Triplets' Last Mission.

Triplets' Last Mission.
Pendaftaran Pernikahan



Malam harinya ketika Tuan Wang dan Chen ada di dalam satu ruangan. Mereka sedang membahas bisnis baru yang ada di Thailand. Sudah setahun lebih, usaha itu berkembang sangat pesat karena bekerja sama dengan perusahaan Lim. 


"Chen, kamu yakin besok mau mendaftarkan pernikahan?" tanya Tuan Wang.


"Iya," jawab Chen.


"Masih ada waktu untuk membatalkan. Bagaimana jika Jovan saja yang menggantikanmu menikah? Biarkan dia menikah dengan Lin Jiang," sambung Tuan Wang.


"Biarkan saja seperti ini," jawab Chen lagi.


"Aku tidak suka kamu menikah dengan putri Tuan Natt. Dia ada maksud lain, dengan kau jatuh ke dalam perangkap seperti ini, bagaimana caramu untuk keluar, Chen?" lanjut Tuan Wang. 


"Jangan khawatirkan aku. Aku tidur dulu, selamat malam, Ayah," ucap Chen, beranjak dari tempat duduknya.


Tuan Wang tidak menginginkan apapun lagi. Sejak ia muda, cukup dirinya mengumpulkan banyak harta dan ingin menikmati masa tuanya dengan melihat putranya bahagia dengan wanita yang dicintainya. Bukan menjalani pernikahan karena bisnis maupun balas dendam. 


Hubungan asmara Tuan Wang tidak serumit itu dengan menikahi wanita yang telah dijodohkan. Namun, Tuan Wang tahu bagaimana rasanya sakitnya kehilangan wanita yang dicintainya. Dan Tuan Wang berharap, Chen menikahi Lin Aurora bukan karena balas dendam dengan Puspa maupun dengan Tuan Natt sebagai orang yang sangat licik. 


"Aku tidak ingin kamu sepertiku, Chen. Aku mungkin hanya ayah angkat bagimu, tapi masih ada keluargamu yang selalu mengharapkan kebahagiaan kamu," gumam Tuan Wang dalam hati. 


Keesokan harinya, Chen masih bersikap dingin seperti sebelumnya. Hari-hari bersama dengan keluarga kandungnya ternyata mampu merubah tempramen seorang Chen. 


"Setelah bekerja, aku akan ke kantor sipil. Nanti Lin Aurora akan datang ke mari, aku akan pulang terlambat," ucap Chen selesai sarapan. 


Saat Chen hendak beranjak, Nyonya Wang pun menahan tangannya. Dengan lembut, Nyonya Wang menanyakan tentang perubahan sifat yang ada pada Chen.


"Ada apa? Apa kamu? Apakah ada sesuatu yang mengganjal pikiranmu? Kenapa setelah berhubungan dengan keluarga Tuan Natt, kamu seperti--" 


"Aku baik-baik saja. Katakan kepada pelayan Mo, Lin Aurora tidak bisa makan pedas," sela Chen, kemudian pergi begitu saja. 


Meski kesal, tetap saja Chen memperhatikan Lin Aurora. Nyonya Wang hanya bisa menghela napas saja. Tak menyangka jika putranya sudah besar dan telah menikah. 


"Kenapa kau menangis, istriku?" tanya Tuan Wang. 


"Bagaimana aku tidak terharu, suamiku. Ketika aku datang kemari, aku melihatnya masih seorang anak kecil yang sangat pendiam. Dia tersenyum kepadaku, menyambutku dengan baik meski belum pernah memanggilku dengan sebutan ibu," ungkap Nyonya Wang. 


"Meski ada Nyonya pertama di rumah ini, tapi perlakuannya kepadaku sangat baik. Santun, cara  menghormati dan bicara padaku sangat baik," 


"Sekarang, dia sudah menikah. Tingginya melebihi Anda, suamiku. Tampan, berwibawa, meski masih sedikit angkuh dan sombong, tapi dia adalah putra paling manis bagiku,"


"Meski sudah mengetahui siapa keluarga kandungnya, dia juga tidak pergi meninggalkan kita. Masih memberlakukan kita sama seperti sebelumnya,"


"Aku jadi penasaran, seperti apa orang tuanya itu," tukas Nyonya Wang. 


Chen berangkat ke kantor lebih dulu. Memastikan jika pekerjaan Jovan dan karyawan lainnya sudah sesuai dengan prediksinya. Kemudian, ia meminta Jovan untuk menyiapkan mobil untuk bertemu dengan Lin Aurora ke rumahnya. 


"Tuan Muda, mobil sudah siap," ucap Jovan.


"Terima kasih. Aku akan segera kembali, kau bisa handle semua pekerjaan ini dulu. Sebagian sudah aku baca dan tandatangani. Sisanya, aku akan serahkan padamu," sahut Chen memberikan semua berkasnya kepada Jovan.


"Baik, Tuan." 


Tanpa menunggu hal lainnya lagi, Chen dengan membawa berkas miliknya segara menjemput Lin Aurora dan membawanya ke catatan sipil untuk mendaftarkan pernikahan mereka. 


"Kenapa hanya diam? Masuk ke mobil!" ketus Chen. 


Ketika di dalam mobil, Lin Aurora menjulurkan tangannya. "Apa?" tanya Chen masih saja ketus. 


"Selama aku tinggal di rumah kamu, aku melihat orang tua kamu, Bibi dan Paman kamu, dan juga pasangan-pasangan di keluarga kamu melakukan ini kepada suaminya. Aku ingin salim dengan kamu," jawab Lin Aurora dengan senyum ramahnya. 


Namun, Chen hanya diam saja. Kemudian memalingkan wajahnya dan segera menyalakan mobilnya. Perlahan, Lin Aurora menarik tangannya kembali. Tak kesal, Lin Aurora hanya tersenyum sabar. 


"Aku sudah bicara dengan ayah, jika masalah wah 30% itu ... aku--"


"Aku tidak peduli!" Chen menyela ucapan Lin Aurora. 


Lin Aurora kembali diam. Ia tidak menyangka jika Chen masih bersifat acuh padanya.  Lin Aurora hanya bisa pasrah dan berusaha untuk tetap bertahan. 


*


Sesampainya di kantor catatan sipil, mereka segera mencetak buku nikah dan juga tak foto satu kali supaya bisa membuktikan jika mereka benar-benar sudah menikah.


"Jadi setelah ini kita harus apa?" tanya Lin Aurora.


"Ya tentu saja pesta! Sesuai dengan keinginan Ayahmu," jawab Chen memalingkan wajahnya setiap bicara dengan Lin Aurora.


"Aku malas mengurus semuanya dan tidak ingin repot sama sekali. Jadi aku serahkan semuanya kepadamu, aku hanya terima jadi, paham?" lanjut Chen.


Lin Aurora mengangguk. Hanya mengalah adalah cara ampuh supaya Chen tidak semakin kesal padanya. Meski sakit, tapi Lin Aurora berpikir jika sifat Chen itu adalah wajar karena Ayahnya memiliki niat buruk kepada suaminya itu. 


Ketika makan siang, Chen hanya diam dan sibuk dengan ponselnya. Masih menunggu kabar tentang kesehatan Gwen yang baru saja keluar dari rumah sakit. 


"Chen," panggil Lin Aurora.


"Hm," jawab Chen.


"Aku boleh bertanya?" sambung Lin Aurora ragu.


"Ya," jawab Chen singkat.


"Kapan kita akan melakukan resepsi itu? Maksudku, jika mendadak, apakah keluarga kamu yang lain bisa datang?" tanya Lin Aurora dengan keraguannya. 


Chen tak merespon pertanyaan dari istrinya. Ia masih sibuk dengan ponselnya dan mengabaikan Lin Aurora di depannya. 


Tak lama kemudian, setelah mereka selesai makan, Chen tidak mengantar Lin Aurora pulang ke rumah. Chen akan lanjut bekerja dan meminta Lin Aurora datang ke rumah sendirian. 


Awalnya, Lin Aurora merasa ragu dan tidak enak hati karena tiba-tiba datang ke kediaman Wang. Namun, karena desakan dari Chen, akhirnya Lin Aurora pun menurut saja. 


"Apa, kita tidak bisa pulang bersama?" tanya Lin Aurora mencegah langkah Chen yang baru saja akan meninggalkan dirinya. 


"Aku masih ada rapat. Jika kau merepotkan aku, maka perlahan saham keluargaku akan dimiliki ayahmu, mengerti!" tegas Chen. 


Sekali lagi, Lin Aurora hanya tersenyum dan mengucapkan hati-hati kepada Chen. Kemudian pergi dengan wajah murungnya. Pemandangan itu membuat hati Chen juga tidak nyaman. 


"Maafkan aku, hanya saja ... Hatiku tak bisa lapang jika menghadapi Ayahmu. Maafkan aku, Lin Aurora," gumam Chen dalam hati. 


Chen segara masuk ke mobilnya, dan baru pergi setelah melihat Lin Aurora naik bus. 


Maaf baru up, memang sibuk sangat dengan dunia nyata. Dikarenakan juga bulan ini aku kecewa karena ada hari bolong update, jadi malas mau rajin. InsyaAllah bulan depan akan rutin lagi. Terima kasih atas kesabaran kakak kakak semuanya.. love u ❤️❤️