
" Sayang....!" Panggil Abiyasa seraya melangkah mendekati sang istri yang masih rebahan di kasur empuknya.
Ayesha terkejut dan langsung perlahan bangun dan duduk menyandar di tempat tidur dengan senyuman yang diberikannya pada sang suami yang langsung duduk disisi ranjangnya.
Abiyasa langsung memeluk sang istri, Ayesha bingung karena melihat sang suami yang tiba-tiba saja datang dari luar langsung masuk secara tergesa-gesa dan memeluknya.
" Terimakasih sayang, karena kamu sudah memberikan kado yang terindah buat mas." Ucapnya seraya menciumi wajah istrinya bertubi-tubi.
Ayesha baru paham kalau yang dimaksud suaminya itu, diapun langsung membalas pelukan suaminya tersebut.
" Kenapa kamu tidak memberikan kabar pada mas kalau kamu sudah berbadan dua,tapi mas sangat bahagia sekali mendengar kabar ini sehat-sehat selalu ya sayang, kalian berdua adalah cintaku yang sangat berharga sekali, mas sangat mencintaimu." Ucap Abiyasa memeluk kembali sang istri, sedangkan Ayesha hanya bisa tersenyum karena dia merasa sangat bahagia sekali.
" Mas maafkan Ayesha ya mas, karena tidak memberitahukan kalau Ayesha hamil." Ucapnya seraya membelai pipi suaminya tersebut,Abiyasa hanya tersenyum dan memejamkan sekilas matanya dan menganggukkan kepalanya tersebut.
" Ayesha memang sengaja mas nggak bilang sama mas biar jadi kejutan terindah buat suamiku yang ganteng ini, tapi sayang mereka sudah mengatakannya lebih dahulu." Ucap Ayesha dengan ekpresi manjanya.
Abiyasa yang melihat istrinya tersebut yang bersikap manja itu menjadi gemes dan meraih kepala istrinya dan mendaratkan ciuman mesranya dibibir mungil merah muda sang istri, dan mereka berdua larut dalam ciuman tersebut.
Ayesha yang hampir kehabisan nafas itu mendorong pelan tubuh suaminya tersebut sembari mendelik pada suaminya dan Abiyasa hanya tersenyum saja sembari mengusap bibirnya sendiri dengan jarinya.
" Iih... mas mesum banget sih ah." Tatap Ayesha.
" Tapi kamu sukakan." Ledek Abiyasa.
" Enggak!" Ucap Ayesha seraya mendelik pada suaminya.
" Pasti suka dong,kalau nggak suka tuh diperut buktinya sudah jadikan." Kekehnya sembari meraih istrinya kedalam pelukkannya, Ayesha hanya tersenyum malu-malu dan menyembunyikan wajahnya didalam pelukan sang suami.
Lama mereka menikmati pelukan yang penuh kasih sayang dan kemesraan. Tiba-tiba mereka dikejutkan dengan suara ketiga sahabatnya tersebut.
" Udahlah Biy, pelukkannya jangan bikin yang jomlo ini jadi tambah jomlo." Tegur Morgan seraya mendekati mereka yang masih duduk dikasur yang ada di dalam kamarnya.
" Sejak kapan kalian berada di situ?" Tanya Abiyasa seraya melepaskan pelukkannya pada sang istri.
" Sejak tadi saat kamu memeluk istrimu hehehe." Ucap Clarissa yang langsung duduk disofa yang ada di kamar tersebut.
" Buset dah.." Ucap Abiyasa tersenyum.
" Bohong Biy,baru aja kami selesai makan dan langsung menemui kamu." Ucap Arvin.
" Ya kadrun jujur amat sih." Ucap Morgan.
" Biarin, berbohong itukan dosa kali." Sanggahnya.
" Tumben kamu jujur Vin,dan ngomongi dosa." Ucap Clarissa seraya menyentuh jidadnya Arvin.
Nadine yang kebetulan ada disitu hanya tersenyum saja."
" Oh aku tahu dia berkata seperti itu karena ada Nadine disampingnya, kamu tahu nggak Nad, saat dia disana menghubungi kamu tapi kamu tidak menjawab panggilannya dia nampak stres dan kamu tahu nggak dia tidak bisa tidur dan dia juga sangat gelisah sekali karena tidak bisa mendengarkan suaramu, dan hanya menatap fhotomu saja yang ada digawainya." Ucap Morgan seraya terkekeh.
" Ah ! Ngarang kamu Mor sepeda butut, mana ada aku kaya gitu, kalau gelisah sih iya tapi jangan di tambah-tambahi juga dong bule nyasar!" Ucap Arvin seraya melemparkan bantal kerah Morgan yang tertawa lepas.
" Nah benar itu, dia juga tidak bisa tenang karena yang menjawab panggilannya itu adalah si mayat hidup penuh belatung ditambah lagi si mayat itu bilang kalau kamu lagi asyik dengan si Ariel itu tambah tidak tenang dia, bahkan matanya menatap cairan pembunuh serangga yang ada diruangannya Marco my hani bany sweety yang sepertinya mau diminumnya habis karena mendengar kamu dengan lelaki lain." Sambung Clarissa seraya tertawa.
" Clarissa! " Teriak Arvin.
" Apaan sih! aku disini aja pake teriak-teriak segala aku nggak budek kali " Ucap Clarisa terkekeh.
Karena merasa terpojok Arvin hanya pasrah dan menundukkan kepalanya sembari tersenyum.
" Kalian berdua ini kaka ipar dan adik ipar sama saja memojokkan Arvin tenang Vin masih ada aku yang akan ngebantuin kamu." Ucap Abiyasa tersenyum pasti seraya mengusap pundak Arvin dengan halus.
" Nadine, kamu jangan dengerin omongan kedua kurcaci yang salah produk itu, kamu dengarin kata-kata aku aja." Ucap Abiyasa seraya menatap kearah Arvin.
" Hooh..." Lanjut Clarissa.
Abiyasa hanya tersenyum lebar.
" Nah dengerin sayang, ini Benar-benar sahabat yang nggak mungkin menjerumuskan sahabatnya sendiri kelembah hitam yang gelap dia akan menerangi sahabatnya dan membantu sahabatnya yang sedang dalam pembulian." Tatap Arvin mantap dan mencibir kearah Clarissa dan Morgan.
" Jelaskan Biy semuanya pada sayangku Nadine ini karena kata-kata mereka tidak benar banyak salahnya." Ucap Arvin karena merasa Abiyasa berkata sesungguhnya dan sangat ngebantu dirinya.
" Dengarkan ya Nadine, apa yang dikatakan oleh mereka berdua itu adalah benar!." Ucap Abiyasa tertawa lebar.
" Ya sallam! hancur aku, kenapa aku punya sahabat pada eror semuanya sih!" Ucap Arvin seraya menepuk jidadnya sendiri dan mengusap wajahnya dengan kasar.
Nadine pun tertawa lepas melihat keakraban yang tercipta diantara mereka, sedangkan Ayesha tertawa pelan melihat kelakuan keempat sahabat tersebut yang tercipta diantara mereka.
Setelah reda mereka tertawa mereka langsung mengucapkan selamat dengan Ayesha atas kehamilannya tersebut.
Mereka berempat keluar dari kamar Abiyasa dan kemudian disusul Abiyasa keluar kamar sedangkan Ayesha hanya berada didalam kamar disuruh Abiyasa untuk beristirahat.
Merekapun melanjutkan kembali rencana yang akan disusun mereka untuk mendapatkan bukti dari Maya dan bagaimanapun juga mereka harus mengetahui semuanya itu dan mencari kebenarannya.
*****
Sesampainya Nadine dan dokter Roni dirumah ternyata mamahnya sudah berada diruang tamu dan saat mereka masuk betapa terkejutnya mereka berdua kalau dirumahnya tersebut sudah ada Maya yang sedang berbicara dengan sang mamah.
Maya tersenyum setelah melihat keduanya masuk dan menuju kearah mereka berdua.
" Mamah!" Sapa Nadine dan dokter Roni.
Mamahnya langsung menatap kearah mereka berdua dan tersenyum.
" Sayang, baru pulang? Dari mana kalian? Nih ada teman kamu sudah dari tadi nungguin kamu,Ya udah mamah tinggal ya." Ucap mamahnya seraya berdiri dan membiarkan Nadine berbicara dengan Maya, dan dokter Roni pun meninggalkan mereka berdua tapi ditempat lain dokter Roni mengawasi mereka berdua tidak terlalu jauh dari mereka berada.
Nadine menatap Maya penuh dengan kebencian, sedangkan Maya hanya tersenyum saja.
" Kembalikan Mobilku! Apakah kamu tiak bisa membeli mobil dan gawai sehingga kamu mengambil gawai dan mobilku hah !!" Ucap Nadine dengan kemarahan yang sudah ditahannya, tapi dia berusaha tidak marah karena sekarang ada mamahnya dirumah dia tidak ingin mamahnya mengetahui semua kejadiannya tersebut.
Maya tersenyum sinis.
" Aku bisa saja mengembalikan mobil dan gawaimu tapi kamu harus mengembalikan Arvin padaku! Karena secara tidak langsung kamu sudah mengambil Arvin dariku!" Ucap Maya santai.
" Aku akan laporkan kamu kepolisi!" UCap Nadine penuh penekanan dinada bicaranya.
" Hahaha, lapor polisi? Tidak ada yang bisa menangkapku dan tidak ada bisa membuktikan aku bersalah karena semua kesalahan dan bukti menjurus padamu! Ingat Nadine makanya jangan bermain api denganku!!" Ucap Maya dengan menatap Nadine dengan penuh penekanan.
" Maksudmu apa?" Tanya Nadine penuh selidik.
" Hahahaha...asal kamu tahu aku akan bertemu dengan seorang teman chatingmu dan akan menghabiskan malam diklub malam nanti aku akan merusak namamu dan bukti akan menjurus kearahmu, kamu tidak akan pernah bisa mengelak lagi Nadine, kamu akan mendekam dipenjara dengan tuduhan yang akan memberatkanmu.!!" Ucapnya seraya tersenyum licik.
" Kurang ajar kamu Maya!" Geram Nadine seraya mengepalkan tangannya karena menahan emosinya.
" Kamu harus tahu aku sangat mencintai Arvin aku lama mencari Arvin saat itu, tapi aku tidak bisa menemukannya seolah-olah ditelan bumi, tapi saat aku bertemu kamu pertama kalinya disaat kamu berbelanja akhirnya aku menemukan titik terang kalau ternyata kamu itu kekasihnya Arvin dan dari situlah aku mulai mencari tahu, ternyata Arvin sekarang menjadi seorang perwira polisi, seharusnya dia sekarang bersama dengan ku bukan denganmu! Dan aku juga akan menghancurkan Arvin dengan bukti yang aku sudah simpan sekian lamanya,Aku tidak akan melepaskan Arvin dia akan menejadi milikku,dan kamu akan mendekam dipenjara.!! Nadine!" Ucapnya.
" Kamu gila!"
" Yah!! Aku memang gila karena aku gila akan cintanya Arvin dan aku gila akan pelukan Arvin, ciumannya dan dekapan hangatnya yang selalu akan menghangatkanku disaat malam tiba, Tapi kamu menghancurkan semuanya Nadine, kamu sudah membuat aku luntang lantung dengan ketidak pastian untuk bertemu dengan Arvin!!" Ucap Maya setengah keras nada bicaranya.
" Kamu sangat mencintai Arvin?Tapi kenapa kamu mau menyakiti Arvin dengan mengungkap bukti yang ada denganmu, itu sama saja membuat Arvin terluka dan kamu akan dibencinya selamanya, coba kamu pikir apakah kamu tidak tahu dampaknya nanti kalau Arvin dipenjara dengan bukti yang kamu buat itu muncul kepermukaan? Apakah kamu yakin kalau aku nantinya dipenjara dan kamu akan mendapatkan cintanya Arvin,apakah tidak terbalik kamu yang akan mendekam di penjara?!" Ucap Nadine penuh dengan penekanan dinada bicaranya
Maya terkejut dengan kata-kata Nadine dia langsung menatap Nadine dengan sinis