atau meminjam untuk dimiliki,karena barang yang berharga milik kita walaupun tidak ada artinya sangat berarti bagi orang yang ingin menghancurkan kita, terutama kita mempunyai seorang kekasih ataupun suami jangan sampai kita percayakan untuk berkenalan dengan teman yang memang tidak tahu luar dalamnya dari teman kita itu, karena seorang teman dan sahabat itu berbeda dari segi tulisan juga dan dari segi artinya kalau sahabat dia akan selalu ada disaat kita senang susah dia tidak akan pernah meninggalkan kita,kalau seorang teman disaat kita senang dia selalu hadir dimanapun kita berada. Tapi disaat kita susah dia akan pergi meninggalkan kita bahkan untuk kenal saja dia tidak akan mau dia mudah untuk melupakan,dan tidak akan pernah bisa membantu menganggap kita tidak akan pernah ada dengan dia." Ucap Tante Raysha menjelaskan pada kedua anaknya.
Dokter Roni dan Nadine pun menganggukkan kepalanya dia meresapi akan kata-kata mamanya.
" Benar Mah, apa kata Mamah persahabatan dengan pertemanan itu berbeda persahabatan akan selalu abadi dimanapun kita berada, sahabat selalu setia menunggu dan menemani kita dimanapun kita kesusahan sahabat akan selalu membantu kita,dikala kita senang sahabat selalu bersama dengan kita sahabat tidak akan pernah meninggalkan kita disaat sahabatnya yang lain merasa kesusahan kata-kata kasar yang keluar dan kata-kata candaan yang keluar dari sahabat tidak membekas di hati tapi kalau kita mempunyai seorang teman di saat kita senang teman selalu memuji kita baik dibelakang ataupun di depan kita tapi di saat kita terpuruk dan susah teman akan pergi satu persatu meninggalkan kita di saat kita minta pertolongan kepadanya pun teman tidak akan pernah bisa menolong dengan seribu alasan yang dia keluarkan untuk tetap tidak bisa menolong kita dan dia pun berusaha untuk menghindari kita." Ucap Dokter Roni.
Nadine terdiam sesaat.
" Kalau kalian sudah mengerti hati-hatilah menjadikan seseorang sebagai kawan, ya sudah mamah istirahat dulu ya."
Dianggukkan mereka berdua, Dokter Roni dan Nadine hanya bisa memandangi langkah sang Mama yang menuju ke dalam kamarnya.
" Kalau kamu mau istirahat istirahat aja, kita akan menunggu kabar dari mereka."
" Iya kak, bukan Nadin aja yang istirahat Kakak juga, Kakakkan sudah menjadi kakak yang terbaik untuk Nadine dan mau menemani Nadine,dan memberikan pembelaan terhadap Nadine dihadapan orang lain dan menjelaskan semuanya pada mereka." Ucap Nadine Dokter Roni tersenyum dan dia menganggukkan kepalanya.
Kemudian mereka berdua berdiri dan meninggalkan kursi ruang tengah yang mereka duduki tersebut dan masing-masing mereka memasuki kamarnya untuk beristirahat dan melepaskan lelah yang telah me menghinggapi mereka beberapa jam tersebut.
Dikamarnya Nadine mengambil gawai barunya yang berisikan nomor barunya juga.Dia kemudian mengirim chat pribadi pada Arvin dan mengirim rekaman suara Maya yang sudah direkamnya saat mereka berdua berbicara tadi.
Arvin yang sedang duduk santai di ruang tengah bersama para sahabatnya tersebut langsung terkejut mendengar bunyi nada chat pribadi yang mampir di gawainya, diapun membuka sebuah rekaman suara yang dikirim oleh Nadine dengannya.
" Maya dan Nadine." Ucap Arvin singkat, mereka semua lalu mendengarkan rekaman yang telah dikirimkan oleh Nadine, mereka berempat dengan seksama mendengarkan kata demi kata yang berada di dalam rekaman itu, lama-kelamaan Arvin mendengarkan suaranya Maya, Arvin merasa kesal dia menggerutu dan mengepalkan tangannya.
" Kurang ajar maya ini! Masih saja mengharapkan ku!!"
" Tenang Vin kamu harus sabar aku akan menyelesaikan semuanya beri aku waktu tiga hari itu sudah paling cepat kalau tidak tiga hari itu aku tidak mendapatkan apa yang kita inginkan aku minta perpanjangan waktu selama tujuh hari." Ucap Morgan seraya menepuk pundak Arvin.
" Jadi sepuluh hari dong! Kamu minta tujuh hari jadi ditambah dengan tiga hari ya sepuluh hari kan,terlalu lama Mor!" Ucap Clarissa.
" Enggak Ris,maksud aku itu tiga hari, tiga hari ditambah lagi empat hari berarti kan tujuh hari, dipahami dong omongan orang itu, dasar juga rusa ompong." Kekeh Morgan.
" Kamu ini calon adik ipar tidak ada ahlaknya!" Ucap Clarissa seraya melempar Morgan dengan gumpalan tissue, Morgan hanya terkekeh.
" Tapi ngomong-ngomong kamu pernah nggak dilihat oleh Maya Ris" Tanya Abiyasa.
" Aku nggak pernah lihat Mayat hidup itu, Mayat hidup juga kayaknya nggak pernah tuh lihat aku, boleh nggak Morgan Kalau aku ikut kamu."
" Kalau kamu ikut aku dia pasti akan curiga."
" Curiganya kenapa?"
" Dikiranya aku udah punya pacar, pasti dia tidak akan pernah mau dekat denganku."
" Ya enggaklah aku nanti sama temanku jadi dia tidak akan pernah curiga."
" Oke kalau mau kamu seperti itu kamu rancang sendiri gimana rencana kamu,dan aku akan merancang sendiri rencanaku,gimana?"
" Oke siap!"
" Kalau seandainya rencana aku gagal kamu yang akan lanjuti." Ucap Morgan.
"Tapi kalau rencana Clarissa gagal aku yang akan lanjuti." Ucap Abiyasa lagi, mereka berdua langsung menatap ke arah Abiyasa.
" Rencana kamu apa Biy?" Tanya Morgan.
" Istrimu tuh hamil nanti banyak cemburunya." Ucap Arvin.
" Tenang kalau kalian berdua tidak berhasil baru aku turun tangan begitu maksudku." Ucap Abiyasa.
" Tapi aku merasa rencana Clarissa itu tidak akan pernah gagal,jadi aku tidak akan turun tangan, tapi rencanaku ini rencana cadangan aja." Ucap Abiyasa seraya terkekeh.
" Bisa aja kamu Biy gimana kamu melihatnya sedangkan kamu nggak bisa keluar." Ucap Morgan.
" Mas Abiyasa bisa keluar kok,karena yang dilihat Maya kan cuma masa Arvin aja jadi kalian bertiga kan tidak pernah dilihat oleh Maya kalian bisa kok menjebak Maya dengan tiga rencana kalian." Ucap Ayesha yang tiba-tiba keluar dari kamarnya.
Mereka semua langsung menoleh ke arah Ayesha.
" Sayang? kamukan harus istirahat." Kata Abiyasa.
" Kalau aku rebahan terus capek rasanya badanku Mas, Jadi aku ingin ikut nimbrung dengan kalian siapa tahukan dengan aku berpendapat kalian juga bisa menggunakan pendapatku." Ucapnya seraya tersenyum langsung duduk di sebelah suaminya.
Mereka semua mengangguk.
" Nah ini baru lengkap personilnya." Ucap Clarissa seraya terkekeh mereka semua hanya tertawa pelan.
Kemudian mereka menyusun rencana mereka.
" Disinikan cuma Arvin saja yang dikenali oleh Maya jadi Arvin tidak boleh ikut."
" Terus aku nunggu di mana.?"
" Kamu nunggu aja di mobil sendirian." Ucap Carissa.
" Jika seandainya aku menunggu di mobil dengan kekasih hati aku sih enjoy aja mau sampai pagipun aku jabani, Lha ini sendirian nunggunya ya jenuhlah aku, kalau dengan kekasih masih bisa menatap sang kekasih hati tapi ini aku melongo sendiri di dalam mobil ya sama aja aku jadi bangkotan." Ucapnya tertawa lepas.
" Ya kamu nurut aja kamu tinggal aja di dalam mobil ya siapa tahu kalau terjadi apa-apa kan kamu bisa tuh yang lebih dulu menghubungi anak buahmu." Ucap Clarissa.
Arvin hanya mengangguk aja.
" Ya setidaknya kamu di dalam mobil kan bisa chattingan dengan Nadine." Kekeh Morgan, Arvin lagi-lagi hanya menganggukan kepalanya.
" Beginilah nasib tidak bisa berubah wajah." Ucapnya pasrah sembari tersenyum.
Mereka pun tertawa lepas mendengar ucapan dari Arvin kemudian mereka kembali melanjutkan rencana mereka yang mau disusun dengan rapi untuk menjebak Maya.
Papah Andre, Papah Bobby, Ayah Candra dan Abi Yosep ikut bergabung dengan mereka.
" Gimana sekarang rencana kalian sudah matang untuk dipikirkan semuanya.?" tanya papah Andre.
" Sudah siap Pah?" Ucap Abiyasa.
" Papa dan Om Andre beserta yang lainnya di rumah aja biar kami dulu yang menyelesaikannya, kalau seandainya kami tidak mampu barulah para dedengkotnya yang keluar." Ucap Clarissa sembari terkekeh.
Mereka berempat hanya berpandangan mendengarkan ucapan dari Clarissa kemudian mereka berempat mengangguk bersamaan.
" Oke kami serahkan rencana ini dengan para yang muda-muda kalau yang muda bisa gagal dengan rencananya terpaksa para dedengkot sabun colek yang akan membereskan nya." ucap papah Boby.
" Tapi sebenarnya enggak asik masa abu gosok tanpa sabun colek mana bisa kinclong." Ucap Morgan mendengar itu mereka berempat kemudian saling berpandangan lagi.
" Benar juga kata Morgan." Kata Papah Andre.
" Apa mungkin kita masuk klub malam kita kan udah pada tua ntar kita dibilang om-om mencari daun muda." Sambung Ayah Candra.
" Ya!itu sebagian dari rencana." Ucap Morgan.
Mereka saling berpandangan.
" Maya inikan terlalu banyak orang yang mendukung dia lebih banyak kita berada disitu pura-pura tanpa saling kenal kita bisa aja saling mengawasi." Ucap Abiyasa lagi.
" Kalau seperti itu Clarissa sih ngikut aja lebih bagus lagi kalau memang itu lebih baik kita laksanakan." Ucap Clarissa.
" Aku sih oke-oke saja, kan lama nih sudah jari-jemari nggak mites orang-orang yang sok-sok hebat itu." Ucap Papah Boby bersemangat.
" Aku juga udah lama nih bertahun-tahun kaki ini enggak bisa berjalan memberantas orang-orang yang jahat." Ucap Abi Yosep lagi.
" Gimana abu gosok dan sabun colek beraksi akan membuat busa dan membasmi semua kotoran-kotoran yang sudah mengganggu di pencucian dan dimana saja." Ucap papa Bobby seraya tertawa diikuti oleh mereka yang ikut juga tertawa lepas.
" kapan nih beraksi? sudah nggak sabar ini." Ucap papah Boby.
" Bentar pah,lagi nunggu Morgan dihubungi Mayat hidup."
" Lama bener tuh Mayat bangkit dari kubur untuk menghubungi Morgan." Sambung Abi Yosep.
" Biasa Om lagi melepaskan perban yang ada di tubuhnya seperti Mumy itu " Kekeh Arvin.
Lagi-lagi mereka tertawa lepas.
Tiba saatnya waktu yang dijanjikan Maya untuk bertemu dengan Morgan tepat jam 8 malam morgan mendapati sebuah chat pribadi dari gawainya Nadine yang masih dipegang oleh Maya.
ternyata share lokasi yang diberikan oleh Maya masuk sudah ke dalam gawainya Morgan, diapun tersenyum dan memberikan kabar itu kepada para sahabatnya semua.
" Sebentar aku mau menghubungi mamaku dulu kalau aku belum bisa untuk kerumah sakit."
Mereka semua mengangguk Morgan kemudian berjalan ke depan teras rumah Abiyasa. Kemudian dia menghubungi mamanya yang masih berada di rumah sakit bersama dengan papanya. Setelah dia menghubungi dan memberikan kabar serta menceritakan semuanya kepada mama dan papanya yang berada dirumah sakit Mama dan papanya pun akhirnya mengiyakan dan menganggukkan serta membolehkan Morgan untuk melaksanakan rencana mereka untuk membantu sahabatnya tersebut.
Mereka pun langsung beraksi dan berangkat menuju ketempat target setelah berpamitan dengan para istri mereka.
" Ayang mbeb jaga gadis kita ya." Pesan Mamah Lala.
" Tenang mbeb, tidak ada yang bisa menyentuh anak ku karna aku ada disampingnya." Ucap Papah Boby tersenyum.
Dua buah mobilpun meninggalkan halaman rumah kediaman keluarga Wibawa dan melaju menuju kearah tujuan.