Triplets' Last Mission.

Triplets' Last Mission.
Hukuman Kecil Untuk Xia



Hari yang dilalui Aisyah dan Gwen sangat indah di Tiongkok. Tiba saatnya Agam harus kembali ke tanah air karena memang ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggal.


Pagi itu, Gwen mengantar Agam sampai ke Bandara. Terlihat sekali Gwen khawatir padanya. Gwen memberikan sebuah kalung pemberian Chen untuk Agam. 


"Apa ini?" tanya Agam. 


"Itu cangkul. Ya kalung lah! Apalagi?" jawab Gwen mengesalkan. "Orang melingkar dileher begitu, masa iya nggak tau, sih?" imbuhnya. 


"Dek, saya tanyanya untuk apa? Saya tau kalau ini kalung," kata Agam dengan lembut. 


"Eh, tanya yang jelas dong, Mas." ujar Gwen. "Kalung itu, pertanda supaya Mas Agam tidak lupa dengan janji Mas untuk melamarku!" seru Gwen menjelaskan. 


Agam hanya tersenyum, tak diingatkan saja, Agam tetap akan melamar Gwen dalam waktu cepat setelah pekerjaannya selesai dan menunggu kabar kesehatan dari Ibunya. 


Perpisahan itu terjadi. Ketika mereka saling melambaikan tangan, seolah terdengar suara lagu dari Kupinang Kau Dengan Bismillah dari group band ungu. Saling melontarkan senyuman manis dan akhirnya mereka benar-benar berpisah. 


Gwen langsung kembali ke rumah menemui Aisyah. Gwen sudah mulai bosan tinggal di Tiongkok dan mengajak saudarinya pulang ke tanah air. 


"Assalamu'alaikum, Kak Aisyah jalan, yuk!" 


Aisyah hanya diam dan sibuk dengan buku-bukunya. Gwen mulai merengek karena di cuekin. "Gwen jangan seperti itu. Bukankah sebentar lagi kau akan menjadi istri dari seorang, Ustadz? Masa iya tingkah laku seperti anak-anak begini, sih?" kata Aisyah menggoda adik bungsunya itu.


***


Liburan telah usai, Aisyah dan Gwen akan pulang ke tanah air bersama dengan Chen karena mereka ingin berkumpul bersama dengan kedua orang tuanya. 


Namun, sebelum mereka berangkat, seperti biasa Xia mendrama dan membuat suasana semakin menyebalkan. Aisyah dan Gwen berniat memberikan Xia pelajaran karena di saat mereka berdua tinggal di rumah tersebut, Xia selalu memperlakukannya dengan buruk. 


"Aduh Xia, kamu tak perlu khawatir. Kakakmu pasti akan segera kembali, kok!" seru Gwen.


"Apa kalian sudah sadar akan kenyataan, lalu akan mengembalikan Kak Chen dan membiarkan dia tetap menjadi kakakku?" tanya Xia tak tahu diri.


"Iya, mari kita mengobrol sebentar ke kamarmu. Kita berdua mau meminta maaf denganmu secara pribadi," bisik Aisyah.


"Rupanya kalian juga tunduk kepadaku? Baiklah, ayo segera ikuti aku!" Xia semakin tak tahu diri.


Gwen dan Aisyah menyimpan senyuman tak beresnya dalam hati. Rencana apa yang sebenarnya mereka pikirkan?


Mereka berdua mengikuti langkah Xia dari belakang.  Sampailah mereka ke kamar Xia yang dipenuhi dengan potret Chen dari kecil sampai dewasa. "Buset, nih anak ngeri banget. Segala macem poto kakakku dipajang segede tembok gini." gumam Gwen dalam hati. 


"Ya Allahu Ya Rabb. Apa ini? Ini bukan posesif lagi, tapi sungguh dia gila. Astaghfirullah hal'adzim." sahut Aisyah dalam hati.  Siapa yang tak terkejut jika seluruh tembok dalam kamar gadis kecil berusia 13 tahun dipenuhi dengan poto pria berusia 22 tahun. Apalagi memang Chen bukanlah kakak kandungnya. 


Xia memutar tubuhnya. Melipat tangannya, seolah dirinya memiliki kuasa lebih akan dua gadis 22 tahun ini. "Katakan, apa yang akan kalian katakan sehingga meminta aku untuk bicara pribadi seperti ini!" ketus Xia. 


"Kalian … kenapa pintunya di tutup?" tanya Xia mulai waspada. 


Aisyah dan Gwen berkontak mata. Mereka siap melaksanakan rencananya memberi Xia kenang-kenangan sebelum mereka pulang. Meski Xia dibekali ilmu seni bela diri, namun bela diri Xia tak sebanding dengan ilmu bela diri Aisyah dan GWen. 


Sudah dari sejak jaman sang buyut, wanita pesantren memang selalu dilatih ilmu bela diri dan juga memanah. Bukan hanya karena menjalankan perintah Allah yang mana wanita memnag harus dilatih memanah, namun di zaman modern seperti ini bela diri memang sangatlah penting. 


"Tolong … Ayah, Ibu, Nyonya kedua .. tolong aku!' teriak Xia. 


Entah apa yang dilakukan Aisyah dan Gwen di dalam, tapi hal itu akan membuat Xia tidak meremehkan mereka lagi. Bukan kekerasan, lebih tepatnya, Aisyah dan Gwen mencoret-coret wajah Xia menggunakan lipstik milik Aisyah. 


Teriakan Xia membuat Cindy semakin mendramatisasi. Ia heboh sendiri meminta Chen dan Tuan Wang segera membuka pintu kamar Xia dan menyalahkan Aisyah dan Gwen. "Ini pasti mereka berdua sedang memukuli anakku," keluh Cindy.


"Saya mohon, Tuan Wang. Tolong, minta Chen untuk menghentikan adik-adiknya yang liar itu," mohon Cindy. 


"Apa kamu bilang? Liar? Kedua putriku adlah gadis yang baik-baik dan kau mengatai mereka liar? Atas dasar apa kau bisa berargumen seperti itu, hah!" sentak Tuan Wang. 


"Chen, Ibu mohon--" belum juga CIndy memohon dengan Chen, Aisyah sudah membuka pintu kamar Xia. 


Dengan wajah tenangnya, Aisyah bertanya, "Ada apa ini?" 


Segera Cindy masuk dengan mendorong AIsyah. Cindy mendapati putrinya sudah berantakan dengan baju sobek dan juga wajah yang dipenuhi dengan lipstik milik Aisyah. Cindy mengambil kesempatan itu untuk membuat Aisyah dan Gwen dihukum oleh Tuan wang. 


"Kasihanilah putriku yang malang ini. Sudah tak dianggap oleh Ayah dan kakaknya, sekarang malah menerima ketidak adilan di siksa oleh orang asing!" tatapan mata Cindy juga membuat Gwen muak.


Dengan sikap tenang, Aisyah menjelaskan apa yang terjadi diantara mereka. Aisyah mengatakan jika mereka hanya bermain-main saja. Aisyah juga menjelaskan, semua itu hanya keseruan saja. Ketika Chen menanyakan kebenaran itu kepada Xia, Xia hanya mengangguk pelan sembari memasang wajah palsunya. 


"Apa? Putriku hatinya masih sangat putih dan bersih, pasti kalian berdua yang menyuruhnya untuk berbohong. Ayo kalian ngaku sekarang juga, kalau kalian berdua telah mengancamnya, bukan?" ketus Cindy. 


"Ayah angkat, Kak Chen … kami hanya bermain-main saja. Tak kusangka jika Xia menganggap ini serius. Kami juga tahu kok, jika bercanda itu kedua belah pihak sama-sama bahagia, bukan begitu, Xia?" sahut GWen melotot kepada Xia. 


"Ayo katakan, Xia. KAtakan kepada Ayahmu, minta keadilan dengan Ayahmu kalau kau tidak senang dengan lelucon ini," desak Cindy. 


Xia diam tanpa ekspresi. Lalu, menatap Tuan Wang dengan senyuman terpaksanya dan mengatakan jika yang dikatakan Gwen dan Aisyah memang benar. "K-kami hanya bermain-main saja, Ayah. Aku terllau senang, sehingga membuatku berteriak tadi." ungkap Xia. 


"Apa?" sentak Cindy. "Katakan yang sejujurnya, Xia. Kau ja--"


"Apa Ibu? Kejujuran apa? Aku memang sedang bermain-main dengan Kedua kakak perempuanku. Kenapa Ibu terus mendesakku?" sulut Xia masuk ke kamarnya. 


Aisyah dan Gwen tersenyum tipis. Meski keduanya menyembunyikan kenyataan, Chen dan Asisten Dishi tahu apa yang sebenarnya terjadi, meski mereka tidak tahu apa yang sudah Aisyah dan Gwen kepada Xia.


Lalu, apa yang Gwen katakan kepada Xia, sehingga Xia mau berbohong?