Triplets' Last Mission.

Triplets' Last Mission.
Setelah Tangan Ternodai



"Aisyah istighfar. Allah tidak suka dengan sifat yang berlebihan seperti ini," Yusuf mencoba menenangkan meski itu juga sulit baginya. 


"Berlebihan? Ayah bilang ini berlebihan? Ayah, suamiku belum kabar ada kabar. Ayah dan Nyonya Wang sudah teridentifikasi, bagaimana aku bisa tenang!" tepis Aisyah. "Aku akan turun dan kembali ke gedung itu untuk mencari suamiku," 


Tak kuat melihat putrinya begitu depresi, Yusuf meminta Feng untuk menyuntikkan obat penenang kepada Aisyah. 


"Tuan Jin, tolong pegang tangan Aisyah," perintah Yusuf. 


"Tapi, Tuan. Saya tidak bisa menyentuhnya," tolak Tuan Jin. 


"Saya Ayahnya dan saya ridho. Demi kebaikannya, tolong pegangi dia. Feng, cepat lakukan!" Yusuf benar-benar sudah tidak tahu lagi harus bagaimana. 


"Tidak, tidak!" teriak Aisyah. "Tuan Jin, jangan lakukan ini! Ko Feng! Aku mohon jangan lakukan ini!" Aisyah terus meronta. 


Sekuat apapun tenaga Aisyah, tetap saja namanya tenaga wanita akan kalah dengan tenaga pria. Satu suntikan mampu membuat Aisyah tenang. Yusuf menyesal melakukan itu. Tapi, hal itu adalah hal paling tepat baginya. 


Aisyah pun memejamkan matanya kembali. Sebelum dibawa pulang keempat jenazah itu ke Jogja, Yusuf dan Feng harus mengurus yang lainnya. Sementara Tuan Jin, masih setia menemani Aisyah di ruang inapnya. 


"Ai, pasti Tuan Dishi akan segera di temukan. Aku yakin, pasti dia selamat. Buktinya, dari semua tulang yang sudah teridentifikasi, tidak ada tulang milik Tuan Dishi," Tuan Jin mencoba menghibur Aisyah. 


"Aku juga yakin jika suamiku masih hidup. Semua relawan sudah menelusuri gedung tersebut dan sama sekali tidak menemukan jenazah lain," ujar Aisyah dengan pasti. 


"Um, aku tidak tahu pasti ibadah apa yang tepat saat ini. Tapi, pasti ada cara untuk berdoa dan meminta kepada Tuhan, agar Tuan Dishi mendapat perlindungan," tutur Tuan Jin. 


Semalaman, Tuan Jin menemani Aisyah tanpa meninggalkannya sendirian. Dia juga masih berharap jika ada keajaiban tentang Dishi. Sebab, tidak ada tulang, maupun jenazah yang lain yang teridentifikasi sebagai dirinya. Tuan Jin yakin, jika Dishi selamat dari ledakan gedung itu. 


Pagi telah tiba, selesai mengurus jenazah dikirim ke Jogja, Yusuf dan Feng menemui Aisyah. Sementara Mas Ijal, sudah ikut pulang bersama dengan jenazah istrinya. Mas Ijal juga sudah ikhlas dengan kepergian istrinya. Namun, itu akan menjadi trauma tersendiri baginya ketika datang ke Tiongkok lagi nantinya. 


"Assalamu'alaikum, Ai. Nak, bagaimana keadaanmu?" tanya Yusuf khawatir tentang putrinya.


"Tuan, sarapan dulu. Aku sudah membelikan makanan untukmu," Feng memberikan sarapan untuk Tuan Jin yang sudah menemani Aisyah semalaman. 


Tatapan Aisyah masih kosong. Dia terus menatap kearah depan, tapi tidak merespon setiap pertanyaan Yusuf. Begitu juga dengan Tuan Jin semalam. Aisyah sudah tidak bisa diajak bicara selama itu.


"Feng, kamu juga dokter. Coba kamu periksa, apakah putriku baik-baik saja?" harta berharga Yusuf hanya tinggal kedua putrinya. Dia tidak ingin ada yang terjadi dengan kedua putrinya di kemudian hari. 


"Paman, Aisyah baik-baik saja. Dia hanya syok dengan kenyataan semua ini. Ibu, kakaknya, sahabatnya dan juga iparnya meninggal. Lalu, suaminya belum ada kabar sampai saat ini. Itu sangat sangat memukul hati dan pikirannya," ucap Feng. 


Masih diam, Aisyah hanya mau bicara dengan Tuan Jin saja. Sebagaimana, suaminya memang mengatakan jika Tuan Jin yang akan membantunya untuk menyelesaikan misi dari Dishi supaya bisa memusnahkan apa itu gengster yang selama ini membelenggunya. 


"Dia hanya mau bicara dengan orang lain dibandingkan dengan Ayahnya sendiri," ucap Yusuf sedih.


"Paman, itu justru lebih baik. Paman bisa fokus untuk Paman sendiri. Aisyah tahu, jika dia bercerita dan meluapkan beban pikirannya kepada Paman, pasti Paman akan semakin sedih. Paman baru saja kehilangan istri, anak dan menantu, Feng yakin, Aisyah paham itu," tutur Feng.


Feng berusaha membuat keluarga yang lain mengerti atas apa yang menimpa keluarga Yusuf. Dia juga memberikan kabar keluarga lain yang berada di Korea dan Jepang. Mereka semua akan menyempatkan untuk pulang saat itu juga. 


Kematian memang selalu menemani di setiap langkah kita. Manusia yang hidup, pasti akan mengalami dan bertemu dengan sebuah kematian. Dunia bukan tempat singgah, dunia juga bukan tempat untuk mengadu nasib saja. Tapi dunia, adalah tempat dimana kita harus berjuang supaya menjadi lebih baik lagi. Sebab, akhirat adalah tempat kekal bagi semua makhluk hidup. 


Waktu menunjukkan pukul 9 pagi. Kamar inap Aisyah didatangi oleh dua orang polisi yang ingin memintanya menjelaskan kejadian tentang kematian Jackson Lim dan juga Cindy yang meninggal di pinggir jalan. 


"Nona, apakah anda masih tidak sehat?" tanya polisi tersebut. 


Aisyah tidak mengerti apa yang diucapkan oleh kedua polisi itu karena menggunakan bahasa Mandarin. Aisyah menatap Tuan Jin, lalu menggelengkan kepalanya, tanda jika dia benar-benar tidak paham. 


"Maaf, Nona saya tidak bisa bicara menggunakan bahasa Mandarin. Apakah kalian bisa berbahasa Inggris?" sahut Tuan Jin.


"Maaf mengganggu semuanya. Perkenalan, nama saya Feng Haochun, saya pimpinan dari rumah sakit ini. Saya dan Tuan Jin, akan mendampingi Aisyah ke kantor polisi hari ini juga. Sebagai translator bagi kalian," ucap Feng menyela.


"Dokter ini ada hubungan apa dengan Nona ini?" tanya salah satu dari polisi tersebut.


"Saya kakaknya. Cucu pertama, putra pertama, dan pemegang saham paling besar di Kota ini setelah meninggalnya Chen Yuan Wang. Kakek saya, Tuan besar Hao," jelas Feng. 


"Oh, maafkan kami. Jika kasusnya sudah mengarah kepada Tuan Besar Hao, Tuan besar Wang, maka kami tidak akan melanjutkan kasus ini," bahkan polisi saja enggan berurusan dengan orang seperti mereka. 


"Satu lagi, Nona ini adalah. Putri dari cucu Tuan besar Lim. Pernah dengar Nona Muda Lim, Rebecca? Dia adalah ibu dari Nona ini," tunjuk Feng kepada Aisyah. 


Kedua polisi itu gugup. Mereka tidak jadi melanjutkan kasus kematian Jackson Lim dan juga Cindy. Identitas dari Aisyah sudah sangat jelas jika dia membunuh kedua orang jahat itu. 


Keluarga Lim adalah keluarga yang paling kuat diantara semuanya. Hanya saja, keluarga Lim ini selalu bersembunyi dan tidak menunjukkan identitas aslinya. Aisyah meminta semuanya keluar saat itu. Dia ingin shalat taubat karena sudah mengotori tangannya dengan meracuni dua orang yang sebelumnya tidak pernah ia kenali. 


Dalam sujudnya, Aisyah meminta segala kesalahannya di maafkan. Bahkan, jika tadi dirinya mau dipenjara, Aisyah pun siap melakukan itu. Merasa sudah sangat berdosa karena membunuh seseorang. 


Aisyah benar-benar terkena mentalnya. Suaminya belum ada kabar, dirinya membunuh orang dan menerima kenyataan pahit lainnya. Bagai sudah jatuh masih tertimpa tangga. Aisyah berharap, jika hatinya diberi ketabahan yang besar.