Triplets' Last Mission.

Triplets' Last Mission.
Jalan-jalan (Chen dan Lin)



Keesokan harinya di saat sarapan. Tuan Wang dan Nyonya Wang tengah berbincang dengan Chen di meja makan sembari menunggu Lin Aurora keluar dari kamar.


"Istrimu belum turun, Chen?" tanya Nyonya Wang. 


"Haih, dia sejak pagi sudah berdandan. Hanya jalan-jalan saja, dia harus selama itu berdandannya," jawab Chen. 


"Hei, bagaimanapun wanita itu memang istimewa Chen," sahut Nyonya Wang. 


"Lalu, bagaimana dengan pekerjaanmu, Chen? Apakah semuanya sudah aman terkendali? Aku dengar … Dishi juga dalam masalah, putriku harus sampai turun tangan membebaskan Dishi sebagai tawanan, apa benar itu?" tanya Tuan Wang. 


Chen mengangguk. Ia menjelaskan tentang pekerjaannya terlebih dahulu. Dimana perusahaan itu masih baru dan harus sering di kunjungi. Meski Chen kehilangan saham 30% dari glory world miliknya, ia sudah mendapatkan gantinya dengan memenangkan thunder bersama kolega ternama di dunia perbisnisan. 


"Apa yang sedang kau garap ini?" lanjut Tuan Wang bertanya. 


"Properti dan perhotelan. Kemungkinan bangunan hotel akan mulai di garap minggu depan. Aku harus kesana lagi," jelas Chen. 


"Mengenai Dishi … aku tidak menyangka dia sampai sebodoh itu. Tapi biarkan saja dulu, Ai marah padaku, jadi aku tidak bisa menghubunginya lagi karena nomorku di blokir olehnya," lanjut Chen dengan perasaan kecewa karena nomornya telah di blokir oleh Adiknya. 


"Lalu, bagaimana keadaan putriku yang lain?" tanya Tuan Wang lagi. 


"Aku belum sempat menghubunginya. Dia terus saja menolak panggilan dariku. Entah kenapa dua adikku ini semuanya sedang marah padaku," 


Marahnya Aisyah dan juga Gwen memang murni karena kesalahan yang Chen perbuat sendiri. Mereka lebih memilih menghukum Chen dengan tidak menerima telpon darinya, karena enggan untuk bicara. 


"Sudah seminggu ini kedua adikku tidak memberiku kabar. Hatiku begitu rapuh dibuatnya. Untung saja adik bungsuku masih bayi. Jadi, dia tidak ikut-ikutan menjauhiku,  meski sudah jauh sih--"


Datanglah Lin Aurora mengenakan baju berwarna putih dengan menutupi lehernya. Kalung itu ia pakai di luar supaya mertuanya bisa melihatnya. Lin Aurora memang seperti kekanak-kanakan kalau sudah mendapat hadiah. 


"Pagi Ayah, Ibu mertua," sapa Lin Aurora dengan senyum-senyum sendiri.


"Pagi juga …," 


Tuan dan Nyonya Wang sampai heran dengan menantunya yang terlihat bahagia. Beberapa hari terakhir setelah Chen keluar kota, Lin Aurora selalu murung dan tidak selera makan. Sesekali Lin Aurora menggunakan rambutnya ke belakang supaya kalung dari suaminya, nampak di depan kata kedua mertuanya.


"Ayah lihat hubungan kalian membaik. Apakah Ayah benar?" tanya Tuan Wang. 


"Kalung yang sangat indah. Matahari dengan berlian di tengahnya … bukankah itu adalah desain dari Aisyah?" sahut Nyonya Wang.


Chen diam saja, dia sibuk sarapan. Sedangkan Lin Aurora baru sadar jika kebanyakan berlian dan emas yang di jual oleh perusahaan glory world tenyata desain adik-adik iparnya. Lin Aurora sangat takjub dengan kerukunan mereka. 


"Pantas saja Sangatta indah. Ternyata adiknya Chen yang mendesain," ucap Lin Aurora menggenggam liontin tersebut. 


"Bukan hanya sembarang indah, Nak. Barang apapun yang diberikan Ai, jika sampai pada dirimu, itu tandanya kamu adalah orang istimewa bagi Chen," timpal Tuan Wang. 


"Uhuk, uhuk … aku selesai. Aku menunggu di mobil," Chen pergi begitu saja. 


Memang benar, bukan berati Gwen tidak spesial, hanya saja memang Aisyah yang dekat dengan Chen, sama seperti Aisyah dekat dengan Gwen. Jika barang yang diberikan kepada Lin Aurora atas restu Aisyah, dan dibuat khusus olehnya, maka artinya Lin Aurora adalah orang yang spesial. 


"Ayah, begitu kah? Itu tandanya aku spesial baginya?" tanya Lin Aurora. 


"Tentu saja, jika tidak … untuk apa dia sampai menikahimu? Ayah selesai. Istriku, hari ini aku akan ke luar kota,tolong bantu aku menyiapkan beberapa berkas," 


Lin Aurora bahagia mendengarnya. Ia tidak menyangka jika suaminya sebaik itu padanya. Selama menjadi istri Chen kurang lebih dua minggu, Lin Aurora berpikir jika dirinya memang hanya sebagai bahan transaksi bisnis saja. 


"Terima kasih, Aisyah. Meski kita belum pernah bertemu dan belum pernah bicara langsung. Tapi kamu begitu baik padaku. Terima kasih telah memberikan Chen padaku. Aku akan sangat berterima kasih padamu, aku juga tidak sabar ingin bertemu denganmu."


Hari itu, di pagi yang cerah, Chen dan Lin Aurora berjalan-jalan ke sebuah taman wisata. Kunjungan pertama mereka adalah taman kota. Banyak sekali keluarga yang sedang piknik di sana, hal itu membuat Lin Aurora bahagia. 


"Chen," panggil Lin Aurora malu-malu.


"Hm," jawab Chen. 


"Bolehkan aku menggandeng tanganmu?" tanya Lin Aurora izin kepada Chen. 


"Tidak!" jawab Chen langsung menolak. 


"Baiklah …." 


Mereka duduk di bangku taman dan menikmati segarnya udara di akhir pekan. Chen masih tidak banyak bicara. Ia lebih tenang dan bersikap biasa saja kepada istrinya. Padahal, situasi di tempat itu juga mendukung jika ingin bermesraan.


"Bisakah kita mengobrol?" tanya Lin Aurora. 


"Jika kau ingin bicara, maka katakan saja. Kenapa masih bertanya!" ketus Chen. 


"Um, baiklah. Aku ingin tau kenapa kau lebih menyayangi Aisyah dibandingkan dengan Gwen. Itu saja_" tanya Lin Aurora penasaran. 


"Siapa bilang aku lebih menyayangi Ai dibandingkan dengan Gwen?  Mereka berdua sama-sama adikku. Tidak mungkin aku tidak adil dalam membagi kasih. Tidak jauh dari Gwen juga, Gwen lebih dekat dengan Ai dibandingkan denganku, begitu pula sebaliknya, aku lebih dekat dengan Ai dibandingkan dengan Gwen," jelas Chen. 


Lin Aurora tersenyum menatap wajah suaminya. 


"Kenapa? Berhenti memasang wajah bodohmu seperti itu. Menggelikan!" Chen masih saja ketus. 


"Haha, aku hanya senang saja kamu mau berbagi kisah denganku. Tapi, apakah Gwen tidak akan sakit hati jika kamu lebih dekat dengan Ai?" lanjut Lin Aurora.


"Itu masalah dia, bukan masalahku. Aku membagi kasih sudah adil. Jika dia menginginkan lebih, malahan yang dapat kasih sayang dari Ai dengan lebih besar adalah Gwen. Aku cemburu akan itu," 


Ternyata, Chen masih saja kesal karena kedua adiknya sedang tidak mau bicara dengannya. Chen ini memang haus akan kasih sayang dan Lin Aurora paham akan itu. Hanya saja, terkadang Lin Aurora tidak bisa menerima perlakuan dingin Chen padanya. 


"Bagaimana dengan lukamu? Apakah selama aku pergi … Ayahmu menyulitkan dirimu lagi?" tanya Chen. 


"Kau mengkhawatirkan aku? Aaa manis sekali, thank you," sahut Lin Aurora. 


"Aku tarik kata-kataku," desis Chen. 


"Eh, jangan!" seru Lin Aurora. 


"Selama kau pergi, aku hanya di rumah. Ibu dan Ayah tidak mengizinkan aku pergi. Sekalipun aku boleh keluar … mereka memberiku pengawalan dan membuatku tidak nyaman. Tapi aku senang bisa menjadi bagian keluarga Wang. Aku mendapatkan kasih sayang dari orang tua yang dimana sejak kecil tidak pernah aku dapatkan. Kamu begitu beruntung memiliki orang tua seperti Ibu dan Ayah Wang, Chen." ungkap Lin Aurora. 


Chen baru sadar, jika memang sejak Cindy mengatakan jika dirinya bukanlah anaknya, Tuan Wang masih menerimanya dengan lapang dada. Belum lagi ketika Tuan Wang mengetahui jika Chen adalah putra dari orang yang telah membunuh kekasihnya, tetap saja Tuan Wang tidak mempermasalahkan hal itu dan malah menerima ketiga saudara Chen dengan penuh kasih.