THE SWEETNESS OF LOVE AND FRIENDSHIP

THE SWEETNESS OF LOVE AND FRIENDSHIP
BAB 65



Arvin menatap ke manik bola mata Nadine,mata mereka saling bertemu,Nadine merasakan tatapan Arvin jauh menembus langsung kerelung hatinya dan melewati jantungnya yang membuat getaran yang tak menentu dan membuat irama jantungnya tidak beraturan.


" Maafkan aku ya, karena selama ini membuat kamu nggak nyaman,tapi aku akui jujur aku menyukai mu" ucapnya tersenyum teramat manis.


" Ya Allah, lelaki yang ada di hadapan ku ini, membuat aku tak karuan" gumam Nadine


Nadine hanya bisa mengangguk.


" Pepet aja langsung,ntar keburu sadar bertengkar lagi" celetuk Morgan.


" Diam napa, ni anak nggak bisa diam banget,kaya bebek aja ngoceh mulu,kitakan lagi nonton drakor" ucap Clarissa tersenyum.


Abiyasa hanya bisa tersenyum seraya menggenggam tangan sang istri.


" Kamu cantik,walaupun penuh perban di mana mana" ucap Arvin.


" Ya elah vin,rayuan kaku banget sih, sini dekat babang tamvan biar di ajarin" ucap Morgan.


Arvin hanya mendelik kearah Morgan.


Yang lain hanya tertawa lepas mendengar Morgan menggoda Arvin.


" Nadine, dia itu naksir berat sama kamu,. Kami terima nggak cinta Arvin?" Ucap Morgan.


" Ya elah ni bocah nyerocos mulu kaya ibu ibu kebakaran jenggot mau ngerumpi" ucap Abiyasa.


Arvin hanya tersenyum.


"Ya udah,hus..!hus..!meong meong dan bebek kita keluar aja dulu, biarkan singa betina dan burung murai menyelesaikan urusannya" ucap Dokter Roni.


" Jadi mamah nih bebek maksudnya gitu" ucap tante Raysa tersenyum.


" Ya begitulah tante,secara tidak langsung" ucap Morgan lagi terkekeh.


" Bukan mah, bukan bebek" ucap dokter Roni,membela diri.


" Emaknya bebek maksudnya" ucap tante Raysa lagi terkekeh.


" Hahahahah..." Tawa mereka lepas dan beranjak keluar dan duduk di depan ruangan rawat inap tersebut.


" Selesaikan dengan bijak,dan jangan bertengkar ok!" Ucap Morgan sebelum keluar.


" Ingat tuh apa pesan ibu barusan" ucap Clarissa tertawa.


" Kakak ipar nggak ada Akhlak nya,!" Ucap Morgan tertawa.


Mereka pun akhirnya keluar semua dari ruangan Vvip dimana Nadine di rawat.


Hening! Tanpa suara,dan mereka hanya saling bertatap mata dan akhirnya sama sama tersenyum.


" Gimana? Masih sakit?" Tanya Arvin.


Di angguk kan oleh Nadine.


" Nadine...?" Panggil Arvin pelan dan lembut hampir tak terdengar.


" Hmmm" jawabnya.


" Maukah kamu jadi pendamping ku? Ibu dari anak anak ku kelak?bila kita berjodoh?" Tanya Arvin.


Nadin terdiam dan menunduk kan kepalanya karena dia tidak bisa berdamai dengan degupan jantung nya yang semakin kuat.


Senang bercampur kegugupan di rasakan oleh Nadine di saat di tembak pak polisi dengan love love yang bermekaran di hatinya.


" Aku benar benar sayang padamu, aku sangat mencintai mu, dapatkah kamu dan aku menjadi kita?untuk selamanya,meskipun cinta bukanlah udara,tapi kamu tetap menjadi napas ku,aku ingin bahagia melewati suka dan duka bersamamu, kamu mau kan?" Tanya Arvin pada Nadine.


Nadine bersemu merah, tidak bisa berkata kata,hendak memulai dari mana kalau dia sebenarnya juga menginginkan Arvin sebagai pendamping hidupnya,yang akan selalu menemani dia siang dan malam,dimana pun berada selalu bersama sama.


" Maaf ya, aku terlalu cepat ya mengantakan ini semua? Maaf banget ya, mungkin bagimu terlalu cepat, sedangkan kita belum mengenal jauh satu sama lain nya, maafin aku ya" ucapnya.


" Seharusnya bukan saatnya aku bilang seperti ini padamu, karena kamu masih dalam keadaan sakit akibat kecelakaan,sekali lagi aku minta maaf ya" ucap Arvin tetap masih tersenyum manis dan menatap kearah Nadine yang masih tertunduk malu.


" Nggak mas,tidak terlalu cepat, tapi sudah cukup rasanya selama tiga kali kita bertemu,kamu sudah membuat hati dan jantungku tidak karuan dan membuat hatiku selalu merindukan mu,aku mau bahagia bersama kamu mas dan aku juga mau mengarungi suka dan duka bersamamu,aku juga mencintai kamu mas" ucapnya lancar kaya jalan tol bebas hambatan.


Arvin terkejut karena Nadine memiliki perasaan yang sama.


" Beneran sayang? Kamu mencintai ku dan menerima ku?" Ucapnya lagi,tak sadar mengucapkan kata 'sayang',ingin rasanya dia memeluk dan melabuhkan ciuman mesranya seperti di sinetron sinetron kalau sang kekasih mengucapkan kata cinta langsung diakhiri dengan pelukan dan ciuman mesra,tapi Arvin bukan seorang aktor!tapi dia hanya seorang perwira polisi,dan dia juga tahu batasan batasan antara lelaki dan wanita.


Dia langsung mengusap wajahnya dengan mengucapkan 'Alhamdulillah' dan dia langsung duduk di samping ranjang Nadine karena saking bahagianya dia merasa gemetaran.


Kemudian Morgan dan yang lain nya masuk kembali,melihat Morgan masuk Arvin langsung beranjak berdiri dan menerjang Morgan dan Morgan kaget dan reflek menangkap tubuh Arvin.


" Hahahah" ketawa meraka lepas.


Morgan langsung saja menurunkan tubuh Arvin


" Apa apaan sih Vin,kaya ketemu emas berlian aja" ucap Morgan tersenyum.


Arvin langsung memeluk Morgan dan mencium pipi kiri dan kanan Morgan dan Morgan langsung berlari kebelakang Abiyasa.


" Lama lama aku takut nih dengan Arvin,baru aja di tinggal sebentar setelah balik lagi,eh,,, kelakuan nya jadi ngondek kaya gitu sih,main serobot aja malu noh sama calon Abang ipar, untung saja Calon mertua lagi kekantin kalau nggak malu tuh si Calon mertua punya calon mantu ngondek kaya gitu " ujar Morgan bergidik seraya terkekeh.


Arvin dan yang lain hanya tertawa.


" Maaf Mor, aku lagi kesenangan udah diterima sama Nadin, nggak bisa meluk dan cium makanya aku peluk dan cium kamu aja,kan nggak ada larangan tuh hehehe" ucapnya seraya garuk garuk kepalanya yang tidak gatal.


" Hehehe... makanya cepat di halalkan biar sah segala galanya." Ucap Clarissa.


" Gimana mau Sah, Ayah dan Bunda kan nggak ada" ucapnya terkekeh.


" Rasakan aja kalau gitu,tidur malam masih di temeni sama guling hahahah" sambung Morgan lagi.


Terdengar ketewa mereka pecah,Nadine hanya bisa tersenyum.


Setelah mereka berbicara panjang kali lebar,akhirnya mereka memutuskan kembali lagi keaktivitas mereka masing masing.


Setelah berpamitan dengam Nadine dan keluarganya mereka pun meninggalkan ruangan Nadine dan menuju kearah parkiran dan menaiki mobil mereka masing masing meninggalkan rumah sakit menuju kearah kantor dan rumah mereka masing masing.


Abiyasa melajukan mobilnya menuju kearah rumah nenek Ayesha, karena mereka berdua mau menjemput nenek dan adik iparnya tinggal bersama mereka sementara kedua orang mertuanya masih menjalani pengobatan di luar Negeri.


Di dalam mobil...


" Mas" panggil Ayesha.


" Hmmm...ya sayang..." Jawab Abiyasa menoleh sesaat pada Ayesha istrinya,karena dia masih Fokus kedepan berhubung jalanan terlihat sangat ramai di karenakan para pekerja mulai hilir mudik sehabis makan siang dan siap siap melanjutkan pekerjaan mereka kembali.


" Beneran Mas nggak keberatan kalau nenek sama Faris tinggal bersama kita?" Tanya Ayesha hati hati pada suaminya.


Abiyasa tersenyum....


" Nggak sayang, ini kan ide mas,kasian nenek dan Faris hanya berdua saja,pasti mereka kesepian, makanya mas maunya mereka tinggal bersama kita jadi mas bisa menjaga kalian semua dalam satu atap" ucapnya.


Ayesha tersenyum...


" Makasih ya mas..." Ucapnya seraya menyentuh pipi suaminya dengan pelan dan mesra.


Abiyasa langsung menangkap tangan istrinya dengan tangan kirinya dan langsung memberikan kecupan yang hangat di punggung tangan istrinya,seraya melirik mesra sesaat pada sang istri.


Walaupun sudah menjadi istri dari seorang Abiyasa putra Wibawa,Ayesha masih terasa deg deg an kalau mendapatkan lirikan mesra dari suaminya itu.


" Iya sayang..., keluarga mu adalah keluarga mas juga,mas menikahi mu bukan hanya dirimu yang mas sayang dan jaga, tapi keluarga mu juga,Abi, Umi, Nenek dan adik Ipar mas yang ganteng itu" ucap nya tersenyum.


Ayesha lagi lagi tersenyum,dia tidak henti hentinya bersyukur karena di berikan jodoh yang baik luar dalam serta bertanggung jawab pada keluarga.


" Terimakasih ya Allah karena Engkau sudah memberikan jodoh terbaik buat hamba,Amin " Gumamnya.


Mobil melaju menuju kerumah kediaman Nenek Ayesha.


Bersambung...