THE SWEETNESS OF LOVE AND FRIENDSHIP

THE SWEETNESS OF LOVE AND FRIENDSHIP
BAB 152



Dokter Roni menatap kearah wajah sang Mama yang memang terlihat ada sesuatu yang disembunyikan oleh Mamanya itu.


" Katakanlah Mah, ceritakan sama Roni memang ada masalah apa? jujur aja Mah saat Arvin mengatakan semua yang terjadi diantara hubungannya dengan Nadine, Mama terkejut mendengar nama Lia memang Lia itu siapa mah? Apakah Mama kenal dengan Lia?"


Lagi lagi tante Raisa menarik nafasnya dengan berat dan melepaskannya dengan pelan.


" Apakah peristiwa itu akan aku ceritakan dengan kedua anakku? beserta calon menantu ku?Apakah setelah mereka tahu nantinya permasalahan itu tetap akan menjadikan Nadine menantu mereka? karena ini adalah aib kalau aku ceritakan semuanya kepada mereka."


" Mama " Panggil Dokter Roni membuyarkan lamunan sang Mama.


Tante Raisa pun langsung menatap ke arah Dokter Roni.


" Sebenarnya ada apa?Mama harus cerita dengan Roni, sekarang Roni dan Nadine sudah dewasa apa sebenarnya yang terjadi Mah?tolonglah Mah ceritakan semuanya." ucap Dokter Roni.


" Apakah Mama harus menceritakan semuanya Ron?"


" Mama harus cerita semuanya, apakah ini masalah Nadine? atau masalah yang lain?"


" Mama belum siap Ron untuk menceritakannya dan pasti akan mengoyak luka lama Mama."


" Mama kapan Mama akan menceritakannya, semenjak Roni kecil Mama sudah merasakan derita, kapan Mamah bisa bercerita dengan Roni? Ok! Mah saat itu Roni masih kecil dan tidak bisa melindungi mama, karena Roni tidak tahu permasalahan apa yang dihadapi Mama, tapi sekarang Roni mohon ceritalah kepada Roni apa permasalahannya, sehingga Mamah terkejut mendengar nama Lia, Apakah Mamah mengetahui tentang Lia? ataukah Lia masih ada hubungannya dengan Roni dan Nadine?" tanya Dokter Roni seraya mendekati mamahnya dan duduk di bibir ranjang berdampingan dengan mamanya tersebut, dan Dia menggenggam tangan mamanya.


" Mah saatnya Roni harus tahu, apa permasalahan ini." ucapnya.


Lagi-lagi tante Raisa masih menarik napasnya dengan pelan.


" Maafkan Mama Roni, selama ini Mama memang tidak bisa menjadi Ibu yang baik untuk kalian berdua."


" Mama itu sudah menjadi Ibu yang baik untuk Nadine Dan Roni,Mama itu wonder woman bagi Roni dan Nadine, Mama itu wanita yang hebat ibu yang hebat dan wanita yang tangguh. Roni dan Nadine bangga sama Mama,walaupun Mama sendiri mendidik dan menjaga Roni dan Nadine sampai menjadi seperti sekarang ini, Roni dan Nadine bangga mempunyai Mama seperti Mama, walaupun tanpa Papa, Mamah masih bisa berjuang sampai saat ini,pinta Roni sekarang tolong Mah ceritakan semuanya, biar giliran Roni yang berjuang untuk menyelesaikan semuanya, kalau seandainya permasalahan Lia itu masih ada hubungannya dengan Nadine dan Roni biarkan Roni yang menyelesaikannya." ucap Dokter Roni seraya menepuk pelan tangan Tante Raisa.


Tante Raisa menatap kearah anaknya.


" Benar apa kata Roni dia harus tahu semuanya, karena dia adalah saudara tertua dari mereka semua." batin Tante Raisa berbicara seraya menatap kewajah anaknya.


" Mama yakinkan sama Roni, ceritalah sama Roni, walaupun cerita itu pahit bagi Mamah ataupun bagi Roni, tapi Roni tidak akan mengatakan Mama jahat tidak akan pernah, Mama pasti menyembunyikan semuanya Itu demi Roni dan Nadine. " ucapnya seraya meyakinkan mamahnya.


" Baiklah Roni saatnya kamu harus tahu semuanya dan kenapa Mamah menyembunyikan kisah ini bertahun-tahun sampai kalian dewasa, karena Mama tidak ingin kalian mengetahui semuanya, cukup Mama dan Allah saja yang mengetahuinya,tapi sekarang Mama akan menceritakannya."


" Baiklah Mah Roni akan mendengarkannya, ceritalah pada Roni walaupun itu merasa sakit sekali, Roni akan tetap menerimanya kalau memang Lia masih ada hubungannya dengan Nadine dan Roni." ucapnya lagi.


Tante Raisa menarik napasnya dengan pelan dan melepaskannya dengan berat, seberat beban yang selama bertahun-tahun dia pendam sendiri dan akhirnya dia pun ingin menceritakannya kepada anak tertuanya itu, karena dia tahu Roni adalah anak yang penurut penyayang dan tidak mudah marah.


" Mah ceritalah Roni siap mendengarkannya."


" Kalau kamu sudah mendengarkan cerita ini Mama belum sanggup untuk mengatakannya dengan Nadine."


" Kalau masalah Nadine,Roni yang akan menceritakannya pada Nadine, Nadine pasti mengerti karena Nadine itu anak yang baik anak yang penurut." ucapnya lagi.


" Sebelum mama cerita semuanya Mama ingin mengatakan padamu nak,kalau papamu sudah meninggal dunia."


" Apa Mah?! innalillahiwainnailaihirojiun." ucap Dokter Roni sembari terkejut,tapi Dia langsung menguasai keterkejutannya,karena dia sudah berjanji pada sang Mama tidak akan marah sepahit apapun ceritanya.


" Maafkan mama ya nak karena Mama tidak mengatakannya kepada kalian berdua."


" Tidak apa-apa Mah, mungkin ini sudah garis yang Maha kuasa, lagipula selama Papa masih ada dia tidak pernah peduli dengan Roni dan Nadine yang bersama dengan Mama." ucap Dokter Roni pelan.


" Mah sebenarnya jauh dilubuk hatiku yang paling dalam Aku sangat merindukan belaian kasih sayang Papa, tapi Papa tidak pernah peduli dengan Aku dan Nadine yang berada bersama dengan Mama, saat itu Diriku memang masih kecil, dan Aku harus dititipkan dengan Nenek yang berada di Bandung untuk bersekolah dan Mama berada di kota ini, saat itu Mama sedang mengandung Nadine, Entah bagaimana ceritanya Aku hanya menemukan Mama dan adikku yang berada di rumah dan tanpa Papa,Papa semenjak itu tidak pernah lagi berada bersama dengan kami, Mama juga tidak mau mengatakan kenapa papa bisa pergi meninggalkan kami,saat itu Aku tidak ingin tahu perihal masalah orang dewasa dan Aku juga tidak mau tahu kemana Papah pergi karena bagiku Papa juga tidak menyayangi Diriku, semenjak kecil Aku sudah ikut dengan Nenek, karena Nenek meninggal dunia barulah Aku mau ikut dengan Mama,Tapi biar dimanapun Aku berada Aku sangat bersyukur,karena Nenek selalu mengajarkan sopan santun dan selalu menghargai kedua orang tuaku walaupun sikap Papahku tidak menyenangkan bagi ku waktu itu sampai sekarang pun Aku tetap sangat menyayanginya." ucap Batinnya terbesit doa dari mulutnya memberikan doa terbaik untuk Papahnya yang sudah tiada.


Dikamar Tante Raisa tidak ada suara setelah Tante Raisa mengatakan kalau Papahnya tersebut sudah meninggal dunia Dokter Roni terdiam, begitu pula dengan Tante Raisa dia juga diam tapi matanya menatap kearah anak sulungnya tersebut.


" Roni " panggilnya.


" Ya Mah " ucap Dokter Roni seraya menatap sang Mamah yang menatap kearahnya.


" Maafkan Mama ya Nak, karena Mama tidak mengatakan ini kepadamu ataupun kepada Adikmu."


" Tidak apa-apa mah, mungkin ini sudah diatur oleh yang mahakuasa." ucapnya menarik nafasnya dengan pelan.


" Apakah Mama tahu di mana makam Papa?"


" Mama tahu Nak."


" Nanti kita berkunjung ke sana ya Mah "


Tante Raisa menganggukkan kepalanya.


" Iya nak kita nanti akan berkunjung ke sana. Setelah Mama pikir Mama saja yang akan menceritakan semuanya kepada Nadine,karena ini semua kisah tentang Mama."


" Tidak apa-apa Mah, nanti Roni yang akan menceritakan dengan Nadine dan Roni sudah berjanji kalau Nadine adalah urusan Roni."


" Tidak Nak,kamu tidak perlu mengatakannya kepada Nadine, nanti Mama saja yang akan menceritakannya kepada Nadine."


Dokter Roni hanya menganggukkan kepalanya, Dia kemudian mengusap wajahnya.


" Maafkan Mama sekali lagi ya Nak." ucap Tante Raisa sembari mengusap pundak anak sulungnya tersebut.


Dokter Roni menganggukkan kepalanya.


" Mah, Apakah ini ada hubungannya dengan Lia?" tanya Dokter Roni seraya menoleh kearah Tante Raisa.


Tante Raisa kemudian melepaskan tangannya dari pundak anaknya tersebut,dan Dia menatap ke arah jendela dan Dia pun langsung berdiri serta mengambil sesuatu di dalam laci meja dekat jendela tersebut, Dokter Roni memperhatikan Mamanya yang sedang mengambil sesuatu di dalam laci meja itu.