THE SWEETNESS OF LOVE AND FRIENDSHIP

THE SWEETNESS OF LOVE AND FRIENDSHIP
BAB 241



Sesampainya mereka dirumah masing-masing,mereka pun langsung berbenah diri untuk membersihkan badan mereka dengan mandi,semua larut dalam pikirannya masing-masing.


Setelah terlihat segar Mama Anisha dan papa Andre pun kemudian duduk di sofa yang ada di kamarnya tersebut, papah Andre duduk disamping sang istri, terdengar helaan nafas dari papah Andre, Mama Anisha menatap kearah suaminya.


” Kenapa sayang? ada beban apa? Sehingga menghela nafas dengan sangat berat sekali.?”tanya Mama Anisha, karena dia mendengar helaan napas suaminya yang begitu berat.


Lagi-lagi Papa Andre menghela nafasnya tersebut dan menatap kearah sang istri sembari tersenyum.


”Papa tidak menyangka aja, kehidupan Rendy dan Sinta seperti itu, yang Papa curiga itu pasti ada orang yang memang sengaja membuat Rendy masuk penjara, tapi yang Papa tidak habis pikir apa penyebab Rendy sampai meninggal dipenjara.” ucapnya seraya menyandarkan tubuhnya disandaran sofa kamarnya.


” pah... nanti kita pasti akan mengetahuinya,in sya Allah semuanya akan terungkap kenapa semua itu sampai terjadi ” sahut nama Anisha di anggukan oleh papah Andre.


” Ya sudah Pah, lebih baik Papa istirahat dulu, Papa kan sudah terlalu capek.” Ucap Mama Anisha sembari berdiri dari duduknya, Papa Andre pun menatap ke arah istrinya itu.


” Mama mau ke mana?” tanyanya menatap kearah sang istri.


” Mama mau bikinkan teh hangat buat Papa dulu.” jawabnya.


Papa Andre pun menganggukkan kepalanya seraya menatap kepergian istrinya dari hadapannya menuju keluar dari kamarnya itu, kemudian papah Andre menghela lagi napasnya dan merebahkan tubuhnya di sofa panjang yang ada di kamarnya itu.


” Kasihan sekali nasib Sinta dan Rendy, kenapa mereka sampai seperti itu.” gumamnya seraya menatap langit-langit kamarnya itu.


*****


Di rumah sakit tepatnya di ruangan Nika, keluarga Papah Bobby sedang menunggui Nika, karena Nika terlelap dalam tidurnya,saat mereka masuk kedalam ruangan itu, Amelia tidak berada diruangan adiknya,dia sedang berada di salah satu ruangan dokter yang menangani Nika adiknya tersebut.


Dokter tersebut ingin berbicara dengan Amelia tentang keadan Nika, dan keluarga papah Boby pun menunggu kedatangan Amelia.


Terlihat ruangan Nika masih dengan pengawalan beberapa orang anggota polisi yang masih berjaga di depan ruangannya.


Beberapa saat kemudian pintu pun terbuka, Amelia memasuki ruangan tersebut dia pun tersenyum dan langsung menyalami Papa Boby dan Mama Lala,Amelia mencium kedua tangan papah Boby dan Mamah Lala.


” Maaf Tante, maaf Om, sudah lama ya menunggu? Amel tadi bertemu dokter yang menangani Nika karena ada yang ingin dibicarakan.” ucapnya


” Nggak apa-apa, Om juga baru aja nyampe.”ucap papa Bobby tersenyum.


” Terus apa kata dokternya?” lanjut Mamah Lala.


” Nika sebenarnya sudah bisa dibawa pulang, tapi harus terus dalam pengawasan Amel, karena rasa trauma yang dialaminya itu, sangat melekat sekali,Amelia juga merasa heran Apa yang dilakukan laki-laki itu dengan Nika, sehingga Nika sangat trauma sekali.” terang Amelia.


" Apakah Nika berbicara denganmu dan mengatakan semuanya kenapa dia sampai seperti itu?”tanya papah Boby. Amelia hanya menggelengkan kepalanya.


Mereka semua terdiam... kemudian mamah Lala berbicara untuk mencairkan suasana.


" Oh iya Mel, kenalkan ini adalah anak tante yang pertama, namanya Clarissa dan itu adalah suaminya Marco.” Ucap Mama Lala seraya memperkenalkan Clarissa dan suaminya pada Amelia, Amelia tersenyum dan mengulurkan tangannya menyambut uluran tangan Clarissa,sedangkan Carlo berada diluar ruangan duduk bersama dua orang anggota yang sedang berjaga itu.


" Aku senang bisa bertemu dengan Kak Amel.”ucap Clarissa sembari tersenyum.


” Sama-sama Dek, kakak juga senang bertemu dengan kalian.” ucapnya lagi.


” Apakah kamu bertanya kembali dengan Nika? Atau sesekali kamu tanyakan penyebabnya lagi dengannya? Dalam beberapa waktu ini?” tanya papah Boby lagi karena merasa penasaran akan sikap Nika yang sampai mengalami trouma yang dalam.


”Pernah satu kali Amel bertanya kepadanya,tapi dia langsung menutup wajahnya sepertinya ketakutan banget, itulah yang menjadi tanda tanya Amel selama ini, Kenapa bisa dia seperti itu.” Jawabnya sembari menundukkan wajahnya menahan kesedihan yang dalam.


Terdengar helaan nafas yang panjang dari Amelia.


" Semenjak kalian Ngontrak disana, Apakah ada keanehan yang dialami oleh Nika?" Tanya Clarissa.


" Awal Ngontrak sih tidak ada apa-apa, kaka melihat Nika biasa-biasa saja Ris, tapi saat Kakak melihat mereka itu mengikuti kami dan selalu memata-matain kami disitulah Nika mulai merasa takut, tapi dia pernah meminta kaka agar pindah kontrakan, karena merasa takut sekali dikarenakan selalu diawasi dan diikuti katanya, kaka pun menolaknya karena salah satu dari mereka adalah anak buah dari almarhum papah, Kakak sih biasa aja,dan tidak merasa kalau dia itu jahat,tapi saat malam itu, Nika bilang pada kaka Ris katanya dia benar-benar merasa takut tinggal dikontrakan,kaka menyakinkannya untuk membuang rasa takut itu,dia pun mengiyakannya tapi sayang kejadian ini terjadi disiang harinya,seandainya kakak bisa membaca isi hatinya yang paling dalam akan ketakutannya itu,mungkin Nika tidak berada dirumah sakit ini.” ucap Amel menjelaskan pada Clarissa dengan rasa kesedihan yang paling dalam.


Kembali suasana ruangan itupun hening! Hanya terdengar helaan nafas mereka saja.


” Kak Amel ”Panggil Nika.


Mereka pun menoleh ke arah Nika, Amelia membelai rambut sang adik.


”Iya Dek, kakak disini,ada apa?”


” Kak Amel, Nika mau pulang, Nika nggak mau tinggal di rumah sakit lama-lama, kak Amel Nika sudah sehat kok Kak.”ucapnya.


” Iya sayang, nanti kita akan pulang.” ucap Amelia.


Nika kemudian sadar kalau didalam ruangannya itu tidak berdua saja melainkan banyak orangnya, Nika menatap kearah Papa Bobby dan Mama Lala mereka berdua pun mendekati Nika.


” Nika sayang, kita menunggu keputusan dari dokter dulu ya, setelah itu baru kita nanti akan pulang.” ucap mamah Lala.


” Memang kenapa sayang? kalau kamu pulang ke situ?”


" Nika nggak mau, Nika takut, Nika nggak mau lagi diperlakukan seperti itu oleh laki-laki itu.” ucapnya, Mama Lala dan papa Boby pun saling pandang,


Clarissa dan Marco juga menatap ke arah Nika, Clarissa kemudian mendekati Nika.


” Dek, kenalkan Kakak adalah Clarissa anak dari om Bobby dan tante Lala, kakak boleh nanya nggak dengan Nika?”


” Iya Kak boleh.” ucapnya sambil menganggukkan kepalanya.


” Sebenarnya yang terjadi pada Nika itu apa? sehingga Nika tidak mau pulang ke rumah kontrakan Nika?” tanya lembut Clarissa.


Nika kemudian menutup wajahnya dan menangis tersedu-sedu, Mereka pun terkejut, Amel pun langsung memeluk sang adik dan berusaha mendudukkan adiknya di tempat tidur rawat inapnya itu.


Nika pun langsung memeluk sang kakak dengan erat,seolah-olah tidak mau ditinggalkan.


” Nika sayang, Ada apa dek? cerita dengan kakak.” ucap Amel.


" Iya sayang,kamu harus cerita ya sayang, kamu harus cerita semuanya kepada kami, biar kami bisa menangkap orang yang memang sudah menyakiti kamu.” ucap Mama Lala lagi,tapi Nika tidak mau bercerita dia masih menangis kesesugukkan, merekapun kemudian menghela nafasnya dengan dalam dan membiarkan Nika menangis dalam pelukan sang kakak, beberapa saat kemudian setelah Nika puas menangis, Dia pun akhirnya berhenti dan menghapus air matanya yang mengalir di kedua belah pipinya yang mulus itu, dia pun menatap ke arah kakaknya dan kemudian bergantian menatap ke arah Papa Bobby, Mama Lala dan Clarissa beserta Marco.


” Kamu jangan takut Dek, kamu sudah ada dengan orang yang tepat, Kakak akan mencari orang itu bila dia menyakiti kamu,kaka akan membalasnya.” ucap Carissa lagi.


Nika pun langsung menganggukkan kepalanya seraya menarik nafasnya dengan dalam dan melepaskannya dengan pelan,kemudian diapun mulai bicara.


" Waktu itu Nika mau menuju ke rumah Almira untuk mengerjakan tugas sekolah, saat Nika mau menunggu taksi tapi taksi itu tidak pernah datang dan Nika terpaksa harus ikut angkot, saat Nika mengikuti angkot tersebut angkot itu jalannya agak lambat dan berhenti di sebelah gang yang tidak terlalu jauh dari rumah kontrakan kami, kebetulan saat itu isi angkot itu hanya Nika seorang, Nika tidak curiga, Nika kira sopir angkot itu menunggu seseorang, ternyata memang benar dia menunggu seorang lali-laki tapi Nika tidak mengenal orang itu, lelaki itu pun masuk ke dalam angkot tersebut, Nika tidak curiga sama sekali sama mereka, apa yang terjadi selanjutnya Nika tidak tahu lagi, karena saat bertepatan dengan orang itu masuk Nika langsung tidak sadarkan diri lagi, pandangan Nika gelap karena posisi saat itu Nika membelakangi laki-laki yang masuk ke dalam angkot itu dan saat Nika sadar, Nika sudah berada di sebuah rumah dan keadaan Nika acak-acakan, Nika pun langsung mencari jalan keluar untuk pergi dari rumah itu, yang anehnya lagi rumah itu tidak ada penghuninya, Nika pun langsung keluar tanpa ada kesulitan sama sekali, sampai akhirnya Nika sempat terjatuh karena ingin cepat menggapai jalan beraspal,Nika terus berlari menuju ke arah jalan yang besar, saat Nika menoleh kearah belakang ternyata laki-laki itu mengejar Nika,tapi tidak terlalu cepat sepertinya dia sengaja mengejar Nika tapi tidak untuk menangkap Nika melainkan hanya membuat Nika merasa takut, dan anehnya lagi, laki-laki yang mengejar Nika itu yang selalu menatap dan mengawasi Nika saat berangkat dan pulang sekolah,Nika bingung saat naik angkot Nika tidak mengenal lelaki diangkot itu, tapi yang mengejar Nika itu lelaki yang selalu mengawasi Nika dan kak Amel,Nika terus berlari sampai akhirnya Nika tidak ingat apa-apa lagi untuk yang kedua kalinya,tau-taunya Nika sudah berada diruangan ini.” terangnya.


” Kamu merasakan apa dek saat itu? adakah sakit di seluruh tubuhmu? atau gimana?”Tanya Clarissa.


”Nika tidak merasakan sakit apa-apa kak, cuman keadaan posisi Nika saat itu acak-acakan, semua pakaian Nika terbuka,tapi Nika tidak merasakan Apakah Nika itu diperlakukan tidak senonoh, tapi Nika tidak merasa sakit di seluruh tubuh Nika ataupun area sensitif Nika, yang membuat luka-luka di badan nika ini seingat Nika saat itu Nika terjatuh, saat mau keluar tapi dengan sekuat tenaga Nika harus sampai di depan jalan utama itu.” terangnya terbata-bata sembari meneteskan air matanya.


” Ya Allah dek, kenapa kamu seperti ini, kenapa kamu nggak cerita kepada kakak." Ucap Amelia.


Amelia pun langsung merangkul adiknya dan memeluknya dengan erat, Begitu juga dengan Nika.


” Ya Allah, Apa yang sebenarnya terjadi? Mama, Papa, rasanya Amel sudah tidak kuat untuk menghadapi ini, apalagi Nika yang diperlakukan seperti ini.” batinnya berbicara tidak terasa air matanya pun menetes.


Mama Lala pun kemudian mengusap pundak Amelia dengan pelan Amelia menoleh kearah Mamah Lala, Mamah Lala pun kemudian menghapus airmata Amelia, Dia kemudian merangkul Amelia dan Nika dalam pelukannya, agar mereka berdua merasa tenang.


Hening! tidak ada yang berkata di dalam ruangan tersebut, setelah semuanya terlihat tenang, barulah Clarissa berbicara.


” Sepertinya, ini Pah ada yang tidak beres, memang Nika tidak diapa-apain, tapi Nika dibuat acak-acakan seolah-olah terjadi sesuatu, Nika memang dibuat agar mentalnya merasa terpukul.” ucap Clarisa.


” Benar kata mu nak, papa juga berpikiran seperti itu.”


” Tapi papa tenang aja, kami akan membereskan ini semua sampai ke akar-akarnya.”


” Iya nak, Papa juga percaya dengan kamu, kalian silakan membuat rencana dengan teman-temanmu,papa juga ingin berbicara kepada Om Andre mu dan yang lainnya.” ucap papa Boby.


Kemudian mereka dikejutkan oleh seorang dokter yang datang dan masuk kedalam ruangan itu, setelah dokter itu berbicara dengan mereka, akhirnya papa Bobby pun membereskan administrasi dari Nika, sementara Papa Bobby membereskan administrasinya, Mama Lala yang masih berada di ruangan itu pun mulai membereskan barang-barang Nika dibantu dengan Clarissa.


” Nika nggak mau pulang ke rumah itu Tante.”


” Iya sayang, kamu tidak akan pulang ke rumah itu lagi, kamu akan pulang dan tinggal bersama dengan tante di rumah Tante, kalian adalah keluarga tante, tante dan om adalah keluarga kalian, Biar bagaimanapun kalian tetaplah anak-anak tante.” ucapnya sembari mendekati Nika dan mengelus pipi gadis remaja tersebut.


Nika menganggukkan kepalanya terlihat senyuman terpatri di wajahnya, dia sekarang tidak merasa takut lagi, terlihat jelas di wajahnya.


Setelah peralatannya beres tersusun rapi, Kemudian mereka pun menunggu kedatangan papah Bobby, beberapa saat kemudian papah Boby pun datang dan mengatakan kepada anggota yang berjaga didepan ruangan Nika, kalau Nika boleh pulang dari rumah sakit sekarang, setelah papa Boby berbicara pada anggota tersebut dan anggota itupun menghubungi Arvin, beberapa saat kemudian anggota itu mengatakan kembali kepada papah Bobby untuk mengantarkan mereka sampai tempat tujuan yaitu pulang kerumah.


Papah Boby menganggukkan kepalanya, mereka kemudian melangkah meninggalkan ruangan rawat inap Nika dan menuju ke mobil Papa Boby dan Clarissa.


Tiga buah mobil itu pun meninggalkan rumah sakit menuju ke arah rumah kediaman papah Boby, diiringi dengan tatapan seorang yang tidak dikenali mereka, menatap ke arah laju kendaraan ke tiga buah mobil yang meninggalkan rumah sakit tersebut.


” Ternyata mereka sudah meninggalkan rumah sakit ini, kemana Mereka pergi ? Apakah aku harus mengikutinya? lebih baik aku menghubungi Bos saja.” ucapnya.


Kemudian Dia pun lalu mengeluarkan gawainya dan menghubungi seseorang, setelah berbicara dengan bosnya tersebut Dia pun langsung memasuki mobilnya dan melajukan mobilnya tersebut, Tapi tidak mengikuti kemana arah mobil Papa Bobby itu, Tapi melainkan berbelok ke arah yang lain.


*****


Dikantor polisi, tepatnya diruangan Morgan,anak buah Morgan memintai keterangan dua orang penguntit tersebut yang sudah tertangkap.


Abiyasa dan Morgan yang sedari tadi berada diruangan itupun langsung menanyakan beberapa hal pada mereka berdua,karena memang sengaja mereka berdua tidak dipisahkan dalam ruangan itu.