Triplets' Last Mission.

Triplets' Last Mission.
Entahlah



Tubuh Gwen merasa lebih sehat dari sebelumnya. Setelah mendengar kisah lalu dari suaminya, Gwen menjadi selalu diam. Dia juga menanyakan hal yang sama dengan Ustadz Khalid dan Ustadz Khalid pun menceritakan kebenaran tersebut. Sama persis yang diceritakan oleh Agam.


"Apakah jika aku tidak pulang, Kak Aisyah dan Mas Agam akan menikah?" gumam Gwen dalam hati. 


"Tapi ini yang namanya takdir mungkin, ya? Cinta Kak Aisyah pun juga hanya untuk Asisten Dishi sekarang," 


"Hash, aku jadi tidak enak hati dengan Kak Aisyah. Dulu aku begitu cemburu pada setiap apa yang didapatkan olehnya. Padahal, itu emang hadiah yang seharusnya dia dapatkan karena telah menjaga Ayah dengan baik,"


Semakin hari, Gwen semakin dewasa meski kelakuannya masih suka random. Istirahat di rumah sakit membuatnya merasa bosan. Gwen pun meminta suaminya untuk mengatakan kepada dokter jika dirinya ingin pulang hari itu juga. 


"Jangan nakal deh! Dokter tadi bilang, kalau kamu harus menginap di sini semalam," kata Agam dengan membelai wajah istrinya. 


"Kasurnya tidak se-empuk di rumah. Air putih saja tawar, aku tidak mau ah!" seru Gwen. 


"Sejak zaman Nabi Adam pun air putih ya tawar, sayangku--" sahut Agam. 


"Hish, ada loh yang warna putih, tapi manis segar gitu," celetuk Gwen. 


"Memangnya ada?" tanya Agam. Dan Gwen pun mengangguk semangat. "Apa itu?" tanya Agam kembali. 


"Jus sirsak, jus manggis, air kelapa--"  jawab Gwen dengan senyum liciknya. "Nggak salah, 'kan?" lanjutnya dengan wajah tanpa dosa. 


"Ya, tidak salah, sih. Tapi …," 


Mereka pun tertawa bersama. Hanya membahas jus sirsak saja mereka sampai tertawa terpingkal-pingkal. Bayi yang ada dalam kandungan Gwen juga terus menendang kala Gwen tertawa. 


*****


***


Tiba di pernikahan Lin Jiang dengan putra angkat Jackson Lim. Lin Aurora datang ke sana dan menyapa seluruh keluarga. Pihak keluarga Lin, semua menanyakan dimana suaminya, Chen. Sesuai dengan pesan Chen, Lin Aurora menyampaikan kepada mereka bahwa suaminya sedang ada pekerjaan di luar kota. 


"Kakak, selamat atas pernikahan dengan kakak ipar. Semoga pernikahan kalian, bisa awet sampai takdir memisahkan kalian berdua," ucap Lin Aurora. 


"Terima kasih, Lin. Kamu makanlah dulu, aku sudah meminta pelayan untuk membuatkan makanan yang bisa kamu makan," senyum Lin Jiang kepada adiknya, sungguh begitu tulus. 


Akan tetapi, Lin Aurora langsung menolaknya. Dia kecewa dengan sikap kakaknya yang dinilai tidak menghargai sebuah kejujuran. "Apakah dengan menikah, kau bisa menyelesaikan masalah?" bisik Lin Aurora.


"Kakak, kau dimanfaatkan oleh Ayah. Setelah kau menikah, Jovan akan sakit dan lemah. Jika lemah, dia akan lengah dan Ayah akan dengan mudah menyerangnya," lanjut Lin Aurora.


"Aku sudah memastikan jika semuanya akan baik-baik saja. Mengapa kau terlalu heboh, Lin Aurora!" desis Lin Jiang.


"Terserah apa katamu. Kakak, ayah hanya ingin memanfaatkan kita berdua. Kita bukanlah Putri kandungnya, kamu harus ingat itu," Lin Aurora mengungkapkan kembali kenyataan pahit itu. 


"Ayah kita mati di tangannya. Lalu kakak kita juga mati di tangannya. Apa kau melupakan semua itu?" Lin Aurora menjadi terpancing emosi.


"Diamlah!" Lin Jiang membentak Lin Aurora di depan semua tamu.


Semua tamu yang hadir di sana menatap ke arah mereka. Pertama Jackson Lim, Cindy dan juga Tuan Natt. Seketika raut wajah Lin Jiang  yang sebelumnya tegang, berubah menjadi manis seperti gula. Dia tersenyum kepada seluruh tamu dan mengatakan bahwa dirinya sedang bercanda dengan adiknya. 


"Kakak, ingat tujuan kita. Ayah memang membesarkan kita. Tapi memang sudah seharusnya dia lakukan sebagai bentuk pembalasan ketika dia membunuh ayah kandung kita," Lin Aurora masih terus menyadarkan kakaknya. 


"Kenapa kau tiba-tiba mengungkit masalah ini? Apakah Chen atau Jovan yang memintamu mengatakan ini?" tanya Lin Jiang. 


"Mereka tidak sepicik itu. Jovan sampai sekarang belum sadar, suamiku sedang menjaganya. Ingat, kak. Aku adalah keluarga kandungmu. Meski ayah telah membesarkan kita, tetap saja dia pembunuh ayah kita!" 


Lin Aurora pergi begitu saja. Dia sampai tidak berpamitan dengan Tuan Natt dan yang lainnya. Kecewa, pasti. Itu yang dirasakan oleh Lin Aurora. Kakak satu-satunya, yang biasanya akan mengatakan segalanya, kini menyimpan rahasia darinya. 


Meski Lin Jiang tidak mengatakan apapun, tetap saja Lin Aurora tahu segalanya. Dia tahu jika kakaknya sedang membohonginya. Dia juga tahu bagaimana perasaan kalian terhadap Jovan. Tak mudah memang melepaskan seseorang yang dicintai selama bertahun-tahun. Lin Aurora tidak pernah akan mengungkapkannya lagi. 


"Aku tahu, meski kau menyembunyikan segalanya, Kenapa kau melakukan ini, Kakak. Apapun itu, aku cukup percaya padamu__" 


Melihat Lin Aurora keluar gedung begitu saja. Tuan Natt langsung menatap Lin Jiang. Dari jauh sama Lin Jiang tersenyum dengan menggelengkan kepala perlahan. Itu tanda, jika Lin Jiang mengatakan, bahwa semuanya baik-baik saja. 


Jackson Lim dan Cindy sedari tadi terus menoleh kesana-kemari untuk melihat, apakah pihak keluarga Wang yang datang atau tidak. Rupanya, tidak ada ada sama sekali yang datang. 


Dia pun berbisik kepada Cindy. "Lawan kita terlalu pengecut. Lihat saja nanti, bagaimana aku akan membereskan mereka semua," 


"Kita bahas ini lagi nanti. Yang terpenting, kita harus pikirkan lagi, bagaimana nanti kita bisa masuk ke dalam resepsi Chen dengan putri kedua Tuan Natt," sahut Cindy. 


Kejahatan demi kejahatan, terus mereka lakukan. Tanpa mereka sadari bahwa kejahatan itu tidak akan pernah abadi. 


***


***


Sesampainya di rumah, Lin Aurora melihat mobil suaminya masih terparkir di parkiran. Bahkan, masih bersih seperti belum dikendarai. 


"Mobilnya masih bersih. Apakah Chen tidak bekerja?" Lin Aurora bergumam. 


Dia pun segera masuk untuk mengetahuinya. Ketika di depan pintu, Lin Aurora berpapasan dengan kuasa hukum keluarga Wang. Entah apa yang dilakukannya, tapi Lin Aurora tidak mau ingin mencari tahu jika bukan Chen yang mengatakan sendiri. 


"Nona, anda sudah pulang?" sambut pelayan Mo.


"Um, barusan tadi … Bukankah kuasa hukum keluarga Wang?" tanya Lin Aurora.


"Benar, Nona!"


"Untuk apa dia datang?" lanjut Lin Aurora lagi.


"Saya kurang tahu. Beliau bertemu dengan Tuan muda Chen," jawab pelayan Mo.


"Chen masih di rumah? Apakah dia tidak bekerja?" tanya Lin Aurora lagi. 


"Nona, apakah anda tidak tahu? Tuan Muda sakit, tadi pagi beliau pingsan dan se--"


"Apa? Pingsan? Biarkan aku memeriksanya. Tolong kau siapkan sup jahe untuknya, pasti dia sedang kesakitan karena pusing sekarang,"


"Tapi, Nona__"


Pelayan Mo senang melihat Lin Aurora begitu peduli kepada suaminya. Saking paniknya, Lin Aurora sampai tidak mendengarkan apa yang hendak pelayan Mo katakan padanya.