Triplets' Last Mission.

Triplets' Last Mission.
Lamaran?



Sampai di rumah, Syifa mengamuk kepada kedua orang tuanya. Ia tidak terima jika pernikahannya gagal begitu saja.


"Abi, ini nggak adil buat aku! Mereka ini balas dendam kan, karena tiga tahun lalu aku melarikan diri saat ijab kabul itu," protes Syifa. 


"Umi, Umi harus bantu aku supaya Ustadz Khalid tidak jadi membatalkan pernikahan ini, Umi. Kenapa kalian diam saja, hah?"


"Dan lagi, kenapa kalian memberikan sertifikat itu kepada mereka? Bahkan Gwen juga membayar semua kekurangan uang pembangunan Pesantren itu. Kenapa juga Abi dan Umi menerima uang itu, kenapa?" lanjut Syifa tidak terima. 


Orang tua Syifa hanya diam saja saat itu. Membuat Syifa semakin gila karena jalannya merebut Agam kembali telah gagal. 


"Syifa, Gwen ini bukan orang sembarangan. Sebaiknya, kita jangan melawan dia lagi," tutur Ayahnya Syifa. 


"Abi, apa yang perlu di takutkan? Bukannya kita ini juga orang yang berpengaruh? Apa susahnya kita melawan dia?" sulut Syifa. 


"Ya Allah, aku tidak mungkin mengatakan bahwa Gwen ini adalah anak seorang mantan Mafia yang kejam. Tuan itu sudah memegang janjiku. Aku harus bagaimana menjelaskan ini kepada putriku?" batin Ayahnya Syifa merasa cemas. 


Setelah kejadian itu, Syifa sudah tidak pernah datang lagi. Gwen juga tahu kabar fitnahan Syifa itu dari Puspa. Lalu tertawa ketika Puspa menjelaskan apa yang sebenarnya kepada Syifa saat itu. Sore hari, Gwen dan Agam sudah di perbolehkan pulang.


5 bulan berlalu. 


Banyak yang terjadi di hari-hari lima bulan itu. Aisyah sudah berhasil lulus dari kelas bahasa sebulan lebih cepat. Ia akan masuk ke jenjang berikutnya. Menjadi dokter spesialis anak seperti neneknya dulu. 


Selama di Korea, Ayden selalu membuat Aisyah menjaga jarak dari Leo dan Raza. Sebab, Ayden menemukan fakta mencurigakan pasal Raza selama ia dekat dengan Aisyah. 


Sementara itu, hubungan Gwen dan Agam kian mesra. Keduanya bahkan tak malu-malu lagi untuk menyatakan cintanya satu sama lain. Namun, sampai saat itu mereka belum juga diberi amanah untuk menjadi orang tua. 


Agam selalu berkata, bahwa semua itu sudah ada takdirnya. Ia akan menerima amanah itu kapanpun jika sudah waktunya. 


Di sisi lain, hubungan Chen dan Puspa juga membaik. Chen selalu pergi ke luar negri, jadi mereka jarang sekali bertemu. Meski begitu, komunikasi mereka selalu lancar karena ada satu hal yang membuat mereka harus bersama di kemudian hari.


Pada suatu hari, Asisten Dishi ada pekerjaan di Australia. Ia menyempatkan diri untuk mengunjungi orang tua Aisyah dan akan melamar Aisyah terlebih dahulu sebelum ia menemui Aisyah di Korea.


"Kata Tuan, alamat ini sudah benar. Tapi, kenapa rumahnya terlihat sepi, ya?" gumam Asisten Dishi sampai di kediaman almarhum Jimmy (kakek dari Aisyah) 


"Aku coba masuk saja, siapa tahu memang yang tinggal di sini hanya sedikit. Jadi, terlihat sepi rumahnya!" 


Asisten Dishi membunyikan bel. Tak lama kemudian, seorang berpakaian hitam putih rapi membukakan pintu untuknya. 


"Mau bertemu dengan siapa, Tuan?" sambut pelayanan rumah itu. 


"Saya ingin bertemu dengan Nyonya Rebecca dan Tuan Yusuf. Apakah mereka ada di rumah?" sahut Asisten Dishi dengan ramah. 


"Tuan ini siapa dan dari mana, ya?" tanya pelayan itu lagi. 


"Katakan saja, Dishi dari Tiongkok," 


"Baik, Tuan. Silahkan Tuan menunggu dulu di sana, jika nanti Tuan maupun Nyonya mengizinkan, Tuan baru boleh masuk," ucap pelayan itu dengan santun. 


"Baiklah." jawab Asisten Dishi. 


Asisten Dishi melihat ke halaman  rumah depan. Sangat luas dan ada taman bermain di sana. Asisten Dishi pun bertanya-tanya, "Uh, ada taman bermain? Apakah dulu itu dibuat khusus untuk Nona Gwen?" gumamnya. 


Di dalam ruangan, banyak sekali foto Gwen dan Aisyah ketika kecil sampai besar. Bahkan,  banyak sekali foto anak kecil yang terpajang di sana.


"Tuan, Anda tunggu di sini saja. Tuan dan Nyonya akan keluar menemui, Anda," ujar pelayan tersebut. 


"Oh, begitu? Baiklah jika seperti itu, saya tunggu di sini," kata Asisten Dishi patuh.


Tak lama kemudian, keluarlah Yusuf membawa semangkuk makanan yang baru saja ia masak. Dengan senyum sumringah, Yusuf senang jika ada yang datang berkunjung. 


"Wah, benar saja feeling saya. Ternyata ada yang mau datang ke sini, makanya saya kepikiran membuat resep baru hari ini. Cobalah, mumpung masih panas," ucap Yusuf menyajikan makanan itu kepada Asisten Dishi. 


"Tuan, ini … Saya hanya sebentar saja datang kesini, sekedar me--"


"Stt, makan dulu, baru kita bicarakan apa yang ingin kamu katakan. Ayo, dimakan. Istri saya sedang di dapur membuatkanmu minuman segar," sela Yusuf, padahal Asisten Dishi belum mengatakan apa maksud tujuannya datang ke rumah. 


Tak ingin membuat Yusuf tersinggung, Asisten Dishi pun melahap masakan yang dibuat Yusuf. Memang sudah tak di ragukan lagi, masakan Yusuf tidak bisa dikatakan ada yang kurang. Rasa dan cita rasanya sangat memuaskan. 


"Bagaimana rasanya? Kamu orang pertama yang mencoba resep baru saya ini," tanya Yusuf. 


"Tuan, masakan Anda sangat lezat. Bahkan, ini saja kurang bagi saya. Uh, apakah Aisyah juga sehebat Tuan ketika memasak?" jawab Asisten Dishi hilang kendali. Saking lahapnya, ia sampai lupa jika dirinya sedang makan di hadapan calon mertua. 


"Jangan ditanya lagi. Dia juga jago dalam memasak. Apalagi membuat kue, enak banget. Seperti neneknya dulu yang pandai membuat kue," ungkap Yusuf juga ikut kalap makannya. 


Datang lah Rebecca yang sudah sangat besar perutnya kala mengandung adik dari kembar tiga itu. Rebecca membawa minuman untuk suaminya serta Asisten Dishi. 


Usai makan, Yusuf baru mempertanyakan maksud dan tujuan Asisten Dishi datang ke rumah. "Jadi, apa Chen yang memintamu datang? Atau ada pekerjaan lain di sekitar sini, lalu kamu mampir sebentar?"


Asisten Dishi menghela napas panjang. Kegugupan nya tiba-tiba muncul saat Yusuf menanyakan tujuannya datang ke rumah. 


"Sebelumnya, saya minta maaf jika kedatangan saya tidak sopan sampai tidak membawakan buah tangan, Tuan. Namun, ada hal penting yang ingin saya katakan kepada Anda," ucap Asisten Dishi. 


"Ah itu tidak masalah. Kamu datang dengan keadaan sehat wal'afiat saja, sudah alhamdulillah sekali, bukan?" sahut Yusuf. 


Asisten Dishi mengeluarkan sertifikatnya dari seorang yang telah membimbingnya untuk menjadi seorang muslim. 


"Apa ini? Kamu sudah menjadi muslim sejak 4 bulan lalu? Bukannya kamu sedang bekerja di sana? Aih, aku ngomong apa, sih? Tapi ini … untuk apa?" Yusuf langsung menanyakan inti dari maksud Asisten Dishi. 


"Saya ingin meminta izin kepada Tuan dan Nyonya. Saya ingin menjadikan Aisyah sebagai istri saya, dan menjadikannya resmi sebagai Ibunya Ilkay dalam satu kartu keluarga," ucap Asisten Dishi tanpa gugup. 


Yusuf dan Rebecca terdiam. Keduanya saling memandang. Yusuf membaca semua data diri baru Asisten Dishi sampai harta yang ia miliki. 


"Sejujurnya, saya tidak pernah mempermasalahkan soal harta, tahta maupun fisik. Tapi, seiman itu yang sangat saya harapkan. Tapi, apa kamu yakin?" tanya Yusuf. 


Asisten Dishi mengatakan, bahwa dirinya belum melamar Aisyah secara langsung. Ia ingin melamarnya kepada orang tuanya lebih dulu. Agar keluarga tidak ada yang salah paham kepada dirinya, maka Asisten Dishi langsung menemui kedua orang tua Aisyah terlebih dahulu. 


Lalu, apa jawaban orang tua Aisyah? Setelah lima bulan berjalan, apa saja yang terjadi dengan Gwen dan Agama? Begitu juga dengan Chen dan Puspa yang belum lagi bertemu setelah perpisahan lima bulan lalu, bagaimana kisah mereka? 


Maaf, loncat. Takut bertele-tele. Nanti akan ada sedikit flashback biar gak anu