
"Assalamu'alaikum," salam Gwen langsung duduk diantara mereka bertiga. Bahkan mendesak di tengah orang tuanya yang saat itu duduk berdampingan.
"Wa'alaikumsallam warahmatullahi wabarakatuh,"
"Darimana saja? Kenapa raut wajahmu bungah seperti itu?" tanya Rebecca.
"Ayah aku pesan makanan di Ayah, ya. Untuk nanti malam, porsi untuk seluruh keluarga yang di rumah dan pesantren," ucap Gwen bahagia.
"Kenapa?" tanya Rebecca, Yusuf dan Chen bersamaan.
"Nanti malam ada pria yang mau melamarku. Oke, aku mau bobok dulu! Assalamu'alaikum!" Gwen langsung pergi begitu saja dengan jalan seperti anak kecil yang menerima uang kembalian di saat dimintai tolong beli minyak ke warung.
Yusuf menanyakan perihal pria itu kepada putranya, Chen. Memang Chen sedikit mengetahui tentang siapa pria yang melamar calon kakak bungsu yang masih seperti anak kecil itu.
Chen mulai menceritakan kepada orang tuanya, jika Aisyah bahkan mengenal siapa pria itu. Intinya, Chen mengungkapkan kalau pria itu adalah pria yang sangat baik, dan meminta kedua orang tuanya untuk tidak khawatir.
"Kami hanya tidak ingin Gwen salah langkah, lagipula Aisyah juga belum mau menikah. Bagaimana mungkin seorang kakak perempuan bisa dilangkahi?" tanggap Rebecca.
"Itulah kalian. Kalian tak pernah memberikan Gwen memutuskan keputusannya sendiri. Itu yang membuatnya selalu menganggap bahwa dirinya masih seperti anak kecil dan selalu tidak di sayang," sahut Chen.
"Aku ada di sini, kalian jangan risau. Aku yang bertanggung jawab atas kedua adikku. Tenang saja, semuanya akan baik-baik saja. Sebaiknya … Ayah, kita harus pergi ke restoran, bukan? Mari buat hidangan yang lezat untuk lamaran Gwen nanti malam!"
"Untuk Ibu, jangan membuat adikku yang ada di dalam sana ikut khawatir. Istirahat, dan jaga kandungan Ibu baik-baik. Mungkin, sebentar lagi Aisyah dan Asisten Dishi akan pulang, masuklah ke kamar." tukas Chen menarik tangan Ibunya dan menuntunnya ke kamar.
Hati Yusuf bergetar. Seolah-olah beban dalam hidupnya runtuh begitu saja ketika Chen datang. Ia tak menyangka jika putranya mampu sebijak itu, bahkan tidak membedakan antara orang tua kandungnya dan orang tua angkatnya yang telah membesarkannya. Tak terasa air mata pun membasahi pipinya.
Lamunan Yusuf terputus ketika Chen menyentuh bahunya dan mengajaknya ke restoran. "Ayah, ayo!"
Sampai di luar, Chen hanya mengamati mobil milik Yusuf. Ia terdiam dan seperti sedang memikirkan sesuatu. Membuat Yusuf bertanya mengapa putranya hanya terdiam. "Ada apa, Chen?"
"Ayah, aku bisa menyetir tapi aku tidak memiliki surat izin. Apakah itu tidak akan menimbulkan masalah?" tanya Chen kembali.
"Kalau begitu, biar Ayah saja yang menyetir untukmu," ujar Yusuf masuk ke bagian mengemudi.
"Jangan! Aku tidak bisa membiarkan orang tuaku menjadi supirku. Lebih baik jika aku yang menyetirnya!" tegas Chen seraya menahan tangan Ayahnya.
"Sudahlah, nanti ketika kamu pulang, kamu yang menyetir, bagaimana?" usul Yusuf agar putranya tidak tersinggung. "Masuk dan segera kita berangkat." lanjutnya.
Akhirnya Chen pun menurut. Di jalan, Yusuf menanyakan mengapa putranya tidak memiliki surat izin meski bisa menyetir. Kemudian, dengan berat hati, Chen mengungkapkan kejadian tragis 5 tahun lalu yang merenggut sahabatnya.
"Kecelakaan?" tanya Yusuf.
"Iya, Ayah. Kecelakaan itu juga membuatku hilang ingatan sementara. Aku tidak mengingat apapun tentang hidupku ketika di Amerika. Tapi entah kenapa, aku bisa mengingat kalian, keluarga kandungku?" jelas Chen.
"Selama kecelakaan itu, aku terus mencari sesuatu yang aku lupakan. Tapi entah apa itu. Sepertinya … aku telah melakukan dosa besar, sehingga aku tidak pernah tenang jika aku di belakang kemudi, Ayah," sambungnya.
"Tapi aku tidak dapat mengingatnya. Yang aku ingat pasca kecelakaan itu hanyalah, aku memiliki dua orang adik perempuan dan kedua orang tuaku yang ada di negara ini. Hanya itu saja. Bahkan aku tidak ingat sama sekali jika Tuan Wang itu adalah Ayah Angkatku." tukas Chen dengan menunjukkan rasa menyesalnya.
Kecelakaan itu masih menjadi misteri. Chen sendiri tidak mengingat Tuan Wang, namun bisa mengingat keluarga kandungnya. Itu sebabnya, ia bahkan dingin dengan Cindy dan Xia karena tidak pernah menganggap mereka ada dalam ingatannya.
Lalu, kecelakaan apa itu? Mengapa Chen hilang ingatan, dan apa yang ia lakukan sehingga dirinya menyangka telah melakukan dosa besar.
Sementara itu, Aisyah dan Asisten Dishi selesai membeli obat. Mereka juga dari puskesmas tempat Aisyah bekerja. Setelah itu, baru menuju jalan pulang.
"Selamat untukmu, Aisyah," ucap Asisten Dishi.
"Untuk?"
"Atas kehamilan Ibumu, sebentar lagi kau akan memiliki adik lagi," Asisten Dishi mengatakan itu sambil tersenyum.
"Kau mengejekku?" sulut Aisyah.
"Usiamu, haha, tahun depan 23 ... dan kau akan mendapat adik. Itu kado terindah, bukan?" ejek Asisten Dishi sembari menyetir mobil milik Aisyah.
Pipi Aisyah memerah. Ia semakin kesal karena Asisten Dishi terus saja menggodanya. Sehingga, keluarlah ucapan Aisyah yang selalu membuat Asisten sebal ketika di sebut, "Koko!"
"Aku benci kau memanggilku dengan sebutan itu, Aisyah!" seru Asisten Dishi memanyunkan bibirnya.
"Kenapa? Ko Feng saja tidak pernah marah ketika aku memanggilnya dengan sebutan itu. Apa salahnya?" tanya Aisyah.
"Aku bagaikan kakak laki-lakimu jika kau memanggil dengan sebutan itu. Dan aku tak ingin dianggap sebagai kakak laki-laki olehmu." jelas Asisten Dishi.
Mereka berdua sama-sama tersipu. Masih malu-malu meski mereka sudah saling berharap. Aisyah jarang sekali bisa akrab dengan seorang lelaki yang bukan saudaranya sendiri. Namun, bersama dengan Asisten Dishi membuatnya selalu tersenyum dan seakan terlepas dari beban pikiran tentang Gwen dan tanggung jawabnya kepada adiknya yang nakal itu.
"Kau tau, aku sangat senang ketika kita bisa bertemu kembali, Aisyah. Meski aku harus sadar diri jika dirimu susah aku miliki," batin Asisten Dishi.
"Apa ini? Kenapa aku sangat nyaman bersamanya? Apa ini yang dinamakan jatuh cinta? Sebaiknya aku bertanya kepada Kak Ayyana." sahut Aisyah dalam hati juga.
Di restoran, Yusuf dan Chen bersemangat memasak untuk malam nanti. Sementara Rebecca berbincang dengan keluarga yang ada di pesantren.
"Ayah, mau kau apakan ayam ini?" tanya Chen.
Yusuf tertawa melihat tangan Chen ketika menyentuh ayam tersebut. Diketahui, memang Chen selama hidupnya adalah seorang vegetarian karena mimpi yang muncul 15 tahun ketika dirinya berusia 7 tahun.
"Kenapa tanganmu? Apa kamu jijik, Chen? Hahaha ...," tawa Yusuf membuat Chen kesal.
"Ayah, berani-beraninya kau menertawakanku? Ini semua gara-gara Paman Adam, dia datang ke mimpiku dan melarangku makan daging tanpa penjelasan apapun. Sial!" umpat Chen.
"Haha, Chen ... Makanlah daging sepuas hatimu ketika kamu bersama kami di sini. Dijamin, pamanmu tidak akan marah kepadamu," Yusuf masih saja menertawakan putranya itu.
"Astaga, Ayah. Kau tau makanan apa yang sangat pahit?" Chen mulai bergurau.
"Pare?"
"Salah!"
"Lalu?"
"Kenyataan!"
Keduanya tertawa bersama di dapur restoran. Keseruan Ayah dan anak lelaki yang sempat tertunda selama 22 tahun itu terlihat intim dan akrab. Keduanya seakan-akan selalu melakukan itu, sehingga tak ada lagi kecanggungan di antara mereka.