THE SWEETNESS OF LOVE AND FRIENDSHIP

THE SWEETNESS OF LOVE AND FRIENDSHIP
BAB 268



Setelah melaksanakan sholat subuh mereka langsung bersantai lagi setelah beberapa saat mereka langsung sarapan pagi bersama...


" Apakah ada si Kris menghubungi adiknya?" Tanya papah Andre pada Morgan.


" Belum ada pah, mungkin dia masih diatas awan.." ucap Morgan seraya menyantap makan paginya.


" Hehehehe...benar banget itu Mor, dia melayang-layang seakan-akan menikmati indahnya hari kemenangannya." Sambung kak Niko terkekeh.


Morgan dan lainnya ikut juga terkekeh.


" Udah lanjutkan dulu makanan kalian " lanjut mamah Anisha sembari tersenyum.


Mereka pun langsung menikmati lagi hidangan makan paginya tersebut.


Setelah sarapan,mereka yang sudah begadang malam gara-gara perbuatan Johanes yang menyita waktu tidur mereka pun langsung mempersiapkan diri ingin beristirahat, mereka semuanya pun memasuki kamar mereka,dan bersiap-siap mau menikmati istirahat mereka.


Beberapa saat mereka sedang menikmati istirahatnya,tiba-tiba Morgan keluar dari kamarnya dan langsung melangkah menuju kearah luar ditemani sang istri yang kebetulan tidak kerja.


Kemudian terdengar suara Mobil keluar dari halaman rumah keluarga wibawa, kebetulan Abiyasa yang sedang duduk disamping jendela kamarnya pun melihat Mobil Morgan yang meninggalkan rumahnya itu pun langsung saja melangkah setelah berpamitan dengan sang istri Abiyasa melangkah keluar kamarnya, dan kebetulan Papah Andre dan yang lainnya keluar kamarnya juga.


" Biy, mau kemana?" Tanya papah Andre.


" Biyas mau menyusul Morgan pah, sepertinya dia tiba-tiba sekali berangkat keluar." Ucapnya.


" Kekantornya?" Tanya Abi Yosep.


" Kurang tahu juga Abi." Ucapnya.


" Jangan-jangan dia menemui si Kris lagi " ucap papah Boby.


" Ya udah kalau gitu kita susul sekarang " lanjut Ayah Candra.


Anindita yang melangkah masuk pun langsung menuju kearah mereka yang sedang membicarakan suaminya tersebut.


" Dita, kemana suami mu pergi?" Tanya papah Andre.


" Katanya tadi kekantor pah, pak Kris tadi menghubunginya melalu chat pribadi dari gawai Johanes." Terang Dita.


" Benar kan perkataan ku, pasti dia bertemu dengan Kris." Ucap papah Boby.


Mereka pun langsung bersiap-siap menuju kearah mobil mereka dan kemudian mereka pun lalu meninggalkan rumah tersebut, dengan kecepatan sedang mereka langsung melajukan mobilnya menuju arah kantor Morgan.


Sesampainya dihalaman parkir kantor tersebut mereka pun langsung keluar dan melangkah menuju kearah ruangan Morgan tapi sebelumnya Ayah Candra berbicara sesaat dengan salah satu anggota yang sedang berjaga tersebut.


Sesampainya diruangan Morgan, mereka hanya melihat Morgan dan Johanes duduk di ruangannya itu, Morgan terkejut melihat mertua dan kaka iparnya tersebut beserta yang lainnya memasuki ruangannya.


" Assalamu'alaikum..." Ucap Papah Andre.


" Wa'alaikumsalam.." jawab Morgan dan mempersilahkan mereka duduk.


" Kenapa kamu nggak bilang kalau mau kekantor Mor.?" Tanya Abiyasa.


" Aku tadi memang sengaja tidak memberitahu pada kalian, karena aku tidak ingin mengganggu waktu istirahat kalian semua." Terang Morgan.


" Ya sama saja kan kalau kamu tidak kasih tahu itu sama aja mengganggu alam pikiran kami, benar nggak Ndre, Ndra, Yos.." ucap Papah Boby.


" Biyas nggak disinggung nih? " Protes Abiyasa.


" Maaf kirain kamu tadi ketinggalan...hehehe.." ucap Papah Boby.


Mereka juga terkekeh, dan senyum terlukis di wajah Johanes.


Papa Boby melihat Johanes tersenyum.


" Kamu ikut juga ya bro tersenyum...makanya Bro berbuat baiklah dengan sesama jangan selalu berbuat jahat! Hidup itu indah apalagi dengan dihiasi kebersamaan dan kebaikan saling bahu membahu, jangan teman makan teman, sangat tidak baik!!" Ucap Papah Boby sembari menepuk pundak Johanes.


" Benar sekali pak Boby, saya baru menyadari akan kesalahan saya selama ini setelah saya merenunginya selama beberapa jam disel tahanan, saya memang pantas mendapatkanya dan saya juga pantas diperlakukan seperti sekarang ini, karena kalau dipikir perbuatan saya tidak bisa dimaafkan begitu saja dan perbuatan saya pada Nika sangatlah membekas diingatannya, saya pribadi sangat bersalah dan memohon maaf pada bapak sekalian karena saya sudah memata-matai kediaman bapak Andre dan mencari tahu tentang keluarga Wibawa serta saya juga dengan lancangnya menyelidiki serta mencari tahu tentang data pribadi pak Boby, sekali lagi saya mohon maaf, saya akan mempertanggung jawabkan semua perbuatan saya pak." Ucapnya sembari menangkupkan kedua tangannya kehadapan papah Boby dan yang lainnya.


" Nggak salah nih?" Ucap Papah Boby sembari memegang jidad Johanes dan menempelkannya kejidad Abi Yosep.


" Hmmmm ...Boby!!! Mulai deh.." ucap Abi Yosep seraya menoleh kearah Papah Boby sembari terkekeh.


Papah Boby pun terkekeh dengan pelan yang lainnya hanya tersenyum.


" Saya mohon pada bapak semua dan pak polisi jangan sakiti kakak saya, saya akan jamin kakak saya akan menyerahkan dirinya sendiri dan akan mengakui kesalahannya tersebut." Ucap Johanes.


" Menyakitinya? Kamu salah besar! Kami disini tidak untuk menyakiti orang tapi kami hanya memberikan pelajaran pada orang itu agar dia segera sadar akan kesalahannya itu, orang yang bersalah pasti akan mengakui kesalahannya dengan cara seperti kamu alami, tapi kamu tenang saja, kakak mu tidak akan apa-apa jika dia langsung mengakui kalau dia bersalah." Ucap papah Andre.


" Terimakasih banyak pak." Ucapnya.


Kemudian salah satu anak buah Morgan memasuki ruangan dan meminta ijin untuk membawa seseorang yang ingin bertemu dengan Johanes, Morgan mengangguk.


Setelah mendapatkan persetujuan anak buah Morgan pun langsung keluar lagi dan beberapa menit kemudian dia masuk kembali membawa tiga orang yang dimaksudnya tersebut.


Papah Andre, Abi Yosep,Ayah Candra dan Papah Boby serta Abiyasa menatap tajam kearah ketiga laki-laki yang berjalan masuk kedalam ruangan Morgan dan menuju kearah meja Morgan.


Johanes langsung memeluk sang kakak dan menangis dalam pelukakan kakaknya itu.


" Ada apa ini? Kenapa bisa kamu tertangkap?"


" Ceritanya panjang kak, maaf kan aku kak karena aku tidak bisa membantu kakak sampai selesai, aku hanya bisa sampai disini saja."


" Jo...! sebenarnya ada apa?!"


" Maaf pak Kris ..kami akan jelaskan semuanya disini." Ucap Morgan sembari mempersilahkan duduk tamunya yang datang kesarangnya tersebut secara tidak langsung sudah menyerahkan dirinya sendiri secara suka rela itu.


Pak Kris pun duduk sambil matanya dengan tajam menatap semua orang yang ada di ruangan itu dengan muka memerah karena amarahnya melihat sang adik berada dikantor polisi.


" Kak, lebih baik kakak mengakui apa yang selama ini kakak lakukan pada Nika dan Amelia." Ucap Johanes secara tiba-tiba langsung saja Kris terkejut dan menatap lekat sang adik.


" Jo! Apa-apaan maksud kamu Jo? Kamu ini jangan ngelantur! Bukan kakak yang berbuat seperti itu pada keluarga Amelia tapi itu semua kan saran kamu Jo!" Ucap pak Kris secara gamlang dihadapan Morgan dan lainnya.


Mendengar perkataan pak Kris seperi itu mereka semua terkejut dan langsung menatap kearah pak Kris, pak Kris pun cuek dan mengukir senyum sinisnya kearah mereka semua termasuk adiknya tersebut.


" Kak! Apa maksud kakak seperti itu? Bukankah kakak yang meminta aku untuk melakukan semua rencana kakak!" Ucap Johanes sedikit penuh penekanan.


Mereka lagi-lagi terkejut mendengar ucapan pak Kris yang mengatan kalau Johanes sempat mengatakan cinta pada Amelia.


" Bob apakah kamu percaya dengan perkataan si Kris itu?" Ucap papah Andre berbisik.


" Jangan percaya dengan Kris yang kurang diasah itu, dia hanya mencari pembenaran saja supaya dia tidak disalahkan dan semua dia lakukan itu agar Johanes yang menanggung semua perbuatannya itu, pintar banget akal dia itu." Ucap Papah Boby seraya menatap tajam kearah pak Kris yang masih berbicara dengan Johanes.


" Kak, aku tidak ingin kakak jadikan lagi kambing hitam kakak dan kita harus sama-sama mendekam disini kak." Ucap Johanes seraya menyentuh tangan kakaknya.


Dengan sigap pak Kris langsung menepis tangan sang adik dengan kasar, dia pun langsung berdiri dan hendak meninggalkan Johanes, tapi langsung di hadang Morgan dengan memanggil namanya.


" Maaf pak Kris? Bapak mau kemana?" Ucap Morgan seraya berdiri dan melangkah menuju pak Kris yang hendak melangkah.


" Silahkan duduk, kami sudah sedari tadi menunggu Anda pak!" Ucapnya sembari tersenyum padahal didalam hatinya emosinya memuncak tapi dia berusaha berdamai dengan gejolak emosinya itu.


" Maaf pak polisi, dia ini memang adik saya, tapi dia selalu berbuat ulah seperti itu karena ulahnya yang sudah sering memojokkan saya, lebih baik pak polisi urus dan usut saja dia." Ucapnya pada Morgan.


" Maaf pak, tidak semudah itu pihak yang berwajib mengusut tanpa ada bukti yang akurat." Ujar Morgan.


" Apalagi pak buktinya, semua sudah nyata, dia lah yang sudah membuat keluarga Amelia menderita, dan dialah dalang semuanya." Ucapnya lantang.


" Maaf pak, sebelumnya nih saya mengomentari ucapan bapak." Ucap papah Boby seraya berdiri dan menarik kursinya mendekati pak Kris.


" Siapa Anda? Apakah anda pihak yang berwajib?" Tanyanya heran.


" Saya bukan pihak yang berwajib dikantor ini, tapi saya pihak yang wajib Anda ketahui." Ucap papah Boby tersenyum manis pada pak Kris dan dianggap pak Kris itu senyum yang meremehkannya.


" Pihak yang Wajib?" Ucapnya heran.


" Iya, kaget pak?! " Ucapnya seraya memainkan alisnya naik turun, membuat pak Kris kesal.


Diapun langsung memukul meja dengan keras membuat mereka semua terkejut.


Tapi mereka semua dengan mudah menguasai keterkejutannya.


" Apa maksud anda hah! Anda seharusnya bicara dengan jelas nggak usah plin-plan!" Ucapnya.


" Maaf pak! Ini ruangan saya! Bersikaplah sopan!" Ucap Morgan.


" Sory..sory pak, kebawa emosi." Ucapnya.


" Anda mengatakan kalau Adik Anda yang bersalah, tapi sebenarnya Anda tidak sadar kalau Anda sendiri yang datang kekantor ini untuk menyerahkan diri Anda." Ucap Papah Boby tersenyum.


Pak Kris terkejut dengan ucapan papah Boby.


" Apa maksud Anda hah ?sampai kapan pun Aku tidak akan pernah bersalah!! Karena memang benar dialah yang merencanakan semuanya!! Dan kalian semua sudah termakan keterangan palsu darinya, walaupun dia adik saya sendiri, saya tidak akan membela dia kalau dia sudah terbukti bersalah!! Jadi saya disini tidak bersalah sama sekali dan tidak ada bukti untuk menangkao saya.!!" Ucapnya seraya tersenyum sinis.


" Jadi Anda tidak merasa bersalah?"


" Sudah saya katakan, saya tidak bersalah!! Apa perlu saya umumkan dimedia sosial dan televisi kalau saya ini tidak bersalah dengan kejadian yang menimpa keluarga Amelia termasuk Orang tuanya.!! Jelas!!" Ucapnya sembari menatap papah Boby dengan emosinya.


" Heh Bro!! santai jangan ngengas! Kalau Anda tidak bersalah santai aja tidak perlu sangat emosi menjawabnya karena kalau emosi menandakan secara tidak langsung Anda mengakui semua kesalahan Anda dan jika anda tidak emosi berarti anda memang benar-benar tidak bersalah! Simplekan?!!" Ucap Abi Yosep.


" Benar pak Kris, dari tadi saya memperhatikan bapak selalu mengeluarkan emosinya, kalau bapak tidak berbuat bapak tidak usah emosi itu sama aja bapak menutupi rasa takut bapak sekarang akan kesalahan bapak." Ucap Morgan tersenyum.


Pak Kris mendengus kesal...


" Saya ini adalah Omnya Amelia dan Nika, Rendy yang anda buat mendekam dipenjara sampai akhir hidupnya itu adalah saudara dari istri saya!! Anda sudah berbuat salah tapi masih mengatakan dengan kekeuh kalau anda tidak bersalah dengan keluarga Amelia! Dimana hati anda sebagai seorang makhluk tuhan yang memiliki akal dan pikiran! Jelaskan pada saya dimana sisi baik dan sisi buruk anda! Anda sudah tua, seharusnya anda sadar akan ada alam yang kekal abadi dimana kita semua akan pindah kesana dan hidup dengan amal ibadah kita masing-masing, singkatnya kita semua akan mati! Dan lebih baik anda bertaubat dan mengakui kesalahan anda selama ini, kita tidak perlu adu urat leher karena membela diri sendiri yang sudah ternyata bersalah! Renungkanlah pak Kris! Sebelum anda menyesal selama-lamanya." Ucap papah Boby panjang lebar.


Pak Kris terdiam, lagi-lagi dia menundukkan kepalanya.


Mereka berempat saling pandang...


" Tumben mak Boby jadi Relijius " ucap Abi Yosep.


" Hooh, ada kemajuan nih mak tom crush." Ucap Ayah Candra.


" Hehehe...itulah okenya Boby selalu ada aja kata-katanya." Ucap Papah Andre terkekeh.


" Kak, lebih baik kakak mengaku saja didepan mereka, sudahi kak semuanya, biar kita tenang menjalani sisa hidup kita kak, karena selama ini kita hidup dijalan yang salah! Sadarlah kak." Ucap Johanes.


Pak Kris masih terdiam dan masih menundukkan kepalanya.


Kemudian kedua orang yang ada bersamanya itupun langsung berbicara salah satunya.


" Iya pak polisi, Bos Kris memang pelaku dan dalang dibalik kejadian yang menimpa keluarga pak Rendy." Ucapnya, mereka menatap kearah salah satu anak buahnya pak Kris yang sengaja dibawanya dari luar yang berasal dari tanah air.


Kris pun terhenyak!


" Apa-apaan kamu hah? Selama ini aku yang menampung kami dan aku yang menolong kamu kenapa sekarang kamu yang berbalik menghianati aku hah!!" Ucapnya keras sehingga membuat orang yang ada diluar ruanganpun menatap kearah ruangan Morgan.


" Pak Kris!! Jaga sikap bapak!! Ini adalah kantor saya, tidak sepantasnya bapak berteriak seperti itu!!"


Lagi-lagi pak Kris itupun terdiam.


" Maaf pak Bos, saya sudah jenuh dengan perintah bapak, saya sadar pak! Karena selama ini saya sudah terlalu banyak melakukan dosa, dan menghasilkan uang dengan jalan yang tidak diridhoi oleh yang maha kuasa, pak polisi tangkap saya, karena sayalah yang diperintahkan Bos Kris untuk menyamar sebagai dokter tersebut, pasti pak polisi sudah mengetahui kisahnya dari pak Johanes." Ucapnya seraya melangkah dan menyodorkan tangannya kearah Morgan, dan Morgan pun menatap kearahnya sesaat dan kemudian menoleh kearah anak buahnya yang berada diruangan tersebut dan memberikan isyarat agar segera mengurus anak buah pak Kris itu.


Pak Kris hanya bisa menarik nafasnya dengan pelan...


" Baiklah pak, saya mengakui semuanya " ucapnya pasrah dan kemudian sama saja salah satu anak buahnya itupun langsung menyerahkan dirinya juga.


" Nah gitu dong! Kan enak nih urusannya, nggak pakai kenceng-kencengan dan memperlebar otot!" Ucap Abi Yosep, papah Boby tersenyum kemudian mundur kearah para sahabatnya


" Kenapa Bob kamu tidak mengeluarkan ajian pamungkasmu?" Tanya Ayah Candra tersenyum.


" Udah cape marah-marah Ndra, apalagi dengan suasana pagi gini masih belum panas darahnya." Ucap papah Boby terkekeh.


" Tumben ajian baru keluar,dan langsung mematahkan semangat lawannya... hehehe." Sambung Abi Yosep.


" Penuh nih iklan nantinya seorang Mak Boby yang selalu mengabsen penghuni hutan jadi bersikap Relijius." Ucap Papah Andre terkekeh.


Abiyasa tertawa pelan dan papah Boby hanya mengusap rambutnya dengan pelan dan hanya bisa tersenyum...