
Sesampainya di rumah Dokter tersebut. Chen dengan ditemani Ayahnya langsung masuk tanpa antrian. Meski selalu menggoda sangat anak, Yusuf juga tidak mungkin membuat citra anaknya jatuh di depan anak kecil yang juga hendak sunat.
Hampir saja sangat Dokter ingin tertawa mendengar cerita dari Yusuf jika anaknya takut akan di sunat. Namun, Dokter mengatasi ketakutan Chen dengan sangat baik.
"Nama Anda siapa tadi?" tanya Dokter.
"Chen Yuan Wang," jawab Chen ketus.
"Um, sudah bekerja?" lanjut Dokter.
"Saya sejak usia 17 sudah bisa menghasilkan uang sendiri. Selalu memenangkan thunder dan bekerja dengan hasil sempurna," jawab Chen mulai sombong.
"MasyaAllah, luar biasa sekali. Pasti Ayah Mas Chen ini bangga sekali," puji sang Dokter.
"Iyalah! Aku, kok!" angkuhnya Mas Chen.
Dokter terus bertanya agar Chen tidak terfokus pada penyunatannya. Sampai pada akhirnya, proses itu berjalan dengan baik.
"Alhamdulillah, sudah, Mas," ucap Dokter tersebut.
"Cepat sekali, coba saya lihat. Siapa tau motongnya lumayan banyak," Chen masih saja suudzon.
Yusuf yang saat itu menemaninya pun dibuat tertawa. Dokter menyarankan agar Chen tidak mandi dulu untuk tiga hari ke depan. Dengan santainya, Chen menjawab, "Halah, biasanya saya juga mandi seminggu dua kali," ucapnya.
"Eh, anda besar di China jadi wajar mandi seminggu dua kali. Di sini cuaca kan beda, sehari nggak mandi saja, pasti akan terasa gatal kulit tubuh kita. Selamat menikmati, Mas Chen," Dokter tersebut juga ikut mengejek Chen, karena sahabat dari Neneknya dulu dan merasa akrab.
"Kau …,"
Chen hampir saja ingin mengumpat. Namun, ia sudah berjanji untuk menjaga sikap selama tinggal di Jogja. Yusuf pun membawa Chen keluar, dan terlihat Rebecca dengan Lin Aurora masih menunggu di ruang tunggu.
Melihat Chen memakai sarung, bukanlah pertama kali bagi Lin Aurora. Sebab, setiap Chen ikut Yusuf ke masjid, pasti selalu melihatnya. Akan tetapi, saat itu Chen terlihat berbeda di mata Lin Aurora.
"Kenapa kau melihatku? Tak tahan kah melihat pesonaku?" ketus Chen.
"Selamat, karena kamu sudah sunat. Sunat itu, juga buat kesehatan, kok," sahut Lin Aurora.
"Bawel!" Chen pergi begitu saja, dengan langkah kaki tertatih-tatih.
Meski Chen sering ketus dengannya, Lin Aurora sudah mulai terbiasa akan itu. Awalnya, ia akan selalu kesal di setiap Chen menjawab pertanyaannya dengan ketus, namun semakin lama, Lin Aurora sudah tak mempedulikan lagi hal tersebut.
"Nona Lin, nanti malam ada syukuran karena Chen baru sunat. Tempatnya di Pesantren, kamu juga harus ikut, ya …," ajak Rebecca.
"Tapi Ibu--" ucapan Lin Aurora terhenti, ia menatap Chen dengan raut wajah yang terlihat gelisah. "Apakah, Chen akan menerima Lin di sana? Lin takut, dia berpikir jika Lin sedang menertawakannya," lanjutnya.
"Ck, tenang saja. Chen seperti itu juga demi kamu, 'kan? Aisyah bilang, Chen melakukan itu supaya bisa menikah denganmu, jadi apa yang perlu kamu khawatirkan?" tutur Rebecca.
Akhirnya, Lin Aurora pun menyetujui hal itu dengan mengangguk. "Apakah benar itu? Dia melakukan demi menikah denganku? Haih, aku semakin merasa bersalah padanya," gumamnya dalam hati.
Saat di dalam mobil, Chen hanya diam saja dan membuang muka dengan menghadap ke kaca sampingnya. Ia malas melihat wajah semua orang yang seakan mengejek dirinya.
"Nanti malam ada tasyakuran di pesantren. Ayah harap, kamu tidak keberatan untuk datang, Chen," ucap Yusuf memecah keheningan.
"Aku tidak mau!" ketus Chen.
"Ku bilang tidak, ya artinya tidak! Jangan memaksaku! Ini saja sudah menyiksa batinku!" kesal Chen.
"Chen …," panggil Rebecca dengan nada lembut.
"Baiklah, Ibu. Aku akan ikut dengan kalian nanti," jawabnya.
Chen sangat penurut kepada Rebecca dan juga Aisyah. Sebab, Yusuf dan Gwen selalu saja menggodanya dan ia enggan untuk menurut dengan keduanya.
Di jalan, ia mendapat ucapan selamat dari para sepupu dengan memberikannya sejumlah hadiah kepada Chen. Baik Tama, Ayden, Faaz dan juga Feng turut bahagia dengan memberinya sedikit uang jajan kepada Chen.
"Sialan, awas saja. Aku akan membuat mereka membayar karena telah mengolokku!" ketusnya dalam hati.
"Apa ini? bahkan si ahli racun abal-abal Feng mengirimku uang dengan emoticon seperti ini? Fix, dia mengejekku! Awas nanti kau!"
"Ini apa pula si Faaz? Dia bahkan memberi emoticon love banyak sekali. Hih, makin nggak waras saja dia,"
"Ini pula si anak orang kaya, Ayden. Benar-benar bikin darah tinggi, segala macem dia ngirimin foto cewek seksi,"
"Ini dari siapa? Dishi, ohh dia masih baik mendoakan aku,"
"Ah, ini dari adik kesayangan aku, Aisyah. Asha! Dia memberiku sebuah ciuman dan pelukan. Memang adikku yang paling best,"
"Eh, ini dari Ilkay? Putraku bahkan juga memberiku hadiah? Apa hadiahnya? Hm, sebuah ucapan dan dia memanggilku Ayah, bukan Paman lagi?"
Chen sibuk dengan ponselnya. Sebab, mereka yang memberi hadiah dari jauh hanya bisa memberi kabar melalui ponselnya. Berbeda dengan yang masih di dekat Chen. Mereka telah menyiapkan hadiah juga dan akan memberikannya secara langsung kepada Chen nanti pas tasyakuran.
***
Malam yang di tunggu telah tiba. Ba'da isya' semua orang sudah menunggu kehadiran Chen di pesantren. Itu juga kali pertama bagi Lin Aurora masuk ke pesantren.
"MasyaAllah, ini tempat apa, Ibu?" tanya Lin Aurora.
"Ini yang disebut dengan pesantren. Tempat orang-orang atau para santri menimba ilmu agama," jawab Rebecca.
"Adakah hal seperti itu?" tanya Lin Aurora takjub.
"Lihatlah buktinya. Kita di sambut para santri, dan di sana, ada santri perempuan. Sebab, memang kedua santri ini belajarnya di pisah," jelas Rebecca menunjuk gedung besar disebelah masjid.
"Di sana ada rumah, 'kan? Itu rumah almarhum Nenek dan Kakeknya Ayahnya Chen. Sekarang ditempati oleh kakaknya Ayahnya Chen," tunjuk Rebecca. "Terus, di sana juga ada rumah, itu milik pamannya Ayahnya Chen,"
"Dan rumah yang di depan itu, yang akan kita kunjungi … itu rumah Paman Adam dan Bibi Airy yang sering berkunjung ke rumah," lanjut Rebecca.
Lin Aurora tak menyangka jika Chen ternyata juga memiliki latar keluarga kandung yang tidak sederhana. Meski hidup sederhana, tapi Lin Aurora seolah tak percaya jika kakek dan nenek Chen adalah seorang ulama.
"Ayah benar-benar mencari lawan yang salah. Chen dan keluarga kandungnya adalah orang hebat. Ibu kandung Chen adalah seorang Mafia legendaris meski sudah jarang ada kabar. Ayahnya juga termasuk orang kaya di Korea sana,"
"Ayah, kali ini aku malas membantumu mencelakai Chen. Tidak bisa! Inilah keluarga yang selama ini aku inginkan, kebersamaan yang kompak dan saling melengkapi satu sama lain."
Lin Aurora terus berseteru dengan hatinya. Ia semakin jatuh hati dengan keluarga kandung calon suaminya, karena di sambut dengan baik di sana.
Ingat, ini dalam dunia novel!