
"Darahnya mulai berhenti. Belati ini menusuk terlalu dalam, jadi aku tidak berani melepasnya," ucap Aminah.
"Jika seperti itu… biarlah belati ini menancap dan dilepaskan di rumah sakit saja. InsyaAllah aku dan Asisten Dishi masih mampu menahannya," ujar Aisyah menatap Asisten Dishi.
Asisten Dishi mengangguk tanda setuju. Namun, bekas luka di wajahnya bukan luka lama. Itu luka yang mungkin baru terjadi sekitar satu hari yang lalu.
Ketika di mobil, Chen melihat Aisyah malah tertawa bercanda dengan Asisten Dishi. Chen mulai menebak perasaan adiknya dengan Asisten pribadinya itu.
"Lihat lukamu itu, kenapa penjahat itu memukulmu di area itu, seperti kumis hilang separuh, haha …," tawa Aisyah.
"Heh, kamu belum tau saja bagaimana aku membuat penjahat itu luka. Kalau kau tau, pasti kau akan lebih tertawa dari ini," sahut Asisten Dishi.
"Lihat, lenganmu mulai membiru. Aku tebak kalau kau ini sebenarnya keturunan bangsawan. Jadi, darah kamu berwarna merah bukan hijau," celetuk Aisyah.
"Hijau? Bukankah kau baru saja mengatakan kalau darahku biru? Atau kuning?" Asisten Dishi semakin tak sadarkan diri.
"Haha, bagaimana kalau aku lihat darahmu juga. Ayo, berputar lah sedikit, biar aku lihat darahmu," sambungnya.
"Haha, lihatlah Aisyah. Darahmu berwarna orange! Kau sangat lucu, bisakah aku mencicipi darahmu?" celoteh Asisten Dishi.
Keduanya kehilangan kesadaran. Belati itu telah di lumuri racun yang salah. Seharusnya membuat perlahan mati, ini malah membuat mereka mabuk.
"Hey, kamu menjadi ada tiga. Tubuhmu satu, tapi kenapa wajahmu dua, Dishi?" celetuk Aisyah.
"Oh, ya? Aku ada tiga? Bagaimana bisa aku bersaingan dengan diriku yang jadi tiga itu?" gumam Asisten Dishi.
"Iya, dua ada di depanku, satu lagi di sini. Kau pergi terlalu lama dan tidak memberikan aku kabar. Kau tau, aku sakit karena itu," racau Aisyah dalam keadaan sudah tak sadar.
"Lihatlah, mereka berdua sudah semakin tidak waras. Lebih baik cepat menyetir nya Feng!" bentak Chen.
"Sabar! Macet ini, lihatlah! Matamu buta atau bagaimana?" sentak Feng tak mau kalah.
Keduanya malah bertengkar sendiri. Dalam mobil itu, Feng dan Chen ribut dengan berurat, sementara Aisyah dengan Asisten Dishi malah sibuk halusinasi dan tidak menghiraukan jika orang yang ada di depan kemudi sedang bertengkar.
Sementara di lain tempat, Ilkay yang berhasil dibawa ke Jogja terus mempertanyakan dimana Aisyah berada kepada Faaz. Ilkay sudah mulai bisa bicara dengan baik. Bahkan bahasa Indonesia-nya juga halus berkat Feng dan juga Faaz.
"Mama, Papa," ucap Ilkay khawatirkan Aisyah dan Asisten Dishi.
"InsyaAllah, mereka akan baik-baik saja. Nanti, Paman akan mengantarmu menyusul ke rumah sakit, bagaimana?" ucap Faaz menenangkan Ilkay.
"Mama, aku ingin Mama," rengek Ilkay.
"Ilkay, Paman janji akan membawamu bertemu Mamamu, tolong sabar, ya. Setelah acara ini selesai, pasti Paman akan bawa ke sana," kata Faaz.
"Janji?" tanya Ilkay mengangkat kelingkingnya.
"Janji," Jawab Faaz meraih kelingking Ilkay yang kecil.
Faaz saat itu masih bersama Ilkay dengan Falih dan juga Shinta. Shinta membelai kepala Ilkay dengan lembut. Sementara Falih mempertanyakan siapakah Ilkay sebenarnya.
"Aku juga tidak tahu anak siapa Ilkay sebenarnya. Tapi, dalam akta kelahirannya, nama orang tuanya Ai dan Asistennya, Kak Chen," jelas Faaz menunjukkan akta lahir Ilkay yang baru saja jadi.
Bukan hanya akta lahir, bahkan di paspor saja, tertera alamat sesuai dengan alamat Asisten Dishi tinggal. Entah cerita apa dibalik dengan semua itu, tapi Asisten Dishi belum bisa memberikan keterangan pasti.
"Ilkay, sebenarnya Ilkay anaknya siapa?" tanya Raditya.
"Hey, Bang Radit! Itu pertanyaan apa? Masa iya anak-anak ditanyain begitu," sahut Falih.
"Ya siapa tau saja, Lih. Dia bisa jawab," balas Raditya.
Acara resepsi telah usai. Gwen dan Agama istirahat dengan duduk di ruang tamu rumah Airy. Ketika mereka asik mengobrol, tiba-tiba Ilkay berlari keluar dengan terus memanggil Aisyah dengan sebutan 'Mama'.
"Mama!"
"Mama, kamu dimana, Mama?"
Gwen mendekati Ilkay, lalu membelai kepala Ilkay dengan lembut. "Hey, bocil. Kamu siapa? Dimana orang tuamu?" tanyanya.
"Mama Ai. Aku anak Mama Ai," jawab Ilkay.
"Heh, sejak kapan Kak Aisyah punya anak sebesar ini? Mana rambutnya pirang lagi. Matanya agak ijo gitu, kek aku yang sedang mata duitan!" seru Gwen terkejut.
Teringat dengan Aisyah yang tidak terlihat, Gwen pun menanyakan dimana saudarinya itu berada.
"Kak Aisyah mana? Kok, dia nggak kelihatan?" tanyanya. "Aku lihat tadi dia turun dengan Asisten Dishi. Sekarang dimana?" lanjutnya.
"Dia, sedang ada panggilan darurat di puskesmas. Kan dia udah nggak hilang ingatan, jadi--" Shinta mencoba berbohong.
Gwen mengerutkan alisnya. Gwen paham sekali dengan orang yang sedang berbohong. "Tante Shinta, Tante Aminah, Paman Raditya dan Om Falih nggak bisa bohong sama aku. Kalian ini kelihatan sekali jika sedang berbohong...,"
"Kak Shinta, ada apa ini? Faaz, bilang sama Bibi, kenapa semuanya jadi diam ketika ditanyain dimana Aisyah berada?" Rebecca mulai curiga.
"Faaz, ada apa ini?" tanya Yusuf dengan lembut seraya menyentuh bahu keponakannya. "Mas Adam dan juga Kak Airy dimana? Bukankah baru saja dia masuk ke rumah?" Yusuf juga sudah mulai curiga.
"Mama Ai tertusuk. Jadi dibawa kerumah sakit oleh Paman Feng," ungkap Ilkay dengan polosnya.
"Astaghfirullah ini anak, kenapa tidak bisa diam sebentar," gerutu Raditya dalam hati.
"Apa?"
Rebecca lemas, hampir saja ia pingsan mendengar putrinya tertusuk kembali. Gwen juga syok mendengar ungkapan Ilkay jika saudarinya tertusuk lagi.
"Siapa? Siapa yang menusuk ... Tunggu! Bang Faaz, siapa yang berani-beraninya menusuk kakakku! Siapa?" Gwen mulai emosi.
"Orang yang bernama Jack Lim dan dibantu oleh Ibu angkat Kak Chen yang melakukan ini. Sebelumnya, mereka ingin membunuh Asisten Kak Chen, hanya saja ... rupanya Kak Ai juga terlibat dalam target mereka," jawab Faaz terpaksa jujur karena Ilkay sudah keceplosan.
Gwen mulai panik, ia hendak bereaksi. Namun, Gwen di cegah oleh Yusuf untuk tidak bertindak. Yusuf meminta Agam untuk menenangkan Gwen, sementara dirinya bersama dengan Faaz serta Ilkay menuju ke rumah sakit.
"Ayah aku ingin ikut, aku ingin lihat kakakku," rengek Gwen.
"Nak Agam, tolong kamu tenangkan Gwen, ya. Tolong, jangan beri dia ruang untuk bertindak," pinta Yusuf kepada menantu barunya.
"InsyaAllah, saya akan menjaganya, Ayah." jawab Agam tegas.
Yusuf, Faaz serta Ilkay berangkat ke rumah sakit. Sementara yang lain tengah menenangkan Gwen dan tidak meninggalkan acara yang baru saja selesai itu. Sebagai tuan rumah, Rebecca meminta Raihan dan Laila untuk menggantikan dirinya mengantar semua tamu undangan pulang.
"Siapa Jack Lim ini, Mami. Kenapa dia ingin membunuh kakakku dan juga Asisten Dishi? Apa yang sudah mereka perbuat?" Gwen semakin panik.
"Dek, jangan seperti ini. Bukankah Ayah dan keluarga lainnya sudah ada di sana? Sekarang, kamu yang tenang. Lihat Ibumu, kasihan beliau sedang hamil, jadilah kuat agar bisa memberikan kekuatan untuk Ibumu, Dek," tutur Agam dengan lembut.
Gwen menatap Ibunya yang saat itu duduk termenung. Bagaimana tidak merasa tertekan, Jack Lim adalah saudara angkatnya yang pernah ia penjarakan. Namun, beraninya Jack Lim dan Cindy bersengkongkol hendak menghabisi nyawa putrinya.
Chen dan Feng kalau ketemu gak pernah akur. Asisten Dishi sama Aisyah kalau lagi gak sadar, bikin gemes😂