THE SWEETNESS OF LOVE AND FRIENDSHIP

THE SWEETNESS OF LOVE AND FRIENDSHIP
BAB 246



Nika menatap kearah Papah Bobby.


" Beneran Om?" Tanyanya seperti orang yang tidak percaya dengan ucapan papah Boby.


" Iya, Om tidak pernah bohong nak, kalau sudah kamu sehat kita akan berangkat ke luar negeri." Ucap papah Boby sembari tersenyum.


" Terima kasih ya Om " ucapnya terlihat senang


" Ya Sayang, sama-sama.. lebih baik kalian bersihkan saja diri kalian, setelah itu kalian istirahat." ucap papa Boby.


Dianggukkan oleh mereka semua.


Amelia pun kemudian diajak oleh Clarissa untuk memasuki kamarnya agar mereka bisa beristirahat.


Setelah Clarissa menunjukkan kamar untuk Amelia dan adiknya tersebut, dia pun kemudian keluar dari kamar itu, dia menuruni anak tangga yang menghubungkan lantai atas dan lantai bawah yang ada di rumah orangtuanya tersebut.


" Mama.. di mana Carlo?" sebelum Mama Lala menjawab Carlo udah menjawab panggilan dari kakaknya itu.


" Carlo di sini Kak, Memang kenapa? nyari-nyari Carlo? rindu ya?" ucapnya tersenyum.


" Ihh.. siapa juga yang rindu sama kamu." Ucapnya seraya mencibir.


" Kalau nggak rindu berarti kangen dong hehehe.." kekeh Carlo.


" Ish...ish..! siapa juga yang kangen sama kamu pede amat sih!"


" Tadi buktinya? nyariin Carlo, berarti itu sama aja kan kangen " ucap Carlo sembari terkekeh.


" Ngapain kamu diruang TV sendirian?"


" Nggak ngapa-ngapain " ucapnya seraya menatap layar gawainya, kemudian senyum Carlo mengembang, meskipun dia berbicara dengan Clarissa tapi wajahnya tidak menatap kearah Clarissa.


" Ngapain Kamu senyum-senyum sendiri, lama-lama jadi gila lo senyum-senyum sendiri hehehe." Ucap Clarissa terkekeh.


Tapi Carlo tidak menggubris perkataan dari sang kakak dia terus saja menatap layar gawai nya dan lagi-lagi memberikan senyuman termanisnya di depan layar gawainya tersebut.


Clarissa pun kemudian mendekati Carlo.


" Chat-an sama siapa kamu?" tanya Clarissa sembari menengok ke arah layar gawai sang adik, Carlo pun langsung menjauhkan gawainya dari kakaknya tersebut.


" Iihh!! apaan sih Kak, Carlo kan chat-an sama teman Carlo."


" Cewek apa cowok ?"


" Ya cowok lah kak! masa cewek sih " Bela Carlo.


" Masa sih? kalau chat-an sama cowok kenapa kamu tersenyum sendiri? Jadi curiga nih kakak."


" Iih.. kakak curiga apaan sih? Masa sama adik sendiri kok curigaan, dosa tahu!"


" Kamu ini normal apa enggak sih?" Kekeh Clarissa.


" Kak Risa, adikmu yang ganteng Ini seganteng separo dunia ini, ya masih waras lah kak, masih normal lagi kak, Dan hati ini masih menyukai lawan jenis." Ucapnya seraya tersenyum pada sang kakak.


" Hehehehe... kirain tadi suka sama sesama jenis." Ucap Clarissa seraya terkekeh.


" Astaghfirullahaladzim, Ya Allah ya Tuhanku ampunilah dosa kakakku ini." ucap Carlo seraya mengusapkan kedua tangan ke wajahnya.


Clarisa pun tersenyum dan mendorong pelan kepala adiknya itu.


" Heh! Semprul! kurang asem baget sih." Ucapnya tertawa.


" Hehehe, habisnya Kakak sih ngomong seperti itu, omongan itu adalah doa, sama aja kakak mendoakan Adiknya sendiri menyukai lawan jenis, Iih... amit-amit ya Allah jauhkan dari segala perkataan Kak Clarissa." Ucap Carlo sembari bergidik.


" Mama!!papah!!" Teriak Clarissa,papah Boby dan Mamah Lala serta Marco yang masih duduk di ruang tamu pun langsung terkejut, mereka bertiga pun langsung berlari mendekat ke arah suara Clarissa itu.


" Ada apa? kenapa kamu teriak seperti itu?" Tanya mamah Lala.


" Apaan sih kak, mana ada Carlo punya pacar,ini chat-an sama sahabat Carlo."


" Katanya tadi kamu chat-an sama cowok kamu," ucap Clarisa tersenyum.


" Apa ? anak papah pacaran sama cowok? Oalah nak nak apa yang terjadi ini? dosa apa yang telah papah mu ini perbuat, sehingga anak papah pacaran sama laki-laki." Ucap Papah Boby seraya menepuk jidadnya sendiri.


" Ish... papah! apa apaan sih?! Papah sama Kak Clarissa sama aja deh ach! Ya nggak lah pah, nih lihat nih buktinya nih..." ucapnya seraya menunjukkan layar gawainya ke hadapan kedua orang tuanya dan Clarissa pun tertawa, Marco hanya bisa terkekeh karena melihat sang istri yang sudah berhasil menggoda sang adik.


" Masa sih? Chat-an sama sahabat kamu, kakak kan tak pernah liat kamu itu punya cewek, hehehe... makanya Kakak bilang seperti itu karena selama ini kan kakak nggak pernah lihat kamu jalan bareng sama cewek." Ucap Clarissa santai dengan tidak ada rasa bersalahnya pada Carlo sang adik.


" Hmmm...belum waktunya kali Kak, ada sih yang Carlo suka, tapi belum tentu dia suka sama Carlo."


" Ya usaha dong! tapi jangan sampai kebablasan ingat itu!" ucap Clarissa.


" Kalian berdua ini apa-apaan sih kira Mamah tadi ada apa-apa teriak-teriak, ternyata cuma urusan soal gawai aja, Ya udah kalau kayak gitu Mama mau lihat Mbak di dapur dulu, Mau masak apa untuk makan malam kita." ucap Mamah Lala di anggukan oleh mereka, kemudian Clarissa duduk di samping adiknya begitu juga Marco yang duduk di samping Papah Bobby yang sudah berada duduk di ruang tv.


Papa Boby dan Marco pun asyik berbicara sedangkan Clarissa sibuk menggoda sang adik yang sedang chat-an bersama dengan sahabatnya itu.


" Oh Ya Ris, kalian tidur di sini aja nginep lah beberapa hari,papa kan rindu juga dengan kalian, walaupun kalian tinggal dalam satu kota sama papah,tapi rasa Papa kalian tuh jauh banget."


" Iya pah, rencana Clarissa memang seperti itu sih, Clarissa mau nginap di tempat Papa, ya kan sayang." ucapnya seraya menatap sang suami, Marco hanya menganggukan kepalanya.


" Ya sudah kalau seperti itu, silakan kalian berbincang-bincang dulu, Papah mau menghubungi Om Andre mu dulu dan mengatakan kalau Nika dan Amel Sudah pulang dari rumah sakit dan memberitahukan kabar Kalau sopir angkot itu sudah berada di kantor polisi."


" Iya pah. " ucap Clarissa kemudian kembali asik lagi dengan mengganggu sang adik yang sedang asik dengan layar gawainya.


Papa Boby pun kemudian mengambil gawainya dan menjauh dari Marco dan Clarissa.


Dia berjalan ke teras depan dan langsung menghentakkan tubuhnya di sofa yang ada di teras depan rumahnya itu, dia menghubungi papah Andre.


Beberapa saat kemudian pembicaraan Mereka pun tersambung.


" Assalamualaikum.."


" Waalaikumsalam, Ada apa Bob?"


" Mau kasih tahu kalau Amelia dan Nika sudah keluar dari rumah sakit dan berada di rumahku sekarang."


" Alhamdulillah, kalau seperti itu, bagaimana keadaan Nika?"


" Alhamdulillah mulai membaik, oh ya Ndre, tadi setelah kami pulang dari rumah sakit kami berpapasan dengan sopir angkot yang membawa Nika ke orang jahat itu."


" Terus Kalian tangkap?"


" Abiyasa belum cerita denganmu?"


" Abiyasa belum pulang ke rumah, aku juga menunggu kabar darinya, karena istrinya baru aja menghubunginya tadi, katanya dia berada di kantor polisi bersama Morgan dan Arvin."


" Nah itu dia! mereka mengantar sopir angkot tersebut, sopir angkot itu mereka amankan di kantor polisi." ucap papah Bobby.


" Terus gimana rencanamu sekarang?"


" Justru itu, aku ingin kita berempat berbicara bersama dan beserta anak-anak kita, membicarakan rencana selnjutnya bagaimana, kalau aku sih sudah nggak sabar pengen menemukan dalang dari ini semua."


" Jangankan kamu Bob, aku juga ingin menemukannya dan ingin juga melihat bagaimana sih wajah dalang orang yang telah membuat Sinta dan Rendy sampai meninggal dunia, okelah! mungkin saja Sinta mengalami tekanan batin hingga membuat dia sakit dan meninggal dunia, yang aku ingin tahu sekali kenapa Rendy meninggal dunia di penjara penyebabnya itu apa?"


" Ya udah kalau seperti itu nanti sehabis salat isya aku ke rumahmu ya, kita bicara selanjutnya."


" Enggak usah, kamu enggak usah ke rumahku, kami yang akan ke rumahmu."


" Baiklah kalau seperti itu, ya sudah kalau gitu, aku tunggu ya kedatangan kalian, Assalamualaikum..."


" Iya Waalaikumsalam..."


Pembicaraan itu pun terputus, papa Boby pun menghela nafasnya dengan dalam, dia pun kemudian menatap layar gawainya sesaat dan meletakkannya di meja yang ada di samping sofa yang ia duduki tersebut, kemudian dia menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa dan menatap jauh ke arah jalan dimana kendaraan sudah mulai terlihat lampu kendaraan yang hilir mudik di depan rumahnya tersebut.