Triplets' Last Mission.

Triplets' Last Mission.
Senyum Indah



"Dia menjelaskan padaku?" perasaan Aisyah sudah mulai hangat. "Mungkinkah Dia merasakan sesuatu ketika mengirim foto itu kepadaku? Misalnya merasa bersalah karena dia merasakan adanya getaran apa itu, kepadaku?"


"Ya Allah, aku sudah tidak sabar ingin memeluk dan tidur di pelukan suami hamba__"


Keceriaan Aisyah kembali meningkat setelah mengetahui suaminya kembali, meski hilang ingatan. Sebelumnya, wajahnya selalu muram dan sangat terlihat tertekan. Apalagi, setiap harinya harus mengingat bagaimana dua saudara kembar, ibunya, kakak ipar dan sahabatnya meninggal di depan matanya.


Melihat senyum manis yang tersemat di bibir Aisyah, membuat Tuan Jin ikut bahagia. Dia baru datang membawakan makanan yang dibuat oleh Ayyana.


"Ada apa ini? Kenapa kamu tersenyum ceria seperti itu?" tanya Tuan Jin.


"Eh, Tuan Jin. Sejak kapan kamu datang?" Aisyah sampai terkejut dengan kedatangan pria tinggi tegap di belakangnya.


"Sudah berulang kali aku mengetuk pintu. Tapi kamu mungkin tidak mendengarku. Ketika kusentuh ganggang pintu, pintunya terbuka. Aku melihatmu sedang melamun di sini. Maaf jika aku lancang masuk," terang Tuan Jin dengan suaranya yang lembut.


Aisyah tersipu. Dia menerima makanan yang kakak perempuannya buatkan untuknya. Tuan Jin ini selalu ada untuk Aisyah dan Ayyana selama hampir dua bulan. Apalagi, Tuan Jin juga begitu dekat dengan Haidar. Jadi, itu sebabnya Aisyah menganggap Tuan Jin seperti keluarga sendiri.


"Apa ada hal yang menyenangkan? Mengapa pipimu memerah seperti itu?" lanjut Tuan Jin.


"Ah, biar aku tebak. Suamimu … baru saja menghubugimu?"


Dengan menutupi wajahnya, Aisyah mengangguk pelan. Kemudian, Aisyah bercerita tentang apa yang terjadi kepadanya. Melihat senyum di wajah gadis yang pernah ada di hatinya itu, membuat Tuan Jin sedikit lega.


"Oh, jadi kamu berpikir, jika suamimu itu sudah memiiki ingatan terhadapmu? Atau … suamimu memang ing--" ucapan Tuan Jin terhenti kala Aisyah mengajukan kepalan tangannya.


Keduanya pun tertawa bersama. Malam itu, mereka makan masakan dari Ayyana. Yang dimana masakan tersebut selalu mengingatkan kampung halaman bagi Aisyah. Merasa merindukan Ailee sang keponakan, Aisyah pun mengirim pesan kepada Agam.


Perbedaan waktu antara Indonesia dan Korea selisih dua jam saja. Jadi, belum larut jika Aisyah menghubungi Agam di waktu 8 malam. Pesan langsung terbuka dan tanpa membalas pesan, Agam langsung menelpon Aisyah.


"Assallamu'alaikum, ustadz. Apakah aku mengganggu waktu istirahatmu? Jam berapa sekarang?" tanya Aisyah.


"Di sini baru mau maghrib. Apa kamu merindukan Ailee? Dia sekarang ada dalam pangkuanku. Apa kamu ingin panggilan telepon dengannya?"


"Boleh, memang itu tujuanku menghubugimu," jawab Aisyah.


Ailee ini sangat mirip sekali dengan Rebecca. Memiliki rambut pirang dengan mata birunya yang cantik. Agam selalu membawa Ailee kesana kemari, kadang tinggal bersama Yusuf, dan sisanya dipakai untuk tinggal di rumah Agam sendiri.


"Aku mengirim baju untuk Ailee tadi sore. Tapi, alamat pengirimannya di pesantren milik ustadz. Apakah di hari tersebut, Ailee dan Abinya tinggal di pesantren?" tanya Aisyah.


"Sebenarnya besok mau ke Kota. Menginap di rumah Ayah beberapa hari. Biar saja paketnya datang ke pesantren, pasti ada santri atau pengurus yang menerimanya. Terima kasih Mama Ai--"


"Sama-sama anak Mama Ai yang cantik, sholehah. Jadi pengen pulang,"


Obrolan itu juga disaksikan oleh Tuan Jin. Melihat Tuan Jin ada di sisi Aisyah juga tidak membuat Agam terkejut karena sudah tahu kedekatan mereka. Setelah puas mengobrol dan makan, Aisyah pun pulang diantara oleh Tuan Jin.


"Ada apa, sejak keluar dari rumah sakit, kamu terlihat murung?" tanya Tuan Jin saat sudah sampai di depan gedung apartemen Aisyah tinggal.


"Aku merindukan Gwen, Kak Chen dan juga Ibu. Melihat Ailee yang memiliki gen yang sama dengan mereka, membuatku semakin merindukan mereka bertiga," jawab Aisyah lirih.


Ucapan Tuan Jin membuat Aisyah berpikir. Memang sudah waktunya dirinya bangkit. Jika kembali diingat, Tuan Jin dan Bora juga bernasib kurang beruntung juga dalam keluarganya. Hanya rasa syukur yang membuat hidup terasa nikmat.


"Sudah malam, apakah Tuan Jin mau menginap? Kau bisa tidur dengan Haidar nanti," Aisyah menawari Tuan Jin.


"Tidak perlu. Aku masih ada pekerjaan yang belum kuselesaikan. Masuk dan segera istirahat, besok aku tidak menjemput Haidar berangkat ke sekolah. Tolong katakan ini kepada kakakmu, ya," sahut Tuan Jin.


"Mengapa tidak Tuan Jin katakan saja sendiri kepada Kak Ay?" tanya Aisyah.


"Aku akan menelponnya nanti. Tapi alangkah baiknya kamu juga katakan kepadanya. Kita juga habis bersama, 'kan?" jawab Tuan Jin.


Hanya angkatan jempol sebagai jawaban setuju dari Aisyah. Mereka pun berpisah dan Aisyah segera berjalan masuk ke gedung apartemennya. Sebelum masuk, ada seseorang yang menghentikan langkahnya. Yakni, Ayden.


"Ai!" panggilnya.


Mendengar namanya dipanggil, Aisyah menoleh ke arah Ayden. "Oppa, untuk apa kau datang malam-malam seperti ini?" tanyanya.


"Ah, ada hal penting yang ingin aku katakan padamu. Bisakah kita keluar sebentar? Makan mie misalnya, di depan toko?" ajak Ayden.


Tanpa penolakan, Aisyah pun mengikuti saja pa yang kakak sepupunya inginkan. Mereka berjalan kaki menuju toko terdekat dari sana. Di malam yang cerah itu, Ayden mengatakan jika dirinya akan ke Tiongkok untuk menggantikan kerja Tama dua minggu lagi.


"Apa? Kau akan menggantikan Mas Tama?" tanya Aisyah. "Lalu, untuk apa Oppa mengatakan ini padaku? Jika memang itu sudah tugas kalian untuk membantu memajukan perusahan peninggalan Kak Chen, aku hanya bisa memberi kalian dukungan saja. Lantas, untuk apa Oppa meng--" ucapan Aisyah terhenti.


"Kenapa?" tanya Ayden.


"Kita akan makan mie yang mana? Lihatlah, produk halal jarang bisa kita jumpai di toko ini. Kita harus mencari makanan di toko sebelahnya lagi," jawab Aisyah.


Ayden mengira Aisyah akan mengatakan suatu yang penting dengan kepergiannya ke Tiongkok dua minggu lagi. Ternyata hanya ingin mengatakan jika tidak ada mie yang halal di toko sebelumnya.


"Ai,"


"Hm?"


"Apa kamu tidak ingin nitip sesuatu gitu? Aku ingin ke Tiongkok, loh!" Ayden kembali meyakinkan diri.


"Um … tidak!" jawab Aisyah.


"Hish, seharusnya kau nitip salam untuk suamimu. Kenapa bersikap seperti ini? Jangan sok ku--" ucapan Ayden terhenti kala Aisyah mengangkat telapak tangannya.


"Apa?" ketus Ayden.


"Oppa, untuk apa aku menitip salam kepada suamiku? Dia masih hilang ingatan, jadi apa gunanya? Lebih baik, Oppa bantu saja Ko Feng mengobati suamiku, bagaimana? Kau juga harus fokus kerja, bukan?" terang Aisyah.


"Aku tidak ingin merepotkan dirimu." sambung Aisyah merasa sok kuat.


Ayden hanya menatap penuh keheranan adik sepupunya itu. Sebab, sebelumnya selalu murung dan susah dikendalikan.