THE SWEETNESS OF LOVE AND FRIENDSHIP

THE SWEETNESS OF LOVE AND FRIENDSHIP
BAB 295



" Kalau memang Ibu Nellyana mengadopsi saudaranya Amelia, di mana dia sekarang? tidak mungkin Amir kan Bu? karena Amir adalah anak kandung ibu." Ucap Kak Nico.


" Ceritanya panjang Pak."


" Tidak apa-apa, Kalau ceritanya panjang, Ibu bisa menceritakan semuanya, Kami siap untuk mendengarkannya." Lanjut Papah Andre.


" Tapi saya masih merasa takut."


" Ibu jangan takut, in sya Allah, semuanya akan baik-baik saja." ucapnya Papa Boby seraya menyakinkan ibu Ema, tapi ibu Ema masih tetap terdiam, Dia terlihat ragu untuk mengatakan semuanya, tapi jauh didalam hatinya, kalau dia tidak mengatakannya, dia merasa bersalah dan kasihan dengan Amelia, karena sejak tadi dia selalu menatap Amelia, terlihat kegelisahan di wajah Amelia, karena dia merasa juga Amelia seperti dirinya cuma perbedaannya Amelia ingin mengetahui siapa sebenarnya saudara kandungnya yang beberapa tahun lalu terpisah dengannya akibat kecelakaan tersebut dan menewaskan saudara kandung Amelia perempuan dan kedua orang tuanya sedangkan dirinya ingin Amir mengetahui kalau dia adalah ibu kandungnya Amir.


Di rumah sakit...


Amir sedang duduk di ruang ICU kemudian dia pun dipanggil oleh suster agar memasuki ruangan, Amir yang terkejut dengan panggilan suster tersebut pun langsung melangkah dan memasuki ruangan di mana sang Mama sedang dirawat.


Ibu Nellyana tersenyum melihat sosok Amir sang anak, walaupun senyum itu dipaksakan, tapi dia berusaha memberikan senyumannya pada sang anak.


" Pak Amir ini adalah permintaan dari ibu Nellyana untuk berbicara penting pada Pak Amir, jadi saya mohon pada Pak Amir berhubung kondisi Ibu Nellyana yang masih tidak stabil, tolong jangan terlalu banyak diajak bicara, saya harap seperlunya saja." Ucap pak dokter yang menangani Ibu Nellyana, Amir pun menganggukkan kepalanya.


Kemudian dokter dan suster keluar sesaat membiarkan mereka berdua berbicara dengan terbata-bata ibu Nellyana pun berbicara dengan anaknya tersebut.


" Ada apa Mama? kenapa Mama memanggil Amir, lebih baik Mama istirahat saja biar mama cepat sembuh, kalau mama sudah sembuh Amir akan mengajak Mamah tinggal bersama Amir ke luar negeri dan kita akan menetap di sana."


" Terima kasih nak, tapi mama harus mengatakan sesuatu padamu."


" Sesuatu? tentang apa Mah?"


" Mir ..." terdengar tarikan nafas yang berat dari Ibu Nellyana, Dia kemudian perlahan menggerakan tangan kanannya dan menggenggam tangan sang anak, terlihat Air matanya keluar di sudut matanya, Amir pun langsung menghapus airmata sang Mama, Amir merasa sedih melihat keadaan mamanya itu.


" Sebelum mama menceritakan semuanya, mama harap kamu jangan membenci mama dan juga membenci Ibu Ema."


" Amir janji tidak akan membenci mama dan membenci Ibu Ema, Biar bagaimanapun Ibu Ema sudah merawat Mama selama Amir tidak berada disamping Mama."


" Katakanlah Mah, Amir akan mendengar perkataan mama."


Terlihat Ibu Nellyana pun tersenyum kemudian dia menatap langit-langit ruangan ICU, kemudian dia menatap kearah anaknya yang berdiri di sampingnya itu.


" Sebenarnya..." Ibu Nellyana menggantung kalimatnya.


" Sebenarnya aku tidak ingin mengatakan ini pada Amir, aku takut Amir akan membenciku dan dia juga akan membenci ibu kandungnya sendiri yaitu Ema, aku juga tidak ingin kalau Amir tidak mengetahui kalau dia bukan anak kandung ku, ya Allah kuatkan aku agar aku bisa berbicara dengan anakku ini, jangan ambil nyawaku sebelum aku menyelesaikan semuanya, aku mohon kepadamu ya Allah..." ucapnya di dalam batinnya seraya menatap Amir dengan lekat.


" Sebenarnya kenapa Mah? ada apa?"


" Kamu janji ya nak, kamu janji tidak akan membenci siapa pun setelah tahu semuanya."


" Iya Mah,Amir janji, tidak akan membenci mama dan membenci Ibu Ema serta siapa pun,tapi permasalahannya apa Mah?" Tanyanya.


" Bismillahirrohmanirrohim... kuatkan hamba ya Allah." ucapnya di dalam hati.


" Amir... sebenarnya kamu bukan anak kandung mama nak.." ucap Bu Nellyana sembari memejamkan matanya sesaat, bagaikan petir yang menyambar di wajahnya, Amir merasakan wajahnya terasa panas, tapi dengan sekuat tenaga dia menahan keterkejutannya itu di depan sang Mama.


Amir memejamkan matanya sesaat dan dia menundukkan kepalanya, kemudian dia mengusap wajahnya dengan kasar.


" Amir rasanya tidak percaya mah, kalau Amir bukan anak kandung mama, jadi ibu kandung Amir siapa mah?" ucapnya nyaris tidak terdengar.


" Ibu Ema...." ucap pelan Ibu Nellyana sembari nafasnya tersengal-sengal karena sesak di dadanya, menahan rasa tangis yang mau keluar dari kedua belah matanya, karena dia berbicara kebenaran.


" Ya Allah..." ucap Amir pelan dan dia pun menelungkupkan wajahnya di tangan sang Mama, tidak terasa air matanya menetes dan mengenai tangan mamanya itu, Ibu Nellyana pun merasakan tangannya hangat oleh Air mata Anaknya itu, dia pun kemudian perlahan mengangkat tangan kirinya, walaupun tangan kirinya tersebut menempel jarum infus dia membelai kepala sang anak.


" Maafkan Mamah nak, ceritanya panjang, Mamah mengadopsi mu saat itu dari Ibu Ema, ibu Ema datang dari desa ingin memerlukan pekerjaan dan mama mempekerjakannya di rumah untuk membantu mamah, saat itu papahmu melihat ibu Ema, diapun menyukainya, Ibu Ema tidak jahat, Ibu Ema Mama suruh menikah dengan Papah mu, agar bisa memberikan Papah mu keturunan, Karena papahmu menginginkan seorang anak hadir dikeluarga mama dan papa, setiap kami bertengkar hanya dipicu tentang anak, sampai akhirnya Ibu Ema pun mau menikah dengan papa secara sah, kami tinggal dalam satu rumah sampai akhirnya kamu pun hadir diantara kami, Tapi sayangnya papahmu memilih pergi meninggalkan kami berdua dan menikah lagi dengan orang lain, sampai akhirnya Papah mu meninggal dunia,tapi sebelum Papamu meninggal dunia dia sempat meminta maaf kepada mama dan Bu Ema, pinta Mama, maafkan papamu nak, ibu Ema disakiti oleh Papa mu ditinggalkan saat kamu lagi kecil, Mama juga sudah mengatakan kepada Ibu Ema agar memberikan maafnya kepada papahmu saat itu, sebelum akhir dia menutup mata, tapi Ibu Ema keras tetap tidak mau memaafkannya dan dia pun memilih pergi dari rumah sakit tempat papamu dirawat." terang Ibu Nellyana sembari tersengal-sengal memberikan keterangan kepada sang anak, sesekali dia menghela nafasnya dengan dalam dan berhenti dalam bercerita, sampai kemudian dia pun melanjutkan kembali ceritanya sampai akhir, Amir hanya mendengarkan cerita hidupnya yang sangat tragis mempunyai dua orang ibu yang sama-sama menyayanginya dan mempunyai seorang ayah tapi Sayang Ayahnya tidak menyayangi dia setelah Dia hadir di antara mereka semua, rasanya Amir ingin teriak, ingin marah dan ingin memukul semuanya, tapi dia tidak berdaya, karena di depan mamanya yang sedang sakit, apalagi dia sudah berjanji tidak akan pernah membenci siapapun, dia hanya bisa menarik napasnya dengan panjang dan melepaskannya dengan berat, rasanya Dia tidak percaya kalau dia ternyata adalah anak dari ibu Ema, Ibu Ema yang selama ini dianggap teman sahabat dari sang mama dan tidak pernah Dia mengira kalau ibu Ema tersebut adalah ibu yang telah melahirkannya ke dunia ini.