THE SWEETNESS OF LOVE AND FRIENDSHIP

THE SWEETNESS OF LOVE AND FRIENDSHIP
BAB 195



Mobil melaju menuju ke rumah kediaman Tante Raisa, di dalam salah satu mobil tersebut yang dikemudikan oleh Arvin.


Niko tersenyum sembari menyandarkan kepalanya di sandaran kursi mobil tersebut.


Niko menatap lurus kedepan karena kebetulan Dia duduk di samping Arvin yang sedang menyetir, Arvin melirik sesaat ke arah Niko.


" Bahagia banget nih Bang Niko mudah-mudahan aja kebahagiaan ini benar-benar terjadi antara Lia dan dirinya,dan Tante Raisa mau menerima lamaran dari Bang Niko, dan Tante Raisa tidak meragukan lagi kalau memang Bang Niko menyayangi dan mencintai Lia,Tante Raisa mau menerima Bang Niko sebagai menantunya." gumam Arvin di dalam batinnya.


Kemudian Dia kembali fokus menatap kearah depan dan melajukan mobilnya di jalan beraspal tersebut.


Sedangkan Niko masih tersenyum-senyum sendiri sembari terus menatap kearah depan.


" Aku bahagia sekali saat pertama kali melihatnya, sekejap saja wajah dan dirinya sudah mengisi relung hati ini, Aku merasakan kesempurnaan di dalam hidupku sekarang ini, jiwa raga ku ini sangat bahagia sekali menatap dirinya, in sya Allah Dia akan menjadi pelengkap dalam hidup ini yang sudah lama tidak lengkap, kesendirianku akan berisi dengan kebahagiaan ku bersama dengannya, ya Allah...lancarkanlah acara lamaranku saat ini, semoga saja Ibunya mau menerima Aku sebagai calon menantunya, karena Aku sangat merasakan kebahagiaan yang dalam bila bersama dengannya, karena keyakinan ini tidak seperti keyakinan saat pertama aku melamar Shaeneta istri pertamaku dulu, ya Allah jadikanlah Dia yang terakhir untukku dan menjadi bidadari surga di dalam hidupku." ucapnya di dalam batinnya kemudian dia mengusap wajahnya dengan kedua tangannya dan Dia membenarkan duduknya, kemudian Dia menoleh sesaat ke arah Arvin dan Arvin pun menoleh kearah Niko mereka sama-sama tersenyum.


Beberapa saat kemudian mobil yang mereka tumpangi pun sampai di kediaman Tante Raisa, mereka memasuki halaman rumah tersebut dan memarkirkan mobil mereka, mereka semua turun dari mobil.


Papa Andre kemudian melangkah mendekati pintu rumah tersebut, karena mereka memang tidak memberi kabar kepada yang empunya rumah walaupun Nadine sudah mengetahui kalau hari ini akan kedatangan keluarga Wibawa, tapi Dia memang sengaja tidak mengatakannya kepada Mamahnya dan Dokter Roni sang Abang, karena ini akan menjadi surprise bagi keluarganya, terutama untuk Kakaknya Lia, walaupun sebenarnya Arvin sudah mengatakan kepada Nadine agar memberitahukan akan kedatangan mereka hari ini kepada Tante Raisa,tapi Nadine memilih tidak mengatakannya karena ingin memberikan kejutan untuk Mamahnya tersebut.


Papah Andre menekan bel rumah Tante Raisa,beberapa kali sembari mengucapkan salam.


" Assalamualaikum " ucap Papa Andre beberapa saat setelah memencet bel dan mengucapkan salam pintu pun terbuka, ternyata Art rumahnya Nadine yang membukakan pintu.


" Waalaikumsalam, Maaf Bapak mau ketemu dengan siapa ?"tanyanya.


" Ibu Raisanya ada?"


" Oh ada, silakan masuk!" ucapnya tersenyum sembari mempersilahkan tamu Nyonya besarnya masuk.


Kemudian Nadine pun keluar dan melihat siapa yang datang.


" Om Andre? masuk Om! Mamah ada kok di dalam, bentar Nadine panggilkan, masuk dulu." ucap Nadine mengajak para tamunya masuk dan mengajaknya menuju ke ruang tengah rumahnya tersebut.


" Silakan duduk dulu, nanti Nadine panggilkan Mama sebentar." ucapnya tersenyum, kemudian Dia pun melangkah menuju ke kamar Mamahnya yang berada di lantai atas.


Arvin yang melihat sang kekasih sangat bahagia sekali, Dia pun terus menatap langkah calon istrinya itu menaiki satu persatu anak tangga menuju ke lantai atas.


" Arvin! gak usah terlalu diperhatikan ya nggak bakalan hilang Nadinenya, kita kesini untuk melamar Lia bukan melamar Nadine karena Nadine sudah dilamar Jauh-jauh hari." ucap Ayah Candra sembari tersenyum.


Arvin pun tersenyum...


" Biasa Yah! udah nggak sabar dua minggu itu lama nunggunya."


" Bukan dua minggu tapi satu minggu Nak." ucap Bunda Adel tersenyum karena melihat Anak sulungnya yang terlihat sudah nggak sabar ingin cepat-cepat menghalalkan Nadine.


" Hehehe...ya Bunda memang benar kata Tante Melisa kalau berminggu-minggu itu lama rasanya, orang mengatakannya hanya sebentar tapi diri kita pribadi sendiri yang merasakannya sangat lama." kekeh Arvin


" Yang sabar Bro! sebentar lagi hehehe..." ucap Abiyasa sembari terkekeh.


" Hehehe...kamu enak Biy,sudah segala-galanya, menikah sudah, punya istri yang cantikpun sudah,dan sebentar lagi mau menimang baby, nah! Aku calon istri hanya bisa dipandangi saja, belum sepenuhnya bisa disentuh." ucapnya kembali terkekeh.


Abiyasa hanya melirik sang istri,Ayesha hanya tersenyum saja menanggapi perkataan dari Arvin.


Mereka semua hadir untuk lamaran Lia sebagai istrinya Niko yang tidak hadir di acara tersebut Morgan dan Anindita,mereka berdua sama-sama memiliki kegiatan yang tidak bisa ditinggalkan,dan yang tidak bisa ikut Clarissa dan Marco,mereka berdua memang tidak diperbolehkan ikut karena mereka pasti capek karena baru saja menggelar acara pernikahan


Morgan memang tidak bisa ikut karena Dia ada kegiatan yang mengharuskan Dia mengikuti kegiatan tersebut, Sedangkan Anindita tidak bisa juga ikut dikarenakan ada kegiatan yang diadakan beberapa rumah sakit untuk pertemuan masing-masing kepala rumah sakit.


" tok tok tok"


" Mama..." panggil Nadine.


" Ya, buka aja nak." ucap Tante Raisa yang berada didalam.


Nadine pun membuka pintu kamar Mamanya tersebut Dia melihat Mamanya sedang duduk di sofa sambil membaca sebuah buku di dekat jendela kamarnya.


Tanta Raisa menatap kearah Anaknya yang sedang tersenyum melangkah menuju ke arahnya.


" Ada apa Nak?"


" Ada tamu di bawah."


" Tamu? pagi-pagi begini siapa yang bertamu? Mama nggak ada janji dengan orang untuk bertemu hari ini." ucapnya merasa heran.


" Di bawah ada Om Andre dan yang lainnya keluarga besar Om Andre datang ke sini ingin bertemu dengan Mama."


" Ada apa ya?"


Nadine hanya tersenyum dan mengangkat kedua bahunya untuk mengekspresikan ketidaktahuannya, padahal Dia sudah mengetahui kedatangan mereka ke rumahnya ini untuk melamar Kakaknya tersebut.


Tante Raisa menatap kearah Nadine.


" Kenapa Mama menatap Nadine seperti itu? Nadine memang benar gak tahu kok Mah." ucapnya tersenyum.


" Kamu jangan bohong lho Nak, biasanya kan kalau mereka datang ke sini pasti ada sesuatu, Kamu pasti sudah tahu! nggak mungkin kalau kamu tidak tahu Nak." ucap Tante Raisa menatap Nadine dengan lekat.


Nadine kemudian terkekeh...


" Gimana ya Mah Nadine menjelaskannya, lebih baik Mama tahu sendiri aja dari mereka, karena mereka udah terlalu lama nunggu Mama di sini, Ayo Mah buruan kita turun nanti dikira mereka kita tidak mau untuk menemui mereka." Ajak Nadine.


" Ya nggaklah, mereka tidak mungkin berpikiran seperti itu, karena keluarga Wibawa itu orangnya sangat ramah dan tidak gampang terpengaruh ataupun terbawa perasaan, Ya sudah ayo kita turun." ucap Tante Raisa sembari tersenyum langsung menggandeng Anaknya, mereka berdua pun kemudian turun dari lantai atas menuju kelantai bawah satu persatu anak tangga mereka lewati dengan senyuman mereka berdua, sebenarnya Tante Raisa merasa bingung.


Tapi Dia tidak ingin memaksa Anaknya mengatakan yang sebenarnya karena Dia yakin Anaknya tahu Ada apa sebenarnya dengan kedatangan mereka tersebut,tapi Tante Raisa hanya berpikiran positif saja.


" Lebih baik Aku tahu dari mereka aja daripada Aku berpikiran yang tidak-tidak." batinnya berbicara seraya melangkah menemui mereka.


" Tante Raisapun tersenyum dan sembari menyalami satu persatu tamunya tersebut, Dia pun kemudian mengambil duduk di salah satu sofa yang masih kosong didampingi oleh sang Anak, karena telah terdengar terasa rame dibawa Lia keluar dari kamarnya, Lia berdiri di pagar lantai atas tersebut melihat ke arah bawah.


" Banyak sekali tamu Mamah, ada apa ya?eh! bukankah itu Arvin dan keluarganya, Ada apa mereka ke sini?Apakah Aku harus turun ke bawah juga menemani Mama dan Nadine? daripada Aku bertanya-tanya diatas ini lebih baik Aku turun ke bawah tidak salahkan Aku mendengarkan pembicaraan mereka Langsung ikut duduk di sana daripada Aku menerka-nerka ada apa gerangan sebenarnya." ucapnya kemudian Dia masuk lagi ke dalam kamarnya Dia sedikit merapikan tatanan rambutnya dan langsung keluar dari kamarnya lagi, selangkah demi selangkah menuruni anak tangga yang menuju lantai bawah Dia melangkah terus sampai ke ruang tengah dan Dia pun tersenyum dengan mereka semua, langsung saja Dia duduk di samping Nadine mereka semua menatap kearah Lia dan memberikan senyumannya, setelah Lia berada dihadapannya Niko tidak bisa mengedipkan matanya, matanya terasa kaku rasanya dia ingin terus menatap Lia, sampai akhirnya Arvin menyenggol Niko dan membisikkan kepada Niko di telinganya dengan pelan.


" Bang Niko harus sabar jangan terlalu memandanginya nanti Dia pasti jadi milikmu juga hehehe..." bisik Arvin di telinga Niko.


Niko hanya tersenyum dan membasahi bibirnya dan dia pun langsung mengusap wajahnya Dia mengalihkan pandangannya ke arah lain tapi tetap saja Dia selalu mencuri pandang ke arah Lia.


Lia pun merasa kalau Niko menatapnya karena Lia sudah pernah melihat wajah Niko tadi malam melalui sebuah foto yang ada di gawainya Nadine.


Niko kemudian menatap kembali ke arah Lia dan mata mereka saling beradu pandang,debaran jantung mereka berdua pun tidak bisa mereka kendalikan, debaran itu tidak menentu dan mereka tidak bisa bersahabat dengan detak jantungnya masing-masing, karena mereka terlalu lama saling bertatapan akhirnya Lia menundukkan kepalanya.


" Ya Allah walaupun jantungku ini dagdigdug tidak menentu tapi perasaan ini merasa nyaman bertatapan dengannya, Apakah artinya ini ya Allah." batinnya.


Nadine pun kemudian melirik ke arah Kakaknya tersebut, kemudian Nadine mengambil gawainya Dia menghubungi Dokter Roni melalui chat pribadinya.


" Wah ada apa ini keluarga Wibawa datang pagi-pagi ke rumah, Tante terhormat sekali karena keluarga Wibawa bertamu ke rumah Tante, Tante senang sekali, Ada apakah gerangan?" ucap Tante Raisa memulai bicaranya karena mereka sedari tadi hanya menebarkan senyuman satu sama lain dan membiarkan dua hati saling memahami dan membiarkan juga dua jantung saling berdegup tidak menentu siapa lagi kalau bukan Lia dan Niko.


" Tante Raisa bisa aja,begini lho Tante kami kesini ada yang ingin kami bicarakan dengan Tante."


" Ada apa Ndre? Tante sampai terkejut loh kalian datang ke sini dengan keluarga besar Wibawa, takutnya kalau ada apa-apa Tante kan jadi was-was." ucap Tante Raisa sembari tersenyum.


" Tidak ada apa-apa Tante, kami kesini ini ada yang ingin kami kehendaki di keluarga tante."


" Maksudnya Ada apa ya? jangan bikin tante deg-degan dong." ucap Tante Raisa lagi sembari tersenyum karena Dia memang merasa bingung dan heran ada apa sebenarnya keluarga Wibawa bertamu ke rumahnya ini.


" Sebelum dan sesudahnya Kami memohon maaf dulu kepada Tante sekiranya bikin Tante terkejut dengan kedatangan keluarga besar kami rame-rame ke rumah Tante ini, bukannya untuk menyerang tante."


" Tapi kalo menyerang sih emang iya hehehe..." celetuk Papa Boby sembari terkekeh diikuti yang lainnya.


" Ah kamu ini selalu bercanda aja Bob,dari dulu selalu aja bercanda, sebenarnya ada apa sih? apa masalah pernikahan Nadine dan Arvin?"


" Oh bukan Tante, bukan masalah pernikahan Nadine dan Arvin, tapi ini ada masalah lain." Sambung Ayah Chandra menyahut omongan Tante Raisa


" Kalau pernikahan Nadine Dan Arvin sudah clear setelah pernikahannya Anindita dan Morgan baru dilaksanakan pernikahan Nadine dan Arvin sambung Bunda Adel lagi sembari tersenyum.


" Jadi ada apa ? Tante jadi bingung nih, Ada apa sebenarnya." ucap Tante Raisa pelan tapi masih memberikan senyum manisnya yang terukir di wajah tuanya tersebut.


" Kami ke sini ini mau melamar Lia." ucap Papah Andre.


" Apa? Benarkah?" Tante Raisa hanya bisa berucap pelan dan langsung menatap kearah mereka satu persatu mendengar ucapan Papa Andre seperti itu Lia pun langsung mengangkat wajahnya sembari menatap kearah mereka, karena Lia tidak percaya dengan ucapan Papa Andre tersebut.


" Ya Tante, keponakan saya yang bernama Niko anaknya dari Melisa menginginkan Lia sebagai calon istrinya, Apakah Tante mau menerima lamaran kami ini?" Tante Raisa pun terdiam Dia kemudian menatap kearah Niko dan kembali menatap ke arah Lia dan tanpa disadari Tante Raisa lemes dan langsung menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa yang Dia duduki tersebut dan memejamkan matanya.


Melihat Tante Raisa seperti itu pun Nadine langsung menggerak-gerakkan tubuh Mamahnya tersebut sambil memanggil Mamahnya.


" Mama... Mah... Mama bangun Mah, Ya Allah kenapa Mama.." ucap Nadine cemas.


Mereka yang ada disitu pun terkejut.


" Ada apa ini kenapa bisa Tante Raisa seperti ini?" tanya Mama Anisha mulai merasa takut karena Tante Raisa setelah mendengar perkataan dari Papa Andre langsung tak sadarkan diri.


" Lebih baik kita bawa ke rumah sakit aja." ucap Papa Andre.


Dianggukkan semuanya.


" Nanti dulu Om kita coba sadarkan Mamah." ucap Nadine.


" Mama bangun? Mama... Mama..." ucap Lia dan Nadine seraya menggoyang-goyangkan tubuh Tante Raisa.


" Kakak ambil minyak angin dulu untuk menyadarkan Mama." ucap Lia kemudian seraya berlari menaiki Anak tangga dan masuk ke dalam kamarnya untuk mengambil minyak angin kepunyaannya.


Terdengar suara mobil memasuki halaman rumah ternyata mobil Dokter Roni,Dia kemudian melangkah ke dalam karena Dia tidak menyadari kalau namanya mengalami pingsan, Dia terkejut melihat Mamanya yang di bangunkan oleh Nadine, Dia pun setengah berlari menuju ke ruang tengah tersebut.


" Astaghfirullahaladzim,ada apa Nadine? kenapa Mama seperti ini?"


" Enggak tahu Kak, Mama tak sadarkan diri begitu saja kak." kemudian Dokter Roni pun mengambil tangan Mamahnya dan memeriksa denyut nadinya, Dia pun tersenyum.


" Mama tidak apa-apa, Mamah sepertinya shock aja."


Kemudian Lia datang dari atas lantai dua setengah berlari menuju ke hadapan mereka.


" Ini Kak minyak Anginnya, kemudian Dia pun mengambil minyak Anginnya dari tangan Lia dan menciumkannya ke hidung Mamanya tersebut, beberapa saat kemudian Mamanya pun membuka matanya dan tidak terasa air matanya meleleh Dia menatap kearah Anak-Anaknya dan Dia langsung memeluk Dokter Roni, Dokter Roni pun memeluk Mamahnya tersebut.


" Ada apa Mah?" tanyanya kemudian Dia duduk di samping Mamahnya diberi tempat oleh Nadine dan Nadine pun duduk disebelah Dokter Roni beserta dengan Lia.


Tante Raisa masih memeluk Dokter Roni dengan menangis kesesugukan, mereka yang ada di situ pun terdiam.


Dokter Roni pun menatap kearah mereka satu persatu dan tatapannya menandakan pertanyaan yang besar yang ingin dilontarkan dengan mereka dan melalui tatapannya tersebut juga Dia menginginkan semuanya menjelaskan,ada apa sebenarnya, sehingga membuat mamahnya pingsan dan setelah sadar menangis seperti ini.


Dia diberitahu Nadine melalui chat pribadi tersebut hanya diminta pulang dengan segera, Dia tidak tahu kalau keluarga Wibawa ada dirumahnya.