
"Kau mencuri hartaku? Lancang!" teriak Jackson Lim. "Jangan harap, kau bisa lepas dariku malam ini, Aisyah!"
"Aku akan membunuhmu, malam ini--"
Tatapan Aisyah tiba-tiba menjadi tajam dan mengeluarkan aura dingin. Dishi tidak menyangka jika istrinya bisa senekat itu datang ke markas penjahat hanya demi dirinya.
"Jackson Lim. Tak bisakah sedikit saja kau berbuat baik? Tak bisakah kau melepas Raza? Raza pria yang baik, kenapa kau ubah menjadi iblis seperti itu?" ucap Aisyah dengan nada yang datar.
"Apa? Dia memuji pria lain? Huft, menyebalkan!" kesal Dishi dalam hati.
"Aisyah, jangan main-main lagi. Cepat serahkan stempel itu kepada Pamanmu!" Cindy sampai melangkah maju untuk merebut stempel itu.
Namun, ketika Cindy maju, Aisyah langsung menendang perut Cindy, kemudian wanita jahat itupun tersungkur jatuh. "Aduh!" teriaknya.
"Maafkan aku. Aku datang ke sini hanya ingin membawa suamiku keluar saja. Kalian, jangan memaksaku untuk berbuat jahat seperti kalian ini," Aisyah masih menggenggam erat stempel keluarga Ling tersebut.
Jackson Lim mengamati Aisyah, ia melihat ada yang spesial dari Aisyah. Begitu melihat Aisyah hendak pergi begitu saja, Jackson Lim baru menghalanginya. "Berikan stempel itu, maka aku akan melepaskan kalian," ucapnya.
"Dalam mimpimu!" jawab Aisyah singkat.
"Kalian dapatkan stempel itu. Kalau perlu, potong tangan gadis itu. Cepat!" perintah Jackson Lim kepada orang-orangnya.
Dishi meminta Aisyah untuk pergi lebih dulu. Ia tidak ingin istrinya sampai celaka hanya karena menyelamatkan dirinya. "Ai, kamu keluarlah dulu. Aku akan menghalangi mereka. Lindungi stempel itu dengan baik," ucap Dishi mengkhawatirkan Aisyah.
Aisyah tidak menghiraukan ucapan suaminya. Ia malah meminta Dishi menjaga stempel tersebut seraya mengatakan, "Maaf, kali ini aku harus durhaka. Demi keselamatan kita, nggak lucu kalau kita tertangkap lagi!"
"Ai!"
Aisyah memberikan stempel tersebut dan langsung melawan beberapa orang dari Jackson Lim. Memang di awal, Aisyah menggunakan teknik bela dirinya. Namun, ia juga sembari memberikan jarum beracun itu kepada anak buahnya Jackson Lim.
Dengan begitu, Aisyah tidak menyakiti siapapun dan tidak mengotori tangannya dengan dosa membunuh seseorang. Jarum itu memang Aisyah siapkan sangat banyak. Taktik yang dipakai Aisyah begitu cantik hingga semua lawannya berhasil ia buat tidur sejenak.
"Haha, maaf, ya. Kalian harus tidur. Soalnya aku tidak mau melukai kalian," ucapnya dengan menusukkan jarum terakhir.
Namun, asisten Jackson Lim berbeda. Ia sangat waspada sampai Aisyah harus melukainya di bagian lengannya. Tak hanya itu, Aisyah juga terkena pukulan di bahunya, sehingga membuatnya mundur. Bahu itu adalah bagian yang sama ketika Aisyah mendapatkan tusukan dan arahan pistol kala menjadi tameng bagi kedua saudara kembarnya.
"Ah,"
"Haha, luka lama. Aku ingat sekali, tiga kali anak buahku melukai bahuku itu kan, Aisyah Putri?" desis Cindy.
"Aisyah Adelia Putri!" sahut Aisyah.
"Diam! Dasar gadis bodoh! Kamu pikir kamu siapa? Dasar tidak berguna!" Raung Cindy, ia maju menggantikan asisten Jackson Lim.
Dendam yang Cindy miliki kepada Aisyah akan ia lampiaskan malam itu juga. Di sisi lain, Cindy juga memiliki dendam kepada orang tua Aisyah dan ingin membuat Aisyah menderita.
Bela diri Cindy, rupanya masih di bawah Aisyah. Meski Aisyah hanya melawan dengan satu tangan, Cindy masih saja tetap gagal mengalahkannya.
Sampailah dimana Aisyah mengeluarkan belatinya ke arah leher Cindy, dan dengan sigap Jackson Lim mengeluarkan pistolnya dan mengarahkan ke kepala Aisyah. Pemandangan itu membuat Dishi khawatir dengan istrinya.
Aisyah memberikan kode kepada suaminya untuk tidak terpancing. Dishi merasa tidak berguna karena hanya bisa diam saja, akibat luka yang ia dapatkan dari penyiksaan Jackson Lim.
"Aisyah, menyerahkan! Malam ini, kau akan binasa!" Cindy begitu bahagia karena Jackson Lim menodongkan pistol ke kepala Aisyah.
Aisyah menyeringai. "Kamu pikir, dengan pistol itu aku akan mati begitu saja, Cindy? Dalam anganmu saja!"
Aisyah memiringkan kepala dan menendang tangan Jackson Lim. Peluru itu keluar, namun yang terjadi adalah ... peluru itu mengenai perut Cindy.
"Aisyah!"
Ketika Jackson Lim lengah, Aisyah menancapkan jarum racun tersebut ke leher Jackson Lim. "Maafkan aku, malam ini kau harus tidur sebentar," ucap Aisyah.
Kemudian, Aisyah juga memeriksa Cindy. Cindy masih bisa di selamatkan. Aisyah memberikan beberapa tindakan untuk membuat darahnya tidak keluar banyak. Aisyah menyayat sekitar peluru itu bersarang, dan mengeluarkan pelurunya.
"Aaaaaaaa...." teriakan Cindy malam itu, memang terdengar sangat menyedihkan.
Tanpa bius, Cindy harus merasakan sayatan dari Aisyah demi mengambil peluru tersebut. Meski di dalam medis tindakan Aisyah tidak diperbolehkan, tapi saat itu jika Cindy tidak di tolong, maka nyawanya akan melayang dan Aisyah akan hidup tidak tenang.
"Keparatt kamu Aisyah! Aku akan membalasmu suatu hari nanti!" Cindy masih saja mengancam Aisyah, dimana Aisyah sudah membantu menyelamatkan nyawanya.
"Aku akan menunggu itu," jawab Aisyah dengan santai.
"Aku akan pastikan ... Kau akan mati di tanganku! Aku membencimu, Aisyah!" raung Cindy.
"Oho, aku sangat ketakutan," goda Aisyah. "Hm, sudah selesai. Sekarang kamu istirahat dulu, ya. Tidurlah, hari sudah malam--" Aisyah menyempurnakan sentuhan terakhir.
Cindy tertidur dengan jarum racun yang Aisyah miliki. Segera Aisyah membawa Dishi ke luar dengan stempel tersebut. Dishi hanya bisa diam, ia tidak menyangka jika istrinya bisa senekat itu.
Melihat semua orang sudah tergeletak di luar, Dishi mengakui jika istrinya sangat menakjubkan. Namun, ia juga khawatir jika istrinya akan tetap menjadi target balas dendam Jackson Lim dan juga Cindy.
"Itu mobilku, ayo cepat sedikit," Aisyah napasnya tersengal-sengal karena memapah Dishi.
"Zhuang, Zhuang! Astaghfirullah, dia tidur? Benar-benar ini orang, Zhuang!"
BRUAK!
Aisyah menghantam kaca mobil tersebut hingga pecah dengan menggunakan tangan kosongnya. Zhuang terkejut dan langsung terbangun.
"Nona, anda sudah kembali? Maafkan saya yang ... Tuan Dishi? Anda baik-baik saja? Saya--" ucapan Zhuang terhenti kala melihat mata kedua atasannya mengeluarkan cahaya merah dipandangnya.
"Malam ini aku akan mengeksekusi dirimu
Cepat bantu aku!" tegas Aisyah.
"Baik, Nona!"
Di perjalanan pulang, Aisyah terus mencuci tangannya menggunakan alkohol. Tangannya terkena darah Cindy dan telah menyentuh banyak pria. Dengan alkohol, Aisyah akan mantap jika dirinya sudah bersih dari kejahatan.
Sementara Dishi, ia masih memperhatikan istrinya yang terlihat bersikap tenang setelah kejadian malam itu. Taktik yang dilakukan Aisyah, mampu membuat Dishi bingung. Jarum racun, memang belum pernah ia gunakan untuk melumpuhkan lawan. Selama bekerja dengan Chen, hanya ada sayatan, pukulan dan juga tembakan. Jadi, lawannya akan benar-benar mati dalam sekejap.
"Nona, maafkan aku. Aku benar-benar lelah. Anda masuk tanpa bersuara, tidak ada suara tembakan atau ledakan sedikitpun. Jadi saya mengantuk," ucap Zhuang.
PLAK!
Aisyah memukul kepala Zhuang. "Maafkan aku karena memukul kepalamu. Tapi kamu benar-benar membuatku kesal, Zhuang!"
Sekilas, Dishi melihat Zhuang dan istrinya dekat dan terlihat akrab. Hal itu membuat Dishi cemburu dan ikutan memukul kepala Zhuang menggunakan stempel keluarga Ling tersebut.
"Aduh, Tuan! Kenapa anda ikutan memukulku? Bahkan anda memukulku dengan benda tumpul? Itu sakit sekali, Tuan," protes Zhuang.
"Aku membencimu!" sulut Dishi memalingkan muka dari Aisyah.