Triplets' Last Mission.

Triplets' Last Mission.
Bakti Aisyah



Di kampus, selama belajar pun Aisyah sama sekali tidak fokus. Tetap pikirannya tertuju pada suaminya yang belum juga memberikan kabar padanya. Ketika Aisyah berjalan pulang, ia merasakan sesuatu seperti menusuk hatinya.


Aisyah memegang tubuh bagian depan di dekat jantungnya. Sungguh ada sesuatu yang membuatnya merasakan sakit dengan tidak terasa, air matanya juga ikut mengalir.


Di lain tempat, Dishi sedang diintrogasi oleh Jackson Lim. Namun, beberapa kali Dishi di siksa, tetap saja Dishi masih bungkam. Cambukan, pukulan dan juga tamparan di terima oleh Dishi sampai wajahnya penuh luka dan darah mengalir di setiap luka sayatan.


Sayatan itu juga ditaburi garam oleh Jackson Lim. Teriakan kesakitan Dishi membuat Jackson Lim senang dan puas.


"Aku ingin menawarkan kerjasama kepadamu, Dishi. Selama aku hidup, aku mendengar jika kau ini adalah asisten yang sangat baik. Tak hanya itu saja, bahkan coaster yang paling bisa diandalkan oleh siapapun," ujar Jackson Lim.


"Jika kau kau mau bekerja sama denganku, aku akan memberikan apapun yang kau mau. Rumah, kekayaan, atau istri baru yang jauh lebih baik daripada istrimu itu," lanjut Jackson Lim.


"Bukan hanya rumah dan kekayaan saja. Aku bahkan akan memberikan kamu sebuah kekuasaan yang sangat mempengaruhi segalanya dalam dunia hitam ini,"


"Bagaimana, Apa kau tertarik dengan tawaran yang menggiurkan dariku ini?" tukas Jackson Lim dengan senyuman liciknya.


Dishi hanya diam saja. Ia sama sekali tidak tertarik dengan apapun yang dikatakan oleh Jackson Lim. Membuat keputusan itu, Dishi tidak menyesal. Baginya, harta paling berharga adalah Aisyah. Jika dirinya mati saat itu juga, bisa mengenal Tuhan dan menjadi sebagian hidup Aisyah memang adalah anugerah baginya. Sampai kapanpun, ia tidak akan pernah menyesalinya.


"Bazhinghan! Apa kau tuli? Apakah pukulan dari orang ku belum cukup? Dasar asisten rendah yang sombong!" sentak Jackson Lim


CAT!!


PLAK!!


BUG!!


Pukulan, cambukan, dan juga tamparan didapat lagi oleh Dishi. Meski begitu, DC tidak pernah mengatakan sepatah katapun tentang rahasia keluarga Wang maupun keluarga Lim. Baginya, dua keluarga itu adalah hidupnya di dunia yang harus dipertanggungjawabkan sebagai Asisten seorang Chen Yuan Wang.


*


Sepulang dari kampus, Aisyah benar-benar mencari informasi dimana Dishi sebenarnya. Sejak Aisyah selalu terluka, Chen dan Gwen memberikan masing-masing orang kepercayaannya sebagai orang yang bekerja dengan Aisyah. Namanya Zhuang.


"Astaghfirullah hal'adzim, aku kan diberi orang kepercayaan oleh Kak Chen dan Gwen. Aku panggil salah satu dari mereka saja. Zhuang, dia adalah orang yang ada di kubu Dishi,"


Aisyah mendapatkan nomor Zhuang. Segera ia memerintahkan Zhuang untuk mendapatkan informasi tentang Dishi. Tak butuh waktu lama, Aisyah akhirnya mendapatkan informasi sangat penting.


"Kak Chen ini, dia benar-benar menganggapku sebagai adik apa tidak? Jadi selama ini dia tidak pernah mempercayai aku? Sehingga Cindy keluar saja dia tidak memberitahuku?" ucap Aisyah merasa di bohongi.


"Jackson Lim, Cindy, Kak Chen, Keluarga Kim, Keluarga Wang, keluarga Hao. Kalian ini sebenarnya orangnya seperti apa, sih? Kenapa ada organisasi hitam seperti seperti ini?"


Aisyah mulai lelah dengan yang berhubungan dunia hitam. Kekerasan, kerakusan, ketamakan, perampasan dan balas dendam selalu saja ada di dunia seperti itu. Membuat Aisyah seperti ingin berhenti berhubungan dengan semuanya.


"Apakah semuanya tidak lelah memiliki masalah terus? Banyak orang meninggal karena mereka. Tapi mereka tidak pernah merasa bersalah, kah?"


"Kenapa aku dilahirkan dari seorang putri Mafia? Kenapa Ayah menikah dengan Ibu? Kenapa aku juga menikah dengan Dishi? Astaghfirullah hal'adzim, ada apa denganku?"


"Tuan Jin? Sudah selarut ini kenapa kamu datang?" tanya Aisyah.


"Aku tahu suami kamu belum pulang. Aku tidak akan masuk, hanya ingin mengantarmu makanan. Tenang saja makanan ini bisa kamu makan, Aku membelinya di cabang milik pamanmu," ucap Tuan Jin menyodorkan bingkisan makanan untuk Aisyah.


Aisyah tersenyum. Kemudian berterima kasih dan meminta Tuan Jin untuk segera pulang. Bukan maksud Aisyah mengusirnya, hanya saja Aisyah tidak ingin menerima laki-laki manapun juga dia datang sendirian ke rumahnya.


"Aku paham itu. Sebentar lagi, pasti suamimu pasti akan segera pulang. Nona Aisyah, permisi," pamit Tuan Jin.


Tuan Jin telah pergi, segera Aisyah melakukan beberesnya. Ia juga akan mengambil libur untuk beberapa hari demi mencari suaminya. Sebelumnya, Aisyah juga menanyakan kepada Chen tentang suaminya.


"Kak, kapan terakhir kali suamiku berkomunikasi denganmu?" tanya Aisyah lewat telepon.


"Apa maksudmu? Aku tidak mengerti, Ai. Tolong bicaralah yang jelas. Dan lagi, aku sedang bekerja. Jadi, bisakah kau menelponku lagi nanti?"


Tanpa berkata apapun, Aisyah menutup telponnya. Aisyah yakin jika kakaknya juga tidak tahu bahwa Asisten pribadinya disekap oleh Jackson Lim dan juga Cindy.


"Jadi saat ini aku hanya mengandalkan Allah. Memang Allah selalu ada untukku. Tidak kusangka kehidupanku akan seperti ini. Aku pikir semuanya akan baik-baik saja setelah aku menikah!" cetus Aisyah mengelap belati miliknya, yang diberikan eh Rebecca dulu.


Malam itu, Aisyah akan berangkat bersama dengan Zhuang. Pria berusia 30 tahun itu adalah salah satu utusan Chen yang pernah Chen berikan kepada Aisyah.


"Nona, bagaimana jika Anda tidur terlebih dahulu. Perjalanan kita akan panjang, jika Nona tidak tidur--"


"Kau ini sebenarnya bekerja dengan siapa? Kau ini kan bekerja dengan, aku tidak bisa dibohongi seperti anak kecil, ya!" tegas Aisyah menyela ucapan Zhuang.


"Allahu Akbar … kamu menyuruhku tidur, jangan pikir aku bodoh. Setelah aku tidur, lalu kamu ingin membawaku pulang dan memintaku tinggal di rumah, 'kan?" lanjut Aisyah mulai kesal.


"Sebenarnya kamu itu memihak kakakku atau aku, sih? Bukanlah aku yang menggajimu sekarang? Mau, aku potong gajimu dan aku kirim kau ke kutub Utara!" tegas Aisyah.


"Maaf, saya sudah lancang, Nona. Saya tidak berani, saya kan setia kepada Nona," ucap Zhuang masih fokus menyetir.


Aisyah jika sudah mode on amarah, apalagi sudah dibohongi dan kenyataan yang begitu penting emulsi Aisyah tak dapat terkendali lagi. Diam seperti wanita sholehah, tapi diam-diam bergerak seperti bayangan hitam yang sewaktu-waktu bisa menelan melukai musuh tanpa menggunakan kekerasan. Sama sepeti waktu dengan Cindy ketika hendak menemukan Ilkay dulu.


Sekitar 4 jam lebih, akhirnya Aisyah dan Zhuang sampai ke tempat dimana Dishi di sekap. Aisyah meminta Zhuang untuk menunggunya di mobil dan memberinya sebuah alat.


"Aku akan memencet tombol ini ketika aku dalam kondisi darurat. Setelah ada bunyi sedetik, dan lampunya menyala dari lampu ini, itu berarti aku membutuhkan bantuanmu. Paham?" jelas Aisyah dengan serius.


"Iya, Nona!"


Setelah menjelaskan bantuan apa saja yang harus Zhuang berikan kepada Aisyah jika Aisyah dalam keadaan bahaya, Aisyah pun berlalu meninggalkan mobil dan Zhuang.


Lalu, apa yang akan terjadi? Apakah Aisyah berhasil menyelamatkan suaminya tanpa bantuan Chen atau Gwen?