
Di saat Chen mengingat kedua orang tuanya, ia menerima informasi dari Jovan, jika kedua orang tuanya telah kembali ke Jogja dengan keadaan sehat wal'afiat.
"Apa? Kau yakin dengan informasi itu?" Chen sampai berdiri dan menggebrak meja.
"Chen, ups … Tuan, lihatlah foto ini. Anda bisa menanyakan kabar ini kepada orang rumah," Jovan menunjukkan foto yang dikirim oleh anak buah Jovan yang menjaga rumah lama di Jogja.
"Aku harus hubungi Aisyah dan Gwen. Nona Lin, kamu ikut denganku!" Chen main tarik saja tangan Lin Aurora.
"Eh?"
"Jovan, beli 2 tiket penerbangan sekarang juga. Lalu utus seseorang untuk mengambil berkas milik Nona Lin, sekarang!" perintah Chen.
Lin Aurora bingung mengapa Chen menarik tangannya. Chen membawanya ke sebuah pusat perbelanjaan. Memintanya untuk memilihkan barang-barang yang akan diberikan kepada keluarganya di rumahnya nanti.
"Chen, tapi aku--" ucapan Lin Aurora, tak dihiraukan oleh Chen.
"Sudahlah, aku bangun dia pilih-pilih dulu. Yang lainnya nanti lagi saja," gumam Lin Aurora lirih.
Di saat itu, Lin Aurora dibuat takjub dan semakin jatuh cinta kepada Chen. Sebab, Chen mampu memahami semua yang disukai oleh Keluarganya.
"Keluarga yang seperti apa yang kamu miliki, Chen? Apakah mereka keluarga kandungnya?"
"Kenapa aku ikut merasa bahagia. Seolah-olah, malah aku yang hendak bertemu dengan keluargaku sendiri,"
Lin Aurora terus saja berdebat dengan hatinya. Waktu penerbangan juga Jovan mengambil yang secepatnya. Usai belanja, Chen segera mengajak Lin Aurora ke Bandara..
"Tunggu, kita mau kemana?" tanya Lin Aurora menahan lengan Chen.
Chen menatap tangan Lin Aurora yang menyentuh lengannya. Sebelumnya, ia akan sangat marah ada seorang wanita yang menyentuh dirinya. Namun saat itu, Chen tidak memiliki amarah tersebut.
"Apa ini? Kenapa aku tidak marah?" batin Chen.
"Chen! Katakan kita mau kemana?" lanjut Lin Aurora menyadarkan lamunan Chen.
"Cerewet sekali!" kesal Chen.
Sambil menunggu waktu penerbangan, Chen memberi kabar kepada Gwen dan Aisyah. Mereka juga akan bergegas kembali untuk berkumpul.
Waktu yang dinanti telah tiba. Dengan rasa ketakutan dan panik, Lin Aurora terus saja memainkan tangannya. Ada apa dengan Nona Lin ini?
"Kita duduk disini. Kau di sebelah jendela, akun yang di sini," ujar Chen menunjuk kursinya.
Saat Chen menjelaskannya, Lin Aurora malah semakin gelisah. Ia terus menatap kanan-kiri dan juga terus memainkan tangannya. Menyadari ada yang salah dengan Lin Aurora, Chen pun bertanya, "Ada apa? Kenapa kau … kau berkeringat? Apakah kau gugup, atau gelisah?"
"Se-sebnarnya, a-aku takut ketinggian. Na-naik pesawat membuatku teringat kejadian lalu, yang merenggut nyawa Ibuku," jawabnya dengan suara terbata-bata, juga napasnya yang mulai berat.
Chen terdiam. Ia segera mencari sapu tangan di kantong jaketnya. Namun, ia tidak menemukannya. "Kau tunggu sebentar," bisik Chen kepada Lin Aurora.
"Jangan_" Lin Aurora semkin ketakutan kalau Chen meninggalkannya. Ia tidak tahu kemana perginya Chen.
Pandangan mahanya sudah mulai kabur, Lin Aurora takut sekali, apalagi merasakan getaran hebat kala pesawat akan naik.
"Ibu, Ibu …,"
"Chen, aku takut,"
Lin Aurora mulai menangis, menunduk dan menutupi kedua telingannya. Tangisan yang tertahan itu semakin membuatnya sesak napas. Batinnya terus memanggil Ibunya dl juga Chen yang baru saja meninggalkannya.
"Hey ak--"
Di saat Chen datang, Lin Aurora segera memeluk Chen dan mencengkram erat jaket pria berusia 23 tahun itu. Membuat Chen tak bisa berkata apapun, dan malah seolah mendengar ada suara musik yang berdengung di telingannya.
"Jangan tinggalkan aku, aku takut sekali," ucap Lin Aurora dengan suara yang gemetar.
Chen tahu, tidak seharusnya Lin Aurora sampai memeluknya. Ia pun segera melepas pelukan Lin Aurora dan berlagak memarahinya.
"Lepaskan aku!" bentaknya.
Segera Lin Aurora bangkit. "Maaf," ucapnya dengan tangan hemetar serta suara seperti hendak menangis.
Melihat tangan Lin Aurora yang mencengkram bajunya sendiri, membuat Chen tahu jika gadis yang ada disampingnya itu sedang merasakan kegelisahan dan ketakutan. Segera Chen memakai sarung tangan yang ia minta dari pramugari.
"Nona Lin," panggil Chen.
"Iya?" jawab Lin Aurora, suaranya masih bergetar.
"Maaf," ucap Chen, sembari menarik telapak tangan Lin Aurora dan menggenggamnya.
Sontak membuat Lin Aurora terkejut. Ia bahkan hendak menarik tangannya, namun di genggam erat oleh Chen. "Diam dan nikmati perjalanan. Sungguh merepotkan!" ketusnya.
"Hah? Dia yang mengajakku, dan berpikir aku yang merepotkan? Apakah Pria ini memang sedikit bermasalah?" batin Lin Aurora.
Lin Aurora sesekali melirik ke arah Chen. Ia tidak menduga jika Chen yang selalu memperlakukannya kurang baik dan tidak ramah, bisa melakukan yang membuat Lin Aurora semakin besar rasa sukanya pada Chen.
"Dia, memiliki sisi seperti ini? Benar-benar mengejutkan. Tapi, jika dipandang lagi, dia tidaklah buruk," gumam Lin Aurora dalam hati.
"Kornea matanya yang biru seperti lautan menambah pesonannya sendiri. Astaghfirullah, Lin Aurora, Lin Aurora, ada apa denganmu?" Lin Aurora sampai menepuk pipinya sendiri.
"Apa yang kau lakukan? Diam dan duduk dengan tenang, tak bisa, kah?" Chen menyadari jika Lin Aurora sibuk sendiri.
Penerbangan mereka transit ke Surabaya, kemudian baru ke Jogja. Semenjak di pesawat, Chen sama sekali tidak melepas genggaman tangannya kepada Lin Aurora. Hanya melepaskan sebentar ketika mereka transit saja.
"Chen menjagaku dengan baik. Jika Ayah tau, pasti dia tidak akan membuatnya dalam masalah," puji Lin Aurora dalam hati.
Mereka hanya berdua saja saat kembali ke Jogja. Lin Aurora tidak tahu maksud Chen juga membawanya ke Jogja dengan tiba-tiba. Dan lebih herannya lagi, Chen tidak membawa beberapa orangnya untuk menemaninya.
Di saat Lin Aurora terus mengkhayal hal indah kala digandeng oleh Chen, ia tersadar kala Chen melepas genggaman tangannya dengan sedikit kasar.
"Kenapa wajahmu seperti itu? Tak relakah aku lepaskan tanganmu?" tanyanya dengan nada angkuhnya.
"Terima kasih sudah menjagaku. Saat di pesawat tadi--"
"Menjagamu? Hih, dalam mimpimu!" sela Chen.
"Aku hanya tidak ingin kau ketakutan sampai mengompol atau muntah. Jika semua itu terjadi, siapa yang rugi? Akulah!" cetusnya dengan sadis..
"Chen Yuan Wang!" sentak Lin Aurora.
"Apa?" sentak Cheh kembali.
Meong….
Lin Aurora langsung menggeleng dengan nyalinya yang mulai menciut. Chen memanggil taksi dan segera mengajak Lin Aurora menuju rumah kedua orang tuanya.
"Ke pesantren Darussalam ya, Pak," ucap Chen.
"Baik, Pak!" seru driver taksi.
"Kau, bisa bahasa mereka?" tanya Lin Aurora.
"Kenapa tidak? Aku cerdas, apa yang tidak bisa aku lakukan?" Chen mulai menyombongkan diri.
"Cih, menyebalkan! Semua argumentasiku padamu yang baik, aku cabut semuanya!" umpat Lin Aurora lirih.
"Kau berkata apa?" tanya Chen dengan tatapan kesal.
"Eh, itu … Aku sangat takjub padamu. Selain kau tampan, ternyata kau cerdas juga. Tuan Muda Wang memang sangat hebat!" puji Lin Aurora dengan mengangkat kedua jempol tangannya.
"Baru sadar?" sahut Chen menegakkan badannya.
Lin Aurora meminjam ponsel Chen untuk pelayan pribadinya. Agar mengatakan kepada Ayah dan Lin Jiang, kakaknya, bahwa dirinya sedang ke rumah keluarga kandung Chen yang ada di Jogja.