
Sesampainya dirumah sakit Abiyasa langsung memarkirkan mobilnya dan melangkah menuju kearah ruang UGD mereka berjalan bergegas menuju keruangan tersebut.
Anindita belum mengetahui kecelakaan yang menimpa papahnya dan yang lainnya itu, dia sedang berbicara dengan dr Roni tentang fhoto yang dikirim Abiyasa padanya.
" Dita, kamu merasa tidak asing nggak dengan anak yang ada di fhoto ini?" tanya dr Roni.
" Iya kak, itu yang aku mau tanyakan pada kakak, tapi aku rada-rada lupa sih, dimana aku melihatnya." ucap Anindita.
Mereka pun terdiam saling memandangi fhoto tersebut...
" Ah...aku ingat kak, bukankah ini fhoto masa kecilnya..." Anindita menggantung kalimatnya karena ada ketukan dipintu ruangannya.
" Masuk..." ucapnya, pintu terbuka dan seorang suster langsung menghampiri mereka berdua yang sedang duduk bercerita.
" Maaf dok, diruangan UGD pak Andre dan yang lainnya sedang ditangani."
" Ditangani? maksud suster ? papah kenapa?" tanya Anindita.
" Pak Andre dan beberapa orang sedang ditangani karena beliau sedang mengalami kecelakaan barusan."
" Apa? ya Allah papah..." ucapnya segera berdiri dan bergegas melangkah keluar ruangannya dan langsung berlari menuju kearah UGD.
" Apa ada seorang wanita dikecelakaan itu sus?" tanya dr Roni dianggukkan suster.
" Ya Allah Amelia..." ucapnya secepat kilat dr Roni berdiri dan melangkah menuju UGD menyusul Anindita.
" Papah....papah nggak apa-apa? " tanya Anindita seraya memeriksa sang papah yang sudah ditangani mereka.
" Papah nggak apa-apa nak..." ucap papah Andre melihat kekhawatiran anak tersebut.
" Dita...papah nggak apa-apa dek, yang lainnya juga nggak apa-apa cuma kak Nico yang lagi ditangani." ucap Abiyasa.
" Biy jangan kasih tahu dulu dengan mamah ya nak, papah nggak tega liat mamah kamu nanti menangis nanti aja setelah papah agak tenangan baru papah aja yang kasih tahu mamah." ucap papah Andre dianggukkan Abiyasa.
Terlihat seorang suster mendekati Anindita..
" Dok, pasien keritis..." ucapnya
Anindita pun langsung melangkah cepat keruangan kak Nico, mamah Melisha yang berada diruangan tersebut pun langsung lemah tak berdaya dan langsung tak kuasa menahan tangisnya, Nayra langsung memeluk sang mamah.
Arvin dan istrinya beserta kakak iparnya pun sudah memasuki halaman rumah sakit dan memarkirkan Mobilnya dengan langkah tergesa-gesa mereka bertiga langsung menuju arah UGD, terlihat Abiyasa dan yang lainnya sudah berada diruangan tersebut.
" Biy...bagaimana keadaan Om Andre dan yang lainnya?" tanya Arvin, belum sempat Abiyasa menjawab pertanyaan Arvin, Lia sudah menanyakan keadaan calon suaminya, dengan berat hati papah Davit mengatakan keadaan kak Nico yang sedang kritis, dan saat mendengar keadaan tersebut Lia pun langsung lemas dan hampir saja jatuh untung saat itu Clarissa ada disamping Lia dengan sekuat tenaga Clarissa dan Nadine menangkap tubuh Lia yang lemah tak berdaya setelah mendengar kondisi Kak Nico, Lia pun dibawa duduk disamping calon mertuanya yang sedang menangis begitu juga dengan Lia yang membiarkan Air matanya mengalir dipipi mulusnya itu.
Dr Roni yang berada disamping pembaringan calon istrinya langsung mendekati sang Adik yang sedang duduk disamping Nadine.
" Dek, banyak-banyak berdoa semoga Nico tidak Apa-apa..." ucap dr Roni pada sang Adik.
Lia menganggukkan kepalanya sembari menatap ruangan dimana sang calon suami sedang ditangani.
" Ya Allah, jangan Engkau ambil mas Nico dari hamba, hamba memohon selamatkan mas Nico ya Allah, hanya padamu ya Allah hamba memohon, dan ujinkan hamba bersama dengannya hanya pada mu ya Allah hamba memohon,,,selamatkan mas Nico ya Allah." ucap Batinnya mengucap doa pada yang maha kuasa dengan masih mengalirnya air matanya, kemudian tangan mamah Melisha merangkul calon memantunya tersebut dan Lia menoleh sesaat dan langsung menelungkupkan wajahnya dipelukan sang calon mertua, dia pun menumpahkan air matanya.
" Sabar nak, in sya Allah, Allah akan mendengar doa kita semua dan mengabulkannya dan Nico akan membaik seperti sedia kala." ucapnya sembari mengangkat wajah calon mantunya tersebut dan menghapus buliran bening yang jatuh dipipi sang mantu, Lia hanya mengagguk dan mengucapkan kata Amin dengan pelan, tidak bisa dipungkiri lagi hatinya sangat sedih, karena lelaki yang sangat dicintainya dan menerima dia apa adanya sekarang mengalami masa kritis.
Kemudian Abi Yosep dan Ayah Candra yang kebetulan berada dirumah sakit yang sama itu pun langsung menemui kedua sahabatnya yang sedang mengalami kecelakaan.
Bertepatan dengan kedatanga mamah Lala, dia terkejut setelah mendapat chat pribadi dari sang anak, dia pun langsung menuju kearah rumah sakit, ini kali kedua papah Andre dan papah Boby mengalami kecelakan yang hampir saja merenggut nyawa mereka berdua.
" Mbeb...kamu nggak Apa-apa kan, apa yang sakit mbeb...mana Amelia? " tanya Mamah Lala.
" Ayang Mbeb, aku nggak apa-apa, aku cuma luka memar di tangan saja anggota tubuh yang lain nggak ada yang luka...itu Amelia sedang beristirahat, dia cedera di keningnya luka sobek sedikit dan tangannya terkilir, dan Andre luka memar di kaki dan luka sedikit ditangannya karena terkena pecahan kaca jendela taksi, dan sopir taksinya tidak cedera sama sekali, tapi yang parah Nico." terang papah Boby sembari menghela nafasnya dengan pelan.
" Ya Allah...apa saja yang diderita Nico mbeb?"
" Belum tahu lagi mbeb, karena tadi dia langsung tak sadarkan diri dan kaki dan tangannya tadi penuh darah dan baru saja katanya dia kritis, ini saja Anindita belum keluar dari dalam ruangan dimana Nico dirawat.
" Ndre...Bob...kamu nggak apa-apa?" tanya Abi Yosep dan Ayah Candra sesampainya mereka diruang UGD.
" Dari mana kalian tahu kami ada disini."
" Arvin yang kasih tahu aku Ndre}." ucap Ayah Candra.
" Apa Arvin ngasih tahu Adel Ndra..." tanya papah Andre.
" Nggak Ndre, Aku sudah bilang padanya nggak usah dikasih tahu bundanya, ntar bundanya ngasih tahu lagi ke Anisha, karena aku takut kalau istrimu nanti malah terkejut inikan kali kedua kalian berdua kecelakaan." ucap Ayah Candra.
" Mbeb kamu juga jangan bilang dengan Anisha ya."
" Iya mbeb...tapi kasihan Anisha kalau nggak dikasih tahu."
" Iya La memang kasihan, nanti aku aja yang ngasih tahu setelah semuanya beres." ucap papah Andre.
Dianggukkan oleh mereka semua yang ada diruangan UGD tersebut.
" Kami nggak apa-apa Yos, tapi Nico yang parah, karena posisi Nico berada dikursi depan samping sopir, seharusnya aku yang berada diposisi Nico, tapi entah kenapa semenjak berada dikota B saat memasuki mobil dia selalu melarang aku duduk disamping sopir,sampai berada dikota kita ini dia juga dia melarang aku duduk didepan padahal tidak biasanya seperti itu, dia beralasan yang sama dia mengatakan kurang aman aja, aku merasa Nico berbicara seperti itu sepertinya sudah tahu akan terjadi sesuatu makanya dia yang menghalangi aku, karena aku sudah pernah mengalami apa yang dialaminya sekarang dan dalam keadaan kritis dan koma, aku merasa bersalah dengan ponakan ku itu, ya Allah sadarkanlah Nico ya Allah.." ucap papah Andre terlihat sedih dalam nada bicaranya.
" Kak Andre, nggak ada yang tahu musibah yang akan menimpa, dan nggak ada yang tahu umur manusia itu sampai dimana, karena Nico berbuat seperti itu, karena mungkin baginya dia harus melindungi orang yang lebih tua darinya dari berbagai kejahatan yang ada, tapi dia tidak mengetahui kejadian yang tragis menimpa kalian semua, kita doakan saja semoga Nico tidak apa-apa dan dia dapat melewati masa kritisnya itu." ucap mamah Melisha.
" Iya kak, jangan mempunyai pikiran seperti itu kak, jodoh, maut dan risky adalah rahasia Allah, kita sebagai manusia, sebagai hambanya hanya bisa menjalani skenario darinya." sambung papah Davit.
Dianggukkan mereka semua...Hening! tidak ada suara mereka diruangan tersebut yang hanya terdengar dari para suster dan dokter yang sedang menangani pasien yang masuk keruang UGD tersebut.
Mereka terdiam dan larut dalam diamnya dan masing-masing mengucapkan doa untuk kak Nico.
Kemudian Lia melangkah keruangan kak Nico dan dia melihat dari jendela kaca dimana calon suaminya sedang berjuang diranjang ruangan tersebut, terlihat para suster dan dokter menanganinya berbagai macam alat menempel ditubunya termasuk alat deteksi jantung pun berada menempel ditubuhnya dan terlihat juga Anindita menangani kak Nico.
" Mas! sadarlah Mas, ingatlah mas aku dan Kevin yang sangat mengharapkan kamu berada disamping kami lagi mas, bukalah matamu mu mas demi kami, jangan tinggalkan aku dan Kevin mas, sadarlah Mas...ya Allah...ijinkan mas Nico hadir diantara kami berdua sadarkanlah mas Nico ya Allah lewatkan lah masa kritisnya ya Allah...." ucap Lia berbicara sendiri dengan pelan sembari menatap kearah kak Nico dari kaca luar dia menatap kak Nico yang memejamkan matanya dengan rapat.
Kemudian Clarissa mendekati Lia dan mengajaknya duduk kembali sembari memberikan kekuatan untuk Lia, Clarissa paham akan keadaan yang dialami Lia, siapa yang tidak sedih melihat orang yang disayangi mengalami musibah yang sangat tragis apa lagi tinggal hitungan hari lagi mereka akan bersama selamanya dalam ikatan pernikahan.
Kemudian datang Marco dia mendekati sang mertua dan menanyakan keadaannya dan yang lainnya, papah Boby pun menceritakan semuanya pada menantunya tersebut.
Merekapun menunggu harap-harap cemas tentang keterangan dokter yang menangani kak Nico termasuk Anindita yang belum keluar dari ruangan tersebut.