
Chen baru saja kembali dari Eropa. Banyak pekerjaan yang dilakukan olehnya saat acara perjodohan dengan keluarga besar itu gagal. Semua kontrak terancam terputus jika Chen tidak mau menikah dengan gadis yang sudah ditentukan oleh dua keluarga besar tersebut.
Demi cintanya Chen kepada Puspa, ia membuktikan bahwa dirinya mampu memperjuangkan seorang Puspa dalam hidupnya, meski Chen harus kehilangan semua hartanya yang telah keluarga Wang berikan.
"Chen, makanlah. Kau sudah tiga kali masuk rumah sakit selama dua minggu. Aku tidak tega jika terus melihat tubuhmu semakin kurus seperti ini, Chen!"
Jovan satu-satunya sepupu yang sangat mempedulikan Chen di situasi apapun. Ia membawakan makanan untuk Chen sampai ke kantornya.
"Aku baik-baik saja. Kau jangan risau. Taruh saja di sampingku. Nanti aku akan memakannya," sahut Chen masih sibuk di depan laptopnya.
Bluk!
Dengan kasar, Jovan menutup laptopnya. Jovan paling tidak suka melihat ambisi Chen yang menggebu-gebu.
"Makan, atau aku akan membunuhmu!" dengus Jovan.
"Baiklah, aku akan makan. Puas?" sulut Chen.
Jovan duduk di depan Chen dengan terus mengamati sepupunya yang bandel itu. Jovan hanya tidak ingin Chen sakit dan kalah dalam pertempuran bisnisnya. Meski Chen bukanlah pewaris yang memiliki darah dari keluarga Wang, tapi Jovan tidak pernah isi hati kepadanya.
Bagi Jovan, saudara tetaplah saudara dan tidak mungkin akan gaduh hanya karena sebuah harta warisan.
"Chen, kenapa kau masih keras kepala? Menerima perjodohan itu, bukan juga membuatmu mati, 'kan?" tanya Jovan.
"Aku mencintai Puspa. Jika kau mencintai Nona kaya itu, maka ambilah! Untuk apa kau berdebat denganku?" jawab Chen dengan nada kesal.
"Astaga, aku tidak ingin berebut apapun denganmu. Aku hanya heran saja padamu. Kau dijodohkan dengan Nona hebat, kenapa malah memilih gadis biasa seperti wanitamu itu?"
"Sudahlah, kamu makan dulu. Jika sudah selesai, baru kita bicarakan," lanjut Jovan mengalah.
Chen sudah berjanji akan serius dalam menjalin hubungan dengan Puspa. Meski Tuan Wang sudah memberinya izin menikah, tapi Tuan Wang tidak mengizinkan Chen menikah di usia yang masih terbilang sangat muda itu.
"Ayahmu ingin kamu menikah di usia 27 tahun, bukan? Apa wanitamu siap menunggu selama itu, Chen? Sebab, yang aku tahu … gadis di negara itu selalu menikah di usia tidak lebih dari umur 25 tahun," papar Jovan.
"Aku tetap akan menikahinya sesuai yang di ajukan oleh orang tuanya. Tapi, aku belum akan mempublikasikan di dunia hitam kita jika aku sudah menikah, atau Puspa akan dalam bahaya," ungkap Chen sibuk dengan makanannya.
"Itu yang aku khawatirkan. Kau saja menyembunyikan identitas putramu, agar dia selamat dari musuh kita. Aku hanya khawatir jika wanitamu itu sudah menjadi istrimu, dan kau mempublikasikan, dia akan dalam masalah terus, kasihan dia."
Perbincangan mereka tentang masalah pribadi cukup sampai di sana saja. Selebihnya, mereka membicarakan pekerjaan yang sulit mereka tangani itu. "Aku tidak mengerti dengan Asisten pribadimu itu, Chen," kata Jovan dengan menunjukkan kinerja Asisten Dishi yang sudah hampir selesai.
"Ada apa dengannya?" tanya Chen.
"Perusahaanmu yang ada di sana telah teratasi dengan baik oleh Asistenmu itu. KIni, perusahaan itu sudah berjalan dengan stabil. Lalu, dia juga berhasil menemukan jejak Jackson Lim juga, hebat sekali dia. Dalam waktu lima bulan? Itu sungguh luar biasa, Chen," Jovan terus memuji ketangguhan dan kecekatan Asisten Dishi dalam bekerja.
Chen sendiri merasa bangga dengan adanya Asisten Dishi yang selalu membantunya membereskan masalah, dari masalah kecil hingga masalah besar selalu di tukas habis olehnya.
"Wah, insting dirimu oke juga rupanya. Lalu, apa kau mengizinkan adikmu menikah dengan dia? Seorang bawahan?" tanya Jovan.
"Keluarga kandungku tidak pernah memandang orang lain melalui kasta, Jovan. Kebahagiaan keluarga itu yang lebih utama. Jika adikku mencintainya, tak ada gunanya aku melarang hubungan mereka. Yang menjalani mereka, bukan aku," jelas Chen mengamati foto Aisyah yang saat itu Asisten Dishi ambil saat membalut lukanya di Thailand. Dimana Chen hampir saja jatuh cinta kepada adiknya sendiri karena hasutan Feng.
Ketika mereka asik mengobrol, datang lah Feng dengan membawakan tiga tiket ke Korea. "Lihatlah, apa yang aku bawa, Tuan muda Wang. Dengan sangat baik hati, aku membawakan tiket ke Korea untuk kita pergi ke sana menemui Ai," ucapnya tiba-tiba.
"Hey, sejak kapan kau akrab dengannya?" tanya Jovan kepada Chen.
"Apa pedulimu? Kami memiliki nenek buyut yang sama. Hish, kenapa juga aku satu keluarga dengamu, Tuan muda Wang," sulut Feng memberikan tiket tersebut.
Feng memberikan tiket itu kepada Chen dan Jovan. Sisanya untuk dirinya sendiri. "Semua sudah aku siapkan. Ai bilang, tidak ada yang boleh membawa status Mafia kalian ke sana, jadi harus menggunakan penerbangan umum," tutur Feng.
"Kenapa begitu? Kau ingin aku memliki hutang budi padamu, dengan membelikan tiket umum begini?" sulu Chen.
"Ya begitulah. Mulia sekali bukan? Berterima kasihlah kepadaku, maka kau sudah membuatku senang," jawab Feng dengan angkuh.
"Seharusnya kau membelikan tiket bisnis kepada kita, Tuan muda Hao," timpal Jovan juga tidak terima dirinya menerima tiket kelas ekonomi.
Ketiganya selalu berargumen dengan keangkuhan dan kekuasaan keluarganya masing-masing. Meski begitu, mereka saling melengkapi satu sama lain dengan keangkuhan mereka. Setelah mendengar cacian dan hinaan dari Feng, pada akhirnya Chen dan Jovan mengalah. Tapi, mereka memiliki rencana bagus untuk membalas Feng saat di Korea nanti.
Sementara itu, Agam juga telah menyiapkan semuanya sejak bulan lalu. Seperti yang diberitahukan oleh Ayden yang ada jauh di sana, Agam juga menyiapkan tiket untuk keduanya datang ke Korea. Namun, sebelum kejutan itu diberikan kepada sang istri, Agam ingin sedikit menggodanya.
"Sayang, tiga hari lagi kamu bertambah usia. Mas tidak memiliki cukup banyak uang untuk mengajakmu berlibur ke luar negri. Bagaimana kalau kita syukuran saja di sini bareng santri dan anak yatim, di malam sebelum kamu bertambah usia?" berkat Ayden, Agam mampu berakting sedih.
"Sayang? Mas Agam panggil aku apa, Sayang?" Gwen malah terpesona oleh panggilan baru dari suaminya.
Agam mengangguk. "Ih senengnya di panggil Sayang … pengen terbang jadinya," Gwen memeluk Agam dengan erat.
"Lalu, bagaimana dengan usul Mas tadi, Dek?" tanya Agam kembali.
Beberapa minggu lalu, Gwen pernah ingin mengeluarkan uang untuk membantu Agam memperbaiki atap pesantren yang bocor menggunakan uangnya sendiri. Tapi, Agam menolak dengan dalih uang Gwen ya hanya milik Gwen. Soal pesantren, sudah ada uang kas sendiri.
Bukan Gwen jika tidak keras kepala. Ia malah mengubah atap pesantren yang sebelumnya menggunakan bambu dan genteng, menggunakan baja ringan semuanya. Membuat Agam marah kepadanya sampai mendiamkannnya seharian.
Teringat hal itu, Gwen yang sebelumnya hendak mengajak Agam berlibur menggunakan uangnya sendiri, ia urungkan demi menghormati suaminya.
"Em, baiklah. Mas ingat hari ulang tahunku saja … aku sudah sangat bahagia. Kita sekalian memberikan santunan juga kepada anak yatim dan lansia, bagaimana?" dengan senyuman, Gwen berusaha ikhlas menunda bertemu dengan saudari perempuannya yang ada di Negri Gingseng.
"MasyaAlla, istri siapa ini?" goda Agam.
"Hehe, istrinya Mas Agam, dong~"
Canda tawa sellau menyelimuti hubungan mereka. Hidup seperti itu lah yang Gwen inginkan. Dikasihi dan di sayangi dengan nyata meski tidak bergelimang harta. (Heh, hartamu aja tak terhingga Gwen)