
Malam semakin larut. Chen bermimpi jika dirinya bertemu dengan kedua orang tuanya. Mereka terlihat tersenyum, kemudian memeluknya dengan erat. Tiba-tiba ia terbangun dan melihat jam di dinding, sudah menunjukkan waktu 7 pagi.
"Aku terlambat, ini sudah siang. Aku akan pergi menemui Puspa!" seru Chen baru tersadar langsung beranjak.
Jovan yang waktu itu tengah membantu Ayyana masak terkejut saat Chen sudah bersiap akan keluar. Jovan memanggil Ayyana, supaya mau mencegah Chen pergi.
"Kenapa tidak boleh pergi? Aku akan menemui kekasihku sendiri apa tidak boleh, kah?" cetus Chen.
Jovan dan Ayyana saling menatap. Ada sesuatu yang tidak Chen ketahui sebelumnya. Semalam, Adam sudah menceritakan semuanya kepada Jovan tentang Puspa.
"Aku tetap akan pergi!" kekeh Chen dengan memakai jaketnya.
"Oke kamu boleh pergi. Tapi setidaknya kamu makan dulu dan minum obatmu. Pagi tadi, sepupumu ini sudah kena marah oleh Ayahmu di Tiongkok sana," Ayyana akhirnya melunak dengan keras hatinya Chen.
Chen juga patuh, dia juga tak ingin melihat sepupunya dalam masalah karenanya. Segera Chen menghabiskan makanannya, kemudian Ayyana meminta Chen untuk mengajak Jovan bersamanya.
"Kenapa harus dengannya? Nanti dia hanya akan menjadi obat nyamuk saja. Dia masih single, aku kasihan dengannya,"
"Aku akan menemani dirimu, ayo kita berangkat sekarang!" seru Jovan mendorong tubuh Chen.
Berangkat lah mereka ke rumah Puspa. Sepanjang perjalanan, Chen begitu terlihat bersinar mengusap-usap hadiah yang ingin ia berikan kepada Puspa. Tatapan Ayyana terus kedepan kala menyetir.
Mengingat Chen ada trauma duduk di depan kemudi, Ayyana lah yang menjadi sopir Chen dan Jovan saat itu. Sama dengan Chen yang tidak memiliki surat izin, Jovan lebih tidak bisa mengemudi karena posisi setir berbeda dengan di Negaranya.
Btw, Ayyana janda, ya. Suaminya meninggal saat perjalanan dakwah.
Sesampainya di gang rumah Puspa, Ayyana dan Jovan kembali menahan Chen untuk tidak ke rumah Puspa. "Kenapa dengan kalian berdua? Sepertinya kalian tidak senang aku akan bertemu dengan kekasihku?" desis Chen.
"Bisa kita pulang dulu, nggak? Biar nanti Puspa yang datang saja, bagaimana?" Ayyana masih berusaha.
"Iya, apa yang dikatakan Cici Ay bener juga!" seru Jovan sok tahu.
"Memangnya kamu tau, apa yang dikatakan oleh Kakakku?" sulut Chen.
"Um, itu … em, aku, hanya ngarang," lirih Jovan.
Chen menepis tangan Ayyana dan juga Jovan. Segera turun dengan semangat akan menemui Puspa. "Ayo turun, atau nanti dia akan mengamuk!" ujar Ayyana meminta Jovan turun.
Chen berjalan dengan langkah tergesa-gesa. Begitu gembiranya ingin menemui pujaan hatinya. Namun, sampai di depan rumah sangat pujaan hati, Chen merasa bingung dengan adanya tenda di depan rumah Puspa.
"Tenda pernikahan? Siapa yang menikah? Tuan Wiwin?" gumam Chen masih dengan wajah bodohnya.
Ia terus berjalan, menerobos masuk ke karpet merah yang dipakai jalan pengantin. Meski menjadi budak cinta, itu tidak membuatnya bodoh. Ia tahu, jika dekorasi itu dekor pengantin. Langkah kakinya terus berjalan, tak peduli banyak orang yang menatapnya. Terpampang jelas di papan, ada nama Puspa dan Ijal.
"Apa ini?" gumam Chen.
Di waktu yang sama, Puspa dan Ijal baru kembali dari Kantor Urusan Agama, selesai melaksanakan ijab qobul bersama Abi Darwin. Seorang anak kecil menghampiri Puspa dan mengatakan bahwa ada seseorang yang berdiri tepat di tengah-tengah para tamu.
"Mbak Puspa, ada cowok ngganteng, tinggi, putih dan matanya biru. Sedang berdiri di depan panggung, cepat ayo!" ujar anak kecil tersebut.
"Berkata biru?" gumam Puspa. "Ayah, apakah dia Chen?" bisiknya kepada sang Ayah.
"Ayo!" seru Abi Darwin juga tiba-tiba panik.
"Chen," sebut Puspa dengan lirih.
Seolah merasa terpanggil, Chen menoleh ke arah Puspa yang saat itu berbalut busana pengantin. Aura positif pengantin terpancar dari wajahnya.
Chen terus menatap gadis yang kini telah menjadi istri orang lain itu sedang berjalan mendekatinya. Tiba-tiba, air mata Chen membasahi pipinya. Tetesan air mata itu, sangat membuatnya sakit sehingga penyakitnya mulai kambuh.
"Dekorasi pernikahan, gaun pernikahan, nama di papan pernikahan. Lalu apa ini? Ini adalah pernikahannya, dia …," ucapan Chen dalam hati terhenti. Sangat sulit baginya menerima kenyataan pahit itu.
"Chen, kamu datang?" Puspa juga tak dapat menahan air matanya. Sehingga ia pun meneteskan air mata.
Suasana menjadi hening, suara sound sistem juga terhenti karena kejadian itu. Ayyana dan Jovan tak sempat menghentikan langkan Chen yang sudah masuk ke dalam.
"Kita terlambat," bisik Ayyana.
"Mampus! Chen pasti sangat terluka. Bagaimana bisa wanita itu meninggalkannya dengan sadis seperti ini," desis Jovan.
Chen dan Puspa masih saling memandang. Hanya air mata yang berkata saat itu. Baru kali itu, Chen meneteskan air mata untuk orang lain. Hatinya sangat hancur, penyakitnya mulai kambuh dan kembali membuatnya sedikit terhuyung.
"Kamu kenapa, Chen?" Puspa panik kala melihat Chen terhuyung.
"Kamu mengkhianatiku, Puspa? Kamu meninggalkan aku, mencampakkan aku begini saja? Kenapa?" tanya Chen dengan suaranya yang gemetar.
"Maafkan aku, aku benar-benar minta maaf, Chen. Tapi kita mungkin belum berjodoh, sehingga aku tidak bisa mewujudkan keinginanmu sebagai--"
"Cukup!" desis Chen menyela ucapan Puspa.
"Mungkin semua rasa dan keseriusan yang kuberikan untukmu hanyalah sebatas candaan bagimu," ucap Chen, berusaha bedamai dengan hatinya.
Kemudian, ia memberikan hadiah yang ia bawa kepada Puspa. "Selamat, selamat atas pernikahanmu dan suami. Aku turut bahagia atas dirimu … ulat ijo. Selamat menempuh hidup baru, katakan pada Tuhanmu, untuk memberiku hati yang luas, agar aku bisa menyusul pernikahanmu secepatnya," ucap Chen dengan air mata yang satu persatu mengalir di pipinya.
"Kamu sangat cantik hari ini. Aku permisi, assalamu'alaikum. Tuan Darwin, saya pamit,"
Puspa tak kuasa menahan air matanya kembali, sekali lagi ia menangis, merasa bersalah meninggalkan Chen di saat dirinya sedang dalam keterpurukan. Langkah Chen kian lama semakin tidak terkendali.
Penglihatannya mulai kabur, dadanya kembali sakit dan akhirnya ia pun hampir terjatuh. Beruntung Jovan dan Ayyana segera menangkap tubuh besar Chen. Datang di waktu yang tepat, Adam segera meminta Jovan dan Ayyana membawa Chen pulang.
"Kalian bawa pulang dulu. Abi mau bicara dengan Puspa dan Abinya," ucap Adam dengan lembut.
"Iya, Bi."
Puspa tidak tahu jika Chen sedang sakit. Hatinya sangat sakit melihat Chen di papah seperti itu. Segara Adam menjelaskan apa yang terjadi kepda Chen dalam lima bulan terakhir.
"Maaf sekali telah mengacaukan acara ini. Tapi keponakan saya memang sedang sakit. Sudah dua kali dalam satu minggu masuk ke rumah sakit. Puspa, Pak Darwin, saya minta izin tidak dapat menghadiri resepsi ini. Saya harus membawanya ke rumah sakit terlebih dahulu,"
"Assalamu'alaikum," pamit Adam merasa tidak enak hati.
"Wa'alaikumsallam warahmatullahi wabarakatuh, hati-hati, Ustadz Adam." jawab Abi Darwin sekian tidak enak hati.
Puspa menggenggam erat hadiah dari Chen di tangannya. Merasa sangat jahat meninggalkan Chen yang sedang berjuang, memperjuangkan dirinya. Ada apa dengan Puspa?