Triplets' Last Mission.

Triplets' Last Mission.
Hadiah Istimewa



"Aku pernah dengar, jika Nona Gwen ini pernah membunuh orang dari usiamu yang masih kanak-kanak. Apakah itu bukan aib?" perkataan Syifa saat itu memang memiliki maksud ancaman. 


"Aku telah membunuh puluhan orang dewasa saat kecil. Lalu, ketika aku remaja, aku pernah mematahkan lengan teman sekolah yang mengejek keluargaku. Belum lagi, ketika aku terjun di dunia hitam, aku juga membunuh para tetua kumpulan penjahat di sana," ungkap Gwen mengeluarkan belatinya. 


"Satu sayatan saja sudah membuat orang sekarat. Apa kau mau mencobanya, Nona Syifa? Jika iya, biar memperjelas rasa penasaranmu, aku bisa memberimu satu kenangan-kenangan di wajahmu. Satu baris saja, mau?" tatapan Gwen saat itu mampu membuat bulu kuduk Syifa berdiri. 


Dalam melumpuhkan lawan, Gwen lebih cerdik daripada Chen yang selalu menggunakan kekerasan dan penyekapan. Gwen lebih menikmati ketenangan dan membunuh tanpa mengeluarkan suara. 


"A-aku tidak penasaran. Tanganku masih bersih, kamu pembunuh. Kamu tidak pantas untuk Ustadz Agam!" seru Syifa masih berlagak berani. 


"Begitukah?" Gwen berdiri mendekati Syifa. "Aku akan ceritakan bagaimana aku mengolah daging lawanku," bisiknya. 


"Pertama, aku akan mengajaknya mengobrol seperti ini. Lalu, perlahan menikam di bagian belakang punggung, kemudian menusuk dengan dalam tanpa mengenai tulang. Jadi, langsung pas kenap jantung dan paru-paru," bisik Gwen di telinga Syifa. 


"Tidak sampai di situ saja. Ketika korban sudah merasa kesakitan, aku akan mengaduk jantung dan paru-parunya itu menggunakan belati ini. Di luar sayatan rapi, di dalam hancur lebur organ dalam inti lebur,"  sambung Gwen. "Mau mencoba?" bisiknya. 


Huek … huek …


Syifa merasa mual dan hendak muntah mendengar gertakan Gwen. Ia pun membawa rantangnya kembali dan pergi begitu saja. 


"Heh, rantangnya dibawa pergi? 'Kan lumayan buat ganjel perut," sesal Gwen menghembuskan napasnya.


"Niat ngasih nggak, sih? Kalau makanan mah mana aku nolak," umpatnya. "Sudahlah, mending aku rendam baju dulu sama iris-iris sayuran!" serunya dan pergi ke dapur. 


Tempat mencuci memang di sebelah dapur, jadi Gwen pergi ke sana dan mulai melakukan aktivitasnya sebagai seorang istri di rumah. Tak lupa Gwen memutar drama kesukaannya di dapur. Dua hari lalu, Agam memasang tv kecil di dapur supaya istrinya tetap bisa menonton drama kesukaannya. 


Usai mandi, Agam segera menemui istrinya yang saat itu sedang mengiris beberapa sayuran untuk di masa. "Assalamu'alaikum, di mana Syifa?" tanyanya. 


"Wa'alaikumsallam, Mas Agam merindukannya?" 


"Eh, bukan seperti itu. Bukannya tadi dia membawakan sesuatu? Jadi, kenapa dia membawanya kembali jika sudah sampai sini, kan lumayan buat ganjel perut," sahut Agam. 


Rupanya, sejak menikah dengan Gwen, perlahan Agam juga bisa bercanda juga seperti lainnya. Gwen tertawa dan malah membenarkan apa yang dikatakannya. "Iya, harusnya kan makanannya di tinggal. Lumayan tuh buat sarapan!" seru Gwen. 


Mereka mulai menguasai dapur. Beberapa candaan juga dilontarkan oleh Gwen untuk membuat suasana lebih santai. Gwen kembali menceritakan kisah masa kecilnya saat berada di Australia kepada Agam. 


"MasyaAllah ...," Agam sampai tertegun. Ia tidak menyangka jika hubungan keluarga istrinya bisa serumit itu. Sebab, memang keluarga Yusuf dan Rebecca setelah perceraian sudah tidak ada kabar lagi. 


"Lalu, kamu bilang, kamu bertemu dengan kakak laki-lakimu saat usia sembilan tahun. Bagaimana bisa itu? Kalian bertiga sudah saling bertemu di usia segitu? Yang Mas dengar, Kak Chen baru kembali belum lama ini, 'kan?" tanya Agam. 


"Kami pernah bertemu ketika usai kami sembilan tahun tepat di restoran Ayah Yusuf. Saat itu, kami bertiga juga tidak tahu, jika kita bersaudara. Ketika Kak Chen sudah kembali ke Tiongkok, barulah aku dan Kak Aisyah mengetahui hal itu karena kalung ini," Gwen menunjukkan kalung yang di rancang Chen sendiri. 


Kalung itu selalu melekat di leher Gwen tanpa pernah di lepas sedetikpun. Itu cara Gwen menghargai kakaknya dan bentuk penghormatan baginya. Gwen sangat merindukan Chen, namun tidak tahu harus bersikap bagiamana kepada kakak lelakinya itu. 


"Semua orang selalu memperhatikan Kak Aisyah. Jadi, aku pikir aku selalu membuat onar untuk mencari perhatian mereka. Eh, yang ada malah selalu membuat kakak perempuanku dalam masalah," ujarnya. 


"Mengenai semua suka dengan Kak Aisyah, kenapa waktu di Bandara ... Mas memilihku, bukan memilih Kak Aisyah? Jelas-jelas, Kak Aisyah selalu terlihat bersinar jika di sisiku?" tanya GWen. 


Agam terdiam. Masih mengaduk tepung yang akan ia buat untuk goreng tempe, Agam masih berpikir bagaimana mengatakan yang sebenarnya kepada Gwen masalah di Bandara itu.


"Sebenarnya, Mas tidak pernah melihat Kak Aisyah ada di sana. Ya waktu itu memang Kak Aisyah tidak ada di sana, 'kan?" ucap Agam dengan lembut. 


"Jujur, ketika Mas melihat kamu untuk pertama kalinya ... Mas merasa ragu, Dek. Takut di tolak karena Mas juga tiba-tiba melamar kamu," 


"Tapi, mungkin ini takdir yang Allah atur untuk kita. Jadi, saat itu ... Mas hanya melihat kamu. Saat mengenal kamu, Mas kaget juga kalau kamu adalah seorang Mafia. Mas pikir, itu hanya ada di film saja, loh!" seru Agam.


"Benarkah?" tanya Gwen. 


"Benar loh, Mas sempat bingung gitu. Mafia itu beneran ada, gitu? Terus, saat Mas tau kamu ... maaf, sering bunuh orang. Mas sempat mau mundur," jelas Agam. 


"Lalu, apa yang membuat Mas yakin untuk menikah denganku?" tanya Gwen penuh harap. Ia berharap jawaban Agam tidak membuatnya kecewa. 


"Mas sayang kamu, Dek. Mungkin pikiran Mas ragu, tapi tidak dengan hati, Mas. Mas melihat ada sesuatu yang istimewa darimu. Itu sebabnya, Mas nggak mau ungkit masa lalu kamu, yang sudah kamu kubur dalam-dalam," ungkap Agam. 


"Kamu berusaha menjadi lebih baik dari sebelumnya. Mas tau itu. Waktu kamu marahan dengan Kak Aisyah sebelum kecelakaan, kami bicara banyak bersama beliau, Asisten kakak Chen, lalu siapa itu ... pembimbing kamu waktu di kampus," 


"Mas sudah sayang dengan kamu ketika memperkenalkan kamu kepada Umi, Dek. Dan sekarang, mungkin rasa cinta Mas juga mulai tumbuh. Jadi, percaya sama Mas, posisi kamu tidaka akan pernah tergantikan dengan wanita lain, meski wanita lain itu adalah Syifa." tukas Agam membelai pipi Gwen dengan lembut. 


Selama hadirnya Syifa dalam rumah tangga mereka, Agam tahu jika istri nakalnya itu merasa cemburu meski tidak di tunjukkan. Agam memuji kesabaran yang dimiliki Gwen kala menghadapi Syifa. Tak pernah terpikir baginya, semua kakaknya, keluarganya pernah berkata bahwa Gwen memiliki sifat kekanak-kanakan. 


Namun, dengan waktu cepat, Gwen mampu melunturkan keraguan Agam saat itu juga. Merasa terharu dicintai oleh seorang pria yang baik, Gwen sangat bersyukur atas hadiah yang Allah berikan padanya. Selama hidup, ia terus mengejar perhatian banyak orang, namun ... ia tidak menyangka jika Allah memberikan seseorang yang perhatian padanya tanpa ia kejar.