THE SWEETNESS OF LOVE AND FRIENDSHIP

THE SWEETNESS OF LOVE AND FRIENDSHIP
BAB 242



Kemudian Arvin memasuki ruangan Morgan dia melangkah menuju mereka berdua duduk Abiasa menatap kearah Arvin begitu juga dengan Morgan.


”Ada apa Vin ” tanya Morgan


Arvin terdiam dia menatap lekat ke arah morgan.


” Kamu kenapa Vin? Kenapa menatapku seperti itu? kayak nggak pernah lihat aku aja sih” ucap Morgan.


" Hehehe,nggak sih, aku sering aja melihat kamu Mor, tapi anehnya kenapa kamu sekarang ke kantor? padahal kan hari ini hari pernikahan kamu.” ucapnya.


Morgan terkekeh,mereka berbicara tanpa menghiraukan kedua orang penguntit yang ada di hadapan mereka itu,Morgan yang sudah tahu cerita semuanya dari penyusup sampai kisah Amelia dan Nika,Dia memperhatikan kedua orang penguntit itu,namun mereka hanya menundukkan kepalanya saja, seperti mereka tidak ingin mendengar pembicaraan dari ketiga lelaki tersebut.


” Kamu tidak menjawab pertanyaan ku kenapa kamu masuk kantor?” tanya Arvin lagi.


”Aku ingin melihat penguntit ini, bagaimana sih wajahnya, Kenapa mereka bisa mengikuti keluarga kita.” jawab Morgan.


Salah satu dari penguntit itu menoleh kearah Morgan setelah mendengar Morgan mengatakan kata keluarga.


” Apa kamu lihat-lihat Hah!!kamu belum waktunya saya beri pertanyaan!! Jangan sekali-kali kamu menatap aku karena kalau kamu keseringan menatapku kamu akan rugi sendiri!! Ingat itu!!” ucapnya seraya menatap kearah salah satu penguntit itu.


" Rugi kenapa Mor?” senyum Abiyasa mengembang.


” Rugi karena nggak bisa memejamkan matanya lagi.” jawab Morgan pelan sembari tersenyum.


Kemudian pemuda itu pun menundukkan kembali kepalanya.


”Ada kabar apa Vin.?” tanya Abiyasa.


” Nika dan Amel sudah dibawa oleh om Bobby ke rumahnya.”jawabnya.


" Berarti Nika sudah baikan, sehingga keluar cepat dari rumah sakit.?”tanya Abiyasa.


Arvin pun mengangguk, sedangkan Morgan menatap ke arah kedua orang itu.


" Mereka tidak ada respect sama sekali mendengar kata Nika dan Amel.?” Batin Morgan pun bertanya-tanya.


”Apakah mereka ini ada hubungannya dengan Amel dan Nika? atau ada masalah lain dengan keluarga Wibawa?” pikir Morgan seraya menatap ke arah kedua penguntit tersebut.


Kemudian Morgan pun berbisik ke arah kedua sahabatnya itu, mereka bertiga pun saling berdekatan kepalanya agar mereka bisa mendengar satu sama lain pembicaraan dari mereka bertiga.


” Sepertinya mereka tidak ada hubungannya dengan masalah Nika, saat kalian bertanya soal Nika dan Amelia mereka tidak respect, kalau memang mereka ada hubungannya dengan Amelia dan Nika mereka pasti akan langsung menatap ke arah kita, tapi Mereka terlihat berdiam saja dan lagi saat aku mengatakan Kenapa mereka ini mengganggu keluarga kita mereka langsung menatap ke arahku, Tapi saat ini mereka tidak menatap kearah kalian saat kalian menyinggung soal mereka berdua yang ada di rumah sakit itu, ini menjadi tanda tanya besar, Apa motif mereka mengikuti keluarga kita dan apakah mereka ini ada hubungannya dengan kedua orang yang ada di rumah sakit tersebut.” ucap Morgan lagi.


Abiyasa dan Arvin pun saling pandang dan kemudian menatap ke arah kedua penguntit itu, mereka kemudian membenarkan posisi duduknya dan menatap kearah kedua orang tersebut, karena mereka berdua terlihat masih dalam posisi menundukkan kepalanya dan sepertinya tidak peduli dengan apa yang dibicarakan oleh mereka bertiga yang ada dihadapannya itu, Arvin menatap lekat ke arah kedua penguntit itu.


”Jangan-jangan mereka berdua ini ada hubungannya dengan orang yang tadi malam berada di rumah Abiyasa.”gumam batin Arvin.


” Siapa mereka sebenarnya? Kenapa mereka tidak terkejut mendengar kata Nika dan Amel disebut, malah mereka respectnya mendengar kata keluarga yang diganggu.” ucap Morgan di dalam batinnya.


” Siapa mereka ini sebenarnya.?” gumam batin Abiyas seraya menghela napasnya dengan dalam.


Kemudian salah satu anak buah Morgan yang keluar dari ruangan itu pun memasuki kembali ruangan dan memberikan beberapa lembar kertas yang dipinta oleh Morgan, setelah memberikan kertas tersebut Morgan membacanya sesaat dan meletakkannya kembali di hadapannya di atas meja yang ada di depannya itu.


” Apa motif kalian mengawasi dan mengikuti keluarga kami hah!!” tanya Morgan dengan penuh penekanan terhadap mereka berdua.


Kedua orang tersebut terperangah, karena mendapatkan pertanyaan dari Morgan seperti itu, tapi mereka kemudian kembali menundukkan kepalanya.


”Jawab!! aku bertanya dengan kalian! jangan kalian menjawabnya dengan diam dan hanya dengan menundukkan kepala seperti itu heh!! Aku ingin jawaban dari kedua mulut kalian, bukan dengan kepala kalian!!” ucap Morgan sedikit keras.


Lagi-lagi mereka terperanjat dan menatap ke arah Morgan.


” Maaf pak, kami tidak ada urusan dengan bapak, kami tidak mengganggu dan menjahati keluarga dan rumah Bapak, kenapa Bapak bertanya seperti itu pada kami, lagipula kami juga tidak mengenal bapak, Bapak hanya sebatas sebagai seorang polisi yang menanyai kami saja.” ucapnya dengan tidak merasa takut dengan ucapan dan pertanyaan dari Morgan.


” Eh!!...Dasar kodok sawah!! berani sekali ya bilang seperti itu, tidak tahu ya kalau aku ini siapa hah?!!”


Mereka berdua menggeleng sembari menjawab.


” Tidak Pak!” ucap keduanya berbarengan seraya menatap ke arah Morgan.


" Kalian nggak tahu aku ya?! nih kenalkan aku ini adalah spider-man tanpa kostum!! lama-lama aku pites juga kalian kayak nyamuk yang lewat!!" ucapnya dengan sedikit emosi Abiyasa dan Arvin pun hanya bisa menutup mulutnya sendiri menahan tawanya.


” Plakk!! Plakk!!" Morgan memukul meja dua kali membuat kedua orang yang di hadapannya itu terkejut, Begitu juga dengan Abiyasa seketika saja dia mengangkat kakinya dan nyaris berucap Ada ular besar, namun keburu dicegah Morgan dengan cepat dan menegurnya.


” Duduk aja Biy, akan kubereskan kedua orang ini.” ucapnya sembari menahan tawanya karena melihat Abiyasa hampir saja mengeluarkan jurus andalannya.


Abiyasa pun kemudian mengangguk dan tersenyum seraya membenarkan posisi duduknya kembali, untung saja kedua orang tersebut tidak memperhatikan tingkah polah Abiyasa,Arvin sempat mengurut dada dan hanya mengucapkan kata pelan.


Kedua orang tersebut pun langsung terdiam mendengar bentakan dari Morgan.


" Kenapa kalian diam hah!! sudah tahu belum keluargaku hah!!” gertak Morgan.


Kedua orang tersebut hanya tetap diam dan tidak ada lagi yang bersuara atau pun menatap ke arah Morgan dan menjawab pertanyaan dari Morgan.


" Jawab pertanyaanku!! sudah tahu belum siapa keluargaku!! Keluargaku yang kamu ikuti dan kalian awasi itu adalah keluarga ku!! tahu tidak!!” ucapnya sembari berdiri dan menatap tajam kearah kedua orang tersebut yang ada dihadapannya, mereka berdua pun langsung menunduk tidak berani lagi menatap ke arah Morgan.


” Katakan siapa yang menyuruh kalian!!” mereka berdua tidak mengucapkan satu kata pun, kemudian Morgan mendekatinya dan mencengkram kuat wajah dari salah satu orang yang menguntit rumah keluarga Wibawa tersebut.


” Jawab pertanyaanku! Aku ingin jawaban dari mulutmu itu! bukan jawaban yang hanya bisanya diam saja!!” ucapnya Kemudian melepaskannya dengan kasar.


”Maafkan kami pak, kami bukannya mengganggu keluarga Bapak, tapi kami juga disuruh.” ucapnya pelan.


” Nah itu yang aku maksud!!Aku mau tahu siapa yang menyuruh kalian! dari tadi kalian tidak mau ngomong! jangan diam aja, kalau kalian tidak mau bilang, kalian akan aku masukkan kalian berdua ke sarang cobra.!! sarang cobra ada tuh di belakang! mau?!!”


”Ja..jangan pak, kami masih mau hidup!” ucap salah satu dari mereka.


”Kalau kalian mau masih hidup, bicara yang benar! jangan diam saja, mulut kamu itu digunakan untuk bicara jangan hanya bisa diam kalau sudah ketangkap baru ketakutan tapi kalau tidak ketangkap berani mengikuti dan memata-matai keluarga kami.” ucap Morgan, Abiyasa dan Arvin hanya tersenyum saja melihat amarah dari Morgan.


” Biy, sepertinya singa ini sedang lapar deh,hehehe karena beberapa hari dikurung tidak bisa keluar.” celetuk Arvin pada Abiyasa setengah berbisik.


Abiyasa pun tersenyum hampir saja dia tertawa lepas tapi dia dapat menguasai dirinya.


”Sekali lagi aku tanya, siapa yang menyuruh kalian!!”


” Kami tidak tahu pasti, siapa namanya, Kami cuma hanya disuruh segitu aja mengikuti dan mematai rumah keluarga Bapak, kami juga tidak tahu siapa yang harus kami mata-matai.” ucapnya.


” Aku tidak percaya dengan ucapan mu! Karena itu adalah kata-kata modus untuk melindungi diri.!”ucap Morgan sembari mendekatkan wajahnya ke hadapan para penguntit itu.


” Kalian dibayar berapa oleh orang itu? jawab! kalian dibayar berapa!!” ucap Morgan lagi.


” Kami belum dibayar Pak!”


”Kenapa kalian mau melakukan perintah mereka, tapi kalian belum mendapat bayarannya dan sekarang kalian malah masuk penjara, itu adalah resiko kalian aku beri waktu sampai besok! kalian harus mengatakannya siapa orang yang telah menyuruh kalian untuk memata-matai keluarga Wibawa, Kalau kalian tidak mengatakannya lihat saja kalian akan benar-benar aku masukkan ke sarang yang ada di belakang kantor ini, jangankan sarang korba, ratu korba nya juga ada di sini! mau aku panggilkan ratu korba nya” ucap Morgan.


”Kobra Mor." Ucap Abiyasa langsung tersenyum.


”Iya begitu maksudnya.”ucap Morgan tersenyum.


” Siapa kira-kira ratu kobranya Biy?”tanya Arvin terkekeh pelan.


”Siapa lagi kalau bukan Clarissa, hehehe.”


”Tersedak nanti Clarissa hehehe.” ucap Arvin lagi.


Kedua penguntit itu hanya terdiam, mereka berdua tidak bisa menjawab lagi pertanyaan dari Morgan.


Kemudian Morgan memanggil salah satu dari anak buahnya, beberapa saat kemudian anak buahnya pun masuk kedalam ruangan tersebut.


” Siap Ndan..”


” Kamu urus mereka, saya mau pulang karena sudah mau magrib." ucap Morgan.


” Laksanakan Ndan." jawab anak buahnya tersebut.


”Jangan lupa kasih minum mereka biar otaknya encer dan bisa berbicara jujur, dan besaok pak Abiyasa akan memberikan keterangannya perihal penangkapan kedua orang ini.” ucap Morgan dianggukkan anak buahnya tersebut.


Kemudian mereka bertiga pun berdiri dan melangkah meninggalkan kedua si penguntit tersebut,Tapi sebelumnya Morgan mencengkram kembali wajah si penguntit itu.


” Besok kalau aku datang ke sini kamu sudah harus bisa mengatakan siapa orang yang telah memberi perintah kepadamu, ingat itu!! kalau kamu tidak mau mengatakannya rasakan sendiri akibatnya!!" ucap Morgan seraya melepaskan cengkraman wajahnya dengan kuat pada si penguntit itu, mereka berdua hanya tertunduk tidak berani mengangkat wajahnya tersebut, kemudian Morgan dan kedua sahabatnya itu meninggalkan ruangannya menuju ke arah mobil pribadinya dan beberapa saat kemudian mereka pun meninggalkan kantor polisi menuju pulang ke rumah.


Sepeninggalnya Morgan dan kedua sahabatnya tersebut, anak buah Morgan pun kemudian mulai menanyakan kembali beberapa pertanyaan kepada kedua pengungkit tersebut, Tapi sebelumnya mereka berdua diberikan minum yang sudah disediakan di dalam ruangan itu, selagi anak buah Morgan mengambilkan air mineral yang tidak jauh dari mereka, salah satu dari pengungkit itu pun berbicara setengah berbisik.


” Kenapa sih tidak di katakan saja siapa yang menyuruh kita, biar kita aman.”


”Percuma saja kita mengatakannya, toh mereka juga tidak bisa menangkapnya mereka itu seperti belut, licin sekali.”


”Tapi setidaknya kita aman, aku takut kalau Pak polisi yang tadi itu benar-benar memasukkan kita ke sarang cobra, kita kan tidak tahu apakah sarang kobra itu ada atau tidaknya, aku takut banget dengan ular.”


” Jangankan kamu, aku juga takut, makanya aku hanya bisanya diam saja, kalau aku katakan sekarang juga tidak ada hasilnya, mereka pasti sudah pergi setelah mendengar kita tertangkap.” ucap salah satu dari mereka, mereka berdua pun hanya menghela napasnya dengan dalam.


” Silahkan minum, biar otak kalian dingin dan kalian bisa mengatakan siapa orang yang telah menyuruh kalian itu.” ucap anak buah dari Morgan, merekapun kemudian meminum minumannya karena tangan mereka tidak diborgol dari belakang melainkan diborgol dari depan jadi memudahkan mereka untuk meminum air mineral yang ada di depan mereka tersebut.