
Setelah sarapan pagi selesai Clarissa bersiap-siap untuk berangkat ke kantor, Begitu juga dengan Mama Lala dan papa Boby bersiap-siap menuju ke rumah tante Rena,karena security rumahnya sudah masuk kembali seperti biasa, Papa Boby pun berbicara dengan security rumahnya itu dan menjelaskan semua kejadian tadi malam dan mengarahkan kepada security itu agar bersiap siaga pada orang yang tidak dikenal.
" Pak Yoan, Kalau ada orang yang tidak dikenal jangan diberi leluasa untuk masuk kedalam halaman rumah kita ini, siapa pun baik itu menawarkan dagangannya atau promosi barang-barang apa saja tolak lah dengan secara halus, dan terlihat tidak membawa apapun,apalagi mengatakan kenal dengan saya atau yang lainnya dan ingat jangan sampai Pak Yoan menatap matanya." Ucap papah Boby dengan nada seriusnya.
" Memang kenapa Pak? kalau saya menatap matanya?"
" Siapa tahu nanti Pak Yoan kena hipnotis hehehe..." ucap papa Boby terkekeh.
" Bapak bisa aja, Siap pak!saya akan bekerja dengan ketelitian saya."
" Oh, ya nanti ada dua orang gadis yang berwajah mirip silahkan saja masuk, karena itu adalah calon menantunya pak Candra." Pesan papah Boby.
" Iya pak siap!" Ucapnya.
" Oke! Mantap! terima kasih ya Pak." ucapnya lagi tersenyum.
" Siap Pak! sama-sama." kemudian mobil Papa Boby dan Mama Lala pun melaju meninggalkan rumahnya tersebut, terlebih dahulu mobil Clarissa sudah mendahului mobil sang Papa menuju ke arah kantor karena beberapa hari sudah dia tidak memasuki kantor.
Setelah kepergian mereka sebuah mobil berhenti di pintu pagar rumah papah Boby, karena tadi tuannya sudah mengatakan tamunya yang akan datang pak Yoan langsung membukakan pintu pagar tersebut, ternyata Nadine dan Lia yang datang kerumah papah Boby sesuai janji mereka tadi malam, untuk menemani Nika dan Amelia.
Beberapa saat kemudian mobil Clarissa tersebut pun memasuki area kantor Wibawa grup seperti biasa Clarissa memarkirkan mobilnya di tempat parkir khusus pimpinan dan staf-staf tertentu, Dia turun dari mobilnya dan melangkah menuju ke arah lobby dengan memberikan senyuman termanisnya menuju ke arah lift dan lift itu pun membawa dia ke lantai atas dimana ruangannya berada, sesampai di lantai atas diapun melangkah kembali menuju ke ruangan kerjanya, Tapi sebelumnya dia berbelok arah menuju ke arah ruangan Abiyasa, Dia mendekati sekretaris Abiyasa dan bertanya kepada sekretaris Bos sekaligus sahabatnya itu.
Clarissa tersenyum dengan sekretarisnya Abiyasa, sekretaris tersebut pun tersenyum membalas senyuman orang nomer dua dikantornya itu.
" Selamat pagi.."
" Pagi Bu..."
" Bos mu sudah datang?"
" Sudah Bu, ada diruangannya,ibu silahkan masuk saja."
" Tumben ya bosmu datang pagi-pagi sekali heheje." Ucap Clarissa terkekeh.
Sekretaris itupun hanya tersenyum saja.
" Terimakasih ya " ucap Clarissa di anggukan oleh sekretaris itu.
Clarissa pun langsung melangkah menuju kearah ruangan Abiyasa, Dia mengetuk pintu berapa kali.
" Tok tok tok "
Abiyasa menatap ke arah pintu tersebut sambil bersuara.
" Masuk..." ucapnya kemudian pintu terbuka.
" Assalamualaikum Bos.." ucap Clarissa.
" Wa'alaikumsalam Ris, tumben pakai ketuk pintu segala biasanya langsung nyelonong masuk aja." ucap Abiyasa sembari tersenyum seraya menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi kerjanya itu.
Clarissa mendekati Abiyasa dan duduk di depannya, Clarissa pun tersenyum.
" Tumben kamu masuk Biy? aku kira tadi kamu enggak masuk, karena Kata Om Andre tadi malam kamu kelihatan capek banget."
" Kata Papa ?memang papa ke tempat kamu?"
" Bukan ketempat aku tapi kerumah papah, tadi malam aku nginap dirumah papah, dan papah yang ngundang Om Andre dan yang lainnya ke rumah."
" Kenapa papah enggak bilang ya?"
" Kan udah dibilang tadi Om Andre melihat kamu dan Morgan terlihat capek makanya Om Andre nggak bilang kalau mau ke tempat papah ku."
" Pasti ngurus masalah Nika ya? Apa ada yang dibicarakan atau sudah ada rencananya.?"
Clarissa menganggukkan kepalanya.
" Terus apa yang dibicarakan?" tanya Abiyasa menatap ke arah Clarissa dengan penuh tanda tanya besar di kepalanya.
Clarissa pun mulai cerita dari awal sampai akhir pertemuan mereka di rumahnya untuk membicarakan masalah Amelia dan Nika serta mencari solusinya, Clarissa terus bicara sampai dia bercerita tentang peneror yang sudah memecahkan kaca depan rumah papahnya itu, Abiyasa pun terkejut mendengar cerita Clarissa, tapi dia tidak memotong cerita Clarisa tersebut dan membiarkan Clarissa terus menceritakan semua yang telah disepakati oleh Papah Andre dan yang lainnya sampai akhirnya cerita Clarissa pun selesai.
" Siapa mereka? sehingga rumah sampai diteror seperti itu."
" Aku juga tidak tahu Biy, karena aku tidak melihat jelas orangnya."
" Jangan-jangan orangnya sama dengan penyusup di rumahku?"
" Sepertinya berbeda Biy, Kalau yang di rumahmu itu sepertinya orangnya mengetahui seluk-beluk rumah keluarga kamu, tapi kalau yang di rumahku aku perhatikan sepertinya baru saja setelah Nika dan kak Amel berada di rumah ku, karena dia sepertinya mencari waktu yang tepat,saat itu rumahku terlihat ramai setelah rumahku sepi barulah dia melancarkan aksinya, terlihat jelas beberapa saat aja, saat kami mau memasuki kamar masing-masing terdengar keras kaca yang pecah dilempar benda yang keras." terang Clarissa.
" Terus Nika mendengarnya?"
" Untunglah saat itu Carlo terlebih dahulu membawa Nika masuk kedalam kamar mereka masing-masing, berhubung di rumah Papa itu kamarnya kedap suara jadi tidak terdengar apa-apa dari dalam tentang kejadian yang ada di luar."
" Syukurlah kalau seperti itu." ucap Abiasa.
Clarissa kemudian berdiri dari duduknya dan menuju ke arah sofa yang ada di ruangannya Abiyasa, Abiyasa kemudian menyusul Clarissa.
" Arvin dan Morgan harus tahu, apakah kita harus melibatkan Margan, sedangkan dia pengantin baru."
" Dia sendiri yang ingin ikut, bahkan Anindita juga membolehkan suaminya menyelesaikan masalah yang dihadapi Nika dan Amelia."
" Mereka berdua bukannya menikmati malam pengantin baru tadi malam?" Ucap Clarissa tersenyum.
" Nggak tau tuh, tapi setahu aku Anindita aja panggilan darurat dari rumah sakit, terpaksa Anindita berangkat ke rumah sakit." ucap Abiyasa.
Clarissa hanya menganggukkan kepalanya.
" Lebih baik aku hubungi Arvin dan Morgan dulu sebelum kita merencanakan rencana yang akan kita jalankan nanti." Ucap Abiyasa Clarissa lagi-lagi hanya mengangguk.
Kemudian Abiyasa mengambil gawainya yang ada di atas meja kerjanya dan dia pun menyandarkan tubuhnya di meja kerjanya dengan bertopang kakinya sembari berpegangan dengan meja kerjanya tersebut, dia pun kemudian menghubungi Morgan dan Arvin, setelah berbicara dengan Morgan dan Arvin Abiyasa kemudian memasukkan gawainya kembali ke dalam saku celananya,dia langsung melangkah kembali menuju ke sofa Di mana Clarisa sedang duduk menunggunya, terdengar helaan nafas dari Abiyasa setelah dia menghentakkan tubuhnya di sofa ruanganya itu.
" Sebentar kita tunggu mereka berdua datang ke sini."
" Memang mereka nggak masuk kantor?"
" Kalau Morgan belum masuk kantor mungkin dua hari lagi baru dia masuk kantor, sedangkan Arvin katanya sih masih pengaturan di jalanan,, tapi sebentar lagi Arvin juga akan menuju ke sini." Terang Abiyasa.
" Terus rencana kamu untuk mencari tahu tentang perusahaan di luar negeri itu sudah ada titik terangnya?" tanya Clarissa.
" Kemarin sudah aku utus salah satu dari anak buah aku yang ada disana, belum ada kabar dari mereka, kalau sudah mereka mendapatkan informasi semuanya mereka akan memberitahukan kepada kita, kalau kita sudah mengetahui semua informasi itu kita akan berangkat kesana dan menyelesaikannya." ucap Abiyasa
" Aku sebenarnya sudah nggak sabar ingin tahu penyebab ini semua."
" Jangankan kamu, aku juga sudah tidak sabar lagi ingin memberikan pelajaran kepada orang-orang yang sudah menyakiti Nika dan ingin sekali tahu kenapa almarhum Om Rendi itu sampai di penjara dan juga ingin sekali mengetahui penyebab kronologi kematian Om Rendy dipenjara." ucap Abiyasa.
Kemudian pintu ruangan Abiyasa terbuka.
" Assalamualaikum."
" Waalaikumsalam."
Morgan tersenyum melangkah menuju ke arah Abiyasa dan Clarissa
" Kamu nggak ketemu dengan Arvin di jalan?" Tanya Clarissa.
" Aku lewat jalan pintas...hehehe, jadi aku nggak bertemu dengan Arvin, Tapi kayaknya sebentar lagi dia pasti akan sampai, karena pagi-pagi sekali kan biasanya dia pengaturan di jalan tidak memakan waktu lama pasti udah selesai."ucap Morgan.
" Bagaimana malam pengantin mu?" tanya Clarissa terkekeh.
Morgan mendelik...
" Kamu ini bertanya,apa mengejek sih."
" Aku kan bertanya broo...bukan mengejek." Ucap Clarisa tertawa.
" Pasti Abiyasa sudah cerita." ucapnya sembari menoleh sesaat ke arah Abiyasa.
" Nggak kok, aku nggak cerita sama Risa." Ucapnya tersenyum.
" Mana ada seorang Abiyasa berbohong." Sambung Morgan.
Abiyasa kemudian tertawa lepas.
" Itu adalah pembalasan dari Anindita, makanya kalau sudah dibilang jangan ikut aku ke kantor polisi, ya jangan ikut, kamu malah ikut makanya Anindita balas dendam saat kamu berada di rumah dia malah berangkat ke rumah sakit, hahaha..." Abiyasa tertawa lebar.
" Terus aja tertawa Biy,kuat-kuat aja terus tawanya, tertawa diatas penderitaan adik ipar." ucap Morgan seraya mendelik ke arah Abiyasa yang masih tertawa.
Clarissa hanya terkekeh.
" Apa rencana kita sekarang?" tanya Morgan pada Abiyasa dan Clarissa.
Clarissa kemudian bercerita kembali dan Morgan mendengarkan sampai selesai.
" Kenapa kamu nggak bilang Ris kalau rumah Om Boby diteror, ini sudah diluar batas kemarahanku!!" Ucap Morgan emosi.
" Ini tidak bisa dibiarkan Biy, segera kita bertindak!"
" Iya Mor, hari ini kita bertindak."
" Kamu tahu kan Biy Kalau Papa berangkat ke tempatnya Om Bobby? kenapa kamu nggak kasih tahu dengan aku?" Protesnya.
" Jangankan kamu cuma sebagai menantunya aku sebagai anaknya juga nggak dikasih tahu, seharusnya kamu kalau mau protes sama papah noh sono bukan sama aku." Ucap Abiyasa sembari tersenyum.
" Oke! nanti aku kalau sudah ketemu sama Papah mau protes habis-habisan." Ucapnya pasti.
" Memang kamu berani?" Tanya Clarissa berbarengan dengan Abiyasa.
" Enggak!!" ucapnya sembari tertawa,mereka bertiga pun tertawa lepas.
Ruangan Abiyasa penuh dengan tawa canda mereka bertiga, Karena ruangan itu tidak terdengar dari luar jadi memudahkan mereka untuk tertawa lepas, pintu ruangan itu pun kemudian diketuk dari luar.
" Itu pasti Arvin yang mengetuk pintu" ucap Abiyasa.
" Kenapa sih si Arvin mengetuk pintu segala,padahal kan tinggal masuk aja." ucap Morgan.
" Iya Nih Arvin." Sambung Clarissa.
" Masuk..." ucap Abiasa.
Pintu terbuka ternyata sekretarisnya yang masuk.
" Ya, ada apa?" tanya Abiyasa pada sekretaris.
" Ini berkasnya pak, yang Bapak minta tadi."
" Oh ya udah, letakkan aja di atas meja kerja saya."
" Siap pak, kalau begitu saya permisi pak."
Dianggukkan Abiyasa, kemudian dia pun melangkah meninggalkan ruangan Bosnya itu, beberapa saat kemudian pintu ruangan itu pun terbuka kembali.
" Assalamualaikum..." ucapnya.
" Waalaikumsalam." Jawab mereka bertiga.
Arvin melangkah dengan santai menuju kearah mereka sembari mengukir senyuman di wajahnya, Dia pun menghentakkan tubuhnya disamping Morgan.
" Terus Bagaimana rencana kita selanjutnya." Ucapnya.
" Rencana Apa?"
" Rencana menuntaskan masalah Amelia dan Nika,kita rencananya memang mau berkumpul di sini untuk melancarkan aksi kita."
" Rencananya belum kita bicarakan tapi yang jelas Kamu harus tahu dulu cerita dari orang tua kita, karena tadi malam mereka berkumpul dan membicarakan rencana yang akan mereka lancarkan." Terang Abiyasa.
" Memang mereka bicara di mana?" Tanya Arvin
" Mereka berkumpul di rumah Clarissa." Jawab Abiyasa.
Clarissa lagi-lagi menceritakan semuanya kepada Arvin, Arvin dengan saksama mendengarkan cerita dari Clarissa sampai Akhir.
" Berani sekali mereka mengancam dengan melemparkan batu kerumah Om Boby, sekarang mana batunya? kamu membawa nggak batunyanya itu?" Tanya Arvin dengan serius.
" Kok batunya sih Vin? Buat apa?" Tanya Morgan, Abiyasapun ikut bingung, Clarissa melongo mendengar Arvin menanyakan soal batu tersebut.
" Ya kita lempar balik aja lagi." ucap Arvin.
Mereka bertiga pun terkekeh... sedangkan Alvin memasang mukanya yang sedang marah.
" Memang keterlaluan mereka itu! tidak tahu berhadapan dengan siapa." ucap Morgan lagi.
" Ya sudah! rencana kita bagaimana."
" Aku akan menghubungi anak buahku yang ada di luar negeri, Apakah mereka sudah mendapatkan informasi atau belum." Ucap Abiyasa.
" Terus sekarang orang tua kita kemana?" Tanya Arvin.
" Menurut rencana sih mereka mau menemui mertuaku untuk menceritakan semuanya kepada mertuaku, karena mertuaku kan tahu situasi kantor polisi yang ada di luar negeri, setidaknyakan kita tahu apa penyebab Om Rendy meninggal dunia di dalam penjara." ucap Clarissa.
" Mereka mau ketempat papah?" Tanya Morgan, dianggukkan Clarissa.
" Ya sudah kalau seperti itu kalian tunggu sebentar aku akan menghubungi Anak buah ku yang ada di luar negeri." ucap Abiyasa Seraya mengambil gawainya yang ada di dalam saku celananya dan menghubungi seseorang yang berada jauh di sana.
Selagi Abiyasa menghubungi anak buahnya tersebut, mereka bertiga hanya terdiam dan larut dalam pikiran mereka masing-masing menunggu kabar berita dari anak buah Abiyasa yang ada di luar negeri yang sudah diperintahkan untuk mencari tahu tentang perusahaan almarhum Om Rendy tersebut.
Beberapa kali anak buah Abiyasa dihubungi tapi tidak tersambung.
" Kenapa mereka tidak bisa dihubungi? Kemana mereka?" Batin Abiyasa,dia pun terus menghubungi anak buahnya itu, tapi tetap tidak nyambung, dia lalu melangkah menuju arah mereka lagi dan duduk kembali dengan muka yang penuh tanda tanya.
" Apa kata mereka Biy?" Tanya Clarissa.
Abiyasa menggeleng dan menatap kearah para sahabatnya itu.
" Mereka tidak bisa dihubungi, aku juga tidak tahu." Ucapnya.
Terdengar tarikan nafas mereka semua dan menghembuskannya dengan pelan.
Tiba-tiba sebuah nomer yang tidak dikenal masuk dalam panggilan Gawai Abiyasa, diapun melihat kode si pemanggil.
" Luar Negeri.." ucapnya langsung didengar oleh ketiga sahabatnya.
Abiyasa langsung menjawab panggilan itu,ternyata yang menghubunginya adalah Anak buahnya tersebut.
Setelah menjelaskan semuanya kenapa mereka tidak bisa dihubungi ternyata gawainya dicuri orang dan anak buahnya itupun menjelaskan semuanya pada Abiyasa tentang kepemilikan perusahaan Almarhum Rendy, nama,tempat,pemilik dan besar kecilnya perusahaan tersebut sudah dikatakan oleh anak buahnya tersebut, dan semuanyapun sudah dikantongi Abiyasa,setelah mengucapkan terimakasih pada anak buahnya tersebut, Abiyasa pun mengakhiri pembicaraannya itu, dia meletakkan gawainya diatas meja.
" Kita sudah mengantongi semuanya." Ucapnya
" Yang benar Biy." Ucap Morgan.
Abiyasa mengangguk.
" Bagaimana kalau sekarang kita bertindak." Ucap Arvin
" Vin, mohon maaf nih, kamu tidak bisa ikut dalam misi ini, karena kami akan berangkat keluar negeri sekarang." Ucap Abiyasa.
" Maksud kamu?" Tanya Arvin sembari menatap Abiyasa.
" Karena minggu depan kamu melaksanakan pernikahan,jadi kamu tidak boleh kemana-mana, kamu juga kan sehari ini aja terakhir kerja besok sudah nggak kan,kamu sudah ngambil cutikan." Ucap Abiyasa.
" Iya, benar Biy, tapi aku ingin ikut." Ucapnya.
" Maaf Vin,kamu harus menjalani masa pingitan." Ucap Morgan tersenyum.
" Bunda Adel pasti akan marah kamu pergi jauh, aku yakin itu." Ucap Clarissa.
Arvin hanya terdiam...
" Jangan sedih bro, nikmati aja masa pingitanmu hehehe...." Ucap Morgan terkekeh.
Arvin hanya bisa menarik nafasnya dengan pelan.
" Okelah, apakah kalian mau berangkat sekarang? Apakah sudah mendapatkan informasinya?" Tanya Arvin.
" Sudah, kata mereka perusahan berlian itu adalah mutlak milik Almarhum Om Rendy, tapi karena tipu muslihat temannya akhirnya dia dinyatakan bersalah dalam penggelapan beberapa kotak berlian murni, milik temannya itu,dan temannya itulah dalang dari semuanya,padahal temannya itu sudah dibantu banyak sama om Rendy untuk bisa membuat perusahan anak cabang dari perusahaan om Rendy,dan sekarang perusahaan itu diklaimnya menjadi miliknya." Terang Abiyasa.
" Parah!! Manusia tidak tahu di untung sudah dibantu malah jadi hantu!" Ucap Arvin.
" Bagaimana kita bisa masuk keperusahaannya tersebut, kalau kita menamakan perusahaan kita sendiri, aku khawatir kalau mereka sudah tahu kalau Nika dan kak Amel sudah berada dalam lindungan kita." Ucap Clarissa.
" Tenang,kalau mereka sudah mengetahui perusahaan kita,tapi mereka tidak mengetahui kita kan,contohnya Morgan, kamu, dan Aku." Ucap Abiyasa.
" Tapi Biy? Tidak mungkin mereka tidak mengetahui kamu, kamu kan sering wara-wiri dimedia sosial,layar televisi dan sebagainya, bagaimana kita bisa masuk kesana? Kalau kita mengajak mereka kerjasama itu tidak mungkin, bisa saja kecurigaan Clarissa ada benarnya." Ucap Morgan.
" Aku sudah menghubungi teman sewaktu aku kuliah dulu, dia sukses menjalankan usahanya dalam bidang berlian juga diluar negeri, dia juga mau bertemu dengan ku." Ucap Abiyasa.
" Tapi apakah dia mau meminjamkan nama perusahaannya untuk mengecoh perusahaan lawan?" Tanya Arvin.
" Iya tuh benar! Apakah dia mau?" Sambung Clarissa.
" Dia mau, aku sudah bicara padanya, aku memang punya rencana mengecoh dengan mengajak perusahaan lawan untuk kerjasama, aku sudah menceritakan semuanya padanya tentang masalah ini, tapi sayangnya aku tidak tahu nama perusahan Om Rendy,karena saat itu aku tidak ingin bertanya lebih banyak pada kak Amelia,takut membuat dia merasa tertekan." Terang Abiyasa
" Ya udah sekarang aja kalian berangkat,lebih cepatkan lebih bagus, selesaikan sebelum acara pernikahan kami di langsungkan." Ucap Arvin.
" Ya udah, kalau gitu,kita siap-siap sekarang." Ucap Abiyasa sembari mengajak ketiga sahabatnya keluar dari ruangannya, saat mereka berjalan menuju mobilnya masing-masing, gawai Clarissa berbunyi, setelah Clarissa berbicara dengan sang papah, Clarissa lalu mengatakan pada mereka kalau mereka sudah ditunggu dirumah sang papah dan mereka berempat menunju kearah rumah papah Boby dimana mereka sudah menunggu mereka disana.
Mobil mereka melaju dengan kecepatan sedang,dan tidak memakan waktu lama mobil pun sampai didepan rumah papah Boby, security itupun membukaakn pintu pagar rumah tersebut, mobil mereka memasuki halaman rumah papah Boby dan memarkirkannya dengan rapi dan mereka semua memasuki rumah tersebut.