
"Begini saja, besok kita temui Mas Khalid lagi, bagaimana?" usul Agam.
"Hadeh, Mas. Kita sudah berulang kali loh mencoba untuk bertemu dengan Ustadz Khalid. Tapi apa yang kita dapat? Ustadz Khalid sengaja menghindar dari kita. Itu tandanya memang ada yang tidak beres!" seru Gwen.
"MasyaAllah, istriku ini sangat cerdas sekali. Besok kita usaha lagi, ya … masih ada waktu kan ya. Iya … 'kan?" Agam mengusap kepala Gwen dengan lembut.
Gwen memilih diam dan berpikir kembali cara untuk menggagalkan pernikahan Ustadz Khalid dengan Syifa. Malam semakin larut, Agam mengajak istrinya untuk istirahat, sebab esok hari sudah mulai sibuk mengurus pernikahan Ustadz Khalid.
Sementara malam Chen, ia menginap di hotel dekat pesantren. Awalnya, ia ingin ke rumah Gwen dan menginap di sama. Namun, jarak rumah antara pesantren ke Gwen juga lumayan cukup lama. Ditambah lagi, ia belum mengetahui dimana Gwen tinggal saat itu.
"Besok aku akan menemui Gwen. Sejak dia menikah, aku bahkan belum memberinya hadiah," gumam Chen.
"Kado apa yang cocok untuk mereka, ya? Mungkin saham, ah bukan! Mobil? Aih, Gwen tidak boleh menyetir,"
"Um, bagaimana kalau mengajak mereka ke Korea. Asik tuh bisa ketemu Ai. Aku hubungi dulu tubuh Gwen,"
Malam sudah larut, Gwen mungkin sudah tidur sehingga tidak bisa mengangkat telpon dari Chen. Chen berencana akan menemui adiknya itu esok hari. Sebelum istirahat, Chen menyelesaikan pekerjaan yang tertundanya lebih dulu. Dokumen yang harus ditanda tangani oleh Chen sudah dikirim oleh Jovan beberapa waktu lalu.
Chen bukan seperti dua saudari kembarnya yang gampang akrab dengan siapa saja. Chen lebih ke tidak tahuan daripada harus mencari tahu tentang hal yang tak penting baginya untuk diketahui. Itu sebabnya, meski dengan keluarga pesantren sudah semuanya mengenal, tetap saja Chen sungkan untuk tinggal bersama mereka meski hanya beberapa hari saja.
--
Tanpa mengulur waktu lagi. Asisten Dishi menjalankan tugasnya untuk menyelidiki Ibu kandung dari anak angkatnya yang sudah merubah identitasnya itu. Saat ini, Ibu Ilkay yang juga memalsukan umurnya baru saja selesai belajarnya sebagai guru anak-anak usia dini.
Christine, memalsukan usianya menjadi 20 tahun mengambil identitas seorang siswi lima tahun lalu yang meninggal akibat pendarahan pasca kecelakaan. Wajah mereka serupa, itu sebabnya ia bisa mengambil identitas Christine asli dengan mudah. Tentu saja dibantu oleh Cindy, sebagai Nyonya pertama Wang dulu.
"Saat ini, putramu ada di Korea. Aku akan memberikan alamat detailnya. Cari cara supaya kamu bisa mengambil kembali putramu meski dengan identitas palsu, paham!" perintah Cindy.
"Paham, Nyonya Wang," jawab Christine.
"Tuan, bagaimana jika kita lenyapkan saja Dishi, si Asisten pribadi Chen itu saat ini juga. Aku sudah tidak tahan melihat dia selalu mencampuri urusan kita, Tuan," usul Cindy kepada Jackson Lim.
"Untuk apa kau membunuhnya? Aku tidak sudi mengotori anak buahku dengan darah Asisten rendahan itu!" cetus Jackson Lim.
"Tapi, Tuan--"
Ucapan Cindy terhenti kala Jackson Lim menatap dirinya dengan tatapan sengit. Tujuan utama Jackson Lim hanya ingin membunuh Rebecca saja. Ia tidak peduli bagaimana anak dan suaminya akan bertindak. Membuat Rebecca lenyap dari dunia sudah membuatnya cukup senang. Dendamnya akan terbalas dengan perginya Rebecca untuk selamanya.
"Apa? Jadi Tuan hanya ingin melenyapkan Rebecca saja? Bagaimana jika kita siksa saja dulu dia," Cindy mulai menjadi provokator.
"Maksudmu?" tanya Jackson Lim dengan menyeritkan dahinya.
"Tidak ada untungnya dan malah membuang-buang waktu saja. Kau ini akan membantuku, apa malah membuatku bangkrut, Cindy?" sulut Jackson Lim.
Asisten Dishi memang sangat cerdas, ia mampu menyeludupkan orangnya masuk ke kediaman Jackson Lim dan menerima semua informasi yang penting. "Bodoh! Mereka memang bodoh. Bisa-bisanya mereka tidak menyadari jika orangku banyak yang masuk ke kediamannya," gumam Asisten Dishi menyeringai puas.
"Aku akan segera memberikan kabar ini kepada, Tuan. Sedikit banyaknya informasi, itu juga sangat penting baginya,"
"Mail, aku juga harus memberitahukannya. Ah tidak, ini bukan waktu yang tepat. Dia harus fokus belajar, biarkan nanti aku yang akan menyusulnya ke sana." tukas Asisten Dishi kembali ke tempatnya.
Cinta yang dimiliki Asisten Dishi untu Aisyah bukanlah cinta sederhana. Ia sudah menyukai Aisyah sejak pertama kali mereka berjumpa. Hingga ia mengenal keyakinan yang membuatnya mulai nyaman dan ingin mempelajarinya.
-----
Pagi setelah kisah sibuknya Asisten Dishi, Gwen baru sadar jika Chen menelpon dirinya. Ia terbangun saat mendengar adzan subuh berkumandang. "Kak Chen telpon aku? Dia juga menggunakan nomor negara ini? Apa dia ada di Jogja saat ini?" gumamnya masih berusaha mengumpulkan nyawanya.
GWen pun menelpon kembali Chen. Namun telponnya sedang sibuk. Berkali-kali Gwen menelpon, tetap saja ponsel Chen sedang sibuk. "Astaghfirullah, dia sedang telponan dengan siapa sih di jam segini?" kesal Gwen.
"Ah bodoamat lah! Sebaiknya aku bergegas untuk siap-siap ke mushola." sambungnya, beranjak dari ranjangnya dan mulai bersiap diri pergi ke mushola untuk salat subuh jama'ah.
Sedikit siangan saat Gwen menyiapkan sarapan untuk suaminya, ada seseorang yang mengetuk pintu rumahnya dengan keras.
Tok, tok, tok.
Suara ketukan itu semakin kencang hingga membuat Gwen kesal. "Iya sebentar!" teriaknya dengan mengomel tidak jelas.
"Sabar ngapa, sih? Siapa yang datang ini. Jangan-jangan si beruk itu lagi!" duga Gwen dengan pasti.
Ketukan pintu itu semakin keras, membuat Gwen semakin kesal dan menyiapkan centong nasi di tangannya untuk memukul tamu yang tidak sopan itu baginya. "Buset masih pagi mau ajak ribut, hah? Salam kek, apa kek, main ketuk aja nggak ada sopan-sopannya!" sulut Gwen membuka pintu.
Betapa terkejutnya Gwen saat melihat siapa yang datang ke rumahnya sepagi itu. Seorang pria dengan mata biru dan rambut hitam ikalnya tengah berdiri tepat di depan pintu. "Kak Chen?" gumam Gwen dengan mulut terbuka lebar.
"Ada apa dengan centong nasi itu? Apa kau sedang mau sarapan?" tanpa Chen dengan polos. Ia tidak tahu jika adiknya hendak bersiap melempar centong nasi itu kepadanya, karena telah mengganggu kedamaian hatinya.
"Ah, aku sedang masak nasi. Kak Chen … ini beneran kamu?" tanya Gwen masih tidak menyangka kakaknya datang.
"Orang setampan ini, masih kau ragukan keberadaannya? Baik, aku akan tarik kembali Glory Gwen yang kuserahkan padamu, aku juga akan memblokir penghasilan yang masuk ke rekening pribadimu, aku ju--" ulasan Chen terhenti sampai di sana, karena Gwen membungkam mulut pria bermata biru itu.
Gwen menyambut hangat kedatangan kakaknya. Mempersilahkan masuk dan memperlihatkan seisi rumah suaminya kepadanya. Menunjukkan bahwa dirinya bahagia telah menjadi seorang istri. Membuat Chen ikut larut dalam bahagia adiknya yang masih menyandang status bungsu itu.