Triplets' Last Mission.

Triplets' Last Mission.
Guru Baru Ilkay



Kebahagiaan Gwen dan Agam akan menjadi orang tua tidak ia nikmati sendiri. Meski belum memberitahu kepada seluruh keluarga, tapi Ayyana dan Airy tahu, bahwa mereka akan menjadi Ayah dan Ibu beberapa bulan ke depan. 


Selain itu, Chen juga baru saja memenangkan thunder juga. Keberkahan itu juga ia rasakan setelah melepas ikhlas kedua adiknya dimiliki oleh suaminya. 


Perjodohan? 


Iya, Chen masih belum mengumumkan dirinya akan menolak atau menerima perjodohan itu. Baginya, pekerjaan adalah yang utama. Chen juga masih disibukkan dengan pencarian orang tuanya yang sudah selama sebulan belum ada kabar. 


Di sisi lain, kisah pasangan baru juga tidak semulus kayaknya kisah cinta yang baru saja berlabuh. Usai mendaftarkan pernikahannya ke kantor Agama, Asisten Dishi dan Aisyah harus berpisah karena pekerjaan. Mendadak, perusahaan di Amerika kembali bermasalah. Masing-masing sama-sama tidak bisa meninggalkan kewajibannya. 


Usai mengantar Aisyah dan Ilkay ke Korea, Asisten Dishi segera berangkat ke Amerika. Bahkan, mereka belum sempat menunaikan malam pertama sebagai pasangan suami istri. 


Sudah satu bulan juga lamanya mereka tak bersua. Pada sore hari, ketika Aisyah baru saja pulang dari kampusnya, ia langsung menjemput Ilkay ke tempat les. Akhir-akhir itu, Ilkay mendapat kesempatan bisa les musik yang sangat ia inginkan. Usianya kini memasuki umur 6 tahun, Aisyah mulai membebaskan Ilkay untuk memilih kegiatan apa yang ia sukai.


"Assalamu'alaikum, ganteng. Udah les nya?" sambut Aisyah dengan senyuman, padahal dirinya juga sedang lelah karena belajar. 


"Wa'alaikumsallam Mamaku yang cantik. Ilkay hari ini dapat nilai A+ dari Seonsaengnim Chaterine," ujar Ilkay bahagia. 


"Seonsaengnim Chaterine?" tanya Aisyah heran. "Guru les Ilkay ganti?" tanyanya lagi. 


"Seonsaengnim yang lama, katanya sudah tidak masuk lagi, Ma. Ilkay sudah lapar, Ma. Ayo pulang!" 


Mendengar nama Chaterine, Aisyah menjadi teringat suatu hal. Ibu kandung Ilkay juga menggantikan namanya menjadi nama yang sama. Ditambah lagi, guru les pertama Ilkay adalah sepupu dari salah satu sahabatnya di kampus. Jika ada sesuatu, sahabatnya akan memberitahukan hal apapun masalah sepupunya itu. 


"Bora tidak memberitahu apapun tentang sepupunya. Pihak pemilik les ini juga tidak konfirmasi dulu padaku, kenapa, ya?" gumam Aisyah. 


Teman lama Aisyah sudah kembali ke luar negri. Kini, nama Bora juga hadir menjadi sahabat Aisyah selama ia menempuh pendidikan di kampusnya. 


"Apa aku harus menanyakannya kepada Bora? Tapi, apa yang perlu aku tanyakan? Tapi guru itu laki-laki, bagaimana bisa aku menanyakan kabarnya begitu saja,"


"Lagipula, aku wanita bersuami. Kurang pantas bagiku menanyakan seorang pria yang usianya saja sama dengan suamiku," 


"Haih, tapi dia kan guru anakku. Maka sah-sah saja aku bertanya tentangnya!"


Aisyah terus bergeming. Ia memang merasa ada yang janggal dengan guru baru putranya. Bukan hanya dari namanya yang sama dengan nama baru Ibu kandungnya Ilkay. Namun, tidak ada konfirmasi apapun mengenai pergantian guru di tempat dimana Ilkay les musik. 


"Mama," 


"Iya, Sayang--"


"Ayah kapan pulang? Ini sudah lama sekali, Ayah belum pulang juga. Bahkan jarang sekali menelpon kita. Apa Ayah melupakan kita, Ma?" tanya Ilkay murung. 


Aisyah membelai rambut Ilkay dengan lembut. Kemudian menjelaskan jika Ayahnya mungkin sebentar lagi akan pulang dan bermain lagi dengannya. 


"Mama serius? Tidak berbohong, 'kan?" tanya Ilkay. Z


"Kamu mengaji bersama Ustadz Syahir. Masih mau suudzon dengan Mamamu sendiri?" 


"Ilkay sayang Mama. Begitu juga dengan Mama yang sayang Ilkay. Jadi, Ilkay tidak mungkin meragukan Mama lagi. Maafkan Ilkay ya, Ma_" ucap Ilkay menciumi tangan sang Mama. 


Ustadz Syahir adalah guru mengaji Ilkay selama di Korea. Aisyah sadar jika dirinya tidak bisa selalu mengajari Ilkay tentang agama dan pelajaran sekolah lainnya. Jadi, mencarikan guru untuk perkembangan putranya. 


"Mama, setelah makan nanti … bisakah Mama menemaniku bermain?" harap Ilkay. 


Ya, Aisyah hanya selalu menemaninya bermain, menyiapkan makanan dan sisa waktunya untuk menemani Ilkay tidur. Kesibukannya menjadi seorang mahasiswi membuat waktunya tersita di kampus. Itu sebabnya, terkadang, Ilkay harus tidur bersama dengan neneknya di apartemen sebelah, di saat Aisyah pulang sampai larut. 


----


Usai makan malam, segera Ilkay bersiap untuk belajar di kamarnya. Sementara Aisyah masih duduk termenung di meja makan memikirkan guru musik Ilkay yang baru. 


"Bora, aku harus menelponnya! Meminta nomor sepupunya itu, jika tidak meminta kejelasan, bisa-bisa aku tidak bisa tidur pula!" gumamnya, meraih ponsel miliknya. 


Nama kontak Bora di klik, kemudian memanggilnya. Tak lama kemudian, Bora mengangkat telponnya.


"Halo,"


"Bora, kau ada di mana? Bisa datang ke rumahku?" 


"Baiklah, aku segera datang. Kebetulan, aku sedang keluar, jadi tunggu aku sampai, oke?"


"Aku tunggu!"


Sembari menunggu sahabatnya datang, Aisyah menerima pesan dari Ayyana. Tentu saja Ayyana memberikan kabar bahwa Gwen telah mengandung. 


Awalnya, Aisyah kesal karena bukan Gwen sendiri yang mengatakan kabar bahagia tersebut. Namun, Ayyana mengatakan memang hal itu aslinya belum boleh di beritahukan kepada siapapun. 


Aisyah turut bahagia akan mendapatkan keponakan baru. Tak sabar dirinya ingin melihat, bagaimana anak dari gen barat dalam diri Gwen. 


"Bang Faaz aja memiliki mata biru yang sama. Dia tampan sekali dengan blasteran yang unik. Bagaimana dengan anaknya Gwen nanti, ya?"


"Pasti lucu juga! Hihi, bahagianya. Setelah setengah tahun, akhirnya mereka diberi momongan juga!" 


Tak lama kemudian, terdengar suara bel berdengung. Bora telah datang. Segera Aisyah membukakan pintu untuknya. 


Kling! 


Begitu sensor jika kunci terbuka. 


"Taraa … Lihatlah, apa yang aku bawa ini. Makanan dari restoran milik Ayahmu. Uh, enak sekali. Ayo segera dimakan!" 


Bora main masuk saja sebelum Aisyah persilahkan. Namun, itu sudah menjadi hal biasa bagi Aisyah dan Bora. 


"Ayo, makan lah! Setiap pembelian lebih dari jam 9 malam, pasti ada promo buy one get one free, hihi. Sungguh baiknya Ayahmu," Bora tidak tahu, ia sedang memuji seseorang yang telah hilang selama satu bulan. 


"Hey, kenapa? Apa aku salah bicara? Kenapa kau jadi murung seperti itu?" sambung Bora menegur Aisyah yang sedari tadi diam. 


"Baiklah, apapun kesalahanku, tolong maafkan aku. Katakan, kenapa kau memintaku ke sini di waktu segini?" tanyanya. 


Aisyah mulai menanyakan mengapa sepupu dari Bora keluar dari tempat les. Bahkan, lebih mengejutkan lagi, ternyata Bora juga tidak tahu bahwa sepupunya itu sudah tidak bekerja di tempat tersebut. 


"Apa?"


"Bagaimana bisa dia tidak bekerja lagi di sana?" Bora sungguh tidak tahu akan hal itu. Semua itu sudah Aisyah tebak dari reaksi dan raut wajah kaget dari sahabatnya itu. 


Tak ingin ada kesalahpahaman, Bora akan mengajak Aisyah ke rumah sepupunya esok hari. Dengan begitu, kegelisahan Aisyah tentang Ilkay tidak lagi berlebihan karena masalah nama yang sama. 'Chaterine'