
Mereka saling memandang. Feng meminta Leo dan Aisyah untuk tetap tenang dan mencari tempat untuk sembunyi. "Apa ini? Kita belum lama turun, apa mereka sudah menyadari bahwa kita kabur?" tanya Leo khawatir akan tertangkap lagi.
"Tenanglah, kita mencari tempat bersembunyi yang aman dari mereka," ujar Aisyah.
"Langit belum gelap Aisyah, dimana kita akan bersembunyi? Tidak ada gua di sini …," kepanikan Leo membuat Feng dan Aisyah susah bergerak.
"Kurang ajar kalian!" suara teriakan Raza semakin dekat.
Aisyah menghentikan langkahnya. "Ai, apa yang kamu lakukan? Kita harus segera sembunyi darinya--" ujar Feng.
"Apa yang dikatakan dokter ini benar. Ayo, kita segera sembunyi Aisyah. Aku sungguh takut mati, aku masih ingin hidup. Bahkan, novel yang baru aku beli, belum sempat aku baca … itu hanya akan menghamburkan uangku dengan sia-sia saja," timpal Leo, malah mengingat beberapa novel CEO yang baru ia beli minggu lalu.
Plak!
Gamparan keras mendarat di kepala Leo dari Feng. "Sudah segenting ini dan kau masih memikirkan novelmu? Mau sampai akhirat sekarang atau bagaimana, nih?" gertak Feng.
"Ya! Kenapa kamu menggertakku? Aku tidak ingin terlibat dengan dunia jahat seperti ini lagi. Aku takut terluka, aku takut sakit, dan bahkan aku phobia akan darah. Dimana salahku jika aku ingin terus menghalu, hah!" teriak Leo tidak terima.
"Ak--" ucapannya terhenti, Leo pingsan di totok oleh Aisyah.
Feng mengaga lebar. Ia hanya bingung bagaimana cara membawanya jika Leo pingsan. "Kau, membuatnya k.o?" tanya Feng heran.
"Dia terlalu berisik! Sudahlah, Koko yang bawa dia. Begini malah jauh lebih baik," bisik Aisyah.
"Tidak!" tolak Feng.
"Koko! Bawa dia!"
"Tidak!"
"Koko …,"
"Tidak, tidak dan tidak! Kau pikir aku sekuat baja? Postur tubuhnya lebih besar dariku. Heran juga aku dengannya, gagah begitu pecinta novel romance?" cela Feng.
Tuk!
Aisyah menyentil kening Feng. "Jangan suka mencela orang! Bawa dia, atau kau aku tinggalkan di sini!" tegas gadis berusia 23 tahun itu.
Tak ada yang berani menyangkal Aisyah kecuali Rafa. Semua sepupunya akan patuh dengan apa yang Aisyah katakan dan perintahnya. Mereka mempercepat langkahnya untuk turun gunung. Di pegunungan Cina, banyak sekali gunung tinggi yang akan membutuhkan waktu lama untuk menurunnya. Tak ada bekal makanan dan minuman yang ketiganya bawa, sampai harus membuat mereka istirahat sebelum mata hari mulai ke tengah.
"Terik mata hari membuatku sangat pusing. Sebaiknya kita istirahat dulu saja di sini. Aku lihat, Koko juga sudah sangat lelah menggendong Kak Leo," ujat Aisyah menoleh ke arah Feng yang terlihat sangat kelelahan akibat mengangkat tubuh besar Leo.
"Koko capek, ya?" tanya Aisyah dengan suara lembutnya.
"Diamlah! Masih saja bertanya!" kesao Feng.
Lelah, haus dan di bumbui kesal membuat Feng menurunkan Leo dengan sedikit kasar. Leo sampai terhentak di akar pohon, membuatnya bangun dan bingung.
"Apakah kita sudah sampai rumah?" tanyanya dengan menggaruk-garuk rambutnya.
"Iya, kita sudah sampai di rumah. Bangun dan mandilah, setelah ini kau pasti akan segar dan sadar … bahwa kita masih ada di gunung!" bentak Feng yang sebelumnya bicara dengan lembut.
"Astaga … jangan berteriak ditelingaku, bodoh!" sulut Leo.
"Apa? Kau memanggilku dengan sebutan apa? Bodoh? Kau memanggilku bodoh? Apa kau sudah bosan hidup, Leo?"
Perdebatan keduanya membuat Aisyah murka. Ia menyumpal kedua pria berkedok dewasa itu menggunakan sobekan cardingan yang ia kenakan.
"Sangat merepotkan! Aku muak dengan kalian berdua!" kritik Aisyah masih bingung memikirkan cara bisa lolos dari Raza.
Mereka bertiga kelelahan dan mengalami dehidrasi. Suara Aisyah mulai serak dan suhu tubuhnya mulai turun akibat dinginnya cuaca di pegunungan.
"Ai, kita tidak bisa seperti ini. Kita harus segera turun, atau kita akan mati kepalaran dan kehausan di sini," kata Feng, ia juga sudah mulai lelah terus berada di pegunungan.
Tiba-tiba saja Aisyah memeprtanyakan hal yang membuatmu Feng merasa cemas. "Koko, apa kita akan selamat?"
"Kenapa kamu memeprtanyakan itu? Tentu saja kita akan selamat. Berhenti berpikir yang tidak-tkdak!" seru Feng juga mengkhawatirkan hal yang sama.
"Ayah dan Ibuku menghilang. Adikku juga di culik oleh adik angkat Ibuku. Lalu, anakku …," ucapan Aisyah terhenti. Air matanya mengalir dari kata sendunya.
"Aku yakin, Chen dan Gwen akan menangani Ilkay dan juga adikmu. Tenang saja, mereka pasti tidak tinggal diam, Ai," ucap Feng menepuk bahu Aisyah.
"Orang tuaku tau, jika kami sebagai kakak akan menjaga Rifky dengan baik. Tapi, mengapa mereka harus menghilang? Apa sebabnya?" lanjut Aisyah.
Leo mengerti apa yang dibicarakan oleh Feng dan juga Aisyah. Tapi, ia juga sangat sedih tak bisa membantu apapun, karena pada dasarnya Leo tidak pernah ikut campur dalam urusan keluarga Aisyah. Meski dirinya adalah teman Ayden dan juga anak dari sahabat lama nenek Aisyah.
Di saat ketiganya istirahat, Raza dan orangnya mampu menemukan mereka. "Oh, rupanya kalian ada di sini?" ucapnya dengan suara yang keras.
"Heh, ketahuan … Sudah, pasrah sajalah," hembusan keputusasaan terdengar jelas dari bibir Leo.
Beberapa orangnya menangkap Feng dan Leo. Mereka tidak bisa membela diri, karena orang yang bawa Raza bukanlah tandingan mereka.
"Kak Raza, apa yang kamu lakukan ini salah! Tolong lepaskan kokoku dan juga Kak Leo. Mereka butuh rumah sakit, Kak!" pinta Aisyah menyatukan tangannya.
"Kau memohon untuk dua pria bodoh ini? Apa kau sangat mempedulikan mereka daripada aku, Aisyah?"
"Hih, emang kau siapa? Aku kakaknya, dia anak dari sahabat neneknya. Kau siapa?" sahut Feng menyombongkan diri.
"Hmph, darimana dia belajar julid seperti itu? Aku rasa, selama diperbatasan, dia berkumpul dengan emak-emak penggosip!" gumam Aisyah dalam hati.
Tak peduli dengan apa yang Feng katakan, Raza tetap memaksa Aisyah untuk pergi bersama dan menikah dengannya.
"Kak Raza, aku ini beragama. Dalam agama kita, menikah juga membutuhkan saksi. Ayahku masih hilang, kakak kandungku juga tidak ada di sini. Bagaimana akan bisa sah?" Aisyah masih saja lembut menanggapi Raza.
"Aisyah, apa maumu! Kenapa sulit sekali mengajakmu menikah? Aku mencintaimu, aku punya segalanya, apa itu tidak cukup bagimu?" sentak Raza.
"Tapi aku tidak mencintaimu, Kak. Ada hati yang sudah harus aku jaga," ungkap Aisyah.
"Huh, sakitnya__" sahut Feng dan Leo secara bersamaan.
"Apa itu, Asisten rendahan itu?" sebut Raza.
Aisyah menghela napas, kemudian menjelaskan dengan tegas. "Biar aku perjelas, Kak Raza. Biarpun dia adalah Asisten rendahan, tapi dia adalah calon suamiku,"
Kenyataan itu menguat Raza marah. Ia memerintah orangnya untuk memukuli Feng dan juga Leo di depan mata Aisyah. Feng yang saat itu masih terluka, tak mampu untuk membela diri. Belum lagi, memang lawannya melebihi jumlah mereka bertiga.
"Hentikan! Jangan sakiti kakakku!" teriak Aisyah.