THE SWEETNESS OF LOVE AND FRIENDSHIP

THE SWEETNESS OF LOVE AND FRIENDSHIP
BAB 07



" selesai..." Ucap Risa menutup kembali layar laptop nya.


" Selesai apaan?" Tanya Biyas.


" Selesai besok sudah ada sekretaris baru buat mu, biar aku mengurusi yang lain,okey..." Ucap Risa menyandarkan tubuhnya di sofa seraya memejamkan matanya.


Hening diruangan Abiyasa, Arvin menyandarkan tubuhnya juga di sofa, saat asyik dalam lamunan mereka, mereka bertiga di kagetkan oleh suara ketukan di pintu ruangan Abiyasa.


" Tok...tok...tok..."


" Ya Allah ya Robby, " Arvin bersuara sambil memegangi dadanya karena kaget.


" Subhanallah," ucap Risa seraya duduk di lantai ubin keramik diruangan Abiyasa.


Sedangkan Abiyasa langsung melompat dari tempat duduknya, seraya bersuara.


" Ada ular dibawah meja!!"


Mendengar ada ular mereka bertiga langsung menaiki sofa kembali, ketukan di pintu terus terdengar.


" Astagfirullahhalazim" ucap Biyas baru menyadari keterkejutannya.


" Masuk " ucapnya.


Pintu terbuka dan masuklah Irfan dan tersenyum melihat Risa dan Arvin yang duduk sambil mengangkat kaki mereka keatas Sofa.


Karena merasa di perhatikan akhirnya mereka berdua langsung duduk sopan kembali sambil senyum senyum sendiri.


" Ada apa pak Irfan?" Tanya Abiyasa.


" Ini pak semua skejul bapak hari ini dan hari hari lainnya, sudah saya atur semuanya, dengan siapa saja bapak akan bertemu dengan clien dan perusahaan apa saja yang menjalankan kerjasama dengan perusahaan kita" ucap Irfan.


" Oh oke, terimakasih..' ucapnya.


" Saya permisi pak" ucap Irfan.


Dianggukkan oleh Biyas.


" Tuh Rusa, pelajari, itukan urusan sekretaris" ucap Abiyasa.


" Rusa lagi...hadeh...jika bukan pak Bos ku sudah aku mutilasi kau Biy" ucapnya mendelik kearah Biyas.


Biyas hanya tersenyum manis, dia memang senang menggoda Clarisa.


" Udah say, pelajarin aja..." Lanjut Abiyasa menyodorkan map map yang diberikan Irfan tadi.


" Iya siap pak Bos," ucapnya seraya memperhatikan berkas yang ada di tangannya tersebut.


" Jangan mau Ris, di bilang Say" ujar Arvin penuh keseriusan.


" Kenapa? " Tanya Risa dan Abiyasa keheranan menatap Arvin.


" Bisa jadi bukan sayang Ris" ucap Arvin lagi.


" Trus apa?" Tanya mereka berdua berbarengan.


" Tapi sayton hahahahah" ujar Arvin tertawa lepas.


" Hahahah...bisa jadi Risa emang sayton betina yang nggak laku laku karena sayton laki laki takut padanya." ucap Biyas tertawa lepas, di ikuti oleh Arvin yang tertawa juga.


" Biyas...!!" Teriak Clarisa mengambil bantalan Sofa dan langsung melemparkan kearah Biyas yang tertawa lepas tersebut.


" Aku ini sangat manis, tau..!" Ucapnya mendelik.


" Hati hati juga lho dengan yang manis manis karena semua sakit hati dan sakit gigi itu berawal dengan yang manis manis" ucap Arvin.


" Biarin...!! Kalian sakit gigi dan sakit hati gara gara liat aku yang manis ini" ucap nya terkekeh.


" Aku sih ogah liatin kamu, manis sih iya tapi kalau sudah keluar kelakuannya nggak ada manis manisnya, malah terlihat pahit banget deh " ucap Biyas tersenyum.


" Hahaha" ketawa Biyas dan Arvin pecah karena mereka suka menggoda Clarisa.


Clarisa hanya cuek aja karena dia sudah paham akan karakter dan candaan dari para sahabatnya itu.


Kemudian Clarisa kembali kelayar laptopnya lagi.


" Biy, jangan jangan cewek yang akan melamar jadi sekretaris mu itu anaknya om Yosep lagi" ucap Arvin.


" Bisa jadi tuh" ucap Risa.


" Kaya tau aja kamu Ris," ucap Arvin.


" Aku tuh tau aja dengan om Yosep, kemaren sudah di ceritain sama papah ku" ucapnya.


" Tapi aku tidak tahu kalau Biyas jatuh hati sama anaknya om Yosep itu" lanjutnya lagi.


" Aku sebenarnya tidak ngerti juga sih dengan diriku, itukan waktu kecil, tapi saat aku liat fhoto tadi jantungku langsung berdegup kencang, sama seperti aku waktu itu liat fhoto anak baby kecil perempuan yang saat itu aku cium waktu aku kecil." Ucapnya.


" Ya sapa tahu aja itu benaran dia, coba Ris liat lagi siapa nama orang tuanya." Ucap Arvin.


"Emang ada di cantumkan nggak nama orang tua" ucap Arvin lagi.


" Ada dong, " ucap Clarisa.


Mereka membaca semuanya data diri dari Ayesha.


" Nama ayah nya Yosep aja, nama ibu nya Vita Larasati" ucap Risa.


"Coba aku hubungi ayah ku ya siapa tahu beliau tahu nama om Yosep panjangnya." ucap Arvin seraya mengambil ponselnya dari saku celananya dan langsung menghubungi ayah Candra nya tersebut.


Arvin berdiri dan berjalan menuju kearah jendela ruangan Abiyasa.


Beberapa menit kemudian sambungan telpon tersambung.


" Assalamualaikum ayah" Ucap Arvin.


" Waalaikumsalam nak, ada apa? Tumben nelponnya ayah kangen ya?" Jawab ayah Candra.


" Kalau masalah kangen sih iya yah, tapi ini ada yang mau Arvin tanyakan pada ayah" ucapnya lagi.


" Apa tuh?" Ucap Ayah Candra.


" Nama lengkap om Yosep itu siapa sih yah, dan nama lengkap istrinya juga siapa?" Tanya nya pada Ayahnya.


" Nama om Yosep ya Yosep aja, dan istrinya bernama Vita Larasati, memang kenapa nak? Kok nanyain nama om Yosep?" Tanya ayah Candra.


" Nggak Yah, cuma nanya aja sih, kalau nama anaknya siapa yah, apakah ayah tahu?" Tanyanya lagi.


"Kalau nama anaknya ayah kurang tahu yang ayah ingat sih waktu itu, Yovi panggilannya." Ucap ayah Candra.


" Oh, gitu, makasih ya yah, ayah Bunda sehat kan?" Ucap Arvin.


" Sama sama sayang, ayah dan Bunda Alhamdulillah sehat nak, besok ayah sudah pulang kita bisa kumpul kembali bersama, karena ayah pindah tugas balik kandang" ucapnya pada anak sulung nya tersebut.


" Alhamdulillah, kalau gitu yah.." ucap Arvin senang.


" Alhamdulillah nak, ada lagi yang di tanyakan?" Tanya ayah Candra.


" Udah yah itu aja, Assalamu'alaikum" ucap Arvin.


" Waalaikumsalam," ucap ayah candra seraya menyudahi telepon mereka berdua.


Saat Arvin berbalik, Arvin kaget karena Risa dan Biyas ada di belakangnya menanti kabar dari Arvin.


" Siapa namanya?" Ucap kedua sahabatnya berbarengan.


" Ya Allah ya Robby, kalian ini bikin jantung aku kaget aja" ucap Arvin pada kedua sahabatnya tersebut.


" Habisnya lama amat sih nelponnya" ucap Risa.


Arvin kembali ketempat asal duduknya, di ikuti oleh kedua sahabatnya tersebut.


" Namanya Yosep aja, dan nama ibunya Vita Larasati, nama anaknya ayah ku lupa namanya tapi seingat dia Yovi panggilannya." Ucapnya.


Kemudian Risa melihat kembali kelayar laptop nya tersebut.


" Inikan sama, nama ayahnya Yosep, ibunya Vita Larasati dan nama dia sendiri bernama Ayesh Fahira putri Yovi." Ucap Risa.


" Kalau benar itu anaknya om Yosep berarti kita menemukan keberadaan om Yosep yang sudah lama tidak ada kabarnya dong " ucap Risa lagi.


"Tapi kata papah aku, terakhir mereka tugas di pelosok, tapi ini ada di kota B yang bisa ditempuh beberapa jam aja udah sampai di kota kita, ah...membingungkan ini" ucap Biyas seraya mengusap wajahnya dengan kasar.


" Tenang Biy, serahkan pada kami," ucap Risa seraya melirik kearah Arvin.


" Sabar Biy, " ucap Arvin.


" Sabar emang sulit ya" ucap Biyas.


" Yaiyalah sabar memang sulit, tapi hadiahnya surga, coba kalau gampang pasti hadiah nya payung" ucap Risa terkekeh diikuti oleh Arvin sama sama terkekeh.


Abiyasa hanya tersenyum saja mendengar celotehan sahabatnya tersebut.


" Iya tuh, tenang aja, kami akan segera mencari tahu, " ucapnya lagi.


Abiyasa hanya menganggukkan kepalanya saja.


" Ya udah aku pamit kekantor dulu ya, " ucap Arvin beranjak berdiri dan meninggalkan ruangan Abiyasa.


"Hati hati " ucap Abiyasa pada Arvin.


Dianggukkan oleh Arvin.


" Aku juga mau kemejaku, ntar di bilang makan gajih buta lagi" ucap Risa.


" Oke, " ucap Abiyasa.


" Udah jangan di pikirin, nanti kamu tau juga kok siapa dia" pesan Risa pada Abiyasa sebelum meninggalkan ruangan Abiyasa.


Abiyasa menyenderkan tubuhnya di sandaran Sofa setelah kepergian dua sahabatnya tersebut.


Kemudian dia berdiri dan menuju kemeja kerjanya Abiyasa memulai kerjaan nya walaupun dia di penuhi dengan wajah Ayesha yang baru di lihatnya tadi.


Saking asyiknya bekerja, tak terasa suara adzan Dzuhur berkumandang di ponselnya, Abiyasa menyudahi aktifitasnya dan segera mengambil air wudhu dan melaksanakan sholat Dzuhur di ruangan kerjanya.