Triplets' Last Mission.

Triplets' Last Mission.
Rencana Akad



"Kamu serius, Chen?" tanya Lin Aurora. 


"Aku sudah katakan barusan, 'kan? Jika aku tidak ingin bermain dengan pernikahan, makanya aku akan serius dalam hal ini. Kita tidak mungkin melaksanakan akad di Tiongkok. Maka dari itu, aku akan mengundang Ayah angkatku, Lin Jiang, Jovan dan beberapa saudara laki-lakimu yang ada di perbatasan untuk hadir, tanpa sepengetahuan Ayahmu," jelas Chen. 


"Sudah jelas, aku malas membahas dua kali setiap ucapanku. Jadi, sore nanti … Ayah, segera bawa aku ke tukang itu, dan kabari keluarga yang lain tentang akadku," 


Chen kembali ke kamarnya. Ketika masih berdiri di belakang pintu, ia memejamkan matanya dan mengingat perjalanan hidupnya. Di saat itu juga, Lin Aurora mengetuk pintu kamarnya. 


Tok, tok, tok …. 


"Siapa?" tanya Chen. 


"Ini aku, boleh aku masuk?" jawab Lin Aurora.


Chen menghela napas panjang. Kemudian membuka pintu untuk Lin Aurora, lalu memintanya untuk masuk. 


"Katakan apa yang ingin kau tanyakan," ucap Chen bersikap dingin. 


"Kamu yakin dengan pernikahan kita?" tanya Lin Aurora. 


"Masih bertanya tentang keyakinan? Jika kau ragu, kau bisa menolaknya sekarang," ucap Chen ketus. 


"Chen, menikah itu bukan hal yang sepele. Bahkan, kita belum mengenal satu sama lain, bagaimana ji_" ucapan Lin Aurora terhenti. 


"Belum mengenal satu sama lain? Mau sampai kapan kita menjalin pertunangan tanpa kejelasan. Bukankah itu akan semakin banyak membuat kita dalam dosa? Aku malas berdebat, jika kau ragu, kau bisa menolakku saat ini juga!" tegas Chen. 


Lin Aurora terdiam. Sepintas, ia teringat ucapan Rebecca kemarin malam. Tentang meninggalkan dan melanjutkan. Sebab, Chen berhak bahagia, meski masih harus berjuang untuk mendapatkan cinta dari orang yang pernah patah hati karena cinta. 


"Tapi Ayahku, aku hanya tidak ingin mimpi burukku menjadi kenyataan," batin Lin Aurora menjerit, bimbang.


"Nona Lin, ada apa?" tanya Chen. 


"Tidak,"


"Aku akan siap melaksanakan akad bersamamu. Tapi kumohon, jangan sampai Ayahku tahu tentang keyakinanku. Bagaimanapun juga, kita akan menikah secara resmi di Tiongkok, 'kan?" Lin Aurora masih belum bisa mengatakan yang sebenarnya. 


"Tenang saja, meski kita menikah secara agama dulu. Aku tidak akan pernah menyentuhmu sebelum kita benar-benar siap," ujar Chen. 


"Sekarang, keluarlah!" 


Lin Aurora memang sulit menebak isi hati Chen. Terkadang, Chen begitu lembut dan perhatian padanya. Namun, sesaat kembali lagi menjadi pria yang angkuh dan dingin sikapnya. 


Setelah Lin Aurora meninggalkan kamar, Chen menelfon Jovan dan meminta orang-orang yang ia butuhkan untuk hadir sebagai saksi. Tak lupa dua saudara laki-laki dari Lin Aurora yang berada di perbatasan dan berkeyakinan sama dengan Lin Aurora. 


"Ingat, meski sibuk dengan acara ini. Terus selidiki maksud dari Tuan Natt ini. Aku merasa, perjodohan ini ada yang janggal, Jovan," pinta Chen. 


"Kau tenang saja. Aku juga merasakan hal yang sama. Aku akan kasih kabar lagi, jika aku sudah menemukan buktinya," jawab Jovan. 


"Baiklah." tukas Chen. 


Meski Lin Aurora tidak memberitahukan kebenarannya, Chen sudah merasa jika perjodohan, pertunangan dan tujuan pernikahannya dengan Lin Aurora ada yang aneh. Meski begitu, Chen juga tak ingin mempermainkan perasaan seorang wanita. 


"Aku memiliki dua Ibu, aku memiliki dua saudari kandung dan juga tiga sepupu perempuan. Aku tidak akan mungkin melukai hati Lin Aurora karena jaminannya perempuan-perempuan penting dalam hidupku itu," gumamnya.


"Sebisa mungkin, aku akan menjadikan Lin Aurora ini sebagai orangku. Dengan begitu, aku bisa membuat niat buruk Ayahnya, berbalik ke dirinya sendiri,"


"Persetanan dengan urusan cinta. Jika memang takdir, cinta itu akan datang dengan sendirinya."


****


Di Korea, Aisyah diberi kabar oleh Chen tentang akadnya bersama dengan Lin Aurora. Sesalnya, Aisyah tak bisa datang karena ada ujian di kampusnya dalam waktu dekat. Begitu juga dengan Ilkay uang sudah mulai sibuk dengan pendidikannya.


"Maaf, aku tidak bisa pulang," ucap Aisyah. 


"Ai, kau ...," 


"Kak Chen, aku harus belajar dengan serius. Kali ini, akun tidak ingin gagal lagi. Ini adalah cita-citaku sejak kecil," jelas Aisyah dengan nada lembutnya. 


"Tapi, apakah kau tidak mau melihatku menikah?" tanya Chen menjadi murung. 


"Bukan seperti itu. Siapa sih yang tidak ingin melihat kakakku menikah? Tapi, memang keadaannya yang tidak memungkinkan. Korea ke sana juga tidak hanya sedetik, kak. Butuh waktu juga untuk bersiap-siap. Lagipula, akadmu terlalu mendadak. Aku hanya bisa berdoa yang terbaik untukmu dari sini," 


Chen terdiam sejenak. Aisyah terus memberikan alasannya tanpa harus membuat Chen merasa kecewa. Dengan kelembutan tutur kata Aisyah, Chen akhirnya luluh kembali. 


"Baiklah, belajarlah dengan sungguh-sungguh. Jadilah wanita yang tangguh, jika ada waktu nanti, aku akan berkunjung ke sana," ucap Chen. 


"Kak Chen, Gwen juga adikmu. Mengapa kamu selalu bergantung padaku? Aku tau kasih sayangmu terbagi rata kepada kami, tapi Gwen, selalu ingin kamu memprioritaskan dirinya," tutur Aisyah. 


"Aku tidak pernah membandingkan antara dirimu dan Gwen. Mengapa kamu membahas ini?" ketus Chen. 


"Kak Chen ...."


Chen memahami apa yang dikatakan oleh Aisyah. Memang sayangnya sama, namun perlakuannya sangat berbeda. Saat itu, Chen harus bisa membuat Gwen merasa diprioritaskan. 


"Tapi Gwen susah diajak serius. Itu kenapa aku malas mengandalkannya," gumam Chen. 


Terpaksa, Chen pun menelpon Gwen untuk datang sehari sebelum akad. Tetap dalam candaannya, Gwen masih saja meminta imbalan, meski Chen tahu tanpa diminta saja, ia akan memberikan hadiah kepada saudarinya yang tengah mengandung itu. 


"Aku akan transfer malam ini juga. Aisyah tidak bisa pulang, maka semuanya aku serahkan kepadamu dan suamimu, jangan sampai merusak hari pentingku, paham?" tegas Chen. 


"Siap, Bos!" jawab Gwen. 


"Dasar mata duitan! Jika nanti anaknya mirip denganku, jangan salahkan aku! Eh, tapi mirip pun juga aku tidak rugi, Gwen kan mirip denganku? Ah, menjengkelkan!" umpat Chen, setelah mentransfer uang ke rekening Gwen. 


___


Tiba waktunya Chen harus sunat. Sepanjang perjalanan, ia merasa gugup. Sedari keluar dari rumah, tangan dan kakinya terus bergerak tiada henti. 


"Kamu membunuh orang saja tidak takut. Sering terluka, sering masuk ke rumah sakit, sering patah tulang, masa iya sunat aja takut?" goda Yusuf. 


"Ayah!" sahut Rebecca. 


"Itu alay vital, Ayah! Berhenti menggodaku. Tidak lucu jika main-main dengan alat vital," ketus Chen masih kedalam dengan  Ayahnya. 


"Hanya sedikit saja, mungkin satu senti doang. Itu juga hanya kulitnya, bukan batangnya. Apa yang perlu ditakutkan?" jelas Yusuf. 


"Sama saja! Setiap inci kulitku ini berharga, Ayah!" sahut Chen dengan bibirnya yang kembali manyun. 


Yusuf pun tertawa. Kemudian menanyakan kepada Rebecca tentang dokter yang akan menyunat Chen, yakni sahabat dari Aisyah, nenek Chen dulu.