THE SWEETNESS OF LOVE AND FRIENDSHIP

THE SWEETNESS OF LOVE AND FRIENDSHIP
BAB 263



Mereka melangkah dengan bersemangat menuju kekamar tujuan mereka.


Sesampainya dikamar Johanes, Pak Bayu pun mengetuk pintu kamar hotel tersebut Walaupun dia pemilik hotel tapi dia masih punya aturan dalam menemui tamunya itu, Tapi sayang beberapa kali Pak Bayu mengetuk pintu kamar itu tapi tidak ada sahutan dari dalam jangankan sahutan, pintu pun tidak bergeming dibuka.


Kemudian Pak Bayu pun mengambil gawainya yang ada di saku celananya itu dia kemudian menghubungi resepsionisnya kembali untuk meminta kunci serep dari kamar tersebut.


Setelah berbicara dengan resepsionisnya Pak Bayu pun menyandarkan tubuhnya di pintu kamar Johanes, begitu juga dengan mereka yang ada di depan pintu kamar itu sama-sama menunggu kedatangan dari resepsionis membawa kunci serep kamar hotel yang ditempati oleh Johanes.


Beberapa saat kemudian resepsionis laki-laki itu pun datang dengan tergesa-gesa,dia setengah berlari mendekati bosnya tersebut dan menyerahkan kunci serepnya itu, sebelum resepsionis itu pergi Pak Bayu sempat bertanya kepadanya.


" Apakah kamu selama bertugas tadi melihat penghuni kamar ini meninggalkan hotel ?" tanya Pak Bayu pada resepsionisnya.


" Maaf Pak saya tidak melihatnya sama sekali, karena saya sudah berganti sip dengan teman saya."


" Oh, ya sudah kalau seperti itu, Terima kasih silahkan kamu kembali lagi ketempat mu" ucap pak Bayu, dia pun menganggukkan kepalanya dan berbalik arah meninggalkan mereka semua yang ada di situ.


" Apa tidak apa-apa nih kita masuk ke dalam? karena yang punya kamar tidak ada.?" Tanya papah Boby.


" Tidak apa-apa,tidak masalah Bob, memang sebenarnya kalau dituntut sih kita kena sangsi, tapi aku tidak mau ada penjahat yang ada di hotel ku ini, lebih baik kan dia kita tangkap sekalian dan kita amankan, daripada nanti lama kelamaan dia tinggal di sini sama aja aku memberikan perlindungan kepadanya, aku sangat bersyukur karena kamu sudah memberitahu aku tentang data diri dari tamuku ini." ucapnya sembari membuka pintu kamar tersebut.


" Ini kali kedua aku memasuki kamar orang, bedanya satu orang lagi mandi, dan yang ini lagi keluar." gumam batinnya tersenyum.


" Ya sudah ayo kita masuk semua." ucapnya sembari menengok kiri dan kanan,Mereka pun berlima langsung masuk kedalam kamar tersebut.


Kemudian Pak Bayu kembali mengunci pintu tersebut Mereka pun memeriksa semua kamar tidur Johanes dari kamar mandi sampai ke dalam lemari.


" Memang benar dia tidak ada di dalam kamar ini." ucap Morgan.


" Ya benar kata mu Mor, dia sepertinya berada di luar." Ucap Arvin.


" Jangan-jangan dia merencanakan sesuatu dengan para anak buahnya, agar bisa melancarkan aksinya ke rumah Andre." ucap papa Bobby.


" Bisa jadi Om." ucap Morgan Mereka pun kemudian duduk di sofa ruangan kamar tersebut.


" Begini saja Bob, kita tunggu aja dia sampai datang kesini, kita harus mencari tempat yang aman untuk bersembunyi menunggu dia, jika seandainya dia sudah kembali kekamar ini,aku rasa dia pasti akan kembali secepatnya." Ucap pak Bayu diangguukkan oleh mereka berempat.


Kemudian papah Bobby mengambil gawainya dan menghubungi Papa Andre, beberapa saat sambungan Mereka pun tersambung.


" Assalamualaikum..."


" Waalaikumsalam, ada apa Bob?"


" Kami tidak menemukan Johanes di dalam kamarnya, pasti dia mungkin keluar dan menemui para anak buahnya." ucap papa Boby.


" Bisa jadi itu Bob, kami juga disini lagi menunggu kedatangan tamu yang tidak diundang itu."


" Mungkin saja mereka menyusun rencana atau Mereka lagi kebingungan karena kedua anak buahnya yang dikurung di dalam kamar itu sudah tidak ada, kami akan terus menunggu di dalam kamar ini bersama dengan Bayu dan yang lainnya." ucap papa Bobby.


" Oke! kami juga menunggu di rumah kedatangan mereka." ucap papa Andre.


Kemudian mereka pun saling memutus pembicaraannya dan saling memberi salam dan membalas salam, lalu Papa Boby pun memasukkan gawainya ke dalam saku celananya lagi dan memberitahukan pada mereka semua agar nada gawai mereka masing-masing di beri nada diam, setelah mereka melihat sekitar kamar tersebut Mereka pun akhirnya menemukan tempat persembunyian masing-masing.


" Karena kita orangnya berlima Jadi tiga orang di balik sofa yang dekat dinding, satu orang di samping tempat tidur, satu orang berada di samping lemari, dia tidak akan mengetahui kita berada di masing-masing tempat yang aku beritahu itu, menurut pikiranku tidak mungkin dia memeriksa di bagian yang aku sebutkan tadi, karena dia selama berada di sini kan merasa aman-aman saja, jadi tidak Mungkin dia curiga kalau di dalam kamarnya ini ada lima orang yang menunggunya." ucap papa Boby.


Mereka pun menganggukkan kepalanya sembari tersenyum.


Benar saja Johanes berada di luar hotel berbintang tersebut, dia berada di sebuah rumah di mana anak buahnya itu berada.


Dia sedang marah dengan beberapa anak buahnya itu dan terlihat sangat emosi sekali.


" Kalian ini apa-apaan sih!! aku menyuruh kalian menjaga dua orang tersebut!! kalau mereka berbuat yang tidak diinginkan dan kabur dari sini kalau kalian melihatnya langsung habisi aja!! kalau seandainya dia sampai ke kantor polisi dan mengatakan semuanya, kita semua yang akan celaka!! bukan aku saja tapi kakak ku yang ada di luar negeri sana juga akan celaka!! kalian ini aku bayar!! bukan gratis aku memakai jasa kalian itu!! sudah berapa banyak rupiah yang aku keluarkan untuk kalian!! seharusnya kalian itu bertanggung jawab dengan perintahku!! Kalian ingin bernasib sama dengan kedua orang tersebut hah!!! ucapnya dengan sedikit nada tinggi.


" Maafkan kami pak bos, karena kami tidak tahu, kalau mereka sudah kabur dari rumah ini, setelah kami lihat dan teliti pintu tidak rusak, jendela juga tidak rusak, tapi Ventilasi udara jendela itu yang rusak,pintar sekali mereka keluar dari ventilasi itu." Ucap salah satu dari anak buahnya.


" Bukan mereka yang pintar!! tapi kalian yang bodoh!! seharusnya beberapa jam sekali kalian mengawasi mereka!!"


" Jadi ini harus bagaimana bos?"


" Kenapa kamu tanya dengan saya hah!! Seharusnya kalian mencari mereka!! urusan yang lain aja kalian belum selesai ditambah lagi dengan dua orang yang tidak ada gunanya itu." ucapnya sembari marah dengan beberapa anak buahnya yang masih berada di rumah itu dan dengan setia membantu dirinya.


" Maafkan kami Bos."


" Lupakan saja mereka sesaat! kita urus dulu urusan yang ada ini, setelah itu baru kita mengurus mereka berdua."


" Siap Bos!"


" Apakah mereka tahu rencana kita sekarang?"


" Sepertinya tidak Bos! karena mereka tidak terlalu memperhatikan kita saat berbicara,mereka sibuk ingin terbebas dari tahanan Bos." ucap salah satu dari anak buahnya itu.


" Baguslah kalau seperti itu kalau mereka berdua tidak mengetahui rencana kita."


" Jadi bagaimana bos sekarang rencana kita untuk mendatangi rumah besar itu?" tanyanya lagi.


Johanes terdiam sesaat,dia berpikir keras untuk bisa masuk ke dalam rumah besar yang dimaksudkan oleh anak buahnya itu, rumah siapa lagi kalau bukan rumah kediaman keluarga Wibawa.


" Sebenarnya masuk ke area itu sangatlah sulit, ada beberapa orang yang berjaga-jaga di samping kiri kanan depan dan belakang rumah itu, ditambah lagi pengamanan CCTV di situ, karena aku sudah melihat lokasinya tadi siang, aku juga melihat ada beberapa buah mobil di halaman rumah itu, tampak terparkir dengan rapi, mungkin mobil keluarga dari Amelia, karena mereka sengaja membawa Amelia ke rumah itu."


" Terus bagaimana bos?"


" Sebentar aku pikirkan dulu, Bagaimana caranya kalian bisa masuk ke dalam situ tanpa diketahui oleh mereka, target utama kalian adalah security yang jaga di rumah, kalau kalian bisa melumpuhkan dia, CCTV yang ada di dekat dia bisa kita rusak."


" Terus bagaimana dengan penjagaan di kiri kanan depan dan belakang itu bos."


" Itu mudah diatur, mungkin mereka saat ini merasa aman sekarang dan mereka akan mengurangi penjagaan di rumah tersebut, kalian harus berhasil mendapatkan 2 gadis itu, karena ingin aku bawa ke luar negeri dan memberikannya pada Kak Kris." ucapnya sembari berdiri dan mengambil jaketnya yang tergeletak di atas kursi yang ada di dalam rumah tersebut dan memakainya.


" Kalian sudah paham? apa yang aku maksudkan?!"


" Siap Bos! Kami paham, kami akan melumpuhkan security itu dan merusak CCTV yang ada di dekat pos tersebut dan kami akan mengendap masuk ke dalam rumah itu, tanpa mereka ketahui."


" Siap bos! Kami paham."


" Ya sudah, aku akan kembali ke hotel dan aku akan menghubungi Kakak ku, Aku tidak ingin kalian gagal dan aku harus mendapatkan kabar yang baik dari kalian bukan kabar yang buruk dan secepatnya! kalau kalian sudah menemukan kedua gadis itu lumpuhkanlah mereka, agar tidak membuat suara didalam rumah itu, karena tengah malam itu mereka sudah terlelap tidur, kalian bisa memanfaatkan waktu itu dengan sebaik-baiknya, aku pasti mengira kedua wanita itu ada di kamar atas dan kalian harus hati-hati masuk kedalam, pakailah perlengkapan agar wajah kalian tidak di lihat oleh CCTV yang ada di dalam rumah itu ataupun di halaman rumah tersebut, pakailah ini." ucapnya sembari menyerahkan beberapa helai pakaian yang harus dipergunakan mereka untuk menjalankan aksinya nanti tengah malam.


" Siap bos! kami akan melaksanakannya, tenang aja Bos, Bos akan mendapatkan kabar yang baik dan akan segera membawa dua wanita itu kembali ke luar negeri." ucap salah satu dari anak buahnya tersebut sembari mengambil beberapa helai pakaian yang telah diberikan oleh Johanes, Johanes pun langsung melangkah meninggalkan mereka dan keluar dari rumah tersebut, Dia kemudian memasuki mobil yang beberapa hari ini disewanya untuk dia berpergian dari hotel tempat dia menginap menuju ke rumah anak buahnya itu, beberapa saat kemudian mobil pun meninggalkan rumah itu menuju ke arah hotel dimana dia menginap.


" Aku harus mendapatkan Amelia dan Nika, karena semakin lama aku mengawasi mereka semakin jenuh aku berada di tanah air, Kak Kris harus mendapatkan mereka berdua, Karena tanpa mereka berdua usaha kami akan sia-sia." ucapnya sembari melajukan mobilnya di jalan beraspal menuju hotel berbintang permata, beberapa saat kemudian mobil yang dikendarai oleh Johanes pun masuk ke area parkiran hotel tersebut, dia memarkirkan mobilnya dan melangkah menuju ke arah lobby, resepsionis itu menatap ke arahnya, tapi dia tidak memperdulikan tatapan resepsionis itu, kemudian resepsionis itu pun mengirim chat pribadi kepada bosnya, Pak Bayu yang berada di kamar Johanes pun membuka chat pribadi tersebut.


" Dia menuju ke sini!" ucapnya setelah membaca chat pribadi dari resepsionisnya itu.


" Dari mana kamu tahu?" Tanya papah Boby.


" Resepsionis mengirimkan chat pribadi kepada ku."


" Padahal resepsionis kamu tidak kamu beri perintah untuk memberikan kabar kepada kamu kalau dia sudah datang." ucap Papa Boby.


" Dia pasti paham karena kita meminta kunci serepnya kamar ini, siapa tahu mungkin dia berpikir kalau aku masih berada di dalam kamar ini dan takut ketahuan pemilik kamar ini." Terangnya.


Mereka pun mengangguk..


" Ya sudah, ayo sekarang kita harus ke posisi kita masing-masing, ke tempat dimana dia tidak melihat kita." Ucap papah Boby


Kemudian mereka pun menuju tempat yang sudah diberitahu Papa Bobby.


Arvin, Morgan, dan papah Boby dibelakang sofa, kak Niko disamping tempat tidur,dan pak Bayu disamping lemari, terdengar pintu terbuka Johanes masuk ke dalam kamarnya dan kemudian mengunci kembali kamar hotelnya tersebut, dia melemparkan jaket yang dipakainya itu kearah sofa, tapi sayang! bukannya jatuh ke arah sofa melainkan jatuh ke belakang sofa dan menelungkup ke wajah Papah Bobby.


" Kampret!! sialan!! nih bocah!! tidak ada adat istiadatnya, melempar jaket ke arah sofa, Bukannya mentok di sofa, tapi mentok di kepalaku! Jika baunya wangi nggak apa-apa ini jaket bau naga mati lagi!! tunggu aja pembalasanku!! dasar jangkrik sawah!!" ucapnya pelan menggerutu, Dia pun kemudian disenggol oleh Morgan dia menoleh ke arah Morgan walaupun sedikit gelap,tapi masih terlihat wajah Morgan, Morgan memberi isyarat untuk tidak bersuara, dengan telunjuk ada didepan mulutnya.


Papah Boby mengangguk sembari tersenyum dan Arvin mengambil jaket yang dipegang Papa Bobby tersebut dan dengan pelan menaruhnya di atas sofa, Untung saja Johanes tidak melihat gerakan dari Arvin itu, Johanes membuka bajunya dan mengganti pakaiannya itu, lagi-lagi bajunya itu dilemparnya ke sofa, tapi tidak mengenai siapa-siapa, baju itu mentok di sofa.


kemudian Johanes menghentak kan tubuhnya di sofa yang ada jaket dan bajunya itu, dia kemudian menyandarkan tubuhnya di sofa, dia tidak menyadari kalau di belakang sofa itu ada papa Bobby, Morgan dan Arvin.


" Akhirnya sampai juga aku di kamar ini, lelah sebenarnya,Tapi lelah ini akan terbayarkan setelah mendapatkan Amelia dan Adiknya itu, aku akan membawa kalian ke luar negeri, kalian itu tempatnya di luar negeri bukan di tanah air, karena kehadiran kalian itu sangat penting bagi Kak Kris." ucapnya berbicara seorang diri sembari menyandarkan kepalanya menatap ke langit-langit ruangan kamar hotelnya tersebut.


" Dasar belatung!! berani sekali kamu akan membawa mereka berdua, kamu akan berhadapan denganku!!" Ucap papa Boby dalam batinnya.


" Bukannya kamu yang akan membawa mereka berdua ke luar negeri, tapi aku yang akan membawa kamu ke dalam sel tahanan." batin Morgan, dia merasa geram dengan ucapan Johanes, kemudian Johanes mengambil gawainya yang berada di atas meja, dia pun kemudian menghubungi sang Kakak dengan panggilan louspeaker aktif, dan mereka pun mendengar pembicaraan dua kakak beradik itu.


" Ya ada apa Jo, kamu menghubungiku." terdengar suara dari seberang sana.


" Sebentar lagi kita akan berhasil Kak "


" Bagus! kalau kamu berhasil, cepat bawa mereka kehadapan ku, sudah terlalu lama aku menunggu mereka."


" Iya kak! aku akan membawa mereka dengan secepatnya!"


" Apakah kamu sudah mengetahui ada hubungan apa mereka dengan keluarga Wibawa."


" Setahu aku mereka tidak ada hubungan dengan keluarga wibawa, tapi dia ada hubungan dengan orang kepercayaan Andre."


" Siapa Andre?"


" Andre adalah pemilik perusahaan yang terkenal itu, tapi sekarang dia sudah memberikan perusahaannya itu dengan anak lelakinya."


" Siapa nama anak lelakinya."


" Abiyasa putra Wibawa! tapi aku rasa mereka tidak terlalu berbahaya Kak, sepertinya mereka mempunyai masalah lain, bukan masalah dengan kita."


" Baguslah! sekarang mereka berdua ada di mana?"


" Mereka berdua ada di rumah keluarga Wibawa diajak oleh keluarganya Amel."


" Siapa keluarga Amel itu!"


" Yang berhubungan erat dengan mereka istrinya yang bernama Lala dan suaminya bernama Bobby."


Papah Bobby dan Morgan serta Arvin saling pandang.


" Boby itulah kaki tangannya, orang kepercayaan dari si Andre itu, tapi sepertinya Boby itu orangnya penakut kak! Boby itu orangnya tidak gentlemen dan Bobby itu tidak berani dengan kita."


Papah Boby geram mendengar ucapan Johanes.


" Kenapa kamu bisa berbicara seperti itu?"


" Buktinya sewaktu diteror mereka ketakutan dan sekarang ngungsi ditempat keluarga Wibawa, kalau dia berani kenapa dia berada di rumah keluarga Wibawa, tidak berada di rumah dia sendiri, itu namanya dia memang laki-laki yang tidak berani dan hanya bernaung dibawah keteknya keluarga Wibawa hahaha." ucap Johanes disambut oleh Kris yang sama-sama tertawa.


" Hmmm!! mantap mulut iblis berkedok manusia!! " Ucap batin papah Boby menahan amarahnya.


" Jadi kamu bisa melumpuhkan mereka?"


" Tenang aja kak! aku sudah punya rencana untuk melumpuhkan mereka dan membawa Amelia dan Adiknya berangkat ke luar negeri."


" Ya sudah Kakak tunggu kabarnya." ucapnya.


" Siap Kak." Kemudian mereka pun memutuskan sambungan bicaranya gawai itupun kemudian ditaruhnya lagi di atas meja, dia menghela napasnya dengan panjang dan merentangkan tangannya di sofa tersebut, dia melihat jam yang ada di ruangan kamar hotel yang disewanya itu, jam sudah menunjukkan pukul 23 malam, kemudian dia pun mengambil gawainya kembali dan dia menghubungi anak buahnya tersebut sambungan pun tersambung.


" Lancarkan aksi kalian segera!" ucapnya kemudian sambungan bicara itu pun terputus, setelah dia berbicara singkat dan dijawab oleh anak buahnya, dia pun meletakkan kembali gawainya di atas meja.


" Dasar kambing ompong!! mengatakan aku takut dengan dirinya,cih!! dia belum tahu bertemu denganku!!" gumam papah Boby dalam batinnya seraya mengepalkan tangannya dengan kuat.


Morgan pun meraba tangan papah Boby, Morgan merasakan kepalan tangan papah Boby yang penuh emosi yang memuncak.


" Waduh bahaya nih, sebentar lagi gunung merapi meletus nih!" Gumam Morgan dalam batinnya.


Morganpun langsung memberikan kesabaran pada Omnya itu.