Triplets' Last Mission.

Triplets' Last Mission.
Rencana Jahat Terjadi



Di kediaman Wang, hanya tersisa satu pelayan yang menjaga Jovan. Jovan masih tidak bisa bangun, jadi dia tidak bisa menghadiri resepsi sepupunya.


Malam itu, Lin Jiang datang ke kediaman Wang dengan suatu urusan yang diperintahkan oleh Jackson Lim. Dimana dirinya harus membunuh Jovan menggunakan tangannya sendiri.


"Ingat, kamu harus berhasil membunuhnya, atau kau akan hidup seperti neraka bersamaku, mengerti!" hardik suaminya.


Lin Jiang mengangguk. Kemudian menyelinap masuk ke kediaman Wang. Memang hanya ada satu pelayan di sana. Dengan satu sayatan, Lin Jiang mampu melenyapkan pelayan tersebut.


Lanjut, Lin Jiang mencari dimana Jovan berada. Hanya membutuhkan insting, Lin Jiang mampu menemukan keberadaan Jovan. Dia masuk ke kamar tersebut dan melihat Jovan sedang istirahat di atas ranjang.


"Ternyata kau di sini, Jovan. Aku benar-benar tidak beruntung mencintai pria sepertimu," gumamnya dalam hati.


Perlahan, langkah kaki Lin Jiang mendekati ranjang Jovan. Ketika hendak menyuntikkan sesuatu di tubuh Jovan, Jovan malah terbangun. Dia membuka matanya dan melihat Lin Jiang ada di depannya.


"Kau …?"


"Untuk apa kau datang kemari?" tanya Jovan dengan suara yang lemah.


"Untuk membunuhmu," jawab Lin Jiang dengan lantang. "Kau tau, malam ini semua orang yang ada di gedung resepsi akan mati, terutama adikku sendiri," ungkapnya.


"Malam ini, aku di utus untuk membunuhmu. Setelah itu, aku juga akan mengakhiri hidupku sendiri. Kau tau, mencintaimu adalah bentuk dari kesialanku. Jika saja aku tidak mencintaimu, membunuhmu adalah hal yang sangat mudah bagiku, tanpa merasakan sakit yang mendalam di hatiku," lanjut Lin Jiang.


Lin Jiang kembali mengangkat jarum suntik yang sudah di isi oleh cairan racun mematikan untuk Jovan. "Apa kau benar-benar harus membunuhku? Lin Jiang, pikirkan sekali lagi!" ingin menggertak saja, Jovan tidak berdaya. Apalagi bangun dan menahan tangan Lin Jiang.


"Jika ada kehidupan selanjutnya. Aku tidak akan mencintai seseorang lagi sepertimu. Jovan, aku sangat mencintaimu, tidurlah dengan tenang, sebentar lagi aku akan menyusulmu," bisik Lin Jiang menyuntikan cairan racun itu ke tangan Jovan.


"Jangan Lin Jiang, jangan, hentikan! Aaaa … kau, kau benar-benar sudah gila? Kau, mem, membunuh-ku, Lin Ji-Jiang__"


Tubuh Jovan menjadi lemah kembali. Pandangan matanya tidak fokus dan keluar keringat yang membasahi keningnya. Melihat Jovan kesakitan tanpa bisa bicara, membuat Lin Jiang terluka. Diapun menusuk dadanya sendiri menggunakan belatinya tepat di jantungnya.


Clek!


"Aku mencintaimu, Jo-Jovan …,"


Tak lama kemudian, keluarlah darah dari mulut Jovan dan akhirnya Jovan meninggal dengan ditemani Lin Jiang di sisinya. Beberapa menit kemudian, Lin Jiang juga meninggal akibat kehabisan darah dan racun yang ada pada belatinya sendiri.


*******


***


Acara demi acara di resepsi pernikahan Chen dan Lin Aurora berjalan dengan lancar. Banyak sekali tamu undangan di kalangan Mafia dan juga pembisnis hebat di sana. Jackson Lim dan juga Cindy, mulai mengerahkan orang-orangnya untuk membagikan makanan yang sudah di campur dengan racun.


Mereka berdua telah menyabotase semua pelayan di gedung yang sudah Chen dan Lin Aurora sewa. Dengan senyum liciknya, keduanya yakin sekali bahwa rencananya akan berhasil menghabisi semua orang yang ada di sana. Termasuk Rebecca dan Aisyah.


Kecuali Rebecca, Yusuf, Aisyah, Dishi, Mas Ijal dan juga Puspa, semua menyantap makanan tersebut. Mas Ijal dan Yusuf benar-benar tidak tahu apa yang terjadi. Namun, sebelumnya memang sudah diperingati oleh pasangan mereka jika mereka tidak boleh makan dan minum apapun di acara itu.


Hingga tiba, dimana suami dari Lin Jiang memberikan minuman kepada Chen dengan dalih bersulang untuk merayakan pernikahan mereka.


"Adik ipar, mari bersulang. Kemarin, kita belum sempat bertemu di pernikahanku. Minuman ini, bukan alkohol. Istriku mengatakan, jika kau tidak minum alkohol, jadi ini hanya teh biasa saja," ucapnya dengan menyodorkan cangkir kecil tersebut.


Puspa sadar jika itu adalah bagian dari puncaknya. Chen akan diberi racun dan pihak jahat akan bergerak membunuh seluruh tamu undangan dan juga keluarga Wang. Racun dari makanan itu belum langsung bereaksi, dengan modal nekat, Puspa meraih makanan yang di bawa oleh pelayan lewat di sisinya.


"Aku akan baik-baik saja. Setelah ini, kita akan pulang, bukan? Tapi malam ini, aku harus melakukan ini," ucap Puspa.


Dia pun meminta Mas Ijal untuk tidak jauh-jauh dari Aisyah. Kemudian, dia lari ke arah Chen dan merebut cangkir itu dari tangannya.


"Uh, sorry Chen. Aku sangat haus sekali, minuman yang lain beralkohol jadi aku ambil ini, ya!" seru Puspa merebut cangkir tersebut dan menenggak teh beracun tersebut.


Glek!


"Ahh, segar sekali. Terima kasih, kakak iparnya, Chen," dengan senyum konyolnya, Puspa masih sempat menebar senyum kepada suami Lin Jiang tersebut.


Chen kesal, dia memutar tubuh Puspa dengan kasar. "Puspa! Kamu …," ucapannya terhenti kala melihat bibir Puspa yang mulai membiru.


"Puspa!"


Chen langsung menatap Dishi. Dari jauh, Dishi menganggukkan kepala, mengiyakan jika Puspa saat ini terkena racun. Tanpa meminta izin kepada Lin Aurora, Chen langsung menggendong Puspa hendak membawanya pergi.


"Bahkan, meski mereka sudah tidak memiliki perasaan cinta, tapi mereka masih saling peduli. Apakah aku salah hadir diantara mereka?" kata Lin Jiang dalam hati.


Baru saja Chen melangkah, satu peluru mengarah kepadanya. Dengan sigap, Lin Aurora menghadang peluru tersebut.


DOR!


Peluru itu mengenai tepat di bagian depan tubuh Lin Aurora. Antara di jantung atau di paru-parunya. Chen langsung memutar pandangannya, tubuh istrinya langsung di tangkap. Kini, ditangan kanannya ada tubuh cinta pertamanya, lalu di tangan kirinya ada sang istri. Keduanya sama-sama mengorbankan nyawanya untuknya.


Nata Chen memerah, air matanya mulai mengalir. Di cintai oleh dua wanita dan sama-sama rela mati untuknya, membuatnya bergitu murka.


"Aku mencintaimu, Chen," ucap Lin Aurora lirih, kemudian dia pun menghembuskan napas terakhirnya setelah mengucapkan cintanya dan membelai pipi suaminya.


"Chen, maafkan aku. Hiduplah dengan baik, berubah lah menjadi pria yang baik seperti Ayahmu. Sekali lagi, maafkan aku__" bahkan Puspa juga menghembuskan napas terakhirnya.


"Tidak, tidak, tidak, Pupsa. Dishi, Puspa … dia, Mas Ijal!" Aisyah sampai tak tahu harus bicara apa saat itu.


"Dishi," panggil Rebecca dengan menganggukkan kepala. Kode jika mereka sudah harus maju.


"Ibu, Dishi, jangan!" Aisyah menggenggam tangan Ibu dan suaminya dengan erat.


"Mas, bawa Aisyah dan Nak Ijal pergi sejauh mungkin dari sini. Aisyah, pergilah! Jaga ayahmu dan juga suami dari sahabatmu dari orang jahat," ucap Rebecca.


"Aisyah, pergilah!" sentak Dishi.


"Enggak! Aku nggak mau pergi tanpa kalian," tolak Aisyah enggan melepas genggaman tangan suaminya.


"Aisyah, mengertilah!" sentak Rebecca.


"Mas, bawa pergi mereka sekarang!" Rebecca mendorong tubuh Aisyah sampai ingin terjatuh.


Begitu juga denhan Dishi melepaskan genggaman tangannya begitu saja. Dia sempat menoleh untuk tersenyum padanya. Yusuf segera mengajak putrinya dan juga Mas Ijal untuk segera pergi dari gedung itu.