Triplets' Last Mission.

Triplets' Last Mission.
Berdamai



Ada jadwal pengunduran waktu penerbangan. Aisyah dan Chen diperkirakan akan tiba malam di Jogja. Mereka duduk bersebelahan dalam diam. Aisyah memikirkan keadaan Ilkay dan juga Asisten Dishi yang berangkat ke Amerika sendirian. Sementara dirinya tak bisa melakukan apapun dalam hal itu. 


"Apa kamu baik-baik saja? Apa yang kamu cemaskan, Aisyah?" tanya Chen. 


"Ti-tidak, aku hanya merindukan Gwen saja. Pasti dia akan ngomel saat kita kembali nanti. Kita terlambat sampai selarut ini," jawab Aisyah berbohong. 


"Iya, dia pasti akan marah. Tapi, aku tak habis pikir dengan Asistenku. Mengapa dia ke Amerika sendirian? Sedangkan pekerjaan di sana tidak ada yang urgent," gumam Chen. 


Aisyah hanya bisa diam, menghela napas dan berusaha membuat dirinya lebih tenang. Beruntung, sebelum pulang, Aisyah sempat berphoto dengan Ilkay yang akan membuatnya tak terlalu berat merindukan keponakannya itu. 


"Kak Chen," panggil Aisyah. 


"Iya," 


"Apa kamu tidak ingin masuk Islam? Aku sangat berharap kita bisa satu keyakinan. Aku pikir itu akan jauh lebih indah," celetuk Aisyah.


"Kenapa kamu menanyakan itu?" tanya Chen bingung. 


"Aku tidak memaksamu. Tapi aku ingin kamu masuk Islam, jika di saat aku sudah tutup usia nanti, doamu akan sampai kepadaku," 


Entah kenapa Aisyah mengatakan hal itu. Namun ucapan Aisyah membuat Chen bergetar dalam hatinya. Chen hanya masih bingung akan memulai semuanya. Ia masih dalam dosa besar menjalankan misi gelapnya. Baginya, bagaimana Tuhan akan memaafkan kesalahannya dalam memilih pekerjaannya itu. 



Sampailah mereka di Bandara. Mereka juga dijemput oleh Gehna dan suaminya. Gehna dan suaminya memang sengaja pulang untuk menghadiri pernikahan Gwen dan ingin bertemu dengan adiknya yang baru saja kembali itu. 



"Assallamu'laikum, Kak Nena, Habib, kok, kalian yang jemput kami? Ayah mana?" tanya Aisyah mencium tangan Gehna. 



"Harus Ayah kamu, ya? Kakak kan juga ingin bertemu dengan adik kakak yang tampan ini," Gehna menatap Chen dengan haru. "Halo Chen, aku adalah Gehna. Kakak perempuan pertamamu dari Pamanmu Raihan," imbuh Gehna. 



"Oh, halo," saat Chen hendak meraih tangan Gehna, Aisyah menahannya. 



Aisyah menjelaskan jika Chen tak perlu bersentuhan kulit langsung dengan Gehna. Sepupu tetap bukan mahram, jadi diharamkan bagi mereka bersentuhan. Kecuali jika Gehna laki-laki, maka Aisyah juga bisa salim dengannya. 



"Oh, nggak boleh, ya?" tanya Chen polos. 



"Baiklah, nanti saya akan menjelaskan kepadamu secara detailnya. Sekarang, mari kita pulang. Gwen sudah menunggu kalian sejak sore tadi," sela suami Gehna. 



Mereka pulang sambil mengobrol banyak tentang semua hal. Membuat Chen semakin tertarik dengan apa yang namanya Agama Islam. Apakah Chen akan ikut keyakinan keluarga kandungnya? 



Sayang, ketika Aisyah dan Chen datang, Gwen sudah tidur lebih dulu. Aisyah memutuskan untuk istirahat juga. Ia akan menemui saudarinya esok nanti ketika akan selamat subuh. Sementara Chen, ia masih duduk bersama dengan Ayahnya di teras. 



"Bagaimana kabar tentang anakmu. Apakah sudah menemui titik terang?" tanya Yusuf. 




"Ayah, betapa kejamnya diriku. Aku menelantarkan Ibu dari anakku. Dan saat ini aku pun tidak tahu dimana anakku berada," lanjutnya. 



"Ayah akan berdoa selalu mendoakan yang terbaik untukmu. Kamu yang sabar, kuat, dan jangan pernah putus asa," tutur Yusuf menepuk bahu putranya dengan lembut.



Yusuf sempat kecewa dengan putranya. Tapi, ia tak akan menghakimi putranya karena sangat putra memang tidak besar dalam didikannya. Budaya dan gaya hidup Chen ketika di Amerika pasti juga berbeda dengan gaya hidup di negara yang mayoritas penduduk orang muslim. 



Menjelang subuh, Gwen terkejut ketika melihat Aisyah ada di barisan pertama ketika ke mushola desa. Gwen sempat bengong, dan terus menatap Aisyah, memastikan jika yang berdiri di depannya adalah saudarinya. 


"Kak Aisyah?" sapa Gwen. 


"Kamu baru sampai? Kirain udah berangkat duluan," Aisyah membalas sapaan Gwen dengan senyuman.


"Kak Aisyah kapan pulang? Kenapa nggak langsung menemuiku? Udah tau aku nggak bawa HP, malah kakak nggak langsung menemuiku, ngeselin deh!" kesal Gwen. 


"Sttt... Ayo, salat dulu. Ngemengnya nanti saja," 


Mereka juga salat bersebelahan. Gwen seperti bertemu dengan induknya yang sudah lama terpisah. Kakak perempuan memang selalu seperti ibu kedua bagi seorang adik. 


Usai salat, mereka juga pulang dengan banyak mengobrol. Gwen mencurahkan semua perasaan, hari-hari yang dilaluinya ketika tanpa Aisyah di rumah, dan juga dimana ia mulai tertarik dengan kisah calon suaminya dari beberapa sumber. 


"Kak, kakak Aisyah yakin udah ingat semuanya?" tanya Gwen lagi. 


Aisyah mengangguk seraya mengucap Hamdalah sebagai rasa syukur. Langkah Gwen terhenti tepat di depan rumah mereka. 


"Ada apa? Kenapa berhenti?" tanya Aisyah. 


"Aku minta maaf. Sebelum kecelakaan itu terjadi, aku ... Aku menyesali semua perbuatanku itu, kak. Aku benar-benar tak menyangka kejadian buruk itu terjadi," sesal Gwen. Terlihat sekaki dari sorot matanya yang memalingkan pandangannya dari kakaknya. 


"Aku meragukan kasih sayangmu, itu sangat buruk sekali. Menuduhmu merebut segalanya dariku, itu sangat memalukan,"


"Bagaimana aku yang sudah besar ini, masih memiliki pemikiran seperti itu. Aku sungguh menyesal, Kak Aisyah. Maafkan aku," rangkasnya dengan suara lemah. 


Aisyah sengaja diam dan ingin mendengarkan apa yang akan adiknya utarakan. Diketahui, memang Gwen sudah ada banyak perubahan. Ia menjadi lebih tenang, jika bicara juga selalu dipenuhi dengan kelembutan. Tak seperti sebelumnya yang ketika bicara harus berteriak-teriak. 


"Kak Aisyah kenapa diam saja? Kan aku sedihnya jadi nanggung," celetuk Gwen masih saja bisa ngelawak. 


"Alhamdulillah, kamu sudah mulai bisa bersikap dewasa. Kakak seneng banget, bangga sama kamu. Kamu bisa berpikir, dimana letak kesalahanmu, mampu mengontrol emosi juga sekarang, tutur bahasamu juga santun banget sekarang," puji Aisyah. 


"Nggak kerasa aja, tiga hari lagi, kita nggak bisa berantem rebutan makanan di pagi dan malam hari. Kamu akan sibuk dengan suamimu, sibuk dengan keluarga barumu. Kakak sendirian, Kak Chen kembali ke Tiongkok, Ibu dan Ayah memtuskan untuk ke Australia sampai adek kita lahir," air mata Aisyah mulai membasahi pipinya. 


Aisyah menghela napas panjang, menyeka air matanya, kemudian tersenyum membelai pipi saudarinya dengan lembut. 


"Tapi, kakak bahagia. Kamu, akan menikah dengan orang yang tepat. Bisa merubah dan membimbing kamu dengan sangat baik nantinya. Jangan lupain Kakak, ya ...,"


"Nggak lucu pagi-pagi nangis. Aku lagi diet, kakak, huaa ... Tau sendiri kan kalau aku lagi nangis atau sedih, aku suka makan," protes Gwen. 


Keduanya berpelukan sebelum masuk ke rumah. Masalah diantara keduanya telah selesai. Tak ada lagi yang mengganjal di hati keduanya. Hanya saja, Aisyah sedikit kecewa karena orang tuanya akan ke Australia setelah Gwen menikah.