THE SWEETNESS OF LOVE AND FRIENDSHIP

THE SWEETNESS OF LOVE AND FRIENDSHIP
BAB 227



Abiyasa mendekati adiknya dan merangkul pundak adiknya itu, Almira menatap kearah sang kakak.


" Kak Abi, ini Nika, Nika ini teman Almira kak, yang Almira ceritakan kepada kakak, dialah yang sering diikuti oleh laki-laki yang sebenarnya Nika kenal juga." celoteh Almira Abiyasa hanya menganggukkan kepalanya agar adiknya itu bisa tenang.


Amelia pun terkejut saat Almira berbicara seperti itu, dia menatap kearah Almira, Arvin kemudian mendekati Almira.


" Almira, kamu bilang apa tadi dek? laki-laki yang mengikuti Nika, sebenarnya Nika sudah kenal dia?"


" Iya Kak, Dia pernah cerita sama Almira saat dia berangkat ke sekolah terlihat wajahnya pucat sekali, seperti orang ketakutan, Almira bertanya padanya dan dia pun menjawab kata dia diikuti oleh seseorang, waktu itu Almi melihat kebelakang dan melihat juga keluar gerbang sekolah, tapi tidak ada seorang pun yang mengikuti Nika, Almi pun bertanya lagi kepada Nika, Apakah dia kenal dengan orang yang mengikutinya itu, dia hanya menganggukkan kepalanya, dia pun terlihat ketakutan langsung memeluk Almi, setelah itu Almi tidak menanyakan lagi karena takutnya Nika merasa tertekan dengan pertanyaan Almi, makanya Almi tidak bertanya lebih lanjut lagi pada Nika." ucapnya.


Kemudian Arvin pun menatap ke arah Amelia.


" Mbak sekarang saya bertanya, sebenarnya laki-laki itu siapa? Apakah kekasihnya Nika atau ada hubungannya dengan Mbak sendiri?" tanya Arvin.


Amelia hanya diam dan dia menundukkan kepalanya.


" Kak Amelia sebaiknya kak Amelia cerita saja,siapa laki-laki itu dan kenapa dia selalu mengikuti Nika, Nika salah apa dengan dia Kak? Kakak tidak tahu kan setiap Nika berangkat sekolah dia terus merasakan ketakutan, bahkan Almi juga pernah mengatakan lebih baik dia ikut sama Almi pulang dan pergi ke sekolah, tapi dia malah nggak mau, dia berkata tidak ingin merepotkan keluarga Almi, karena laki-laki yang mengikuti itu bisa saja mencelakai keluarga Almi." ucap Almira lagi.


Abiyasa pun ingin mengetahui lebih jauh lagi, kemudian dia pun mengajukan pertanyaan dengan Amelia.


" Mbak Amelia, lebih baik mbak berbicara aja, sebenarnya ada apa? siapa tahu kami bisa membantu kamu Mbak,daripada nanti adek Mbak yang jadi sasarannya, Oke! ini tidak terjadi kecelakaan secara fatal, Tapi siapa tahu nanti setelah keluar dari rumah sakit, dia terus mengikuti adik Mbak, Ada masalah apa sebenarnya mbak ceritalah pada kami."


Amelia tetap diam, dia tidak mau mengatakan kepada siapapun tentang masalahnya, karena dia tidak ingin orang lain jadi sasaran empuk lelaki tersebut.


" Baiklah Mbak, kalau mbak tidak mau bicara nanti kita akan bicara menanyakan ini semua Setelah Nika sadarkan diri." Ucap Arvin lagi.


Kemudian seorang dokter yang menangani Nika pun memasuki ruangan tersebut, Dia kemudian mengecek denyut nadinya serta melihat perkembangan dari Nika, dia mengerutkan keningnya dan dokter Roni pun melihat Dokter Siska merasa heran dia pun mendekati Dokter Siska.


" Kenapa dok? apa ada perubahan dengan kondisi pasien sekarang?"


" Begini dokter Roni, saya juga heran,sebenarnya kalau kita sudah memberikan penanganan biasanya dia cepat sadar, tapi kenapa ini malah tidak sadar sampai beberapa jam ini." ucap Dokter Siska, dokter Roni pun kemudian mengamati kembali kondisi dari jarum infus yang masih normal seperti biasanya, dia pun juga melihat merasakan denyut nadi dari korban tetap saja sama.


" Seharusnya dia sudah sadarkan diri, tapi kenapa sampai sekarang belum sadarkan diri juga ya?" Ucap Dokter Roni.


" Sepertinya dia mengalami trauma yang sangat dalam, sehingga dia tidak ingin kesadarannya pulih." ucap Dokter Siska.


Dianggukkan oleh dokter Roni.


Mendengar ucapan kedua dokter tersebut Amelia merasa khawatir dengan keadaan sang adik.


" Jadi gimana dok, dengan adik saya? apakah adik saya ada yang aneh? tolong dok jelaskan kepada saya." ucap Amelia Seraya menatap ke arah Dokter Siska, Dokter Siska pun menarik napasnya dengan pelan dan melepaskannya dengan berat.


" Maaf mbak ini siapanya pasien?"


" Saya ini kakaknya."


" Oh keluarga pasien,baiklah saya akan menjelaskan pada mbak, sebenarnya pasien ini tidak apa-apa, tapi sepertinya dia mengalami trauma yang mendalam, sehingga dia tidak mau membuat kesadarannya pulih, kita tidak tahu apa yang terjadi di saat sebelum ditemukan di jalan itu." Ucap dokter Siska.


" Ya Allah kenapa sampai seperti ini kamu Dek." ucap Amelia seraya membelai lembut kepala adiknya tersebut.


" Tolonglah Dek, Jangan bikin kakak seperti ini, kamu harus sadar dan kamu harus mengatakan semuanya, apa yang terjadi denganmu, kalau seandainya dia melakukannya kepadamu, kakak tidak akan membiarkan dia hidup, Kakak akan membalas semuanya kepadanya,cukup mamah dan papah jadi korbannya jangan lagi kamu dek." ucapnya pelan, tapi sempat terdengar oleh Abiyasa.


Abiyasa pun langsung menoleh ke arah Amelia, dia menatap lekat ke arah Amelia tersebut, kemudian dokter Roni pun menarik Abiyasa pelan menjauh sedikit dari Amelia.


" Ada apa Biy ?" tanyanya.


" Sepertinya ada sesuatu yang aneh dengan Amelia ini." ucap Abiyasa.


" Ya itu, yang kami bicarakan dari tadi, tapi dia tidak mau mengatakannya, apakah mungkin kita tidak boleh mengetahui apa yang terjadi dengan keluarganya, atau dia ada punya masalah dengan orang lain, entah itu masalah percintaan ataupun masalah keluarga yang memang mengharuskan mereka tidak mau menceritakannya ke orang lain." ucap dokter Roni lagi.


" Bisa jadi Kak, karena terlihat dari wajahnya dia menyimpan rasa kecemasan yang sangat dalam." lanjut Abiyasa.


Arvin hanya menganggukkan kepalanya saja mendengar pembicaraan mereka berdua.


" Sebenarnya tadi yang aku ceritakan kepadamu tentang wanita yang ingin masuk ke kantorku itu adalah dia."


" Jadi perempuan itu adalah dia."


" Iya, karena keraguan Dia mungkin ingin melaporkan suatu kejadian atau suatu masalah, tapi dia takut karena ancaman." Ucap Arvin.


" Sepertinya Memang! karena ancaman, dari wajahnya terlihat jelas kayaknya dia memang diancam seseorang untuk tidak melaporkan ke polisi ataupun tidak membicarakannya kepada orang lain, kita harus ungkit ini semua." ucap Abiyasa.


" Tapi kan kamu polisi Vin, jadi kamu berhak untuk mencari tahu semuanya ini, apalagi dia kan sudah berniat untuk melapor ke polisi." Lanjut Abiyasa.


" Bener juga ya Biy, Apa kata kamu, kita akan bicarakan nanti."


" Tapi kalau bisa tetap ada orang yang menjaga di sini, karena aku takut laki-laki itu pasti akan mencari tahu keberadaan mereka berdua, karena laki-laki itu pasti mengawasi rumahnya sekarang, kan rumahnya kosong, mereka kan berada di rumah sakit saat ini."


" Oh siap Biy, nanti anak buahku yang berada di sini." ucap Arvin.


Arvin kemudian mengambil gawainya dan mengambil gambar Amelia dan adiknya,yang sedang duduk di samping adiknya tersebut yang sedang terbaring di tempat tidur rumah sakit tersebut.


" Kenapa kamu ambil fotonya Vin?"


" Iya, buat diabadikan aja, siapa tahu kan nanti kita bisa bertanya pada orang tua kita, siapa tahu juga mereka mengenali wanita ini dan memudahkan kita untuk mencari tahu semuanya, Ya siapa tahu kan kita bisa menghubungi kedua orang tuanya." Ucap Arvin.


" Tapi menurut keterangan dari Almira orang tuanya sudah meninggal dunia." Ucap Abiyasa.


" Innalillahiwainnailaihirojiun." ucapan Arvin dan dokter Roni berbarengan."


" Yang benar kamu Biy."


" Iya Vin, kata Almi ceritanya seperti itu, Jadi hanya Amelia sang kakak yang tahu bahwa mereka itu ada keluarga di kota ini, ya siapa tahu kan kedua orang tua kita mengenali mereka."


" Ya udah kamu transfer fotonya ke gawai aku ya, biar aku tanya sama Papa dan Mama ku, siapa tahu mereka tahu juga siapa wanita itu, Ya setidaknya kita mempunyai amal untuk mempertemukan mereka dengan keluarganya, inilah sifat kita indahnya Cinta Dan persahabatan." Ucap Abiyasa.


Mendengar perkataan dari Abiyasa dokter Roni pun langsung menoleh ke arah Abiyasa, Abiyasa tersenyum menatap dokter Roni,dan dokter Roni pun langsung tersenyum juga.


" Kenapa kak, kakak tersenyum sih? Terlihat bahagia banget?" tanya Abiyasa.


" Enggak apa-apa kok, kakak tersanjung aja mendengar kata-kata kamu itu, indahnya Cinta dan persahabatan."


" Yaiyalah kak, the sweetness of love and friendship." Ucap Arvin.


" Gaya kamu Vin pakai bahasa asing segala." Ucap dokter Roni tersenyum.


" Iya kak, manisnya cinta dan persahabatan Kak,itulah kita heheh.."


Mereka tersenyum...


" Kamu tahu nggak Biy kalau ada yang sedang jatuh cinta."


" Siapa?"


" Kak Roni yang lagi jatuh cinta hehehe.." sambung Arvin.


" Iih.. apaan sih Vin,kedengaran orangnya, nanti malu lho aku." Kelakar dokter Roni.


" Jatuh cinta? jatuh cinta dengan siapa?" Tanya Abiyasa pelan.


" Sapa lagi, kalau bukan jatuh cinta dari pandangan pertama dengan dia itu tuh.." ucap Arvin seraya menunjuk dengan mulutnya memonyongkan bibirnya ke arah Amelia, tanpa sadar Abiyasa pun tertawa dengan lepas,dan mereka semua yang ada di dalam menoleh ke arah Abiyasa dan tanpa sengaja juga kebetulan tangan Nika pun dua-duanya bergerak, Amelia merasa senang adiknya mulai ada respon dengan menggerakkan tangannya, tapi matanya masih tertutup.


" Dokter... adik saya menggerakkan tangannya." Ucap Amelia, kemudian Dokter Siska pun kembali mengontrol denyut nadi dari Nika.


" Alhamdulillah dia mulai menguasai alam bawah sadarnya, sebentar lagi insya Allah dia pasti akan membuka matanya."


" Wah hebat kamu Biy,ternyata dia terkejut mendengar tawamu." Sambung Arvin.


Abiyasa mendekati Amelia.


" Maaf ya Mbak aku tertawa tadi nggak sengaja." ucap Abiyasa.


" Tidak apa-apa mas, karena tertawa Mas juga membuat adik saya menggerakkan kedua tangannya." ucap Amelia merasa bahagia karena sang adik mulai merespon suara.


Kemudian Amelia pun kembali menatap sang adik.


" Dek kamu bangun dek, kamu harus mengatakan semuanya." ucapnya lagi-lagi dia pun tidak bisa menguasai air matanya walaupun masih ada harapan untuk adiknya sadarkan diri, Amelia tetap merasakan kesedihan,dia menghapus air matanya tersebut dengan kedua tangannya, dokter Roni pun menatap kearah Amelia, ingin rasanya dia menenangkan Amelia dan merebahkan kepalanya di dadanya dan memberikan rasa ketenangan dan mengatakan bahwa dia tidak sendirian dalam menghadapi suatu masalah yang mereka tidak mengetahuinya seperti apa masalah yang dihadapinya, seperti mengalami kontak batin yang kuat dan merasakan kalau dirinya sedang ditatap oleh seseorang,Amelia pun kemudian menoleh kearah dokter Roni, dokter Roni memberikan senyuman termanisnya kepada Amelia.


Amelia pun merasa malu-malu dan memberikan senyumannya juga dan langsung menundukkan lagi kepalanya.


" Ya Allah,Apa yang harus aku lakukan sekarang ini, dengan debaran jantungku ini, karena saat ini jantungku berdebar-debar saat melihat dokter Roni memandangku saat mata kami beradu pandang, debaran di jantung ini pun semakin kuat ya Allah kuatkan aku." ucapnya di dalam batinnya seraya mengusap wajahnya dengan kasar dan membenahi rambut panjangnya tersebut, Sedangkan Abiyasa dan Arvin hanya tersenyum melihat tingkah dokter Roni yang selalu mencuri-curi pandang ke arah Amelia.