Triplets' Last Mission.

Triplets' Last Mission.
"Ayo, Menikah!"



Tiba-tiba hujan mengguyur Kota. Chen baru ingat jika bulan itu adalah bulan Juli. Tempat makan yang cocok, yakni makan mie di tempat usaha Yue dan Hamdan yang ada di Kota yang sama itu. 


"Haih, Hujan. Bulan Juli akhir masih suka hujan ya di sini? Apakah semua tempat sama?" tanya Puspa mengeringkan lengan bajunya yang sedikit basah ketika keluar dari mobil. 


"Curah hujan antara Mei hingga Juli. Musim hujan Asia Timur berlangsung dari Juni hingga Juli," jelas Chen dengan posisi yang sudah santai.


"Lalu, di Korea, Jepang itu dari bulan Juli hingga Agustus. Begitu juga di kawasan Chang Jiang dan Huai He di Tiongkok," imbuhnya. 


"Oh, gitu," hembus Puspa. "Tiongkok besar ye, secara negaranya maju, hehehe," imbuhnya. 


Chen mengeluarkan ponselnya. Ia mendapat informasi dari Asisten Dishi soal perusahaannya yang masih kacau karena ada sabotase dari orang yang dikirim Jackson, adik angkat Rebecca. 


"Sial! Orang ini belum menyerah juga. Jackson Lim, orang seperti apa dia?" gumam Chen. 


"Aku akan membunuhnya nanti. Lihat saja, aku akan perlihatkan siapa aku sebenarnya,"


"Sepertinya, Tuan Chen sedang mengumpat. Terlihat dari wajahnya yang alisnya di tekuk dan tatapan matanya yang tajam. Ada apa, ya?" batin Puspa penasaran.


Tak lama kemudian, makanan pun datang. Karyawan di rumah makan itu semuanya memakai jilbab karena memang kebanyakan adalah orang dalam negri dan orang muslim. 


"Wah, bahkan di sini karyawan perempuannya memakai jilbab?" ucap Puspa kagum. 


"Iyalah, pemiliknya kan emaknya Feng," sahut Chen. 


"Hahaha emaknya? Sejak kapan Tuan menggunakan bahasa itu? Tapi, serius ini miliknya Ibunya Ko Feng?" Puspa masih tidak yakin dengan kenyataan itu. 


"Makan cepat, atau akhirnya aku akan meninggalkanmu di sini!" ketus Chen siap menyantap makanannya.


"Ah, iya!" seru Puspa langsung meraih mangkuk mie nya. 


Saking semangatnya makan, baru beberapa kali suapan saja membuat Puspa tersedak. 


Uhuk, uhuk…. 


"Hey, siapa yang akan mengambil makananmu? Makan dengan baik dan tenang tak bisa kah?" Chen sampai ikut panik, segera memberinya air minum.


Uhuk, uhuk .... 


"Maaf, Tuan Chen. Saya hanya tidak bisa menahan lapar saja. Melihat makanan seenak ini, ya pasti akan saya makan," jawab Puspa mengusap-usap dadanya karena sakit tersedak. 


Tuk! 


Chen menyentil kening Puspa sedikit keras, "Aw!" rintih Puspa. 


"Kau ada agam, apakah kau tidak berdoa sebelum makan?" Chen menyentil kembali kening Puspa. 


"Aw, sakit, Tuan. Ini sama saja kita bersentuhan, nggak boleh tau!" tepis Puspa. 


"Suka-suka aku! Cepat makan, jika kau terakhir yang menghabiskan makanan ini, maka kau yang akan bayar," goda Chen. 


"Kejam!" seru Puspa kesal. 


"Biarin." Chen kembali merapikan jas nya dan makan. 


Hujan hari itu tidak deras, hanya sebuah rintik yang cuacanya menjadi jauh lebih dingin daripada pagi tadi yang masih hangat. 


Mereka makan dengan khidmat meski tidak saling bicara. Dari luar, nampak Fei sedang mengamati keduanya yang sedang asik makan berdua. 


Fei menggerutu, "Kenapa harus wanita murahan itu? Wanita itu bahkan tidak pintar sedikitpun. Apa yang membuatnya istimewa di mata kamu, Chen?"


"Tidak!" 


"Sudah sejak kita kecil, kita selalu bersama. Aku harus memperjuangkan cintaku!" imbuhnya berlalu dari tempatnya. 


"Apa yang kamu baca? Kenapa kamu mengadahkan tangan selesai makan dan minum?" tanya Chen penasaran. 


"Alhamdulillahilladzi ath-amanaa wa saqoonaa wa ja'alanaa minal muslimiin. Itu tahmid setelah makan dan minum," jawab Puspa. 


"Artinya?" tanya Chen lagi. 


"Segala puji bagi Allah yang memberikan makan dan minum kepada kami," jawab Puspa. 


"Ih, singkat sekali. Haruskah?" tanya Chen. 


Puspa menjawab apa yang Chen tanyakan. Memang tidak harus, tapi jika muslim sejati, tanpa mengetahui itu harus atau tidak, mengucapkan rasa syukur itu akan menambah kenikmatan hidup di dunia. 


Chen terus memperhatikan setiap penjelasan tentang doa-doa yang Allah dan Baginda Rosulullah anjurkan. Semua sudah ada peraturannya sendiri. "Jadi, kalau kita bisa tertib dengan perintah Allah dan anjuran Baginda Nabi, kita akan dapat hadiah surga," jelas Puspa seperti sedang dakwah kepada anak-anak. 


"Apakah surga itu memang ada?" tanya Chen. 


"Tentu saja ada. Itu tempat yang sangat indah, hadiah bagi hamba Tuhan yang taat," jawab Puspa. 


"Dari bangun tidur, sampai tidur lagi, kita selalu diingatkan untuk mengingat Tuhan? Baik sekali Tuhan itu?" Chen kembali bertanya, kali itu pertanyaannya serius, sama seperti wajahnya yang nampak serius. 


Puspa mengangguk senang, ia sangat suka jika diminta menceritakan kisah Islam maupun kisah Nabi. 


"Bahkan jika Tuan tertarik dengan kisah cinta Nabi, aku siap menceritakannya," ucap Puspa semangat. 


"Baik, ajari aku islam! Aku mulai tertarik dengan agama yang dipilih keluargaku ini!" seru Chen setelah merenung beberapa detik. 


Puspa terkejut. Bukan jawaban itu yang Puspa harapkan. Namun, jika Chen benar-benar ingin mempelajari Islam, dengan senang hati Puspa akan membantunya. 


"Tapi, saya tidak bisa menjadi guru pembimbing Anda, Tuan," ungkap Puspa dengan lesu. 


"Kenapa? Apakah aku tidak memenuhi kualifikasi sebagai murid-murid?" tanya Chen dengan menggebukan pipinya, berpaling dan melipat tangannya seperti anak kecil yang sedang merajuk. 


Melihat tingkah kekanak-kanakan Chen membuat Puspa ingin tertawa. Akan tetapi, ia menahan tawanya karena tidak ingin terlihat mengejek pria 22 tahun yang angkuh di depannya itu. 


"Tuan, bukan maksud saya tidak ingin menjadi gurunya, Tuan," jawab Puspa dengan lembut.


"Tapi, jika Tuan benar-benar ingin pelajari agama Islam, Tuan harus mencari guru yang sekiranya mahram dengan Tuan. Misalnya, sesama pria, Ustad, teman muslim, atau Kyai. Lalu, Aisyah, Gwen, Ayah Tuan, Paman Adam juga Om Raihan. Seperti itu, bukan kepadaku. aku kan bukan mahramnya, Tuan," tutur Puspa dengan suara hati-hati. 


Chen berpikir keras. Ia tidak tahu apa itu mahram. Dengan pelan, Puspa menjelaskan apa itu mahram supaya Chen tidak salah paham. 


"Jadi, aku dan kamu dilarang sentuhan, di larang berduaan lama-lama karena dinding itu, mahram?" tanya Chen. 


Puspa mengangguk. "Begitulah kira-kira," 


"Lalu, bagaimana cara membuat kamu menjadi mahramku? Aku malas belajar dengan mereka!" ucapan Chen itu membuat Puspa semakin terkejut. 


"Kenapa tidak jawab? Ayo jawab, bagaimana bisa aku dan kamu menjadi mahram, agar kamu mau mengajariku agama ini?" desak Chen tidak sabaran. 


"Ada 1 cara, dan pasti Tuan tidak akan menyetujuinya," ucap Puspa dengan raut wajah yang serius. 


"Apa?"


"Pernikahan, kita harus menikah supaya bisa jadi mahram. Yah, itu pasti Tuan tidak mau, 'kan? Jadi, memang sudah seharusnya Tuan mencari guru lain," ucap Puspa dengan mengangkat bahunya. 


Chen menatap Puspa seperti hendak memakannya. Tatapan itu membuat Puspa tidak nyaman, Puspa pun memalingkan wajahnya ke arah luar restoran. 


"Kalau begitu, ayo menikah!" tegas Chen dengan menggebrak meja. 


"Hah?" tidak bisa dipungkiri, ekspresi dan tanggapan Puspa bagaimana. Pasti akan syok dan nge-lag.