
Di Singapura...
Sesampainya mereka di Singapura mereka berempat dijemput dengan Niko, merekapun kemudian memasuki mobil Niko dan menuju ke arah kantor yang Niko pimpin sementara waktu,tidak ada pembicaraan di dalam mobil mereka terus melaju menuju ke kantor yang ada di Singapura tersebut.
30 menit kemudian mereka pun sampai di depan kantor tersebut Niko memarkirkan mobilnya di tempat parkir, Mereka kemudian berjalan di lobi dan memasuki ruangan Niko yang berada di lantai 4.
" Silakan masuk Om " ucap Nico mempersilahkan ke-4 omnya tersebut memasuki ruang kerjanya, merekapun berempat tersenyum dan menganggukkan kepalanya, kemudian mereka melangkah masuk ke dalam ruangan tersebut dan menghentakkan tubuhnya di sofa yang ada di ruangan itu, setelah mereka duduk semua Niko pun ikut duduk didepan mereka, wajah Niko terlihat sedih.
Papa Andre memperhatikan Niko Dan diapun menegurnya.
" Kamu kenapa Niko? Kenapa kamu terlihat sedih seperti ini? Apakah kamu merasa sedih meninggalkan Negeri ini? kamu jangan bersedih di tanah air sudah menunggumu dan kamu masih tetap bekerja di sana." ucap Papa Andre.
" Iya nak kamu kenapa?" tanya Papa Boby.
Niko menarik napas Dangan pelan, Niko tidak sedih Om,Niko malah senang kembali ke tanah air dan bisa bersama dengan Mama dan Papa, tapi yang Niko sedih dengan Kak Nayra Om."
Papa Andre menarik napasnya dan menepuk pundak keponakannya tersebut.
" Kamu nggak usah memikirkan masalah Nayra nanti Om yang akan membereskannya." ucapnya lagi.
" Memang kamu mengetahui masalah Nayra?" tanya Abi Yosep.
Niko menatap kearah Abi Yosep Dia menganggukkan kepalanya, kemudian mereka berempat pun saling pandang lalu kemudian menatap lagi kearah Niko.
" Maksud kamu, kamu mengetahui permasalahan yang dialami Nayra?" tanya Ayah Chandra.
Lagi-lagi Niko menganggukkan kepalanya.
" Katakan dengan Om Niko, Nayra di sana Kenapa? ucap Papa Andre.
" Suaminya Kak Nayra sudah menikah lagi Om,tapi Kak Naira tidak mau diceraikannya dan Kak Nayra tidak boleh kemana-mana."
" Apa?!" ucap mereka seraya menatap ke arah Niko.
Niko mengangguk lagi dan mengusap wajahnya dengan pelan.
" Kenapa kamu sudah tahu masalah Kakakmu, Kenapa kamu tidak berbicara dengan om,kalian ini sama saja seperti Mamahmu masalah selalu saja disimpan, seharusnya kamu bicara dengan Om,biar kita sama-sama menyelesaikan masalahnya, suaminya Nayra menikah dengan siapa?" tanya papah Andre.
" Suaminya Kak Nayra menikah dengan Anak pemilik perusahaan yang sekarang tempat suaminya bekerja." ucap Niko.
" Bukankah perusahaannya yang kemarin itu kata Mamamu Dia tetap bekerja di perusahaan itu." ucap papah Andre.
" Tidak Om, Dia sudah lama keluar beberapa tahun yang lalu dan Dia kemudian masuk ke perusahaan yang baru, awalnya Dia cuma diterima sebagai karyawan biasa entah bagaimana ceritanya Niko juga kurang tahu karena Kak Nayra menceritakannya saat sama Niko melalui pesan suara, Dia tidak mau bercerita sama Mama dan Papa Kak Nayra memilih menceritakannya kepada Niko,Niko memang berniat ingin menjemput Kak Nayra,Niko menyarankan agar Kak Naira mengakhiri rumah tangganya, tapi Kak Nayra tidak mau, karena Kak Nayra memikirkan nasib Clara" terang Niko.
" Kalau masalah Clara enggak usah dipikirkan kita akan menyelesaikannya nanti lebih baik kamu hubungi Pak Marley agar segera datang ke sini dan menyelesaikan semuanya, kalau sudah selesai besok kita pulang ke tanah air karena Om sudah tidak sabar ingin menyelesaikan semuanya ini." Ucap Papah Andre merasa geram dengan cerita dari Niko.
" Sungguh keterlaluan keluarganya suami Nayra ini, belum tahu dia dengan siapa berhadapan.!" ucap Papa Boby lagi yang sudah mulai menahan amarahnya.
" Baiklah Om, Niko akan menghubungi pak Marley kemudian Niko berdiri dan mengambil gawainya Dia pun langsung menghubungi pak Marley yang ingin membeli perusahaan tersebut, setelah berbicara dengan Pak Marley selesai Dia pun kembali duduk dihadapan Omnya tersebut sekitar 1 jam mereka menunggu akhirnya pintu ruangan pun diketuk oleh sekretarisnya Niko yang mengatakan kalau tamunya sudah datang dan menunggu di ruang rapat, Kemudian mereka pun berlalu dari ruangan Niko menuju ke ruangan rapat.
*****
Di tanah air....
Setelah sholat Ashar Morgan berangkat ke rumah Abiyasa, beberapa menit kemudian Morgan sampai di rumah Abiyasa Dia pun disambut oleh kedua sahabatnya tersebut dan menuju ke teras belakang, Mereka pun duduk kembali di teras belakang tersebut di lantai ubin keramiknya, mereka memang suka memilih teras belakang untuk dijadikan tempat santai,disamping dingin dan sejuk udaranya.
" Bagaimana selanjutnya.?" tanya Morgan kepada mereka.
" Katanya kamu mempunyai rencana lain, makanya kami menunggu rencana kamu." jawab Arvin.
Morgan tersenyum.
" Rencana Aku, kalau kalian setuju Aku ingin menampilkan Pak Sahrul, jangan berkomentar dulu, Aku belum selesai menjelaskan rencana ini." ucapnya mencegah yang lain berbicara, mereka pun mengangguk dan Hanya berdiam diri mendengarkan rencana Morgan tersebut.
" Besok kan si Bowo ini menunggu di rumahnya Pak Sahrul,Pak Sahrul Aku suruh pulang ke rumah bersama istrinya dan Anaknya, biar tidak curiga bahwa keluarganya masih tetap berada di rumah,dan tidak ada kurang satupun dari keluarganya itu,dan kemudian Aku datang ke situ bersama dengan kamu Biy dengan alasan ingin membeli rumah dan tanah atau kebunnya Pak Sahrul yang berada di kampung sebelah, nah di situ kan ada kita jadi si Bowo tidak bisa marah-marah dengan Pak Sahrul,tapi sebelum itu kita harus dibicarakan dulu dengan Pak Sahrul rencana ini, kita harus melibatkannya semua, karena supaya mereka tidak curiga kalau kita ini sudah menyimpan Lia." ucap Morgan menjelaskan rencananya.
Mereka menganggukkan kepalanya.
" Saat kita berbicara Nadine Dan Arvin bisa melancarkan kembali aksinya,begitulah maksudnya dari rencanaku."
" Oh...seperti itu lebih baik kita menghubungi pak Sahrul melalui gawai aja, daripada kita bolak-balik menemui beliau, lebih baik kita menghubunginya melalui gawai aja." ucap Abiyasa.
Kemudian gawainya Abiyasa pun berbunyi Dia melihat gawai tersebut ternyata yang memanggilnya adalah Papa Andre.
Dia menatap kearah Anindita dan yang lainnya.
" Siapa Kak?" tanyanya.
" Papa " ucapnya langsung menjawab panggilan sang papah.
" Assalamualaikum Pah.."
" Waalaikumsalam... Biyas besok jemput papa di bandara ya."
" Lho katanya paling lama 3 hari paling cepat 2 hari, ini kenapa 1 hari aja."
" Karena ada hal penting yang ingin Papa bicarakan dengan kamu, Alhamdulillah urusan disini sudah selesai, karena Pak Marley juga ingin cepat-cepat memiliki perusahaan ini, hari ini Papa dan Niko sudah bersiap-siap, tapi Papah memutuskan untuk besok aja pulangnya."
" Kabari aja Pah jam berapa sampainya, nanti Biyas yang akan jemput kalian." ucap Abiyasa.
" Oh yaudah kalau seperti itu, gimana rencana kalian? apakah sudah terlaksana?"
" Alhamdulillah sudah terlaksana dan membuat si Bowo itu kebakaran jenggotnya."
" Mantap lanjutkan!" ucapnya.
" Ada apa Kak?"
" Papa besok pulang, katanya udah selesai urusannya dipercepat karena Pak Marley di sana mau segera cepat memiliki perusahaan itu, dan mereka juga ingin segera pulang, ya sudah enggak apa-apa yang penting kan keluarga kita kumpul semua disini." ucap Abiyasa.
Anindita menganggukan kepalanya.
" Nah sekarang lanjutkan rencana kita." ucap Abiyasa.
" Sekarang giliranmu Biyas, menghubungi pak Sahrul katakan semua rencana kita." ucap Morgan.
" Baiklah kalau kayak gitu aku akan menghubungi pak Sahrul." ucapnya kemudian menghubungi Pak Sahrul melalui tante Raisa yang kebetulan memang berada di rumah, setelah dia berbicara dengan Pak Sahrul dan Pak Sahrul pun mengerti dengan rencana yang akan dilakukan oleh Abiyasa dan Morgan, kemudian pembicaraan pun terputus.
" Gimana apakah pak Sahrul mau dengan rencana kita?" tanya Morgan.
" Alhamdulillah Pak Sahrul setuju dan dia pun mengiyakan rencana ini besok Anak buahku akan menjemputnya dan mengantarnya pulang." ucap Abiyasa.
" Sekarang sudah beres tinggal menunggu esok aja lagi " jawab Arvin.
Mereka kembali tersenyum dan mereka pun kembali berbicara perihal pernikahan Clarissa dan Marco.
*****
Kesokan paginya selepas sholat subuh Pak Sahrul dijemput oleh anak buahnya Abiyasa dan langsung diantar pulang ke rumahnya sebelum pak Bowo datang terlebih dahulu.
Tepat jam 8 pagi Pak Bowo,Pak Rizal dan 2 anak buahnya tersebut mendatangi rumah Pak Sahrul,pak Bowo mengetuk pintu rumah Adiknya itu, pintu pun terbuka.
" Kak Bowo " ucap pak Sahrul.
Kemudian Pak Bowo mengajak Pak Sahrul duduk di teras depan rumahnya.
" Sahrul katakan denganku dimana Lia kamu sembunyikan hah!!"
" Aku sudah bicara dengan kamu Aku tidak bersama dengan Lia dan Aku juga tidak menemukan Lia selama kamu usir Lia waktu itu." terang Pak Sahrul.
" Jangan bohong kamu! kamu pasti menyuruh Sarah bersama Lia kan?! di mana Sarah!"
" Sarah ada... Sarah!" Panggil Pak Sahrul pada Anaknya itu.
" Iya Pak " jawab Sarah keluar dari dalam.
Pak Bowo menatap ke arah Sarah.
Tiba-tiba mereka dikejutkan dengan dua orang berpakaian perlente siapa lagi kalau bukan Morgan dan Abiyasa,untung saja saat di kedai kopi mereka berdua tidak diperhatikan oleh pak Bowo dan rekannya.
" Selamat pagi,apakah ini rumahnya Pak Sahrul?" tanya Morgan.
" Oh iya pak benar Ini rumah saya,silakan masuk "
Kemudian merekapun menyalami semua tamu yang ada disitu,mereka berdua duduk bergabung dengan pak Bowo dan Pak Rizal, tatapan sinis mereka berdua menatap kearah Morgan dan Abiyasa, tapi Abiyasa dan Morgan tidak peduli dengan tatapan mereka.
" Ada apa ya Pak mau bertemu dengan saya?"
" Begini Pak Sahrul,saya mau membeli tanah bapak yang berada dikampung sebelah katanya mau dijual."
" Oh iya memang benar mau di jual."
Mereka kemudian berbicara, karena merasa tidak dihiraukan pak Bowo pun mendengus dengan kesal, Dia membiarkan mereka berbicara dan Pak bowo beserta pak Rizal hanya mendengarkan mereka bernegosiasi masalah tanah tersebut.
Tiba-tiba dia dikejutkan dengan suara gawainya berbunyi, kemudian Dia menjawab panggilan tersebut yang ternyata adalah Anak buahnya yang lain yang mempunyai tugas lain.
" Ada apa?" tanyanya sedikit menjauh dari mereka.
" Bagus bawa ke markas " ucapnya sembari terkekeh merasa senang.
Pak Bowo kemudian mengajak pak Rizal meninggalkan rumah pak Sahrul.
" Mau ke mana kamu Kak, kita belum selesai bicara."
" Aku tidak perlu lagi bicara denganmu!"
" Kenapa ?"
" Karena Aku sudah menemukan targetku " ucapnya.
Abiyasa dan Morgan pun bertatapan.
" Maksudnya target siapa?"
" Lelaki yang ada di dalam foto bersama dengan Lia sudah berada dengan Anak buahku, sudah! Aku mau pergi dulu."
Pak Sahrul pun terdiam begitu juga Abiyasa dan Morgan, setelah kepergian Mereka Abiyasa pun langsung menghubungi Arvin,tapi sayang Arvin tidak dapat dihubungi.
" Biy! kita kecolongan!" ucap Morgan kemudian mereka pun berpamitan dengan Pak Sahrul.
" Kami mau mencari Arvin dulu " ucap Morgan
" Ya sudah kalau begitu Kami pergi dulu ya Pak Assalamualaikum." ucap Abiyasa.
" Waalaikumsalam "
Merekapun setengah berlari menuju kearah mobilnya yang berada diujung jalan tersebut.