THE SWEETNESS OF LOVE AND FRIENDSHIP

THE SWEETNESS OF LOVE AND FRIENDSHIP
BAB 153 Pengungkapan Rahasia



Tante Raisa mengambil sebuah album kecil dia memberikannya kepada dokter Roni.


" Apa ini Mah?" tanya Dokter Roni.


" Buka saja Nak, kamu pasti akan mengetahui semuanya."


Kemudian Dokter Roni mengambil album tersebut yang diberikan oleh Tante Raisa kepadanya.


Dia kemudian membuka lembar demi lembar album biru yang ada di tangannya itu, dia menatap wajah Papahnya yang berada di depan halaman album pertama itu, Dia mengusap fhoto sang Papa.


" Papa Aku sangat merindukanmu, semoga Papa tenang disana, Ya Allah berikanlah surga untuk Papa dan terimalah amal ibadahnya disisimu Ya Allah." ucapnya di dalam batinnya.


Tante Raisa menatap Anaknya yang sedang menatap fhoto Papanya itu, kemudian Dokter Roni membuka kembali album tersebut, terlihat wajah Mamanya dihalaman selanjutnya,Dia tersenyum dan menoleh kearah Tante Raisa,Tante Raisa tersenyum membalas senyum sang Anak, walaupun dihatinya sangat bersalah dan halaman berikutnya dia melihat foto dua orang Bayi.


" Ini siapa mah ?" tanyanya merasa heran dengan fhoto tersebut.


" Itu Nadine dan Lia "


" Apa? ini Nadine dan Lia?" tanyanya hampir tidak percaya.


" Maksud Mama?" tanya lagi.


Kemudian Tante Raisa berdiri dan berjalan menuju ke arah jendela, Dia menatap kearah jendela yang masih belum ditutup dan Dia nampak melihat hilir mudik kendaraan, walaupun sebenarnya hari sudah larut malam tapi aktivitas di kota itu masih berjalan dengan lancar.


" Maksud Mama ?Apakah Nadine dan Lia itu..."


" Ya nak Nadine dan Lia saudara kembar Nak, saat kamu berada dengan Nenekmu dan Mama melahirkan Nadine, saat itulah Papah mengambil salah satu dari kembaran Nadine dan dia saat itu juga menceraikan Mama, papahmu langsung pergi dengan wanita pilihannya, yang sudah lama Papamu cintai dan tanpa sepengetahuan Mama mereka sudah menikah, saat Papahmu masih bersama dengan Mama. Mama merasa sedih saat itu dan Mama tidak bisa berbuat apa-apa lagi, karena Papamu mengancam akan mencelakai kamu yang berada di Bandung bersama Nenekmu. Mama hanya bisa mengalah dan membiarkan Lia dibawa Papahmu. Saat Mama mengandung Papamu ingin mengambil Anak yang dalam kandungan Mama jika sudah dilahirkan,karena Dia ingin membesarkan Anak tersebut bersama dengan Istri barunya, tapi Dia tidak mengetahui kalau bayi yang di dalam kandungan Mama saat itu kembar, Dia selalu memantau kapan mamah melahirkan, sampai akhirnya Mama pergi ke rumah sakit ditemani salah satu karyawan Mama,tapi ternyata Papamu juga sudah mengikuti Mama dan saat Dia mengetahui kalau Mama melahirkan bayi kembar Dia langsung mengambil salah satu dari bayi tersebut, dan Mamapun hanya bisa membesarkan Nadine, beberapa tahun Mama tidak tahu keberadaan Papamu bersama dengan Adikmu itu, sampai suatu hari Papamu menghubungi Mama Dia mengatakan ingin menjodohkan Anaknya dengan seorang laki-laki dari golongan keluarga terhormat, Mama menanggapinya biasa saja, karena Mama pikir mungkin itu adalah Anaknya yang didapatnya dengan Istri barunya itu, tapi ternyata itu adalah Lia. Mama terkejut dan Mama mencari alamat Papamu karena Dia tidak ingin mengatakan kepada Mamah alamatnya dimana, Mama putus asa saat itu karena tidak menemukannya,Beberapa bulan kemudian Mama mendapatkan panggilan tidak terjawab dari nomor baru atau nomor tidak dikenal,Mama juga tidak tahu siapa pemanggilnya, awalnya Mama tidak mau menjawab panggilan tersebut, tetapi lama-kelamaan kemudian Dia mengirim sebuah chat kepada Mama minta dijawab panggilannya, ternyata nomor itu adalah nomor Istri barunya Papamu dan yang menghubungi Mama saat itu adalah Istri dari saudara Yuni Sari."


" Nama dari Istri baru Papamu, iparnya Yuni mengatakan kalau Papah mu sudah meninggal dunia dan Mamapun terkejut, Mama ingin mengetahui dimana alamat mereka, akhirnya Iparnya Tante Yuni mu itu memberitahukan kepada Mama, dan Mama pun langsung pergi ke sana ternyata memang benar Papamu sudah tiada dan Tante Yuni mu mengalami defresi berat setelah kehilangan Papah mu dia juga kehilangan Anaknya, Mama tidak mengira kalau ternyata Anaknya itu adalah Lia yang sudah diusir oleh saudara Tante Yuni mu, Mama juga berhari-hari, berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun mencari keberadaan Lia karena Mamah ingin membawanya pulang ke rumah, tapi sampai sekarang mama tidak menemukannya. Mama mencoba mencari tahu dan bertanya dengan saudara istri baru papamu itu yang mengusir Lia dari rumah, Dia mengatakan kepada Mama kalau Lia adalah pembawa sial di keluarganya dan Lia berhak untuk diusir dan harus menjauh dari keluarganya,sakit hati Mama saat itu mendengar Dia berbicara seperti itu, karena ternyata Dia tidak mengetahui kalau Lia itu bukanlah anak dari Adiknya tersebut. Setelah Mama bertanya dengan istri pamannya Lia ternyata istri barunya Papamu itu tidak bisa untuk melahirkan Anak lagi karena suatu penyakit menjadikan rahimnya untuk diangkat, akibat mengalami keguguran waktu itu, Dia sangat sayang banget dengan Lia, Dia menganggap Lia sebagai Anak kandungnya sendiri, Karena itulah Dia mendapati Lia diusir oleh saudaranya sendiri itulah yang membuat dia merasa tidak mampu lagi menanggung deritanya kehilangan Lia,dan langsung mengalami defresi berat. Maafkan Mama, Mama tidak cerita kepadamu kalau Nadine mempunyai saudara kembar, makanya Mama terkejut setelah Arvin mengatakan kalau wanita itu adalah Siti Marliana karena Papamu pernah mengatakan kepada Mamah memberi nama pada saudara kandung kamu itu Siti Marliana, maafkan Mama sekali lagi Nak, tolong maafkan Mama." ucapnya hampir tak terdengar tidak terasa air matanya mengalir, kemudian Dokter Roni berdiri dan mengajak Mamanya duduk di sofa.


" Mama... Mama tidak salah dalam hal ini, Mama dan Papa tidak salah dimata Roni, karena keadaanlah yang sudah membuat kalian berpisah, dan Roni juga bersyukur Papa mempunyai istri yang memang menyayangi dengan Anak tirinya itu." ucap Dokter Roni seraya menggenggam tangan Tante Raisa.


" Maafkan Mama ya Nak, Maafkan Mama." ucapnya berkali-kali mengatakan itu.


" Iya Mah, sudah lah Mah, Mama tidak salah, Mama tidak perlu minta maaf dengan Roni, Roni sudah bilangkan sama Mama, Papa dan Mama itu tidak salah, Papa dan Mama itu hanya menjalani takdir garis yang diatas yang sudah ditentukan oleh Allah untuk keluarga Mama dan keluarga Papa, baik Nadine dan Roni." ucapnya seraya menghapus buliran bening yang keluar dari kedua bola mata sang mama yang mengalir di pipi tua mamanya tersebut.


" Ya sudah sekarang Mama istirahat besok pagi kita akan mencari solusinya dan kita akan mencari dimana keberadaan Lia, semoga saja Lia bisa ditemukan dan kita bisa berkumpul kembali dan semoga saja Lia bisa menerima kehadiran Roni dan Nadine, Serta Lia tidak menganggap Mama jahat karena rela memisahkan Dia dengan Nadine saudara kembarnya sendiri, mudah-mudahan Allah akan mempertemukan kita Mah dengan Lia, kita harus yakin dengannya perpisahan, pertemuan, semuanya itu sudah diatur oleh yang mahakuasa." ucap Dokter Roni seraya tersenyum kepada sang Mama.


Tante Raisa hanya menganggukkan kepalanya, kemudian Dokter Roni mengajak Mamanya ke tempat tidur dan menyuruh Mamanya untuk beristirahat, dan melupakan semua yang telah terjadi saat ini.


Kemudian Dokter Roni membenarkan letak selimut Tante Raisa, kemudian Dia mematikan lampu dan menyalakan lampu tidur di kamar Mamanya itu.


Dokter Roni melangkah meninggalkan Mamanya keluar kamar dan menutup kembali kamar Mamanya itu.


Dia mengusap wajahnya dan menarik nafasnya dengan pelan, kemudian dia melangkah menuju kearah kamarnya sendiri, Diapun memasuki kamarnya dan menghentakkan tubuhnya di ranjang empuk tersebut.


Dia kemudian meletakkan tangannya di bawah kepalanya dengan menatap ke arah langit-langit kamarnya tidak terasa air matanya mengalir disudut kedua matanya dan dibiarkannya terus mengalir.


" Papa kenapa di saat aku dewasa sekarang ini Papa meninggalkanku,seharusnya Papa ada disini ditengah-tengah kami,Nadine dan Aku masih sangat memerlukan Papa, maafkan Aku Pah, karena Aku belum bisa membahagiakan Papa sampai akhir hidup Papa,Aku janji Pah akan mencari saudara kembarnya Nadine dimanapun Dia berada Aku akan menemukannya, dan Aku akan mempersatukan kembali Nadine dan Lia Pah, Papa yang tenang disana ya Pah." ucapnya.


Kemudian dia mengusap wajahnya dan menghapus air matanya yang masih mengalir itu, dia berusaha memejamkan matanya agar dia bisa melupakan kan hari yang tersulit saat ini.